Andaliman-247 Khotbah 15 September 2013 Minggu-XVI setelah Trinitatis

Hanya Oleh Kasih Karunia, Hanya Kesaksian Yesus …

Evangelium 1 Timotius 1: 12-17

Ucapan syukur atas kasih karunia Allah

1:12 Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku—

1:13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.

1:14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.

1:16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.

1:17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.

Epistel Yohanes 3:31-36

3:31 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.

3:32 Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu.

3:33 Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar.

3:34 Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.

3:35 Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.

3:36 Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Menurutku, ‘nggak ada yang lebih berharga dalam hidup ini daripada mendapatkan pengampunan tanpa syarat. Hanya karena kasih karunia, layaknya yang diterima oleh Paulus. Sebelum bertobat, dia adalah seorang pemburu dan pembunuh orang-orang Kristen yang resmi (mendapat surat pengesahan dari penguasa), “seorang penghujat, penganiaya, dan yang ganas” (ayat-13) yang melakukan tugas tersebut dengan sungguh-sungguh sebagaimana “layaknya bekerja untuk Tuhan”. Fanatisme keyahudiannya saat itu membuatnya sangat membenci orang-orang Kristen, sampai kemudian Tuhan menangkapnya. Benar-benar menangkapnya, dan menjadikannya sebagai pewarta Injil yang kesungguhannya menjadi sangat luar biasa sebagaimana karyanya yang kita sangat akui sampai saat ini.

Yang semula pemburu Yesus, lalu ketemu Yesus dalam suatu penglihatan, langsung berubah menjadi penyampai berita tentang Yesus. Apa yang membuatnya berubah sangat drastic tersebut? Menurutku, pengampunan yang diterimanya membuatnya mampu dalam mengemban tugas pelayanan yang sangat sangat sangat berat. Bukan hanya nyawanya yang “sekadar” terancam, melainkan Paulus benar-benar kehilangan nyawanya dalam mempertahankan iman dan pelayanannya tentang Yesus Kristus.

Apakah ada lagi orang yang lebih jahat daripada Paulus pra-pertobatan? Mungkin ada, tapi pastinya bukan aku (ma’af, kalau ini terasa menyombongkan diri, tapi begitulah menurut pendapatku, paling tidak, aku ‘nggak pernah membunuh orang seperti Paulus …). Hal itu pulalah yang membesarkan hatiku: aku yang melakukan kejahatan “belum ada apa-apanya” dibandingkan Paulus, masakan tidak lebih mudah mendapatkan pengampunan dan kasih karunia dari Tuhan? Sekadar intermeso: “belum ada apa-apanya” dalam melakukan kejahatan dibandingkan Paulus, sebanding pulalah dengan pelayananku yang “belum ada apa-apanya” dibandingkan dengan pelayanan Paulus yang luar biasa. Fair enough-lah, ya …

Pengakuan yang diucapkan Paulus sebagai orang yang paling berdosa (pengakuan yang sangat jarang terdengar saat ini dalam dunia yang semakin mengandalkan pencitraan diri dan individualis, ya?). Paulus menyesali masa lalunya yang kelam sebagai “kelakuan di luar iman” (ayat-13), sesuatu yang acapkali terjadi juga dalam kehidupanku yang masih berlumur dosa kedagingan, dan dengan kesetiaannya kepada Kristus (ayat-12) dalam pelayanannya, dia beroleh kasih karunia yang melimpah dengan iman dan kasih dalam Kristus (ayat-14).

Di ayat terakhir (ayat-17), Paulus mengingatkan: “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.”. Itu pulalah yang ingin dipesankan oleh nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini, bahwa hanya Dia yang datang dari atas sajalah yang patut disembah karena Dia-lah segala-galanya, dan yang mengatasi segala-galanya yang ada di bumi. Perikop tersebut mengacu dan mengarahkan kepada Yesus yang adalah datang dari atas dan yang adalah anak Allah.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Rasul Paulus layak kita jadikan contoh (sesuai dengan anjurannya dalam ayat-16 nas perikop yang menjadi Ev MInggu ini) tentang pengampunan dan kasih karunia dalam hidup keimanan kita kepada Kristus. Paulus dengan “kemanusia-biasaannya” ternyata tidak jauh berbeda dengan kita dalam hal melakukan dosa (karena kita juga adalah manusia biasa …). Bahkan dalam hal tertentu – membunuh orang dan menghujat Tuhan ketika masih dalam tahap pra-pertobatan – kita masih “tidak lebih jahat” daripada Paulus. Benar, ‘kan? Hal demikian hendaknya mampu membesarkan hati kita, bahwa Tuhan juga mampu mengampuni dan memberikan kasih karunianya kepada kita yang dosanya “belum ada apa-apanya” dibandingkan Paulus. Sedangkan Paulus yang kejahatannya luar biasa pun diampuni Tuhan dan diberikan kasih karunia, masa’ kita tidak? Dan Tuhan memang mampu melakukannya, kan?

Sebaliknya, sebagai ungkapan rasa syukurnya, Paulus melakukan pengabdian dan pelayanan yang luar biasa dalam memberitakan berita keselamatan di dalam Kristus. Banyak orang yang mengikuti jejaknya menjadi petobat dan mempertobatkan orang-orang. Apakah kita juga mampu seperti Paulus dalam hal ini? ‘Nggak usah kecil hati, karena Tuhan juga menuntut hal-hal dari kita yang sesuai dengan kemampuan dan panggilan kita …

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Rasul Paulus mengakui pengampunan dan kasih karunia Tuhan yang luar biasa yang diterimanya yang memampukannya dalam melakukan pelayanan yang dipercayakan Tuhan baginya. “Semakin besar dosa dan kejahatan yang diampuni, maka semakin besar pulalah rasa syukur yang dihaturkan kepada Tuhan”, kata sebagian besar orang berpendapat. Bagaimana dengan kita, apakah kita “membutuhkan” sampai melakukan dosa yang sangat banyak dan luar biasa terlebih dahulu agar mendapatkan pengampunan dan kasih karunia yang luar biasa pula dari Tuhan kelak?

(2)     Sebagai anak Allah Bapa, Yesus sudah menerima segala kuasa dari Allah Bapa. Lantas, kenapa kita berdoa mesti “dibumbui” dengan ucapan permohonan “melalui anak-Mu Tuhan Yesus Kristus”?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s