Hari Terakhir Bekerja di Kantor Pusat

Hari Terakhir di HO (300913)

Sesuai arahan, hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di Kantor Pusat perusahaan tempat aku bekerja saat ini. Selama berkarir di perusahaan multi-national ini selama lebih dari 20 tahun di posisi inilah masa kerjaku paling cepat. Mulai bekerja sejak 15 Februari 2013 dan efektif besok sudah menempati posisi baru di Kantor Wilayah yang lokasinya juga masih di Jakarta Selatan. Dibandingkan dengan ke Kantor Pusat di Jl. T. B. Simatupang ini, lokasi aku berkantor mulai besok sedikit lebih jauh, yakni di Jagakarsa. Setiap hari aku akan melewati Kantor Pusat ini untuk sampai ke Kantor Wilayah yang masih membutuhkan sekitar 20 menit untuk tiba di lokasi perumahan yang dijadikan kantor sejak beberapa tahun belakangan ini.

Selain jarak tempuh dan waktu tempuh yang lebih lama, masih ada kehilangan yang lain, yaitu libur Sabtu. Sebagai petugas lapangan tulen, maka Sabtu adalah hari kerja setengah hari. Masih demikian ketentuan yang diatur Perusahaan, dan sebagai karyawan yang patuh, sepatutnyalah pula aku mematuhi peraturan tersebut (masih mau gajian juga, ‘kan?).

Ada satu hal yang membuatku tertarik menerima tawaran pindah tugas ini, yakni insentif tiga bulanannya yang selama tahun 2013 ini aku tidak pernah menerimanya (sebagai karyawan di Kantor Pusat, kami ‘nggak menerima insentif kuartalan melainkan bonus tahunan yang jumlahnya relatif kecil dibandingkan dengan insentif kuartalan yang dulu selalu aku terima manakala bertugas di Bandung). Selain itu, pekerjaanku yang baru adalah posisi yang baru diciptakan yang penuh tantangan, karena ini adalah proyek usulan boss-ku yang barus saja disetujui oleh Top Management yang sedianya dilaksanakan tahun depan secara nasional. Sebagai inisiator, boss-ku bersikeras untuk menjalankan di wilayah kerjanya tahun ini juga.

 Aku juga berharap keberhasilan akan melingkupiku – dengan bantuan Yesus yang aku percaya pasti menyertai dan membantuku selalu – dan berharap akan mendapat promosi di tahun depan. Ini sudah aku sampaikan kepada boss-ku yang baru seminggu yang lalu berdiskusi sebelum aku menyampaikan konfirmasi persetujuanku untuk menerima tugas tersebut setelah mendapat penjelasan dari beliau. Oh ya, menurut info yang layak dipercaya (dari boss-ku dan manajemen senior lainnya yang pertama kali memintaku untuk menjadi anggota timnya), boss-ku ini yang paling ‘ngotot agar aku diizinkan menjadi anggota tim-nya, bukan ke wilayah yang lain yang juga memintaku. AKhirnya disetujui aku pindah di wilayah Jakarta (yang mencakup Jabodetabek, Bandung, Cirebon, dan Kalimantan Barat), bukan ke Semarang walau itulah yang diminta pertama kali.

Inilah do’a dan harapanku. Kiranya Tuhan mengabulkan seturut kehendak-Nya saja … 

Andaliman-250 Khotbah 06 Oktober 2013 Minggu-XIX setelah Trinitatis

Malulah Akan Masa Lalu yang Menjijikkan, Hidup Barulah Dalam Roh!

Evangelium Yehezkiel 36:22-32 (bahasa Batak Hesekiel)

36:22 Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang.

36:23 Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa.

36:24 Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.

36:25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.

36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

36:27 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

36:28 Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu.

36:29 Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu.

36:30 Aku juga memperbanyak buah pohon-pohonanmu dan hasil ladangmu, supaya kamu jangan lagi menanggung noda kelaparan di tengah bangsa-bangsa.

36:31 Dan kamu akan teringat-ingat kepada kelakuanmu yang jahat dan perbuatan-perbuatanmu yang tidak baik dan kamu akan merasa mual melihat dirimu sendiri karena kesalahan-kesalahanmu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji.

36:32 Bukan karena kamu Aku bertindak, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ketahuilah itu. Merasa malulah kamu dan biarlah kamu dipermalukan karena kelakuanmu, hai kaum Israel

Epistel Roma 8:1-8

Hidup oleh Roh

8:1 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.

8:2 Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.

8:3 Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,

8:4 supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.

8:5 Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.

8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

8:7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.

8:8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

Dulu sekali (waktu masih menjadi mahasiswa di Medan alias masih muda banget …), setiap mendengar perkataan “hidup baru” hatiku menjadi galau. Apalagi kalau ada yang bertanya: “Sudahkah hidup baru?”, wah … hati ini – entah mengapa – mudah menjadi panas membara. Ditambah lagi kalau ada yang mengatakan: “Kami tidak lagi bergaul dengan orang-orang dunia, kami sudah mengalami hidup baru”, bah … makin panas aja hati dan telinga mendengarnya. Saat itu, perkataan “hidup baru” akan menggiringku pada membayangkanupacara pernikahan yang saat itu selalu muncul di koran dengan ucapan “selamat menempuh hidup baru”. Hehehe … sama-sama “hidup baru”, ‘kan?

Hal-hal seperti itulah yang membuatku “alergi” pada ajakan mengikuti kegiatan persekutuan mahasiswa yang memang sangat aktif saat itu. Pada masa tertentu (baca: mula-mula menjadi mahasiswa) aku lumayan aktif ikut pada Kebaktian Mahasiswa Kristen (KMK) yang biasanya dilakukan pada Jum’at siang. “Perseteruan” yang masih terjadi hingga saat ini di dunia pekerjaan yang mana ibadah Kristen juga dilakukan pada Jum’at siang, yakni saat karyawan muslim melakukan sholat Jum’at di masjid. Kekurangtertarikanku (bahkan pada akhirnya mengatakan “bye bye”) pada KMK adalah manakala suatu kali aku ikut kebaktian padang di Tahura Berastagi. Pengorbananku datang pagi-pagi banget pada hari libur itu untuk berangkat bareng ke Berastagi menjadi tidak sebanding nilainya manakala seorang mahasiswi senior (yang ternyata kemudian aku dengar menjadi kakak rohani bagi anggota baru) menanyakanku dengan pertanyaan “hidup baru” tersebut lalu menjelaskan (persisnya: mengguruiku) seakan-akan keimanan dan ibadahku selama ini adalah salah alias tidak menjanjikan keselamatan karena belum menjalani hidup baru itu. Jelas aja aku protes dengan keras (di dalam hati …), aku yang pengurus NHKBP koq dibilang tidak selamat karena belum hidup baru? Manalah aku rela! Istilah itu pun sangat asing bagiku saat itu. Ego-ku menjadi muncul dalam merespon hal itu. Kurang bagus juga, ya …

Dari situlah aku belajar betapa pentingnya mengkomunikasikan iman percaya dengan cara yang tepat sesuai dengan orang-orang yang tepat. Prinsip utamanya: jangan menyalahkan yang lama dengan “membabi-buta”, namun carilah kesamaannya terlebih dahulu, lalu bimbing memasuki pemahaman yang baru. Oh ya, beberapa tahun yang lalu ketika bertemu pertama kali di dunia maya (baca: facebook), salah seorang kakak rohani yang sedang meminta sumbangan untuk membangun gerejanya di Jakarta memberikan komentar keheranannya atas situasiku saat ini dengan menuliskan: “Wah, ‘nggak ‘nyangka ito sekarang malah jauh lebih aktif terlibat dalam kegiatan jemaat, kalau mengingat pengalaman dulu seringkali menolak waktu diajak mengikuti KMK …”. Belum tahu dia, betapa Kristus itu luar biasa, mengenal orang-orang tanpa menghakimi, hehehe …   

Sekarang aku sudah sangat memahami pengertian hidup baru, bahkan menjadi pelakunya dan berusaha selalu menginspirasi orang-orang agar turut menjadi pelakunya. Menurutku, setiap orang harus melakukan perubahan selalu dalam kehidupan rohaninya (dengan pengertian bahwa kehidupan rohani pastinya memengaruhi kehidupan jasmaninya). Dengan logika seperti itulah menurut pemahamanku mengapa nas perikop Ep Minggu ini meminta agar orang-orang meninggalkan keinginan daging dan beralih ke keinginan roh. Keinginan daging berujung kepada maut, sebaliknya keinginan roh membawa kepada kehidupan kekal. Bukan menjadikan ritual hidup baru (yang dulu sering dilakukan dengan merapalkan ucapan-ucapan aneh yang sering diklaim sebagai berbahasa roh …) sebagai syarat dalam menerima kelepasan.

Meninggalkan keinginan daging – sumber kejijikan, menurut Tuhan – itulah yang dituntut Tuhan dalam nas Ev Minggu ini. Dan Tuhan menjanjikan banyak kebaikan bagi orang-orang yang beralih dari perbuatan najis dan dosa-dosanya. Perasaan jijik akan timbul bilamana mengingat dosa, dan rasa malu terhadap masa lalu. Pengampunan dan janji berkat diberikan Tuhan semata-mata berdasarkan kemauan dan inisiatif-Nya sendiri, bukan karena manusia siapapun. Emangnya siapa itu manusia, ya?   

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Hidup yang dipenuhi oleh roh merupakan satu solusi yang efektif dalam kehidupan kita. Spiritualitas, itulah yang mulai hilang dalam kehidupan kita sehari-hari. Tak heran bila tindakan banyak orang belakangan ini semakin menjauhkan dari kehidupan yang sebenarnya harus diperlihatkan oleh orang-orang percaya. Tanpa harus menafikan hal-hal baik yang dilakukan oleh sedikit orang, perbuatan jahat yang semakin merajalela akhir-akhir ini menunjukkan semakin hilangnya kasih (yang merupakan satu dari buah-buah roh) dalam kehidupan.

Suatu kali seorang pemimpin gereja HKBP curhat tentang sulitnya memimpin dan mengubah para pendeta untuk menjadi lebih baik. “Bayangkan aja, amang … saat rapat pendeta pun banyak yang ‘nggak tertib. Dalam acara yang membicarakan kehidupan jemaat pun, banyak pendeta yang keluar untuk ‘ngobrol dan merokok”. Menyedihkan dan memprihatinkan sekali mengetahui fakta tersebut. Lalu aku katakan: “Menurutku, ada kemungkinan spiritualitas para pelayan HKBP saat ini semakin luntur, amang. Coba aja ditanyakan, berapa banyak lagi pendeta yang masih melakukan doa pagi dan saat teduh setiap hari? Dari beberapa yang aku amati, semakin banyak saja yang merasa dirinya bukan lagi pelayan jemaat sepenuhnya yang sangat memerlukan kerendahan hati dan menjadi figur teladan bagi warga jemaat, melainkan ‘sekadar’ karyawan PT HKBP yang sekuler dengan menerima gaji setiap bulannya. Kalau karyawan yang masih mempunyai key performance indicator sih masih mending, masih ada sasaran dan arahan yang dituju. Faktanya di gereja HKBP mana yang menjalankan KPI layaknya karyawan perusahaan yang profesional?”

Demikian jugalah dengan kita (mudah-mudahan engkau tidak termasuk di dalamnya …). Kita menjadikan ibadah lebih “sekadar” ritualitas (bahkan rutinitas!) daripada spiritualitas. Misalnya kita datang ke gereja karena kita tahu bahwa jam tertentu pada hari Minggu ada ibadah, jadi kita harus ikut ibadah karena itu adalah kewajiban kita sebagai orang Kristen. Datang pagi untuk ikutan ibadah jam 9, lalu pulang jam 11 karena ibadah sudah selesai. Hanya itu! Bukan karena adanya kerinduan di hati kita untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, sehingga ada sukacita yang kita dapatkan saat usai ibadah.

Berdoapun hanyalah sekadar menyampaikan kata-kata, tidak meresapi apa yang kita ucapkan sehingga menjadi hambar. Bahkan sekadar membaca atau melantunkan hapalan. Coba semua orang meresapi kata-kata dalam Doa Bapa Kami yang salah satu di dalamnya mengatakan “ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kami”, tentunya sudah tidak ada lagi dendam dan perselisihan, bukan? Hidup pasti menjadi jauh lebih damai dan aman. Itulah indikator kalau kehidupan kita dikuasai oleh roh, yakni dengan menghidupkan dan menghadirkan damai sejahtera di tengah-tengah kita dan di lingkungan kita (ayat-6).

Dengan hidup yang didasari oleh spiritualitas tentunya keinginan daging akan dikalahkan oleh keinginan roh. Dan kita melakukannya bukan dengan terpaksa, melainkan dengan sukacita yang menyala-nyala.

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Tuhan mampu memperbaharui segala sesuatu. Dosa dan kejijikan pada masa lalu tidak akan diingat-ingat lagi manakala kita bersedia menerima-Nya dengan sungguh-sungguh sebagai juru selamat. Apa saja yang harus kita lakukan agar dapat diubahkan?

(2)     Banyak yang mengatakan bahwa ibadah dan pelayanan HKBP sangat monoton, tidak punya roh, sehingga lebih cenderung kepada ritual daripada spiritual. Mengapa demikian?

(3)     Kecenderungan semakin banyaknya warga jemaat yang pergi meninggalkan HKBP ke jemaat-jemaat lain yang “lebih menjanjikan” mungkin bisa dijadikan sebagai salah satu indikator ketiadaan roh di pelayanannya? Bagaimana kita bersikap terhadap fenomena tersebut?

Amplop Berkhotbah di Partangiangan Wejk …

Amplop Berkhotbah di Partangiangan Wejk (260913)

Bukan munafik, apalagi sok suci dengan menolak pemberian orang (baca: warga jemaat). Jujur saja, saat ini aku sedang membutuhkan uang lebih daripada biasanya karena sedang menggarap dua “proyek” sekaligus yang tenggatnya semakin mendekat, yakni hadiah ulang tahun untuk mak Auli (belahan jiwaku …) dan keberangkatan ke Yerusalem (untuk kedua kalinya) yang sebenarnya sangat aku rindukan bisa berangkat bersama Auli (satu lagi belahan jiwaku …) dan mamaknya, tentunya. Dan beberapa hari ini Tuhan menunjukkan cara-Nya, yakni dengan memindahkanku ke tempat tugas yang baru yang menjanjikan penambahan penghasilan yang lebih bisa diharapkan.

Tapi, menerima uang dari pelayanan firman? Tak pernah aku bayangkan! Sejak semula menerima kepercayaan menjadi penatua aku memang sungguh-sungguh menjadikannya sebagai pengabdian “non-komersil”. Apalagi dari berkhotbah di partangangiangan wejk. Tak tegalah, yauwww …  

Menerima uang transportasi dari gereja – yang konon, katanya sudah dianggarkan – kalau mendampingi kegiatan pelayanan kategorial di luar Jabodetabek, aku pun tak sanggup (apalagi kalau membayangkan betapa alotnya ketika membicarakan pembuatan anggaran tahunan yang harus meniadakan anggaran untuk beberapa kegiatan pelayanan lain yang lebih penting …). Untungnya, Bendahara Huria tidak lagi ‘ngotot memaksaku menerima uang transportasi tersebut untuk kemudiannya setelah aku dengan keras menolak untuk menerimanya ketika disodorkan sepulang mendampingi guru-guru Sekolah Minggu dalam kegiatan pembinaan di Puncak (sekaligus sebagai salah seorang narasumber) sebagai pengalaman pertama. Artinya, beliau merasa “heran” ketika aku tidak bersedia menerima saat itu, lalu pada kegiatan kedua dan selanjutnya tidak lagi “berani” memaksaku menerima dengan menyodorkan kuitansi dan uang seperti yang pertama kali dulu. Baguslah!

Aku membayangkan, betapa susahnya orang-orang mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Namun yang paling utama pertimbanganku adalah firman Tuhan yang mengatakan: Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma (Matius 10:8) dan prinisp Paulus dalam pelayanan yang sangat merasuki aku:  Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma? (2 Korintus 11:7). Dengan cuma-cuma, sekali lagi: dengan cuma-cuma.

Itulah makanya tadi malam aku bersikeras untuk tidak menerima ketika nantulang yang manjabui partangiangan wejk bersikeras pula memberikan amplop padaku ketika mau pamit pulang. Berulang kali aku menolak, sampai akhirnya tulang yang manjabui (yang adalah juga sintua wejk yang seharusnya berkhotbah pada partangiangan wejk malam itu) ikut-ikutan “memaksaku” menerima amplop tersebut. Tak kuasa lagi aku menolaknya manakala tulang menyuruh nantulang untuk memasukkan amplop tersebut ke kantongku, mana pula semakin banyak warga jemaat yang hendak bersalaman pulang di pintu keluar rumah tersebut …

Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku masih sempat berpikir-pikir tentang amplop tersebut. Masih ada perasaan ‘nggak enak sudah menerimanya. Cuma sebentar memikirkannya, karena salah seorang warga jemaat (partulangon) yang menumpang di mobilku juga asyik mengajakku mengobrol tentang kesaksiannya yang berhubungan dengan tuduhan dirinya sebagai algojo penutupan gereja

Sampai di rumah, kepulanganku membangunkan mak Auli (yang berangsur pulih dari serangan maag beberapa hari ini yang membuat kami membawanya ke rumah sakit selama dua hari berturut-turut) dan aku sempatkan memberi tahu tentang amplop tersebut. Dia sangat mengetahui tentang sikapku sehubungan dengan penerimaan uang dari pelayanan jemaat, dan sangat mendukungku yang berprinsip bahwa selama aku masih sanggup membiayai sendiri, aku tidak akan menerima pemberian uang dari pelayanan jemaat. 

Tadi pagi aku menemukan solusinya: memberikan ke gereja dalam bentuk hamauliateon. Ke mana lagi kalau bukan untuk Sekolah Minggu? Dan sebelum ke kantor, tadi pagi aku sempatkan menulis di amplop tersebut: “Hamauliateon sian NN tu Singkola Minggu laho mangurupi tu Festival Koor Singkola Minggu Distrik Jakarta”. Sengaja aku tulis seperti itu untuk memastikan bahwa uang tersebut benar-benar akan diberikan untuk membiayai kebutuhan Sekolah Minggu sebagaimana pernah kami diskusikan dengan pendeta dan Bendahara bahwa jika tidak dituliskan demikian, uang tersebut akan disatukan dengan hamauliateon lainnya dan akan dibagikan secara merata dengan “stakeholder” lainnya …

Plong! 

Andaliman-249 Khotbah 29 September 2013 Minggu-XVIII setelah Trinitatis

Mau Menolong, Malah Jadi Melolong … Persaksikan Iman yang Sudah Diikrarkan, Jangan Sekadar Omong!

Evangelium Matius 25:34-40

25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Epistel 1 Timotius 6:11-19

Pesan penutup

6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

6:13 Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu:

6:14 Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, 6:15 yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.

6:16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.

6:17 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

6:18 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi

6:19 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

Menurut Almanak HKBP, topik Minggu ini Mangurupi angka na marsangkot bulung yang secara harafiah arti marsangkot bulung adalah “berpakaian daun” yang artinya “begitu menderita sampai kehabisan darah”. Aku bayangkan bagaimana orang yang hidup bukan di zaman purba tapi masih harus berpakaian daun: miskin, ‘nggak punya apa-apa, menderita (panas kena matahari secara langsung dan sangat menggigil kedinginan pada suhu yang ekstrim). Lain halnya kalau untuk “gagah-gagahan”, misalnya acara pesta kostum, ya …

Pesan agar membantu orang yang sangat menderita karena kekurangan tersebut sangat jelas terbaca di nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini, yakni perintah Yesus untuk menolong yang haus, lapar, dan tidak berpakaian sebagaimana diri-Nya ketika hidup di dunia (yang kemudian dikatakan bahwa perbuatan menolong sesama adalah sama dengan menolong Yesus secara ‘nggak langsung).

Beberapa kali aku pernah membaca tentang cerita bahwa ada orang yang “menyamar” sebagai orang yang kedinginan di musim salju yang datang mengetuk pintu untuk menumpang sambil menunggu badai salju reda. Orang yang menolongnya dengan baik yang selain memberi tumpangan juga memberikan selimut hangat dan minuman yang mampu menghalau udara dingin, akhirnya menerima hadiah dari perbuatannya. Dan ketika mencari tahu siapa orang yang sudah ditolongnya yang seketika itu juga menghilang pergi entah ke mana (dan tak seorang pun yang lain yang pernah melihatnya …) akhirnya tersadar bahwa dia sudah melakukan perbuatan baik pada orang yang “bukan sembarangan”. Di Alkitab juga pernah ada kisah-kisah seperti itu: ada yang datang bertamu, lalu dijamu dengan baik, lalu menyampaikan nubuatan sebelum permisi meninggalkan tuan rumah yang baik tersebut. Masih ingat, ‘kan?

Sudah tentulah kesempatan untuk memberikan makan, minum, dan pakaian kepada Yesus tidak akan datang lagi pada zaman ini karena Yesus sudah ‘nggak berada di bumi ini lagi secara fisik. Namun, jangan kecil hati, karena melakukan perbuatan baik tersebut kepada orang yang paling hina di dunia ini, adalah sama artinya dengan melakukannya kepada Yesus. Dan ini menguatkanku untuk melakukan pelayanan jemaat maupun kepada orang-orang sekitar bahwa itu berarti juga melayani Yesus yang adalah model kehidupan bagiku. Namun, aku perlu berulang-ulang mengingatkan diriku, bahwa motivasi melakukan semua perbuatan baik itu adalah yang paling utama, yaitu berlandaskan iman kepada Tuhan, bukan untuk kemuliaan diri sendiri.

Dan hal melakukan perbuatan baik itu juga membutuhkan “kejelian” (alkitabiahnya dikatakan “berhikmat”, ‘kali ya …). Adakalanya perbuatan baik tersebut malah berdampak pada ketidakbaikan. Dan ini seringkali mengganggu pikiranku karena hampir setiap hari menjadi pergumulan (kecil-kecilan), yakni ketika berhenti di lampu merah jalan raya dan didatangi banyak sekali peminta-minta. Ada yang berlaku sebagai pengamen (belakangan ini malah mulai “mengancam” …), pengemis (belakangan ini mulai sering ketahuan kedoknya karena berpura-pura sebagai orang cacat, bahkan ada pula yang menyewa bayi untuk mendapatkan belas kasihan …), membersihkan kaca mobil dengan kemoceng (yang bagiku lebih menakutkan karena kondisi kemocengnya yang malah bisa menggores mobil …), dan banyak lagi yang bisa membuat orang-orang menjadi ‘nggak simpati. Tadinya mau bersedekah, malah jadi berserapah. Bukan pula karena pelit, ya … Sebaliknya, ada juga banyak orang baik yang berprinsip bahwa menyumbang tetap harus dilakukan, sekalipun sudah tahu bahwa itu semua adalah kepura-puraan dan kebohongan yang sebagian besar didorong oleh kemalasan untuk mencari nafkah dengan jujur dan kerja keras. Tapi, menurutku yang paling tepat dalam hal ini adalah: lakukan perbuatan baik bilamana itu adalah tindakan yang paling tepat!

Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini mengingatkan tentang konsepsi manusia Allah (ayat-11) yang harus menjauhi sifat cinta akan uang (ayat-9 dan 10), sebaliknya untuk mencari kekayaan yang kekal di bumi dan di surga. Istilah “manusia Allah” lazim dipergunakan di Perjanjian Lama yang mengacu kepada nabi yang menyampaikan sabda Allah dan memastikan bahwa kepentingan Allah diperjuangkan dalam kehidupan, yang menurutku berarti bahwa peran tersebut harus dilakukan oleh orang-orang percaya. Yakni menyampaikan firman dan mempersaksikan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Aku mengklaim diriku sebagai manusia Allah, berarti aku mengakui bahwa diriku telah dipilih Allah sebagai alat untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Untuk itu dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh.

Kesungguhan sangat dibutuhkan dalam mengejar kehidupan yang kekal, yakni melakukan keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan (ayat-11) untuk bertanding dalam pertandingan iman yang benar (ayat-12). Pertandingan iman yang benar artinya memperjuangkan iman kepada Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus sebagaimana diikrarkan (dalam baptisan, lepas sidi, dan setiap ibadah Minggu) dalam kehidupan. Dan Yesus adalah model dalam berikrar yang sungguh-sungguh sebagaimana dilakukan-Nya saat berhadapan dengan Pontius Pilatus (ingat episode The Passion di mana Yesus tetap teguh dengan ketuhanan-Nya yang antara lain tidak tergoda dengan tawaran Pilatus yang mengatakan kemampuannya melepaskan diri-Nya dari hukuman mati?). 

Godaan untuk meninggalkan ikrar setia adalah perjuangan iman yang dimaksud oleh Paulus dalam suratnya kepada Timotius ini. Orang-orang percaya harus memenangkannya dan jangan mau kalah dengan godaan jahat itu agar tidak bercela sampai Yesus datang kembali ke dunia ini, Raja dan Penguasa yang sesungguhnya, yang tidak pernah takluk oleh maut (Yesus bangkit dari kematian, ‘kan?) yaitu kegelapan, karena Yesus adalah Terang dan berdiam dalam terang. Tidak ada seorang pun yang dapat menghampiri-Nya, bahkan melihat-Nya pun tidak karena masih hidup dalam dimensi yang berbeda dengan-Nya (maka harus dipertanyakan jika ada orang-orang pada zaman sekarang ini yang mengklaim bahwa dirinya pernah bertemu dengan Yesus secara fisik alias lahiriah …).

Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya, yang menjanjikan kehidupan kekal bagi orang-orang yang menuruti perintah-Nya. Bukan kekayaan, karena kekayaan tidak menjanjikan kekekalan dan tidak bisa dijadikan pengharapan. Lebih baik mengumpulkan harta di sorga. Bagi yang sudah “terlanjur” kaya, jadikanlah kekayaan itu untuk kebaikan dan kebajikan dengan suka memberi dan berbagi.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Membantu orang yang kekurangan adalah hal yang sulit dalam kehidupan kita ini. Kalau menolong Yesus secara langsung, pastilah mudah melakukannya (bahkan akan berlomba-lomba melakukannya untuk menunjukkan kasih kepada-Nya …). Dalam dunia yang semakin jahat dan penuh kebohongan seperti sekarang ini (dulu ‘nggak, ya?) kita seringkali diperhadapkan dengan situasi yang dilematis. Mau menolong, malah jadi melolong. Kita tahu dan seringpula mendengar kejadian di mana ada orang yang bersedia menolong orang yang mengalami kecelakaan lalu lintas – tabrak lari, misalnya – malah mendatangkan kesulitan bagi dirinya karena harus berurusan dengan kepolisian. Menjadi saksi yang berulangkali datang ke lembaga hukum pun sudah sangat menyusahkan, ‘gimana pula kalau korban tabrak lari tersebut meninggal sehingga kita yang sebenarnya adalah yang menolong malah dituduh pula sebagai pelaku?

Ini adalah bagian dari kesaksian, atau ikrar yang seringkali kita sampaikan sebagai pengikut Kristus, yakni berbuat baik kepada sesama sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus yang adalah model kehidupan kita. Segala konsekuensinya, harus pula kita siap untuk menanggungnya, sampai kedatangan-Nya kelak. Dan kita harus memastikan kita tidak bercacat-cela dalam kehidupan kita agar layak menerima kehidupan yang kekal.

Termasuk dalam hal mengelola kekayaan yang dititipkan Tuhan kepada kita. Sudahkah kita memperolehnya dengan cara yang baik? Sudah pulakah kita menggunakannya untuk hal-hal yang baik?

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Jika dikatakan bahwa melakukan perbuatan baik kepada orang yang lapar, haus, dan telanjang adalah sama dengan melakukannya kepada Yesus, bagaimana seharusnya kita bersikap kepada para pengemis yang seringkali kita tahu adalah kepura-puraan yang didorong oleh kemalasan? Apakah kita tidak perlu melakukan perbuatan baik kepada mereka itu? Kalau mau melakukannya, apa yang harus mendasari kita bersikap?

(2)     Mempersaksikan iman adalah tantangan yang sangat berat pada zaman sekarang ini. Bukan karena kita hidup dalam dunia yang heterogen (misalnya dalam dunia pekerjaan), bahkan dalam kehidupan kita yang seiman sekalipun (misalnya dalam kehidupan berjemaat). Yang mana yang lebih sulit, bersaksi di dunia heterogen atau yang homogen?

(3)     Ada yang mengatakan adalah lebih mudah membantu orang-orang yang berkekurangan bila dari lingkungan sendiri (keluarga, kerabat, saudara) daripada yang tidak dikenal sama sekali. Apa iya? Atau, malah bukan sebaliknya? Menurutku, yang paralel dengan hal ini adalah, hal mengampuni sesama: mana yang lebih mudah, mengampuni orang yang dekat sama kita ataukah mengampuni orang yang tidak dekat dengan kita?

Bah, Koq Mansohot?

Bukan untuk gagah-gagahan, namun begitu restrukturisasi wilayah hasintuaon berubah tahun 2013 ini dan wilayah kami resmi bernama Wejk Betania (yang bisa diplesetkan sebagai Bekasi dan Jakarta sekitarnya karena warga jemaat yang masuk wejk kami ini memang berdomisili di seputaran wilayah tersebut) aku sudah merancang dan mempresentasikan secara resmi tentang visi dan misi pelayananku sebagai sintua (yang juga dibantu oleh dua orang sintua lainnya). Dan dengan kemurahan Tuhan, sebagian besar telah terwujud, yakni:

(1)    Menjadikan Wejk Betania sebagai persekutuan yang paling mendukung pelayanan jemaat, yakni dengan “mengutus” warga jemaatnya yang terpilih sebagai aktivis yang benar-benar aktif, yang sejauh ini adalah di Sekolah Minggu (dengan menjadi ketua seksi, membentuk dan mengelola paduan suara yang baru kali ini ada dengan professional, dan aku sendiri adalah paniroi-nya, ma’af bukan untuk menyombongkan diri …), Remaja/Naposobulung (penggerak berkegiatan yang besar), dan Ama (menjadi wakil ketua).

(2)    Menjadikan Wejk Betania sebagai persekutuan yang paling mendukung inisiatif gereja, utamanya terhadap hal-hal yang baru, yakni menjadi salah satu wejk yang paling tidak bergejolak dengan restrukturisasi wilayah pelayanan, membantu penyediaan koleksi taman bacaan di komplek gereja (yang sayangnya tidak mendapat respon dari warga jemaat di wejk lainnya sehingga terlihat macet …).

Untuk mewujudkan tersebut aku melakukan pengelolaan dengan sebaik mungkin, dengan cara meningkatkan partisipasi warga jemaat dalam berkegiatan. Antara lain dengan mengirimkan pesan pendek setiap Selasa dan Rabu untuk mengingatkan kehadiran di partangiangan wejk, melakukan absensi dan meng-update ketidakhadiran warga jemaat, melakukan diskusi interaktif pada pelayanan khotbah alih-alih khotbah satu arah, dan evaluasi kuartalan dengan menggunakan LCD-projector milik gereja (peralatan yang dulu kami beli dengan mengumpulkan sumbangan dari beberapa orang yang peduli dengan betapa pentingnya peralatan tersebut untuk berkomunikasi dan berpresentasi kepada warga jemaat). Oh ya, tentang LCD projector tersebut, kami sampai dua kali membelinya dengan cara margugu beberapa orang, karena yang pertama hilang dari rumah pendeta yang berada di komplek gereja. Dan yang sekarang sedang rusak dan belum ada penggantinya. Aku sudah meminta agar dibeli saja yang baru kalau biaya reparasinya yang empat jutaan rupiah kemahalan. Nampaknya cuma aku yang peduli dengan keberadaan alat tersebut karena aku belum pernah mendengar komentar sehubungan dengan rusaknya alat tersebut, termasuk guru-guru Sekolah Minggu yang sebenarnya tiap Minggu menggunakannya di ibadah.

Rabu (18 September 2013) yang lalu aku ‘nggak bisa hadir di partangiangan wejk (dan sudah menyampaikannya ke sintua dan ruas na manjabui sambil meminta ma’af atas ketidakhadiranku tersebut) karena bertugas dari kantor untuk menyampaikan materi pelatihan di Bandung pada Selasa, yang berlanjut ke Semarang keesokan paginya). Aku sudah pesankan ke sintua yang bertugas agar memastikan untuk membicarakan ruas na manjabui untuk partangiangan minggu berikutnya karena untuk tanggal tersebut belum ada yang mem-book.

Aku pikir semuanya berjalan dengan lancar sampai sermon parhalado di Jum’atnya. Walau datang duluan (yang pertama tiba di gereja) aku ‘nggak ikut marsermon, karena hari itu jadwalku adalah melakukan verifikasi Credit Union Modification alias CUM yang sudah dikejar tenggat, September 2013 ini sudah harus selesai untuk dilanjutkan dengan Rapat Pengurus, lalu Rapat Anggota Luar Biasa. Melalui pesan pendek, seorang penatua dari wejk lain meminta kesediaanku untuk berkhotbah di partangiangan wejk mereka yang tentu saja aku tolak karena aku “harus” berkhotbah di partangiangan wejk kami untuk menggantikan inang pandita yang masih cuti bersalin. Jawaban berikutnya membuatku terkejut: “ai so adong partangiangan wejkmuna ala mansohot do, ndang adong na rade manjabui”. Bah! Tentu saja aku kaget, masak ‘nggak ada seorang pun yang bersedia memberikan tumpangan? Wah, wah, wah …

“Sedikitnya kami yang hadir waktu partangiangan wejk kemarin itu, lae. ‘Nggak ada yang mau memberikan rumahnya sebagai tumpangan partangiangan Rabu depan ini. Boha bahenon …”, jawab seorang sintua wejk kami ketika aku tanyakan tentang ketiadaan partangiangan wejk Rabu depan. Wah, aku jadi prihatin, koq sesulit itu ya? Kenapa ‘nggak salah seorang sintua aja yang diminta memberikan tumpangan supaya tetap ada partangiangan wejk? Dua minggu yang lalu ‘nyaris juga ‘nggak ada partangiangan wejk karena warga jemaat yang sudah terjadwal manjabui meminta pengunduran ke minggu berikutnya karena pada hari itu mereka (suami dan isteri) jaga malam di rumah sakit. Kali itu aku langsung bergerak mencari pengganti – dan sudah siap untuk manjabui di rumah kami kalau memang ‘nggak ada yang bersedia – dan puji Tuhan ada saja warga jemaat yang bersedia pada akhirnya.   

Sayang sekali aku pas ‘nggak hadir pada partangiangan wejk Rabu lalu itu sehingga tidak terburu-buru diputuskan mansohot partangiangan wejk, dan sayang juga kenapa sintua langsung menyerah dan tidak ada yang mengambil inisiatif untuk mencari warga jemaat yang bersedia manjabui walaupun ‘nggak hadir saat partangiangan kali itu.

Hal ini menyebabkan ada dua garis merah tua di daftar absensi partangiangan wejk yang selalu aku buat sebagai pertanda dua kali tidak ada partangiangan wejk di tempat kami. Pertama adalah saat menjelang Lebaran di mana diputuskan semua kegiatan pelayanan di gereja ditiadakan selama satu minggu itu. Dan yang kedua adalah Rabu malam ini. Ada perasaan kurang enak di hatiku, namun aku berusaha menenteramkan hatiku dengan mengatakan bahwa kalaupun ‘nggak melayani di partangiangan Wejk Betania karena ketiadaan warga jemaat yang memberikan tumpangan (yang ini yang sangat menyedihkan bagiku!), namun aku tetap melayani di wejk lain sebagai pengkhotbah (ini yang agak menghibur) …