Andaliman-246 Khotbah 08 September 2013 Minggu-XV setelah Trinitatis

Awas Nabi Palsu! Lakukan Kehendak Allah Saja dengan Menjadi Penabur dan Penuai

Evangelium Matius 7:15-23

Hal pengajaran yang sesat

7:15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?

7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.

7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Epistel Yohanes 4:31-42

4:31 Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: “Rabi, makanlah.”

4:32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”

4:33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?”

4:34 Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

4:35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

4:36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.

4:37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.

4:38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

4:39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”

4:40 Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya.

4:41 Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya,

4:42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dia-lah benar-benar Juru selamat dunia.”

Kedua nas perikop yang menjadi Ev dan Ep Minggu ini sebenarnya menyajikan dan menjanjikan pesan yang sangat sarat dengan makna yang relevan dengan kehidupan orang percaya pada masa kini. Tema yang menjadi acuan membawa pada fokus tentang melakukan kehendak Allah saja.

Pada waktu membawakan khotbah dengan nas perikop yang hampir sama di tahun lalu di Bandung, dan juga di perkumpulan remaja/naposo bulung di Jakarta bulan lalu – hal ini membuktikan bahwa firman Tuhan memang “di seputaran itu saja” … namun setiap orang harus berhikmat untuk mendapatkan rhema yang memperkaya pengertiannya tentang pesan yang disampaikan – ada keterkejutan yang aku dapatkan: pengetahuan mereka tentang pengkhotbah populer saat ini ternyata sangat rendah (bahkan tidak ada seorang pun yang tahu tentang Benny Hinn …). Saat itu aku mengajak mereka merenungkan tentang kedahsyatan pelayanan yang dilakukan oleh beberapa orang populer belakangan hari ini (sehingga banyak “pengikutnya”, bahkan ada yang rela meninggalkan gereja tempatnya bersekutu selama puluhan tahun untuk kemudian bergabung dengan persekutuan baru yang dirasakan lebih menarik dengan berbagai pernak-pernik), yang ternyata juga belum tentu mereka dikenal oleh Yesus. Walaupun mereka selama ini selalu mengklaim dirinya sebagai anak-anak Tuhan, pelayan Tuhan, paling dekat dengan Tuhan (konon, ada pula yang mengklaim sudah beberapa kali turun naik dari sorga untuk bertemu Yesus …), melakukan banyak mukjizat, berdoa sangat khusyuk, berteriak-teriak dalam nama Yesus, mengusir roh-roh jahat, dan banyak tindakan fenomenal lain. Ternyata itu bukan sesuatu jaminan untuk masuk kerajaan sorga. Lho?

Iya, memang … karena Yesus dengan tegas mengatakan bahwa hanya orang-orang yang melakukan kehendak Bapa-Nya sajalah yang akan dikenal oleh Yesus kelak dan berhak mendapatkan tempat di sorga. Dihubungkan dengan nabi-nabi palsu sebagaimana yang disampaikan oleh Yesus dalam Ep, mereka layaknya pemegang tiket palsu. Terang aja ‘nggak bisa masuk! Artinya adalah ‘nggak semua yang tampaknya melakukan perintah Tuhan itu adalah sesuai dengan kehendak Allah. Semuanya berpulang kepada motivasi saat melakukannya. Ibadah yang sangat khidmat dan atau ibadah yang sangat dahsyat dengan fenomenanya yang membuat banyak orang terpikat, bisa saja ditolak oleh Tuhan secara bulat-bulat kalau dilakukan tidak untuk kemuliaan Tuhan.

Dari buahnyalah akan terlihat apakah motivasi tindakan tersebut sesuai atau tidak dengan kehendak Allah. Sebagaimana juga proses berbuah, tentu saja membutuhkan waktu. Ada proses antara menabur dan menuai, yakni ada yang cepat dan yang lambat (bergantung pada jenis pohon dan keadaan yang melingkupinya juga sehingga ada dikenal dengan istilah musim …). Demikian jugalah halnya dengan kehidupan rohani. Ada saat menabur, ada pula saat menuai. Ada yang menabur, ada pula yang menuai, dan belum tentu pula orang yang menabur yang akan menuai. 

Dialog antara Yesus dengan perempuan Samaria membawa pesan tentang hal tersebut. Setelah sebelumnya Yesus membicarakan tentang air kehidupan lalu perempuan Samaria tersebut menyampaikan apa yang telah didengarnya dari Yesus kepada orang-orang Samaria lainnya (yang adalah warga kelas dua di kalangan masyarakat Yahudi karena kekurangorisinalan ras mereka). Tanggapan masyarakat tersebut sangat positif, mereka menjadi percaya. Semula karena ucapan perempuan Samaria, lalu mereka buktikan dengan bertemu langsung dengan Yesus (ayat-42). Berdasar perikop, Yesus menghabiskan waktu dua hari bersama mereka yang membuat mereka menjadi percaya.

Itulah yang menjadi kehendak Allah: menjadi penabur dan penuai. Dan itu adalah “makanan” yang seharusnya dikenal saat ini oleh semua orang percaya. Dalam perikop dikesankan bahwa murid-murid “hanyalah” menjadi penuai, yakni untuk ladang-ladang yang sudah menguning dan siap untuk dituai, yakni yang dulu benihnya ditabur oleh para rasul dan nabi-nabi zaman dulu kala. ‘Nggak usah kecil hati kalau hanya “sekadar” menjadi penuai dan mendapatkan hasil dari pekerjaan yang dilakukan orang lain, sebab ” penabur dan penuai sama-sama bersukacita.” (ayat-36).  

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Kita tentunya tahu tentang banyaknya ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh banyak persekutuan saat ini, baik yang “lama” (termasuk di dalamnya adalah gereja “konvensional” atau “tradisional” seperti HKBP) maupun yang baru (belum tentu berupa gereja dalam artian fisik bangunan, melainkan juga berbagai persekutuan yang memanfa’atkan tempat-tempat publik). Semuanya mengklaim menjalankan perintah Tuhan yang tercantum dalam Alkitab sebagaimana juga mengklaim bahwa ajarannya yang paling sesuai dengan kehendak Allah. Perikop Minggu ini mengajarkan agar kita berhati-hati dengan semua pengajaran yang kita dapatkan, karena ada saja kemungkinan bahwa merekalah yang dimaksud oleh Yesus sebagai nabi-nabi palsu layaknya serigala berbulu domba (pura-pura baik dan suci, namun motivasi sebenarnya sangat jauh dari pesan yang disampaikannya …). Bisa terjadi di mana saja, di gereja dan atau persekutuan sekalipun, baik warga jemaat maupun pelayan jemaat bahkan!

Perikop ini mengingatkan kepada kita untuk mewaspadai nabi-nabi palsu dan ajaran-ajaran palsu yang kecenderungannya akan semakin bertambah dari hari ke hari. Dengan melihat buahnya, yakni dengan melihat hasil perbuatannya karena belum tentu juga pelayanan yang kelihatannya bagus ternyata sesuai dengan kehendak Allah. Itu sebagai warga jemaat, sebagai pelayan jemaat kita harus memastikan bahwa motivasi pelayanan kita sudah benar (bukan untuk kemuliaan diri sendiri, melainkan kemuliaan Allah) dengan ajaran yang benar (yakni yang alkitabiah). Dengan melakukan hal-hal tersebut, benarlah kita sudah memakan makanan sebagaimana yang Yesus maksud dalam nas perikop Ep (ayat-34).

Agar tidak terkecoh dan untuk memastikan bahwa kita benar-benar melakukan kehendak Allah sesungguhnya, berikut ini saran yang layak untuk dipertimbangkan:

ü  Pastikan bahwa ajaran yang disampaikan benar-benar firman Tuhan yang berdasarkan apa yang tertulis dalam Alkitab dengan kebenaran Allah. Bukan kebenaran yang ditafsirkan oleh penyampai ajaran yang berorientasi kepada dirinya (dan atau golongannya) sehingga tidak memuliakan Allah. Untuk itu, ujilah pesan yang disampaikannya.

ü  Jangan mudah terkagum-kagum pada manusia selain Yesus.

ü  Jadilah penabur dan penuai dengan cara mempersaksikan iman percaya kita dalam perbuatan sehari-hari yang mencerminkan sebagai orang percaya kepada Kristus. Jangan pula kecil hati kalau hanya menjadi “sekadar” penabur atau “sekadar” penuai. Keduanya adalah baik di mata Allah kalau dilakukan dengan sukacita. Satu lagi, jangan pula lupa bahwa penuaian ada masanya, artinya yang ditanam hari ini oleh kita belum tentu pula langsung dapat kita tuai secara langsung. Jangan risaukan apa yang sudah kita tabur, melainkan tetaplah terus menabur karena Tuhan jualah yang akan memberikan pertumbuhan.

Oh ya, sebagaiamana perempuan Samaria yang kemudian mempersaksikan imannya kepada orang-orang Samaria lainnya yang lalu percaya pada Yesus sebagai juru selamat, demikian jugalah kita adanya. Jika semula ketertarikan kita mengenal kabar baik tentang keselamatan karena pengkhotbah (dan atau media lainnya), segeralah pula kemudian beralih kepada Yesus yang menjadi pusat pemberitaan. Demikian pula kalau kita yang sebagai penyampai firman (sebagai pengkhotbah, misalnya) adalah yang menjadi daya tarik orang-orang untuk mengenal Yesus, segeralah mengalihkan perhatian orang-orang tersebut kepada Yesus dan jadikan Yesus sebagai pusat pemberitaan kabar baik. Bukan siapa-siapa, melainkan Yesus!

Lihatlah sekeliling kita, banyak orang yang belum pernah mendengar tentang Yesus. Banyak pula yang sudah pernah mendengar tentang Yesus, namun belum mempercayai-Nya sebagai juru selamat. Itulah ladang-ladang dengan tanaman yang sudah menguning (bayangkan padi di sawah) dan siap untuk dituai.

Siap?

 Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Kita tidak bisa selalu mengetahui dengan cepat bahwa pelayanan yang sedang kita ikuti itu sebagai “yang benar” sampai kemudian melihat buahnya. Bahkan buahnya pada suatu musim (atau bahkan beberapa musim) menghasilkan panen raya yang menakjubkan. Bagaimana kita memahami fenomena ini?

(2)     Apakah orangtua yang jahat “harus” menghasilkan anak-anak yang jahat pula? Bukankah hal itu sesuai dengan pesan bahwa ‘Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik’?

(3)     Apakah kita rela menunda makanan demi kepentingan pelaksanaan kehendak Allah? Apakah kita rela menunda kepuasan jasmani, supaya kita dapat menikmati kepuasan rohani? Apakah kita rela menunda usaha untuk memperkayakan diri kita, untuk memperoleh “upah” sorgawi?

(4)     Dahulu, nabi-nabi dan Yesus yang menjadi penabur, siapakah yang menjadi penabur saat ini? Siapa pula yang menjadi penuai? Yang mana yang menjadi bagian kita saat ini, sebagai penabur ataukah sebagai penuai?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s