Absensi Partangiangan Wejk

Absensi dan Mansohot (230913)

Mungkin ini bukan satu-satunya di dunia – walau aku yakin sepenuhnya sebagai satu-satunya di jemaat kami – tapi aku bangga menyampaikannya, bahwa di wejk kami setiap partangiangan (yang dilakukan setiap Rabu malam jam 20.00 WIB) aku selalu mendaftar warga jemaat yang hadir. Bukan individual (secara kuantitatif dilaporkan ke Gereja untuk kemudian diumumkan melalui tingting setiap Minggu), melainkan per pasangan alias keluarga karena menurut pemahamanku, ini adalah ibadah persekutuan keluarga yang dilakukan oleh Gereja. Artinya, satu keluarga cukup diwakili oleh satu orang, bisa suami, bisa pula isteri (kalau kedua-keduanya yang hadir, tentu saja lebih baik …). Yang hadir akan aku tandai dengan warna hijau, sedangkan yang manjabui aku akan tandai dengan “V” dan shading hijau muda. Tentu saja, berdasarkan “oret-oretan” waktu acara partangiangan yang kemudian besoknya aku pindahkan ke format Excel di notebook-ku.

Bagiku, ini adalah satu cara untuk menggerakkan warga jemaat untuk hadir dalam ibadah mingguan tersebut (suatu kali seorang warga jemaat yang agak rajin, baru tersadar bahwa dirinya belum pernah satu kalipun manjabui partangiangan wejk ini saat mempertanyakan kenapa harus mansohot karena tidak ada yang bersedia menyediakan tumpangan partangiangan karena keluarga yang sudah dijadwalkan semula meminta penundaan ke minggu berikutnya …). Selain itu, data absensi ini juga dapat dipakai dalam melakukan evaluasi yang kami lakukan secara kuartalan (selain kehadiran, aku tampilkan juga jumlah durung-durung sebagai bahan si pahusor-husoron …).

Bagaimana relevansi absensi ini dengan kehadiran warga jemaat di partangiangan? Jujur saja, aku belum menemukan metodologi yang pas untuk mengukurnya. Jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama untuk pengiriman pesan-pendek (SMS) setiap Selasa pagi dan Rabu pagi untuk pengingat agar warga jemaat hadir dalam pertangiangan wejk. Namun, bagiku untuk saat ini sudah cukup memadai untuk perbaikan pelayanan jemaat ke depan. Daripada selama ini yang lebih banyak berdasarkan “daya ingat” dan “ninna tu ninna”, tentu saja ini lebih bisa dipertanggungjawabkan keilmiahannya, ‘kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s