Andaliman-243 Khotbah 18 Agustus 2013 Minggu-XII setelah Trinitatis

Batak Merdeka

Merdeka! Kita Bukan Lagi Hamba yang Terjerat Sunat. Eh, Ada Terselip Pesan Tentang Pertengkaran Jemaat …

 

Evangelium Yohanes 8:30-36

Kebenaran yang memerdekakan

8:30 Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.

8:31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku

8:32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

8:33 Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?”

8:34 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.

8:35 Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.

8:36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”

Epistel Galatia 5:1-15

Kemerdekaan Kristen

5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.

5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.

5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.

5:6 Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.

5:7 Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?

5:8 Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia, yang memanggil kamu.

5:9 Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.

5:10 Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapapun juga dia.

5:11 Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi.

5:12 Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya!

5:13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

5:14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” 5:15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Sangat relevan dengan suasana emosional rakyat Indonesia dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan ke-58, nas perikop yang menjadi Ev dan Ep Minggu ini berbicara tentang kemerdekaan. Bukan secara politis, melainkan utamanya adalah kemerdekaan secara rohani.

Dalam suatu diskusi yang memanas di bait Allah, Yesus berhadapan dengan orang-orang Yahudi – baik yang sudah percaya, yang mengaku percaya, maupun yang tidak percaya sama sekali tentang keilahian-Nya – dan mengajari mereka tentang kebenaran yang sejati. Untuk ukuran orang percaya, menurutku apa yang disampaikan Yesus adalah hal yang sederhana, yakni percaya kepada Yesus, mengimani Firman Tuhan, dan selalu tinggal di dalamnya (dan di dalam-Nya) itulah yang pasti memerdekakan setiap orang, yakni merdeka secara rohani. Dalam artian, merdeka dari belenggu dosa. Dari belenggu dosa, artinya dari perbudakan dosa alias merdeka dari memperhambakan diri terhadap dosa. Dan itulah syarat untuk bisa diakui oleh Yesus sebagai murid-Nya. Bukan berarti bahwa orang percaya tersebut tidak akan melakukan dosa lagi. Bukan! Sebagai keturunan Adam dan berlanjut dengan sebagai keturunan Abraham yang masih seringkali dikuasai keinginan daging, tentu saja kemungkinan dalam melakukan perbuatan dosa masih terus saja terjadi. Lantas, apa bedanya?

Bedanya adalah kalau orang yang tidak percaya itu memperhambakan dirinya kepada dosa. Ada unsur kesengajaan, dan tidak punya keinginan yang kuat untuk meninggalkan perbuatan dosa. Bahkan menikmati perhambaan dosa tersebut. Itulah yang disebutkan Yesus sebagai “tidak tinggal menetap di rumah” karena beda dengan anak yang memang berhak untuk menetap di rumah orangtuanya sampai suatu saat memutuskan harus pergi meninggalkan rumah orangtuanya. Dan Yesus menegaskan, bahwa hanya karena Dia-lah satu-satunya yang sungguh-sungguh bisa memerdekakan.

Sayangnya, orang-orang Yahudi tersebut memahaminya dengan cara yang berbeda. Bukan secara rohani, malah membuatnya menjadi kacau. Kebanggaan sebagai keturunan Abraham (yang memang diyakini sudah punya “kavling” di surga …), mereka tersinggung dengan pernyataan Yesus yang mengesankan bahwa mereka masih di bawah perbudakan dan penjajahan (yang sebenarnya secara politis pun – bukan secara rohani – mereka masih dijajah oleh bangsa Romawi dan secara historis pernah diperbudak bangsa Mesir dan bangsa Babel). Beginilah yang sering terjadi pada manusia yang sombong (termasuk aku juga, beberapa kali …) yang seringkali membangkit-bangkit kejayaan masa lampau walaupun situasi dan kondisinya sudah sangat jauh berbeda. Mereka lupa, bahwa hal keselamatan adalah individual, bukan diturunkan secara otomatis. Artinya, kalau keturunan Abraham secara jasmani bukanlah secara otomatis menjadi keturunan Abraham pula secara rohani yang berhak mengklaim keselamatan. Abraham yang selamat karena ikatan perjanjian dengan Tuhan, tidaklah menurunkan secara otomatis keselamatan tersebut kepada keturunannya. Jika tidak menuruti perintah Tuhan, keturunan Abraham pun pasti tidak diselamatkan!

Hal yang seperti itu jugalah yang disampaikan rasul Paulus kepada jemaat mula-mula di Galatia sebagaimana tercantum pada nas Ep Minggu ini. Di antara mereka, ada beberapa anggota jemaat telah mengganti iman mereka yang semula kepada Kristus menjadi iman kepada upacara-upacara legalistik dari hukum Taurat. Paulus menyatakan bahwa mereka sudah berada di luar kasih karunia. Hidup di luar kasih karunia berarti terasing dari Kristus dan meninggalkan prinsip kasih karunia Allah yang membawa hidup dan keselamatan. Hal ini berarti hubungan dengan Kristus ditiadakan dan tidak lagi tinggal “di dalam Kristus” (tidak tinggal di “rumah” sebagaimana dimaksud oleh nas perikop Ev).  

Suasana emosional psikologis jemaat saat itu sedang bertentangan antara orang-orang percaya yang sudah menerima pengajaran Paulus tentang kebenaran dan keselamatan, berhadapan dengan sebagian orang yang menganut prinsip legalistik (yang setia kepada ajaran sunat lahiriah), yang diimbuhi dengan pengajar sesat dengan ajaran palsunya. Paulus mengajarkan bahwa bagi orang non-Yahudi tidak dibutuhkan lagi sunat seperti yang diberlakukan oleh orang-orang Yahudi sebagai keturunan Abraham. Sunat yang dahulu dilakukan Abraham adalah tradisi kesetiaan kepada Allah, eh … sekarang malah mau “dilanjutkan” sebagai syarat permanen dalam menerima keselamatan.

Yang membuat Paulus “geregetan” adalah warga jemaat (ruas, bahasa Bataknya) yang semula sudah menerima ajarannya tentang kebenaran hanya ada pada iman percaya kepada Kristus menjadi terganggu dengan adanya orang-orang yang berbeda pendapat sehingga menimbulkan perpecahan di tengah-tengah jemaat (huria, bahasa Bataknya). Itulah sebabnya, ketegasan Paulus sangat layak ditiru dan relevan sampai saat ini bahwa sunat tidak ada pengaruhnya apa pun dalam karya keselamatan dan hal kasih karunia.

Hal salib adalah sudah final, bukan jadi batu sandungan (karena zaman Romawi salib sangat dekat dengan perbuatan terkutuk dan orang-orang yang hina). Tidak perlu ada lagi gugatan. Bagi para penghasut, bagiannya adalah pengebirian (yang ini Paulus benar-benar dalam puncak emosi kemarahan yang meluap-luap …) dan meminta untuk menghentikan hasutannya. Dan bagi warga jemaat, mengimani bahwa kasih karunia yang membebaskan itulah kebenaran yang sesungguhnya. Yakni kebenaran dalam Kristus, bukan oleh manusia atau benda-benda lainnya. Itulah yang memerdekakan setiap orang percaya.

Lalu, dalam menyikapi kemerdekaan, bukanlah berarti bebas sebebas-bebasnya, ataupun bebas melakukan segalanya. Tidak! Kemerdekaan dalam Kristus berarti kebebasan dalam melakukan segala tindakan yang harus selalu berlandaskan kasih.

Pada ayat-15 ada petunjuk yang sangat berguna untuk diteladani, yakni “tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan”. Bukan menginginkan perkelahian jemaat, namun – kalaupun hal itu harus terjadi – ingatlah bahwa kebinasaan bukanlah yang menjadi tujuan, malah harus dihindarkan. Konflik, seburuk apapun itu, bisa jadi tetap berpotensi menghasilkan hal yang baik. Kebenaran, itu salah satunya yang mungkin dihasilkannya.  

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Mengenai sunat, sudah tentulah bukan hal yang menarik untuk dibicarakan oleh orang-orang beriman seperti kita saat ini. Juga prinsip kebenaran, keselamatan yang hanya ada pada Kristus yang merupakan kasih karunia, tentunya kita sudah sangat memahami. Dan dari nas perikop ini kita dapat menangkap pesan sebagai berikut:

(1)     Hanya tinggal di dalam Kristus – dengan tinggal di dalam firman-Nya, yang berarti melakukan segala yang diperintahkan-Nya – yang mampu memerdekakan kita dari belenggu dosa. Tidak ada yang lain, apalagi sekadar sunat lahiriah (kalau sunat hati, okelah ya …)

(2)     Kita bukan lagi hamba (= budak) dosa, karena sudah dibebaskan oleh Kristus. Iman pengharapan kepada Kristus, itulah yang membebaskan (kalau jadi hamba Kristus, sangat okelah tentunya, ya …). Kebebasan yang diberikan kepada kita hendaknya kita jadikan dasar dalam melayani orang-orang dengan kasih.

(3)     Seluruh hukum Taurat harus dipatuhi, tetapi jangan pernah berpengharapan akan kebenaran dan keselamatan dari padanya. Ini untuk menguatkan kita terhadap ajaran yang belakangan gencar digembar-gemborkan bahwa hukum Taurat sudah ‘nggak relevan lagi alias ‘nggak usah dipatuhi karena kita sudah tidak lagi hidup di bawah kuasa hukum Taurat. Perlu kita ingat, Yesus ‘nggak pernah sekalipun mengatakan hal tersebut, malah Beliau mengatakan bahwa kedatangan-Nya ke dunia ini bukan untuk meniadakan hukum Taurat. Perlu diwaspadai juga setelah tidak lagi mengakui hukum Taurat, ajaran berikutnya menyatakan bahwa Perjanjian Lama juga menjadi ‘nggak relevan lagi. Sangat aneh, ya kalau ada yang mengatakan hanya percaya Perjanjian Baru karena sudah “menggenapi” Perjanjian Lama. Lebih aneh lagi kalau mengatakan percaya Alkitab sebagai firman Allah, tapi tidak mengakui Perjanjian Lama. Ada lagi yang paling lucu, tidak mengakui Perjanjian Lama, namun sangat mengagung-agungkan ibadah ala Perjanjian Lama (ada ruang kudus, ada ruang maha kudus, ada mezbah), dan … dalil-dalil persembahan yang sebagian besar ada dalam Taurat di Perjanjian Lama. Waspadalah kita!

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Karena sunat (lahiriah) hanyalah “sekadar” tradisi dalam masyarakat Yahudi dan bukan jalan kebenaran akan keselamatan, bisakah kita tetap melakukan sunat dengan menjadikannya sebagai bagian dari yang dianjurkan untuk kesehatan?

(2)     Bagaimana menghubungkan antara kemerdekaan rohani dengan kemerdekaan politis? Atau, apakah memang ‘nggak ada hubungannya sama sekali antara keduanya?

(3)     Paulus “mengizinkan” jemaat untuk saling menelan dan saling menggigit, asalkan jangan saling membinasakan. Bagaimana kita menyikapi hal ini yang dihubungkan dengan konflik yang seringkali masih terjadi di kalangan jemaat yang berpotensi pada perpecahan gereja?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s