Andaliman-250 Khotbah 06 Oktober 2013 Minggu-XIX setelah Trinitatis

Malulah Akan Masa Lalu yang Menjijikkan, Hidup Barulah Dalam Roh!

Evangelium Yehezkiel 36:22-32 (bahasa Batak Hesekiel)

36:22 Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang.

36:23 Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa.

36:24 Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.

36:25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.

36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

36:27 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

36:28 Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu.

36:29 Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu.

36:30 Aku juga memperbanyak buah pohon-pohonanmu dan hasil ladangmu, supaya kamu jangan lagi menanggung noda kelaparan di tengah bangsa-bangsa.

36:31 Dan kamu akan teringat-ingat kepada kelakuanmu yang jahat dan perbuatan-perbuatanmu yang tidak baik dan kamu akan merasa mual melihat dirimu sendiri karena kesalahan-kesalahanmu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji.

36:32 Bukan karena kamu Aku bertindak, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ketahuilah itu. Merasa malulah kamu dan biarlah kamu dipermalukan karena kelakuanmu, hai kaum Israel

Epistel Roma 8:1-8

Hidup oleh Roh

8:1 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.

8:2 Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.

8:3 Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,

8:4 supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.

8:5 Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.

8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

8:7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.

8:8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

Dulu sekali (waktu masih menjadi mahasiswa di Medan alias masih muda banget …), setiap mendengar perkataan “hidup baru” hatiku menjadi galau. Apalagi kalau ada yang bertanya: “Sudahkah hidup baru?”, wah … hati ini – entah mengapa – mudah menjadi panas membara. Ditambah lagi kalau ada yang mengatakan: “Kami tidak lagi bergaul dengan orang-orang dunia, kami sudah mengalami hidup baru”, bah … makin panas aja hati dan telinga mendengarnya. Saat itu, perkataan “hidup baru” akan menggiringku pada membayangkanupacara pernikahan yang saat itu selalu muncul di koran dengan ucapan “selamat menempuh hidup baru”. Hehehe … sama-sama “hidup baru”, ‘kan?

Hal-hal seperti itulah yang membuatku “alergi” pada ajakan mengikuti kegiatan persekutuan mahasiswa yang memang sangat aktif saat itu. Pada masa tertentu (baca: mula-mula menjadi mahasiswa) aku lumayan aktif ikut pada Kebaktian Mahasiswa Kristen (KMK) yang biasanya dilakukan pada Jum’at siang. “Perseteruan” yang masih terjadi hingga saat ini di dunia pekerjaan yang mana ibadah Kristen juga dilakukan pada Jum’at siang, yakni saat karyawan muslim melakukan sholat Jum’at di masjid. Kekurangtertarikanku (bahkan pada akhirnya mengatakan “bye bye”) pada KMK adalah manakala suatu kali aku ikut kebaktian padang di Tahura Berastagi. Pengorbananku datang pagi-pagi banget pada hari libur itu untuk berangkat bareng ke Berastagi menjadi tidak sebanding nilainya manakala seorang mahasiswi senior (yang ternyata kemudian aku dengar menjadi kakak rohani bagi anggota baru) menanyakanku dengan pertanyaan “hidup baru” tersebut lalu menjelaskan (persisnya: mengguruiku) seakan-akan keimanan dan ibadahku selama ini adalah salah alias tidak menjanjikan keselamatan karena belum menjalani hidup baru itu. Jelas aja aku protes dengan keras (di dalam hati …), aku yang pengurus NHKBP koq dibilang tidak selamat karena belum hidup baru? Manalah aku rela! Istilah itu pun sangat asing bagiku saat itu. Ego-ku menjadi muncul dalam merespon hal itu. Kurang bagus juga, ya …

Dari situlah aku belajar betapa pentingnya mengkomunikasikan iman percaya dengan cara yang tepat sesuai dengan orang-orang yang tepat. Prinsip utamanya: jangan menyalahkan yang lama dengan “membabi-buta”, namun carilah kesamaannya terlebih dahulu, lalu bimbing memasuki pemahaman yang baru. Oh ya, beberapa tahun yang lalu ketika bertemu pertama kali di dunia maya (baca: facebook), salah seorang kakak rohani yang sedang meminta sumbangan untuk membangun gerejanya di Jakarta memberikan komentar keheranannya atas situasiku saat ini dengan menuliskan: “Wah, ‘nggak ‘nyangka ito sekarang malah jauh lebih aktif terlibat dalam kegiatan jemaat, kalau mengingat pengalaman dulu seringkali menolak waktu diajak mengikuti KMK …”. Belum tahu dia, betapa Kristus itu luar biasa, mengenal orang-orang tanpa menghakimi, hehehe …   

Sekarang aku sudah sangat memahami pengertian hidup baru, bahkan menjadi pelakunya dan berusaha selalu menginspirasi orang-orang agar turut menjadi pelakunya. Menurutku, setiap orang harus melakukan perubahan selalu dalam kehidupan rohaninya (dengan pengertian bahwa kehidupan rohani pastinya memengaruhi kehidupan jasmaninya). Dengan logika seperti itulah menurut pemahamanku mengapa nas perikop Ep Minggu ini meminta agar orang-orang meninggalkan keinginan daging dan beralih ke keinginan roh. Keinginan daging berujung kepada maut, sebaliknya keinginan roh membawa kepada kehidupan kekal. Bukan menjadikan ritual hidup baru (yang dulu sering dilakukan dengan merapalkan ucapan-ucapan aneh yang sering diklaim sebagai berbahasa roh …) sebagai syarat dalam menerima kelepasan.

Meninggalkan keinginan daging – sumber kejijikan, menurut Tuhan – itulah yang dituntut Tuhan dalam nas Ev Minggu ini. Dan Tuhan menjanjikan banyak kebaikan bagi orang-orang yang beralih dari perbuatan najis dan dosa-dosanya. Perasaan jijik akan timbul bilamana mengingat dosa, dan rasa malu terhadap masa lalu. Pengampunan dan janji berkat diberikan Tuhan semata-mata berdasarkan kemauan dan inisiatif-Nya sendiri, bukan karena manusia siapapun. Emangnya siapa itu manusia, ya?   

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Hidup yang dipenuhi oleh roh merupakan satu solusi yang efektif dalam kehidupan kita. Spiritualitas, itulah yang mulai hilang dalam kehidupan kita sehari-hari. Tak heran bila tindakan banyak orang belakangan ini semakin menjauhkan dari kehidupan yang sebenarnya harus diperlihatkan oleh orang-orang percaya. Tanpa harus menafikan hal-hal baik yang dilakukan oleh sedikit orang, perbuatan jahat yang semakin merajalela akhir-akhir ini menunjukkan semakin hilangnya kasih (yang merupakan satu dari buah-buah roh) dalam kehidupan.

Suatu kali seorang pemimpin gereja HKBP curhat tentang sulitnya memimpin dan mengubah para pendeta untuk menjadi lebih baik. “Bayangkan aja, amang … saat rapat pendeta pun banyak yang ‘nggak tertib. Dalam acara yang membicarakan kehidupan jemaat pun, banyak pendeta yang keluar untuk ‘ngobrol dan merokok”. Menyedihkan dan memprihatinkan sekali mengetahui fakta tersebut. Lalu aku katakan: “Menurutku, ada kemungkinan spiritualitas para pelayan HKBP saat ini semakin luntur, amang. Coba aja ditanyakan, berapa banyak lagi pendeta yang masih melakukan doa pagi dan saat teduh setiap hari? Dari beberapa yang aku amati, semakin banyak saja yang merasa dirinya bukan lagi pelayan jemaat sepenuhnya yang sangat memerlukan kerendahan hati dan menjadi figur teladan bagi warga jemaat, melainkan ‘sekadar’ karyawan PT HKBP yang sekuler dengan menerima gaji setiap bulannya. Kalau karyawan yang masih mempunyai key performance indicator sih masih mending, masih ada sasaran dan arahan yang dituju. Faktanya di gereja HKBP mana yang menjalankan KPI layaknya karyawan perusahaan yang profesional?”

Demikian jugalah dengan kita (mudah-mudahan engkau tidak termasuk di dalamnya …). Kita menjadikan ibadah lebih “sekadar” ritualitas (bahkan rutinitas!) daripada spiritualitas. Misalnya kita datang ke gereja karena kita tahu bahwa jam tertentu pada hari Minggu ada ibadah, jadi kita harus ikut ibadah karena itu adalah kewajiban kita sebagai orang Kristen. Datang pagi untuk ikutan ibadah jam 9, lalu pulang jam 11 karena ibadah sudah selesai. Hanya itu! Bukan karena adanya kerinduan di hati kita untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, sehingga ada sukacita yang kita dapatkan saat usai ibadah.

Berdoapun hanyalah sekadar menyampaikan kata-kata, tidak meresapi apa yang kita ucapkan sehingga menjadi hambar. Bahkan sekadar membaca atau melantunkan hapalan. Coba semua orang meresapi kata-kata dalam Doa Bapa Kami yang salah satu di dalamnya mengatakan “ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kami”, tentunya sudah tidak ada lagi dendam dan perselisihan, bukan? Hidup pasti menjadi jauh lebih damai dan aman. Itulah indikator kalau kehidupan kita dikuasai oleh roh, yakni dengan menghidupkan dan menghadirkan damai sejahtera di tengah-tengah kita dan di lingkungan kita (ayat-6).

Dengan hidup yang didasari oleh spiritualitas tentunya keinginan daging akan dikalahkan oleh keinginan roh. Dan kita melakukannya bukan dengan terpaksa, melainkan dengan sukacita yang menyala-nyala.

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Tuhan mampu memperbaharui segala sesuatu. Dosa dan kejijikan pada masa lalu tidak akan diingat-ingat lagi manakala kita bersedia menerima-Nya dengan sungguh-sungguh sebagai juru selamat. Apa saja yang harus kita lakukan agar dapat diubahkan?

(2)     Banyak yang mengatakan bahwa ibadah dan pelayanan HKBP sangat monoton, tidak punya roh, sehingga lebih cenderung kepada ritual daripada spiritual. Mengapa demikian?

(3)     Kecenderungan semakin banyaknya warga jemaat yang pergi meninggalkan HKBP ke jemaat-jemaat lain yang “lebih menjanjikan” mungkin bisa dijadikan sebagai salah satu indikator ketiadaan roh di pelayanannya? Bagaimana kita bersikap terhadap fenomena tersebut?

Iklan

3 comments on “Andaliman-250 Khotbah 06 Oktober 2013 Minggu-XIX setelah Trinitatis

  1. seberapia besar sih peluang bapak menilai seseorang yang selalu melihat dan beralaskan kependetaan HKBP?
    Jika memang anda punya kerendahan hati, kenapa tidak membantu pendeta di sekitar bapak untuk menjadi lebih baik, kok malah menilai pendeta buruk terus?
    atau bapak kayaknya perasaan pendeta atau gagal jadi pendeta? tp ingat, pendeta adalah wakil Tuhan, di mana kalau bapak rajin gereja, berarti berkat yg bapak terima itu adalah berkat yg tidak benar, sehingga bapak selalu berpikiran yg tidak benar kepada para bapak pendeta

    • Lae Alfred, terima kasih sudah bersedia berkunjung dan memberikan komentar. Mohon ma’af untuk ketidaknyamanan Anda dengan tulisan ini, yang menurutku perlu aku jelaskan sebagai berikut:
      (1) Jujur saja, aku bukanlah orang yang rendah hati, namun terus-menerus belajar untuk semakin rendah hati dari hari ke hari (dengan memohon pertolongan Yesus yang satu-satunya figur yang menjadi model bagiku untuk semakin menyerupai-Nya …)
      (2) Membantu pendeta di sekitar? Itulah yang aku lakukan dengan memberi tanggapan atas curhatnya seorang pemimpin gereja sebagaimana yang aku tulis tersebut. Jika suatu kali Anda ditanya oleh seorang pemimpin gereja (Praeses, misalnya …) tentang keprihatinan beliau terhadap kualitas sikap dan pelayanan para pendeta yang dipercayakan Sang Kepala Gereja untuk digembalakan, masa’ akan menjawab ‘tidak tahu’? Memang bagi sebagian orang itulah jawaban yang paling aman, namun bagiku yang memang bergaul dengan beberapa orang pendeta (dari beberapa denominasi, bukan hanya HKBP) aku merasakan kurangnya spiritualitas pendeta dari beberapa pengamatan saat sama-sama melayani dengan mereka, tentu saja aku harus sampaikan (dengan harapan akan didengarkan beliau dan kalau diyakini ada kebenarannya mudah-mudahan bisa ditindaklanjuti untuk perbaikan pelayanan).
      (3) Bukan cuma memberi masukan kepada pendeta yang pemimpin para pendeta di wilayah gembalaannya, di lingkungan terdekat dengan aku pun aku selalu memberikan kontribusi untuk memperbaiki pelayanan jemaat. Dari sedikit penatua, aku termasuk salah sorang yang paling sering berdiskusi dengan pendeta di jemaat kami. Prinsip yang aku anut adalah: sampaikan apa yang benar, dilakukan oleh tidak oleh pendeta, itu bukan urusanku lagi.
      (4) Menilai pendeta buruk terus? ‘Nggak juga, tuh … Coba baca dan telusuri tulisan-tulisanku lainnya, ‘nggak semua juga menyatakan pendeta buruk. Kalau terkesan menilai pendeta buruk, mungkin karena pas yang aku tulis adalah apa yang aku amati untuk bisa dperbaiki dan itu pula yang pas Anda baca. Masih banyak pendeta yang bagus yang membuatku kagum dengan pelayanan dan karakter mereka, walau tidak bisa juga dinafikan tentang ada juga yang buruk.
      (5) Perasaan pendeta atau gagal jadi pendeta? Hehehe …, pertanyaan menarik. Sesungguhnya, setamat pasca sarjana dari STT Jakarta saat itu pendeta resort tempatku berjemaat menawarkan agar aku melapor ke Kantor Pusat HKBP di Pearaja untuk menjadi pendeta yang dengan halus dan tegas aku katakan aku tidak pernah berniat untuk menjadi pendeta. Sampai sekarang pun aku meyakini bahwa bukan panggilanku menjadi pendeta sebagaimana aku yakini bahwa menjadi pendeta bukanlah suatu keharusan bagiku untuk memberikan yang terbaik dalam hidupku.
      (6) Berkat yang aku terima adalah berkat yang tidak benar? Dapat “ilham” dari mana Anda sehingga merasa berhak menghakimi seperti itu? Silakan menghakimi kalau merasa sudah pantas, tapi kalau aku sampai sekarang mengimani bahwa penghakiman hanyalah milik Tuhan dan hak Tuhan semata. Aku hanyalah hamba-Nya yang hina yang tidak ada apa-apanya sehingga ‘nggak berhak menghakimi siapapun.

      Anyway, many thanks for your visiting to this simple personal blog. Let’s improve ourselves to become close to Jesus, especially in spirituality. Horas!

  2. saya acungkan Jempol buat amang Tanobato, jawaban yang sangat menggugah bagi sdr Alfred. Jika benar ada beberapa para pdt (baca HKBP) seperti itu, mari merobah sikap. Teruslah amang Tanobato memberi tulisan-tulisan yang bisa menggugah hati para jemaat HKBP. GBU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s