Andaliman-253 Khotbah 27 Oktober 2013 Minggu-XXII setelah Trinitatis

Jadikan Orang Lain Lebih Penting Daripada Dirimu!

Evangelium Matius 20:20-28

Permintaan ibu Yakobus dan Yohanes. Bukan memerintah melainkan melayani

20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Epistel 1 Petrus 4: 7-11

Hidup orang Kristen

4:7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

4:9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.

4:10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.

4:11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Masih berhubungan dengan diskusi pada salah satu komunitas warga HKBP di dunia maya, ketika Rapat Pendeta HKBP berlangsung di Siantar minggu lalu, dalam beberapa hari itu (periode aku mengikutinya dengan lebih intensif untuk mengetahui subyek apa yang sedang menarik dibicarakan …) sayang sekali banyak curhat dan komentar tentang pelayanan dan kualitas pendeta yang dipertanyakan. Walau sudah mendengar beberapa gelintir sebelumnya dari pergaulan dengan pelayan HKBP, aku sedikit terkejut mengetahui bahwa di banyak tempat telah terjadi degradasi penilaian jemaat tentang pendetanya. Yang lebih aku sayangkan adalah komentar beberapa pendeta yang mencoba membela sesama rekan berbaju hitam yang malah dalam beberapa bagian mengesankan kekurangbijaksanaan. Yang membuatku terkesan adalah ketika salah seorang pendeta meminta pendeta yang lain (yang membela korps pendeta) untuk diam saja dan jangan meneruskan upayanya dalam membela diri.

Aku bukanlah anti-pendeta (untuk apa pula, ya?). Dan tidak pernah terbersit sedikit pun keinginan untuk membenci pelayan Tuhan jenis ini (ditambah lagi dengan mengingat pesan mamakku – salah satu di antara tiga perempuan perkasa dalam hidupuku – yang mengatakan: “Unang rehei pandita, manang boha pe roa na. Na nimiahan ni Debata do i …“). Bahkan ketika memutuskan untuk ikut kuliah di STT Jakarta beberapa tahun yang lalu (setelah ‘nggak kuasa lagi menolak “panggilan hati” …), motivasiku adalah bagaimana berkontribusi dalam perbaikan pelayanan di jemaat di mana pun aku berada dengan menyediakan diri sebagai mitra pendeta. Yang aku benci adalah kelakuan buruk pendeta yang tidak pantas karena tidak mencerminkan dirinya sebagai hamba Tuhan. Aku dengan terbeban menyampaikan informasi dan usulan koreksi kepada pendeta jika mendapati hal-hal yang perlu diantisipasi dan diperbaiki. ‘Ngobrol berdua, melibatkan beberapa orang teman pelayan, dan di sermon parhalado. Blog adalah wahana terakhir setelah tidak bergeming, sekalian sebagai catatan pengingat bagiku untuk introspeksi dan resolusi (sebagai bahan perenungan) di kemudian hari.

Hamba yang jadi pelayan, atau pelayan yang berhati hamba, itulah yang dimintakan oleh nas perikop Minggu ini. Sederhana, ‘kan? Tapi, ‘nggak mudah melaksanakannya! Bagiku, prinsip pelayanan adalah menjadikan orang lain lebih penting daripada diriku. Siapapun dia. ‘Nggak perduli status sosialnya, harus dilayani dengan baik dan sungguh-sungguh. Dan siapa “membayar” dengan konsekuensi yang akan terjadi, dan atau yang akan dialami. Dibenci oleh orang lain karena melakukan kebenaran (yang tentunya tidak semua orang dapat menerimanya dengan mudah, apalagi kalau ketahuan “belang”-nya, ‘kan?) adalah salah satu di antaranya sebagai konsekuensi.

Dan satu lagi prinsip yang aku yakini sampai sekarang: bukan kemuliaan diri sendiri, melainkan hanya untuk kemuliaan Tuhan saja karena hanya Dia sajalah yang pantas untuk mendapatkannya. Godaan seperti ini sudah mulai mendekati aku, dengan ujaran beberapa warga jemaat yang baru mendengarkan khotbahku, seperti: “Wah, bagusan amang lagi yang berkhotbah daripada pendeta yang selama ini ke mari …”, dan “Pengkhotbah terbaik selama saya jadi (warga) jemaat di sini”. Tentu saja aku menampik semua ucapan dan anggapan tersebut. Selain karena ‘nggak pantas, juga aku selalu melihat banyak kekurangan yang aku sadari tak berapa lama setelah selesai menyampaikan firman Tuhan, yang untuk menenteramkan hatiku selalu aku bilang dalam hati, “Memang Tuhan belum menginginkan aku menyampaikan hal itu saat ini. Mungkin lain kali …”          

Godaan kemuliaan diri sendiri jugalah yang menghampiri kedua murid Yesus ini, yaitu kesombongan yang mengklaim bahwa diri mereka lebih istimewa dari murid-murid lainnya. Uniknya lagi, mereka memanfa’atkan kedekatan ibu mereka dengan Yesus (ibu mereka yang bernama Salome adalah saudara kandung Maria, ibu Yesus) untuk menyampaikan permintaan mereka. Bisa jadi hal ini untuk mengesankan bahwa mereka berdua adalah orang yang rendah hati, yang tidak pamrih, sehingga orang lainlah yang memintakan untuk kepentingan mereka.

Selain sombong, mereka juga salah meminta. Yang dimintakan adalah hal yang ‘nggak pantas mereka dapatkan. Mereka memohon kehormatan dan kemuliaan di dunia ini – sebagai “ajudan” atau “pengawal” Yesus – padahal yang dimaksud Yesus adalah kehidupan sorgawi yang tentu saja tuntutannya jauh berbeda: Yesus menuntut kesediaan mereka menjadi pelayan bagi orang lain. Sangat jauh berbeda daripada yang mereka bayangkan (yang aku juga bayangkan …). Menjadi pelayan bagi orang lain? Ah, bagaimana bisa !? Aku ini boss di kantor/di perusahaan, kepala rumah tangga di keluarga, harusnya aku dong yang dilayani …

Begitulah iman kristiani, dalam banyak hal menuntut kesungguhan untuk menjadi pengikut, bahkan hal-hal yang berbeda daripada pemahaman dan pandangan pada umumnya … Sekali lagi, untuk melakukan hal yang luar biasa tersebut, sikap mendahulukan orang lain dan menjadikan orang lain sebagai yang lebih penting, adalah menjadi kunci utama. Namanya juga hamba …

Oh ya, murid-murid yang lain memprotes tindakan dua orang kawan mereka. Apakah mereka keberatan dengan tindakan kedua orang murid tersebut? Menganggap yang mereka lakukan ‘nggak pantas sebagai murid Yesus yang harusnya tidak “gila hormat”? ‘Nggak juga, jangan-jangan murid-murid lainnya yang protes itu sebenarnya juga sangat pengen dan menginginkan kedudukan terhormat sebagaimana juga dua orang kawan mereka itu …

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Bagaimana Yesus menanggapi permintaan kedua orang murid yang dikasihi-Nya itu sungguh menarik dan sangat layak dijadikan teladan bagi kita yang adalah pelayan jemaat dan atau hanya “sekadar” warga jemaat biasa:

(1)     Menjawab langsung kepada murid-murid, bukan kepada ibu atau melalui ibu mereka walaupun ibu mereka yang bertanya kepada Yesus. Selain karena mengetahui yang sebenarnya, hal ini juga untuk mengajari murid-murid tentang hal yang mereka harus ketahui dan tidak bias. Berbeda dengan kita yang cenderung lebih memilih menghindari konflik daripada menghadapi dan menyelesaikannya secara langsung, ya?

(2)     Menegur tanpa harus memarahi. Bahkan Yesus mengarahkan mereka kepada iman yang benar. Sangat jauh berbeda dengan kecenderungan orang-orang (termasuk kita) yang langsung menghakimi orang-orang yang bersalah, mungkin dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang bodoh. Sangat menyenangkan bila orang yang bersalah mendapatkan pengampunan, malah dibawa ke jalan yang benar.

(3)     Setelah menegur, Yesus memberitahu kedua murid tersebut dengan lemah lembut. Dengan kelemahlembutan, lebih mudah menyadarkan orang-orang dan merubah paradigma mereka untuk berbalik menjadi orang yang baik.

Sebagai pelayan jemaat, sikap Tuhan sangat pas dan pantas dijadikan sebagai model pelayanan yang juga seringkali diperhadapkan pada situasi yang sama dan atau sekadar mirip. Sikap kedua murid tersebut juga adalah mencerminkan sikap kita yang menganggap pelayanan adalah suatu kepangkatan atau kedudukan untuk mendapatkan kehormatan. Sikap yang menjadi semakin jamak terdengar belakangan ini: minta dilayani, bukan melayani walaupun mengaku sebagai hamba yang adalah pelayan Tuhan!

Jadilah pelayan bagi orang lain, yang melayani, bukan untuk dilayani!

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Dua orang murid yang dimaksud dalam nas perikop Ev ini adalah murid-murid yang paling dikasihi Yesus. Bagaiamana kita bisa memahami bahwa orang yang dikasihi Tuhan pun tak luput mendapatkan teguran – bahkan yang keras sekalipun! – dari Yesus yang dikasihi dan mengasihi?

(2)      Murid-murid Yesus masih belum paham juga tentang konsep kerajaan Allah yang disampaikan oleh Yesus, walaupun mereka sudah bergaul langsung dengan Yesus dalam jangka waktu yang relatif lama. Bagaimana pula dengan kita yang “hanya sekadar” mengenal Yesus dari Alkitab?

(3)     Dalam nas perikop yang menjadi Ev di ayat-23 disebutkan “…diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” apakah itu berarti bahwa sejak dahulu kala sudah ditentukan siapa saja orang-orang yang akan masuk sorga? 

Iklan

Pendeta Pendusta!

Minggu, 13 Oktober 2013 yang lalu aku ‘nggak bertugas melayani ibadah. Sesuai kebiasaanku dan komitmen sebagai pelayan bahwa setiap Minggu harus berangkat dari konsistori (bareng dengan prosesi para pelayan ibadah setelah doa bersama yang dipimpin oleh Kordinator Ibadah Minggu) dan kembali ke konsistori setelah usai ibadah (untuk doa bersama yang dipimpin pengkhotbah, lalu menghitung kolekte yang selalu aku usahakan untuk membawanya dari bangunan gereja ke konsistori) sesuatu yang hilang belakangan ini setelah pergantian pendeta resort, aku pun melangkah ke konsistori. Sebelumnya bertemu dengan pengurus paduan suara Sekolah Minggu yang akan bernyanyi di ibadah Minggu jam 08.30 WIB itu (di awal acara ibadah) sekaligus meminta waktu untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga jemaat yang telah mendukung persiapan Paduan Suara Sekolah Minggu di Festival Koor Sekolah Minggu Distrik Jakarta bulan September yang lalu (yang lalu aku setujui penyampaiannya setelah pembacaan warta jemaat).

Di konsistori masih bertemu dengan pak pendeta resort yang semula aku kira sudah berangkat ke Medan untuk mengikuti Rapat Pendeta HKBP di Pematang Siantar). Tidak memakai baju kebesaran seorang pendeta karena beliau tidak melayani ibadah Minggu hari itu. Di tempat biasanya beliau duduk kalau melayani ibadah, duduk seseorang yang belum pernah aku jumpa sebelumnya. Hal ini mengingatkanku pada sermon parhalado Jum’at malam sebelumnya di mana pendeta resort menyampaikan tentang pengkhotbah yang akan menggantikan beliau selama mengikuti rapat pendeta di Siantar.

Orang tersebut tidak memakai jubah pendeta, namun aku mudah menduga bahwa beliaulah yang dimaksud yang akan berkhotbah pada ibadah Minggu itu. Lalu aku salami sambil menyebutkan nama:

“D. S. …”

“Aku Tobing, pak. Bapak dari gereja mana?”

“Oh, saya pendeta di Gakin.”

“Gereja apa itu, pak? Aku belum pernah mendengar sebelumnya.”

“Gereja Kristen Injili Nusantara, pak. Saya pendeta di Mediterania.”

“Gereja itu anggota PGI juga sama dengan HKBP? Jarang sekali terdengar namanya. Yang aku pernah dengar Gereja Injili Indonesia Hok Im Tong yang banyak jemaatnya di Bandung.”

“Masuk PGI, pak. Kami juga anggota PGLII, yaitu Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia karena kami juga terdiri dari beberapa yayasan.”

Lalu aku kembali ke bangunan gereja untuk memastikan paduan suara Sekolah Minggu bernyanyi di awal ibadah dan sudah harus bersiap-siap sebelumnya supaya jangan mengganggu urutan liturgi. Sekaligus menyampaikan kepada pengurus yang mau mandok hata tentang gilirannya adalah setelah pembacaan tingting. “Cukup lima menit waktunya, ‘kan?”, tanyaku yang langsung dijawab, “Kelamaan, ito. Dua menit aja cukup, koq … supaya jangan kepanjangan.”

Sekembali aku ke konsistori, aku melihat pak pendeta GKIN tadi duduk sendirian. Tidak ada yang mengajaknya ‘ngobrol. Kasihannya lagi, kami penatua – seperti biasanya – banyak menggunakan bahasa Batak dalam berkomunikasi saat itu. Merasa harus menjadi tuan rumah yang baik, aku pun lalu datang dan duduk di sebelahnya mengajak ‘ngobrol. Tentang apalagi kalau bukan pelayanan? Dari percakapan itulah aku tahu bahwa beliau punya jemaat dengan rata-rata 80 orang yang ikut ibadah Minggu, pernah melayani ibadah di luar sinodenya sebanyak tiga kali, tamat dari sekolah teologi milik sinode di Malang (bukan SAAT), kantor pusat sinodenya di Madiun, dan hal-hal lain.

Sebelum doa keberangkatan ke gereja untuk memulai prosesi, ada kejadian yang ‘nggak pantas menurutku yang dilakukan oleh kawan penatua. Karena Kordinator Ibadah menggunakan bahasa Indonesia (yang menurutku bagus karena pengkhotbahnya bukanlah Batak) dan mengajak menyanyikan lagu nomor 3 (versi beliau adalah Kidung Jemaat) padahal semua memegang Buku Ende karena ibadah jam 08.30 WIB adalah berbahasa Batak sehingga terjadi sedikit kekacauan yang segera diperbaiki, seorang penatua senior ‘nyeletuk: “Marhata Batak ho …”, yang lantas dibalas “Ai aha didokhon bai on! Na marsahit do huroa ibana!”. Terjadi ketegangan sejenak, untunglah ibu-ibu penatua segera melerai dan mengingatkan bahwa kami akan segera melakukan pelayanan ibadah, koq malah masih bertengkar …

Usai ibadah, ketika bersalaman dengan warga jemaat, beberapa berkata kepadaku: “Kenapa bukan penatua aja yang berkhotbah daripada khotbah seperti itu …”, dan “Khotbah apaan sih begitu? ‘Nggak ‘ngerti!”, yang lalu aku jawab, “Wah, kita ‘kan perlu juga mendengar khotbah dari gereja lain … supaya ada perbandinganlah … Penatua diangap belum layak berkhotbah di mimbar ibadah Minggu di gereja kita ini, masih belum pantas. Jadi hanya pendeta saja yang boleh berkhotbah.”.

Karena mengobrol dan berurusan dengan seorang ibu aktivis jemaat yang berulangkali mengeluhkan kualitas sound system sambil menunjukkan tutup telinga berwarna putih yang sengaja dipakai menyumbat telinganya karena ‘nggak tahan dengan bisingnya suara loud speaker yang dipakai gereja sehingga aku sarankan untuk ‘ngomong aja langsung dengan tukang service yang baru selesai menangani sound system sehingga masih memberikan garansi dan sepakat bertemu jam satu siangnya untuk langsung memeriksa kualitas suaranya, aku pun terlambat kembali ke konsistori. Belum masuk, di pintu aku berpapasan dengan pak pendeta yang tergopoh-gopoh pulang (kami lupa berjabat tangan …).

Di dalam konsistori ternyata sedang terjadi diskusi hangat tentang khotbah yang tadi disampaikan di ibadah Minggu. “Cobalah kita simak apa yang tadi disampaikan pendeta itu di khotbahnya. Katanya ada warga jemaatnya yang sudah sembilan tahun menikah namun belum dikarunia anak. Dia merasa bersalah karena lupa mendoakan supaya segera mendapat keturunan ketika menyampaikan pemberkatan nikah. Setelah memperoleh anak, kemudian anak tersebut mengidap keterbelakangan mental. Lalu didoakannya, kemudian menjadi anak pintar, dan sekarang sudah tamat S2 jurusan perlisterikan dan bekerja di Australia. Itu artinya, paling tidak, pendeta itu sudah melayani lebih dari 32 tahun kalau kita asumsikan anak yang o’on namun tamat S2 Australia itu sekarang berusia 23 tahun. Waktu tadi ditanyakan, dia bilang usianya 47 tahun, berarti dia sudah jadi pendeta sejak berumur 15 tahun. Apakah itu mungkin? Siapa yang berdusta, ya?”

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Mungkin “terpaksa” dilakukan supaya membuat khotbahnya menarik dan berkuasa. Hal yang membuatku ‘nggak pernah simpatik melihat pengkhotbah yang terkesan sepertinya menghalalkan segala cara untuk menunjukkan ke-aku-annya, sehingga lupa bahwa khotbah pun seharusnya untuk kemuliaan Allah karena dia adalah sekadar perantara penyampai isi hati Allah.

Dan semakin membuatku tidak simpatik ketika kemudian aku periksa daftar anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia alias PGI dengan melihat situs salah seorang pendeta HKBP seperti yang dulu aku lakukan saat menulis tentang tartingting perkawinan jemaat dengan anggota GPdI yang adalah juga bukan anggota PGI, dan ‘nggak menemukan GKIN sebagai salah satu anggota PGI. Masih belum yakin, besoknya aku diskusikan hal ini dengan seorang penatua senior lain yang segera mengambil Almanak HKBP dan memeriksa daftar anggota PGI yang ada di halaman belakangnya. Hasilnya sama: GKIN tidak terdaftar sebagai anggota PGI.

Apalagi yang diharapkan dari seorang pendeta pendusta? Yang berani berdusta bukan hanya di konsistori di hadapan semua pelayan jemaat dan hamba Tuhan, bahkan di mimbar juga melakukan dusta saat berkhotbah! Semoga hanya inilah sisa pendeta pendusta yang pernah ada …

Andaliman-252 Khotbah 20 Oktober 2013 Minggu-XXI setelah Trinitatis

Hanya Ada Satu Tuhan. Mengasihi-Nya Berarti Mengasihi Manusia dan Makhluk Lainnya. Ajarkan Itu!

Evangelium Markus 12:28-34

Hukum yang terutama

12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”

12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.

12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Epistel Ulangan 6:4-9 (bahasa Batak 5 Musa)

6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Dalam suatu komunitas warga HKBP di dunia maya, salah seorang pendeta curhat tentang semakin meningkatnya warga jemaat yang kawin dengan umat non-kristiani. Selain menyesalkan kejadian tersebut (aku juga turut prihatin …) pak pendeta juga menyesalkan pembinaan oleh gereja yang dirasakan kurang untuk pemuda sehingga akhirnya mengikuti kepercayaan pasangannya dan menyembah Tuhan agama barunya tersebut (pernyataan membedakan Tuhan ini membuatku lebih prihatin …). Apakah Tuhan yang kita sembah berbeda dengan Tuhan yang disembah orang lain? Apakah Tuhan orang Kristen sama dengan Tuhan orang yang bukan Kristen?

Sama dengan nas perikop Minggu sebelumnya, nas perikop Minggu ini dengan tegas mengatakan tentang keesaan Allah, artinya Tuhan itu satu (Markus 12:29 dan Ulangan 6:4). Dan banyak lagi ayat dalam Alkitab yang mengatakan keesaan Allah. Sekadar berbagi pengalaman, salah satu hal yang membuatku cukup terguncang ketika masih kuliah di STT Jakarta beberapa tahun yang lalu adalah tentang keesaan Allah ini. Seumur-umur aku belum pernah memikirkan tentang samanya Tuhan yang aku sembah dengan yang disembah oleh Tuhan orang-orang yang beragama lain. Ruangan kuliah kami saat itu pun jadi gaduh karena sebagian besar keberatan menerima kenyataan bahwa Tuhan orang Kristen sama dengan Tuhan yang disembah orang Islam dan agama lainnya.

Aku juga membutuhkan pendalaman dan waktu yang lumayan panjang untuk bisa memahami hal ini. Setelah menggali isi Alkitab dan membaca banyak rujukan serta minta pertolongan Tuhan, akhirnya aku bisa memahami bahwa memang Tuhan itu satu adanya. Perbedaan yang terjadi kemudian adalah disebabkan oleh latar belakang budaya suku bangsa dari orang-orang yang pertama kali menerima pewahyuan tersebut.

Satunya Tuhan itu jualah yang dipesankan oleh kedua nas perikop Minggu ini. Imani Tuhan yang mengasihi, lalu kasihi Dia dengan sungguh-sungguh, dengan segala kekuatan, akal, pikiran, dan sepenuh jiwa. Itu pulalah yang menginspirasiku ketika mencoba mencari tahu mengapa orang Israel diperintahkan Tuhan untuk mendengarkan perintah dan melaksanakannya dengan menuliskannya di dahi, di tangan, di atas pintu, dan di gerbang kota. Lama mencari tafsiran dan referensi yang tidak satupun mencantumkan tentang hal ini, akhirnya aku bisa menangkap maksud ayat ini, yaitu untuk menjadikan firman Tuhan sebagai landasan berfikir (lambang di dahi), bekerja (mengikatkannya di tangan), mematuhinya dengan rendah hati sebagaimana orang Israel selalu menundukkan kepala dan membungkuk manakala melewati pintu rumah (menuliskannya pada tiang pintu rumah) dan mengingatnya selalu ketika meninggalkan rumah dan kembali memasuki rumah (menuliskannya berupa mezuzah di atas pintu gerbang). Klop, ‘kan?

Hal inilah yang diminta untuk selalu diajarkan kepada anak-anak. Dalam setiap kesempatan agar selalu diingat dan menjadikannya sebagai sesuatu yang alamiah.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi  

Pernah aku membaca kisah tentang seorang ibu aktivis gereja yang menghabiskan banyak waktunya untuk pelayanan jemaat di gereja dan persekutuan lain. Suatu kali dia meninggal, dan berhadapan dengan malaikat yang segera membuatnya sangat bersukacita. Sebelumnya dia dibawa ke neraka dan sangat ketakutan melihat orang-orang yang disiksa dengan derita yang tiada tara. Sempat takut, namun kemudian lega manakala malaikat kemudian membawanya melihat surga. Dia melihat kawan-kawannya sesama pelayan yang sudah meninggal terlebih dahulu melambai-lambaikan tangan mengajak dirinya untuk bergabung di kehidupan surga yang sangat menyenangkan tersebut, tentunya.

Dengan ‘nggak sabaran dia bertanya kepada malaikat: “Ito malaikat, kenapa aku masih di sini? Bukankah tempatku seharusnya di sana bersama dengan kawan-kawanku sepelayanan? Aku sangat mengenal mereka, dan sebagian besar adalah anak buahku di pelayanan. Lihatlah, mereka memanggil dan menyebut namaku. Apalagi yang kamu tunggu, hai malaikat?”. Lalu malaikat menjawab dengan jawaban yang sangat mengejutkannya: “Tentu ibu aku akan bawa ke tempat kehidupan yang kekal. Bukan di sini karena ini adalah surga, melainkan di sana di tempat satunya lagi. Di nereka itu sudah banyak kawan-kawanmu menunggu”.

“Ha?!!! Apa ‘nggak salah kamu, malaikat? Aku ‘kan pelayan yang setia di jemaat. Waktuku aku habiskan untuk melayani jemaat dan Tuhan. Apakah kamu ‘nggak tahu? Jangan-jangan kamu salah tentang aku …”

“Sudah pasti tidak, ibu. Memang engkau melayani banyak orang dengan menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan uang. Cuma sayangnya, kamu ‘nggak melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tidak dengan motivasi iman yang benar. Tragisnya lagi, di rumahmu ada seorang suamimu yang sangat membutuhkan pelayananmu, yang sayangnya kamu sering tinggalkan dengan alasan pelayanan jemaat”.

“Ah, malaikat … tapi dia ‘kan sudah kena stroke, sudah ‘nggak mungkin lagi bisa berkomunikasi. Untuk apa aku menghabiskan waktu untuknya yang sudah tidak bisa merespon lagi. Bukankah lebih baik aku melayani banyak orang di luar sana daripada menghabiskan waktu untuk satu orang yang sudah merasakan lagi manfaatnya?”

“Ibu, walaupun sudah ‘nggak bisa merespon, tapi suamimu masih bisa dan sangat memerlukan pelayananmu. Dengan belaian penuh kasih merawat dirinya, membacakan firman Tuhan, dan menyanyikan lagu pujian, serta berdoa bersamanya. Bagaiamana kamu bisa melayani dengan sungguh-sungguh banyak orang di luar rumahmu, sedangkan satu orang belahan jiwamu di rumahmu sendiri kamu tidak melayani dengan baik? Tinggallah di sana bersama orang-orang yang munafik dan jahat yang pantas menerima hukuman yang sangat berat dan menyakitkan dengane menahan kertak gigi dan meratap sepanjang hari!”

Menyedihkan, memang cerita fiksi tersebut. Namun kita bisa belajar tentang pelayanan dan motivasi pelayanan dari ilustrasi singkat tersebut.

Hal mengasihi Tuhan dan sesama, inilah yang harus kita lakukan sepanjang hari di sepanjang hidup kita. Dan jangan lupa untuk selalu mengajarkannya kepada anak-anak kita. Bukan yang lain!

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Apa yang dimaksud dengan Tuhan itu esa? Apakah memang Tuhan itu sebenarnya satu, dalam artian sama Tuhan yang kita sembah dengan yang disembah oleh agama lain?

(2)     Jika ada yang bertanya, mana yang lebih dahulu: mengasihi sesama manusia atau mengasihi Tuhan? Jawabannya adalah bersamaan. Jika “dipaksa” hanya menjawab satu, manakah yang harus dipili untuk dilakukan?

(3)     Kasihilah Tuhan Allah-mu dengan sungguh-sungguh. Dengan melakukannya, maka secara otomatis kita akan melakukan hal mengasihi kepada sesama manusia. Apa iya? Bagaimana menurutmu?

Rapat CUM tidak Memenuhi Quorum

Di jemaat kami ada CUM (singkatan dari Credit Union Modification) yang kemudian dinamakan Komunitas Kredit Modifikasi “Karunia” sejak 2009 yang didirikan atas inisiatif salah seorang penatua pensiun yang saat itu adalah Ketua Seksi Penginjilan di jemaat. Sampai sekarang, posisinya menurutku sangat membingungkan: ada di tengah-tengah jemaat HKBP namun tidak direstui oleh jemaat yang direfleksikan oleh pendeta resort. Dari sejak awal beroperasinya aku selalu bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya posisi CUM yang mirip-mirip koperasi ini namun ‘nggak mau disamakan dengan koperasi pada umumnya? SK pengangkatan penyelenggaranya dari Kantor Pusat HKBP, dilantik di ibadah Minggu di HKBP oleh praeses, manajernya seorang pendeta HKBP dan ketuanya dilatih di Kabanjahe oleh Kantor Pusat HKBP, namun pendeta resort alergi dengan keberadaannya di tengah-tengah jemaat.

Pada bulan-bulan pertama sempat berkantor di salah satu ruangan yang ada di gereja, namun dipaksa hengkang ke rumah salah seorang pengurus konon karena ada keberatan dari warga jemaat (entah siapa …) karena berpendapat bahwa CUM ini bukanlah bagian dari pelayanan gereja. Aneh, ‘kan? Tak lama kemudian, laporan bulanan CUM juga hanya bisa diselipkan sebagai selebaran yang dimasukkan dalam buku warta jemaat karena ‘nggak layak di-tingtinghon. Perlakuan yang sangat aku tentang dan suarakan saat itu, namun seakan-akan semua menganggap bahwa itulah perlakuan yang layak bagi CUM. Tak aneh jika kemudian operasionalnya amburadul …

Sebagai bagian dari Badan Pengawas aku ikut melakukan verifikasi di tahun pertama dan sudah menemukan kejanggalan-kejanggalan yang lalu aku usulkan untuk dicantumkan pada laporan verifikasi. Cuma sekali itu saja, karena selanjutnya aku ‘nggak pernah lagi tahu perkembangannya, apalagi aku kemudian pindah tugas ke Bandung selama tiga tahun. Dan kenyataannya memang selama tiga tahun tersebut tidak pernah dilakukan verifikasi, bahkan rapat anggota yang resmi.

Demikianlah hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, sampai kemudian “tiba-tiba” ada orang-orang yang mengaku sebagai anggota CUM mengirimkan surat kaleng yang dimasukkan ke kantong persembahan (detilnya, silakan dilihat pada tulisan ini) yang kemudian menginspirasi untuk dilakukan verifikasi. Setelah tertunda lebih dari satu bulan untuk memberikan kesempatan kepada Bendahara yang terverifikasi melengkapi dokumen penunjangnya (tidak ada laporan keuangan 2010, 2011, dan 2012) dan laporan yang diberikan kepada kami Badan Pengawas adalah per 31 Mei 2013 yang angka-angkanya masih perlu dipertanyakan, dan memenuhi permintaan beliau agar fokus pada acara perkawinan anaknya di Pekanbaru, maka verifikasi bisa diselesaikan di awal September yang lalu. Lalu aku mendesak pengurus harian untuk segera melakukan Rapat Anggota yang sekaligus memutuskan bagaimana kelanjutannya. Pada rapat pengurus ketika kami melaporkan hasil verifikasi, permintaan Ketua untuk melakukan satu kali lagi rapat pengurus sebelum Rapat Anggota dan memberikan tambahan waktu lagi untuk Bendahara melengkapi laporannya tidak aku gubris. “Tak usahlah, amang ketua. Kita sudah menunda dan melenceng dari jadwal yang kita sepakati dan diumumkan kepada semua anggota di awalnya. Bendahara juga sudah kita berikan waktu untuk melengkapi dokumennya, bahkan kami Tim Verifikasi menyatakan kesediaan membantu agar laporannya sesuai dengan norma pemeriksaan tapi tak pernah sekalipun dimanfaatkan Bendahara. Terbukti hari ini, ‘nggak ada sedikit pun bedanya dengan verifikasi bulan lalu. Menurutku, kita lakukan sajalah Rapat Anggota di hari Sabtu, 05 Oktober 2013 ini. Kami Tim Verifikasi siap menyelesaikan Laporan Verifikasi untuk kemudian digandakan, besok diserahkan di gereja ke amang ketua. Ini juga ‘nggak ada hubungannya dengan surat yang disampaikan beberapa orang anggota CUM dengan tembusan sampai ke Eforus segala yang mendesak harus dilakukan sebelum 15 Oktober 2013 karena mengancam akan menempuh jalur hukum. Bukan! Tanpa itu pun, memang kita sudah rencanakan Rapat Anggota di bulan Juli yang lalu“, kataku yang akhirnya disetujui semua peserta rapat tengah malam di rumah kami saat itu.  Lalu dilakukan pembagian tugas: aku menyiapkan pemberitahuan untuk diselipkan di buku warta Minggu besoknya, lalu Sekretaris membuat surat undangan yang akan dibagikan kepada semua anggota yang juga akan dibagikan besok pagi usai ibadah Minggu pagi.

Sebagaimana tradisi di gereja kami, untuk menyelipkan selebaran itu memerlukan izin khusus dari pendeta resort. Karena sudah tengah malam, maka aku mengkomunikasikannya ke pendeta resort via pesan-pendek. Setelah beberapa kali saling balas, izin menyelipkan selebaran tersebut diperoleh. Dengan catatan Rapat Anggota tidak boleh diselenggarakan di gereja. Lho? Alasan pendeta resort adalah faktor keamanan yang mengkhawatirkan bila Rapat Anggota CUM dilakukan di gereja. “Anggo inganan parrapotan dohot anggota do st nami pingkiri hamu hian ma jo inganan nq asing unang ma di hkbp klp gading, ai molo adong hamaolon masa disi, na tarbarita ndada cum alai hkbp klp gading do dohononna jadi ndang une molo dipamasa parrapoton i di hkbp klp gading unang sai marlapu-lapu huria hape so adong hubungan ni huria klp gading tu cum”, demikianlah isi pesan-pendek pendeta resort yang membuatku mengernyitkan kening karena sangat berbeda dengan konsep yang aku pahami. Bukankah kegiatan yang melibatkan warga jemaat sepantasnya dilakukan di gereja? Apalagi ini pesertanya adalah 100% warga jemaat, tidak ada pihak luar. Indikasi keributan? Aku ‘nggak melihatnya sama sekali! Bahkan aku sampaikan ke beliau, kalau memang ada indikasi tersebut malah seharusnya kegiatan tetap dilakukan di gereja. Aku percaya pada kewibawaan gereja: masa’ ada warga jemaat yang tega merusak bangunan gereja tempatnya beribadah? Itulah yang harus kita cegah bersama!

Namun aku ‘nggak tanggapi lagi. Selain karena sudah larut malam (untuk apa membahas hal yang seperti itu, ya?), juga menurutku urusan lokasi rapat adalah bagian tanggung jawab dari pengurus harian CUM. Dan sebaiknya dibicarakan di sermon parhalado agar keputusannya bisa diambil secara kolektif. Puji Tuhan, di sermon parhalado akhirnya diumumkan bahwa Rapat Anggota CUM tetap diselenggarakan di salah satu ruangan yang ada di gereja sesuai surat edaran yang sudah disampaikan kepada semua anggota CUM.

Rapat CUM 051013

Sabtu malam, 05 Oktober 2013 yang lalu yang hadir hanya 16 orang, yang berarti tidak memenuhi quorum. Sesuai ketentuan yang ada di Aturan Peraturan HKBP, maka rapat harus dibatalkan dan harus dilakukan kembali paling lambat tiga hari kemudian. Walau aku ingatkan tentang batas waktu tiga hari tersebut, namun peserta bersikeras untuk menyelenggarakan rapat pada Sabtu, 12 Oktober 2013 yang akan datang. Hari itu aku punya dua kegiatan yang aku harus ikuti yang melibatkan kawan-kawan dari kantor tempatku bekerja: satu di Puncak, dan satunya lagi di Bekasi.

Andaliman-251 Khotbah 13 Oktober 2013 Minggu-XX setelah Trinitatis

Perjanjian (yang) Baru di dalam Hati, Akui Percaya, maka Diselamatkan. Tuhan Cuma Satu, lho …

Evangelium Yeremia 31:31-34 (bahasa Batak Jeremia)

31:31 Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,

31:32 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN.

31:33 Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

31:34 Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”

Epistel Roma 10:4-13

Kebenaran karena iman

10:4 Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.

10:5 Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: “Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya.”

10:6 Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: “Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke sorga?”, yaitu: untuk membawa Yesus turun,

10:7 atau: “Siapakah akan turun ke jurang maut?”, yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.

10:8 Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan.

10:9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

10:10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

10:11 Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.”

10:12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.

Ketika mengikuti kuliah Agama-agama di STT Jakarta aku sempat terguncang. Seumur hidup aku belajar bahwa yang aku percaya adalah Tuhan orang Kristen, bukan Tuhan milik agama-agama lain, namun pada salah satu perkuliahan tersebut aku (bersama mahasiswa lain, tentunya …) ditantang oleh dosen pengampu yang mengatakan bahwa Tuhan itu adalah satu, hanya perbedaan latar belakang masyarakat yang menerima pewahyuan itu yang berbeda sehingga membedakan dalam memahami ke-Tuhan-an sehingga ada agama-agama yang berbeda walaupun ada kemiripan antara satu dengan yang lainnya. Sebaliknya, di sekolah aku selalu mendengungkan Pancasila dengan salah satu silanya Ketuhanan yang Maha Esa. Kontradiktif, ‘kan? Di sekolah aku mengakui satu Tuhan, namun tidak rela kalau dikatakan bahwa Tuhan yang aku sembah adalah sama dengan yang disembah oleh agama lainnya.  

Dalam satu diskusi ketika menyampaikan firman Tuhan di partangiangan wejk aku juga mendapat tantangan keras dari salah seorang warga jemaat yang pensiunan, karena keberatan dengan pernyataanku yang mengatakan bahwa Tuhan adalah satu. “Ah, ndang dos Debata na husomba dohot Debata ni halak silom, ai asing do Debatangku dohot Debata nasida. Ai so diangkui nasida Debata Sitolusadanta …”. Walau sudah aku sampaikan firman yang mengatakan bahwa Tuhan adalah satu sebagaimana juga yang tercantum dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini (ayat-12), orang tua tersebut masih bersikeras dengan pemahamannya …

Nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini menjelaskan bahwa Tuhan memberikan perjanjian yang baru kepada bangsa Israel pada saat itu, yang semula mengakui keselamatan adalah dengan melakukan Taurat menjadi keimanan di dalam roh. Dari generasi ke generasi mereka diajari untuk mengetahui Taurat dan menjalankannya dengan segala konsekuensi agar beroleh keselamatan. Dulunya Musa menerima Taurat (baca: dasa titah) dengan dituliskan pada log batu, maka kemudian Taurat tersebut (yang tidak hanya “sekadar” dasa titah melainkan sudah termasuk seluruh hukum masyarakat Yahudi yang berasal dari Tuhan) dituliskan di hati setiap orang percaya. Nubuatan Nabi Yeremia ini mengarah kepada Kristus dan digenapi berabad-abad kemudian. Dengan dituliskannya di dalam hati (ayat-33), maka Allah yang akan menjadi Tuhan mereka, dengan demikian – yang kemudian dikenal dengan roh – mereka bias mengenal Allah secara langsung. Kesalahan mereka di masa lampau (yang masih terikat dengan perjanjian yang lama, yakni dengan Taurat) akan diampuni untuk memasuki masa perjanjian yang baru.

Pemahaman yang lebih baik disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini, yakni dengan membandingkan antara Taurat Musa (“… orang yang melakukan Taurat akan hidup karenanya” (ayat-5)) dengan keselamatan dari Yesus Kristus sebagai penggenapan hukum Taurat (ayat-4) yang sudah menempatkannya di dalam hati (yang dipenuhi oleh Roh Kudus). Roh Kudus-lah (yang sudah sangat dekat karena berada di hati orang percaya – ayat-8) yang membimbing orang percaya untuk pemahaman kepada Yesus Kristus adalah Tuhan dan mempercayainya secara sungguh-sungguh. Tak usah memusingkan tentang apakah benar Yesus yang turun ke dalam jurang maut (dengan kematian-Nya di kayu salib) dan atau kenaikan Yesus ke surga (setelah mati dan dikuburkan lalu bangkit pada hari ketiga yang masih terus diperdebatkan …). Percaya saja dengan iman!

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Iman tanpa perbuatan adalah layaknya tubuh tanpa roh. Itulah yang dipesankan oleh Ep Minggu ini. Diawali dengan percaya, lalu ucapkan (perkatakan dengan mulut), selanjutnya lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Itu barulah komplit!

Nah, mempersaksikan keimanan ini yang seringkali menjadi tantangan tersendiri – bahkan mungkin yang paling berat – bagi orang-orang percaya. Lebih sepuluh tahun yang lalu di Nanggroe Aceh Darussalam kami sekumpulan rombongan dari gereja harus singgah makan malam di warung sate sepanjang perjalanan pulang dari Takengon (Aceh Tengah) ke Lhokseumawe (Aceh Utara). Layaknya warung sate di pinggir jalan dengan kursi-kursi dan meja-meja di ruangan terbuka, rombongan kami mendapat tempat di bagian depan yang juga berarti tempat orang-orang berlalu-lalang. Setelah semua pesanan dihidangkan, kami saling berpandangan: siapa yang akan memimpin do’a makan. Dalam rombongan tersebut ada penatua dan pendeta jemaat. Sebagai warga jemaat biasa (yang masih “culun”, hehehe …) aku sudah menduga bahwa yang terjadi kemudian adalah masing-masing orang akan berdoa dalam hati sebagaimana yang selalu terjadi dalam berbagai kesempatan seperti ini.

Ternyata tidak! Dan ini yang membuatku terkagum-kagum. Pak pendeta (yang sudah bertugas sebagai pendeta jemaat bertahun-tahun di Tanah Rencong yang sangat fanatik dengan julukan Serambi Mekah tersebut) di malam baru beranjak beberapa menit dari saat maghrib, memimpin kami dalam doa makan yang singkat: “Tuhan, terima kasih untuk penyertaanmu dalam perjalanan kami. Sekarang kami mau makan, berkatilah agar berguna bagi kehidupan kami. Dalam nama anak-Mu, Yesus. Amin!”. Semula aku sempat tersenyum, demikian juga dengan kawan-kawanku serombongan lainnya. Tapi tidak demikian dengan pak pendeta, rona wajah beliau serius, dan aku melihat ada ketegangan yang baru lepas yang terlihat di ekspresinya. Kemudian aku sadar, beliau berhikmat dalam mengeskpresikan iman tanpa harus mengganggu orang-orang sekitar dan terganggu oleh mereka yang mayoritas yang masih tetap saja memandang orang Kristen sebagai makhluk “asing”.

Tak usah malu mempersaksikan iman kita, namun jangan pula menjadikan kesaksian sebagai “show“. Tuhan ‘nggak bakalan mempermalukan kita saat mempersaksikan iman percaya (ayat-11) yang sesuai dengan kehendak-Nya. Selama ini aku mengira bahwa lebih berat mempersaksikan iman di tengah-tengah orang non Kristen daripada di lingkungan Kristen sendiri. Pengalamanku kemudian membuktikan bahwa hal tersebut tidak selalu benar. Lihatlah betapa semakin banyak orang Kristen yang tidak berdoa saat makan bersama sesama orang Kristen di tempat-tempat umum. Dan kecenderungan belakangan ini yang aku lihat adalah berdoa masing-masing sebelum makan. Sebaliknya, ada saja orang yang berdoa di tengah-tengah kerumunan (dengan agama yang berbaur) saat makan siang bersama-sama teman sekantor. Yang ini membuatku terharu …

Oh ya, itu adalah doa tersingkat kedua yang pernah aku ikuti. Yang pertama adalah ketika aku masih ikut NHKBP di Medan yang saat itu ada roster pendoa yang terdiri dari doa pembuka (saat akan mulai latihan koor) dan doa penutup (ketika akan pulang ke rumah masing-masing), dan seorang kawan anggota NHKBP yang diminta kesediaannya memimpin lalu berdoa begini: “Tuhan, berikanlah kami kasih. Amin”. Bukan mau menghakimi (karena aku mengimani bahwa hanya Tuhan sajalah yang berhak atas penghakiman), dan bukan pula membedakan antara pendeta dengan warga jemaat, tapi aku melihat perbedaan yang sangat tajam antara doa di warung sate di Aceh tadi dengan doa di gereja di Medan tersebut. Yang kedua aku merasakan kuasanya dan pelepasan beban kesaksian pada lingkungan yang berat, sebaliknya yang pertama aku merasakan “main-main” karena ketiadaan beban pendoa, apalagi kemudian dia tertawa-tawa (entah apa maksudnya dan alasannya tertawa) sebagai respon dari sebagian besar kawan-kawan lainnya yang menyorakinya …

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Percaya saja dengan iman yang teguh bahwa Yesus adalah Tuhan, tak usah memusingkan tentang kebenaran kematian dan kebangkitan Yesus. Apakah itu cukup? Ataukah hanya sekadar dasar dalam mengimani kekristenan?

(2)     Roh yang ada dalam diri setiap orang percaya yang akan menuntun kepada keimanan pada Yesus Kristus. Itulah yang memungkinkan kita bisa mengimani pada hal-hal yang tidak mampu dijelaskan oleh logika sederhana. Bukankah kita diminta untuk tidak mengandalkan pikiran semata? Bagaimana bisa menjelaskan tentang hal-hal ini?

(3) Tuhan adalah satu adanya. Ini sesuai dengan firman Allah yang tertulis dalam Alkitab. Lalu, bagaimanakah kita memahaminya bila dihubungkan dengan pluralisme agama-agama saat ini?