Amplop Berkhotbah di Partangiangan Wejk …

Amplop Berkhotbah di Partangiangan Wejk (260913)

Bukan munafik, apalagi sok suci dengan menolak pemberian orang (baca: warga jemaat). Jujur saja, saat ini aku sedang membutuhkan uang lebih daripada biasanya karena sedang menggarap dua “proyek” sekaligus yang tenggatnya semakin mendekat, yakni hadiah ulang tahun untuk mak Auli (belahan jiwaku …) dan keberangkatan ke Yerusalem (untuk kedua kalinya) yang sebenarnya sangat aku rindukan bisa berangkat bersama Auli (satu lagi belahan jiwaku …) dan mamaknya, tentunya. Dan beberapa hari ini Tuhan menunjukkan cara-Nya, yakni dengan memindahkanku ke tempat tugas yang baru yang menjanjikan penambahan penghasilan yang lebih bisa diharapkan.

Tapi, menerima uang dari pelayanan firman? Tak pernah aku bayangkan! Sejak semula menerima kepercayaan menjadi penatua aku memang sungguh-sungguh menjadikannya sebagai pengabdian “non-komersil”. Apalagi dari berkhotbah di partangangiangan wejk. Tak tegalah, yauwww …  

Menerima uang transportasi dari gereja – yang konon, katanya sudah dianggarkan – kalau mendampingi kegiatan pelayanan kategorial di luar Jabodetabek, aku pun tak sanggup (apalagi kalau membayangkan betapa alotnya ketika membicarakan pembuatan anggaran tahunan yang harus meniadakan anggaran untuk beberapa kegiatan pelayanan lain yang lebih penting …). Untungnya, Bendahara Huria tidak lagi ‘ngotot memaksaku menerima uang transportasi tersebut untuk kemudiannya setelah aku dengan keras menolak untuk menerimanya ketika disodorkan sepulang mendampingi guru-guru Sekolah Minggu dalam kegiatan pembinaan di Puncak (sekaligus sebagai salah seorang narasumber) sebagai pengalaman pertama. Artinya, beliau merasa “heran” ketika aku tidak bersedia menerima saat itu, lalu pada kegiatan kedua dan selanjutnya tidak lagi “berani” memaksaku menerima dengan menyodorkan kuitansi dan uang seperti yang pertama kali dulu. Baguslah!

Aku membayangkan, betapa susahnya orang-orang mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Namun yang paling utama pertimbanganku adalah firman Tuhan yang mengatakan: Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma (Matius 10:8) dan prinisp Paulus dalam pelayanan yang sangat merasuki aku:  Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma? (2 Korintus 11:7). Dengan cuma-cuma, sekali lagi: dengan cuma-cuma.

Itulah makanya tadi malam aku bersikeras untuk tidak menerima ketika nantulang yang manjabui partangiangan wejk bersikeras pula memberikan amplop padaku ketika mau pamit pulang. Berulang kali aku menolak, sampai akhirnya tulang yang manjabui (yang adalah juga sintua wejk yang seharusnya berkhotbah pada partangiangan wejk malam itu) ikut-ikutan “memaksaku” menerima amplop tersebut. Tak kuasa lagi aku menolaknya manakala tulang menyuruh nantulang untuk memasukkan amplop tersebut ke kantongku, mana pula semakin banyak warga jemaat yang hendak bersalaman pulang di pintu keluar rumah tersebut …

Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku masih sempat berpikir-pikir tentang amplop tersebut. Masih ada perasaan ‘nggak enak sudah menerimanya. Cuma sebentar memikirkannya, karena salah seorang warga jemaat (partulangon) yang menumpang di mobilku juga asyik mengajakku mengobrol tentang kesaksiannya yang berhubungan dengan tuduhan dirinya sebagai algojo penutupan gereja

Sampai di rumah, kepulanganku membangunkan mak Auli (yang berangsur pulih dari serangan maag beberapa hari ini yang membuat kami membawanya ke rumah sakit selama dua hari berturut-turut) dan aku sempatkan memberi tahu tentang amplop tersebut. Dia sangat mengetahui tentang sikapku sehubungan dengan penerimaan uang dari pelayanan jemaat, dan sangat mendukungku yang berprinsip bahwa selama aku masih sanggup membiayai sendiri, aku tidak akan menerima pemberian uang dari pelayanan jemaat. 

Tadi pagi aku menemukan solusinya: memberikan ke gereja dalam bentuk hamauliateon. Ke mana lagi kalau bukan untuk Sekolah Minggu? Dan sebelum ke kantor, tadi pagi aku sempatkan menulis di amplop tersebut: “Hamauliateon sian NN tu Singkola Minggu laho mangurupi tu Festival Koor Singkola Minggu Distrik Jakarta”. Sengaja aku tulis seperti itu untuk memastikan bahwa uang tersebut benar-benar akan diberikan untuk membiayai kebutuhan Sekolah Minggu sebagaimana pernah kami diskusikan dengan pendeta dan Bendahara bahwa jika tidak dituliskan demikian, uang tersebut akan disatukan dengan hamauliateon lainnya dan akan dibagikan secara merata dengan “stakeholder” lainnya …

Plong! 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s