Gereja Mau Ditutup Massa! Gereja Mau Ditutup? Ah, Minggu yang Memprihatinkan …

Minggu, 04 Agustus 2013 itu aku bertugas sebagai kordinator ibadah yang merangkap sebagai partingting di ibadah subuh karena dongan parhalado ‘nggak bisa hadir, yakni ibadah yang masuk jam 06.00 WIB. Baru kali ini aku bertugas pada ibadah subuh (entah mengapa, di kalangan jemaat berdasarkan pernyataan pendeta disebutkan sebagai “ibadah pagi”, lalu yang masuk jam 08.30 WIB disebutkan sebagai “ibadah siang” …) sejak diberlakukan awal tahun 2013 ini sebagai pengganti ibadah jam 18.00 WIB yang katanya sangat sedikit yang hadir (padahal menurut pengamatanku, masih lebih banyak yang datang di ibadah sore dulu daripada ibadah subuh yang sekarang ini …).

Memang merepotkan kalau bertugas subuh ini. Jam empat aku sudah terbangun dan bersiap-siap untuk berangkat paling lambat jam 5 karena memperhitungkan jarak antara Bekasi ke Kelapa Gading. Di rumah sudah ‘nggak ada pula pembantu kami yang paling baik selama ini karena sudah kami antarkan berlebaran Sabtu kemarinnya ke terminal Kampung Rambutan untuk mudik ke Cilacap. Jadilah aku mempersiapkan segala sesuatunya sendirian layaknya waktu masih kelas tiga Sekolah Dasar puluhan tahun yang lalu di Medan. Auli dan mamaknya ‘nggak ikut beribadah denganku – “Capek banget badanku karena acara arisan di Jonggol kemarin. Kami bergereja di Bekasi ini ajalah nanti sore …” –  jadi aku berusaha untuk tidak mengganggu mereka yang masih terlelap di subuh Minggu itu.

Sudah jam 6 dan kami (aku, St. yang paragenda, dan amang pendeta resort yang parjamita) sudah berkumpul di konsistori dan siap melayankan ibadah. Guru Sekolah Minggu yang bertugas mengumpulkan durung-durung sudah aku telpon dan aku kirimi pesan-pendek, namun belum berjawab (belakangan ternyata mereka sudah ada di dalam gereja, satu bertugas sebagai penata sound system dan satunya lagi mengurusi persiapan mengajar di Sekolah Minggu untuk jam delapan pagi …). “Baru dua orang yang datang yang tadi saya lihat. Kita tunggu sajalah dulu, amang. Kurang pas perasaanku kalau cuma segitu aja orang yang datang …”, kata paragenda menjawab pertanyaanku untuk memulai persiapan berangkat ke bangunan gereja seakan mengonfirmasi apa yang sepuluh menit yang lalu aku saksikan ketika pertama kali tiba di gereja. Lalu kami ‘ngobrol tentang perlunya dievaluasi pelaksanaan ibadah subuh ini karena umat yang hadir masih memprihatinkan jumlahnya. Pak pendeta yang aku tahu adalah inisiator ibadah subuh ini melunak setelah aku sampaikan, “Di partangiangan wejk kami juga sudah ada masukan tentang ditiadakan aja ibadah subuh ini dan kembali aja ke ibadah sore karena jumlah yang hadir, tapi aku bilang supaya sabar menunggu evaluasi yang akan aku lakukan. Mohon izin pak pendeta untuk meminjamkan data tingting untuk aku buatkan evaluasinya, dan aku akan presentasikan di rapat evaluasi parhalado yang akan datang. Sebaiknya ada data pendukung daripada hanya berdasarkan perasaan.

Tak lama kemudian, pak pendeta berkata: “Kita mulai ajalah ibadah kita walau berapapun yang hadir. Nanti bertambahnya itu karena kebiasaan orang kita yang seperti itu, sering terlambat. Karena kalau mundur lagi, nanti berpengaruh ke ibadah siang.”. Kami pun sepakat. Lalu aku pimpin ibadah singkat di bilut parhobasan dengan bernyanyi satu ayat lalu berdoa.

Usai ibadah subuh, aku tidak langsung pulang ke rumah, malah ikut ibadah pagi yang dimulai jam 08.30 WIB karena mak Auli memintaku menemani mereka ke ibadah sore di GKI yang di dekat rumah (tempat kami dulu sering beribadah waktu aku belum menjadi sintua dan kalau di HKBP ibadahnya berbahasa Indonesia karena aku berprinsip: “Kalau berbahasa Indonesia, lebih pas kalau di GKI daripada di HKBP. Dan HKBP itu pasnya kalau berbahasa Batak, itulah nilai tambahnya.”). Sebelum masuk, di depan pintu gereja aku sapa pak pendeta resort yang subuh tadi sudah berkhotbah, “Ikut ibadah lagi, amang?”, yang dijawab, “Ah, ‘nggak lagilah, sintuanami. Saya di luar sajalah”.

Jumlah umat yang mengikuti ibadah Minggu itu terlihat jauh lebih sedikit daripada biasanya, sehingga membawa pikiranku kepada pembicaraan di sermon parhalado Jum’at malam sebelumnya (lihat Dari Konsistori-17: Gereja Koq Dibiarkan Mau Ditutup?) yakni adanya ancaman yang disampaikan saat partangiangan wejk ketika bertengkar sengit dengan pendeta resort Rabu sebelumnya oleh salah seorang ruas yang akan mengerahkan massa yang dipimpin oleh menantunya yang muslim untuk mengelilingi gereja dan menutup gereja karena tidak bersertifikat. Patut aja beberapa orang yang termasuk geng pendeta terlihat kasak-kusuk tadi di undung-undung yang terletak di sebelah kiri rumah pendeta, mungkin mengantisipasi serangan tersebut yang ternyata tidak terbukti sama sekali …

Usai ibadah pagi itu, St. yang di sermon parhalado Jum’at malam menyatakan siap menurunkan massa dari salah satu organisasi non Kristen jika memang dibutuhkan untuk mempertahankan gereja dari serangan massa sesuai ancaman ruas tersebut mendatangi dengan setengah berbisik. Ada apa?

Lae, ada mendapat SMS pagi ini?”, tanyanya masih berbisik seakan takut terdengar oleh orang lain.

“Enggak tahu, lae. Aku belum buka hape lagi sejak ibadah subuh tadi. Kenapa, lae?”

“Ini, bacalah. Masak ada SMS gelap seperti ini yang mengajak jemaat untuk datang ke gereja menyaksikan penutupan gereja kita dengan mencantumkan nama-nama sintua dan ruas yang katanya akan menutup gereja. Betul-betul keterlaluan yang mengirimi SMS ini! Apa lagi maksudnya kalau bukan untuk menjatuhkan nama-nama ini? Padahal malam setelah sermon parhalado Jum’at itu aku sudah langsung bicara dengan amang yang mengancam membawa massanya menutup gereja, dan dia bilang ‘nggak ada itu karena ancamannya itu hanyalah ucapan spontan karena marah dengan sikap pendeta yang ‘nggak simpatik. Dia malah sekarang ke Puncak, jalan-jalan.”

“Yah, begitulah situasi jemaat kita saat ini yang sangat menyedihkan dan memalukan menurutku. Sintua yang disebutkan di SMS itu tadi sama-samanya kami melayani di ibadah subuh. ‘Nggak ada masalah, koq. Hati-hati ajalah kita, lae. Kalau melihat isi SMS itu, pasti yang membuatnya salah seorang yang mendapat info dari yang ada di bilut parhobasan waktu sermon parhalado kita Jum’at malam yang lalu karena isinya sangat detil.”

Lalu pembicaraan berlanjut. Ada lagi yang nimbrung. Salah seorang suami sintua ikut memberikan komentar dengan sangat emosional, “Kalau memang benar preman mereka itu, jangan seperti ini, beraninya di gereja. Ke si anu (sambil menyebut nama salah seorang warga jemaat) pun pernah aku bilang, ‘Bencongnya kau kalau beraninya hanya membuat ribut di gereja!’.”. Makin banyak yang ‘ngobrol, berkelompok-kelompok. Sekilas aku dengar semuanya menceritakan kehebatannya masing-masing. Keberaniannya menghadapi preman dan kekerasan dan mengesankan siap mati untuk membela gereja, ucapan-ucapan yang dulu aku dengar ketika terjadi pergolakan di HKBP, namun tak kelihatan ketika kehadirannya dibutuhkan …

Aku pun hanya tersenyum sedih di dalam hati karena aku tahu riwayat berjemaat mereka selama ini. Dan prihatin, koq kayaknya ‘nggak ada lagi yang tersadar bahwa gereja adalah milik Tuhan dan ‘nggak pantas terjadi premanisme di gereja. Dan sebaliknya juga, kenapa ‘nggak terdengar ucapan-ucapan lemah lembut yang menyuarakan perdamaian dan kasih yang rasanya hampir setiap hari diperdengarkan oleh hamba-hamba Tuhan dalam suasana yang “damai”?

Sampai di rumah, aku membuka hp-ku dan membaca pesan-pendek dari seorang sintua emeritus yang sangat terlibat dalam konflik di gereja belakangan ini yang dikirim beberapa jam sebelumnya: “SAYA KIRIM SMS GELAP YG BEREDAR KPD JEMAAT: Hai saudara2KU, mari kita menyaksikan “PENUTUPAN” GEREJA HKBP” Immanuel Kelapa Gading pagi ini Minggu, 4 Agst’13 oleh laskar2 dr Wil NAZARET yg disponsori St X, Y, St Z dng algojonya ABc sesuai pernyataan mrk pd Part WEK Rabu Mlm,31 Jul’13 di lt I Gdg S M.”

Sampai hari ini pun aku ‘nggak menerima pesan-pendek yang langsung dari penyebar teror dan penghasut serta pemecah belah tersebut. Aku tak tahu kenapa. Tidak diperhitungkan? Atau ‘nggak bakalan terpengaruh? Entahlah, dan aku pun ‘nggak mau menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan hal-hal seperti ini …

Iklan

One comment on “Gereja Mau Ditutup Massa! Gereja Mau Ditutup? Ah, Minggu yang Memprihatinkan …

  1. Cukup menarik cerita amang sintua,
    cukup banyak yang dapat saya petik dari cerita amang diatas.
    tetapi yang terpenting bagi saya adalah karakter ditempat amang ada beberapa persamaannya.
    Mauliate Amang, Horas.
    GBU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s