Andaliman-251 Khotbah 13 Oktober 2013 Minggu-XX setelah Trinitatis

Perjanjian (yang) Baru di dalam Hati, Akui Percaya, maka Diselamatkan. Tuhan Cuma Satu, lho …

Evangelium Yeremia 31:31-34 (bahasa Batak Jeremia)

31:31 Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,

31:32 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN.

31:33 Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

31:34 Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”

Epistel Roma 10:4-13

Kebenaran karena iman

10:4 Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.

10:5 Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: “Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya.”

10:6 Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: “Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke sorga?”, yaitu: untuk membawa Yesus turun,

10:7 atau: “Siapakah akan turun ke jurang maut?”, yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.

10:8 Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan.

10:9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

10:10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

10:11 Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.”

10:12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.

Ketika mengikuti kuliah Agama-agama di STT Jakarta aku sempat terguncang. Seumur hidup aku belajar bahwa yang aku percaya adalah Tuhan orang Kristen, bukan Tuhan milik agama-agama lain, namun pada salah satu perkuliahan tersebut aku (bersama mahasiswa lain, tentunya …) ditantang oleh dosen pengampu yang mengatakan bahwa Tuhan itu adalah satu, hanya perbedaan latar belakang masyarakat yang menerima pewahyuan itu yang berbeda sehingga membedakan dalam memahami ke-Tuhan-an sehingga ada agama-agama yang berbeda walaupun ada kemiripan antara satu dengan yang lainnya. Sebaliknya, di sekolah aku selalu mendengungkan Pancasila dengan salah satu silanya Ketuhanan yang Maha Esa. Kontradiktif, ‘kan? Di sekolah aku mengakui satu Tuhan, namun tidak rela kalau dikatakan bahwa Tuhan yang aku sembah adalah sama dengan yang disembah oleh agama lainnya.  

Dalam satu diskusi ketika menyampaikan firman Tuhan di partangiangan wejk aku juga mendapat tantangan keras dari salah seorang warga jemaat yang pensiunan, karena keberatan dengan pernyataanku yang mengatakan bahwa Tuhan adalah satu. “Ah, ndang dos Debata na husomba dohot Debata ni halak silom, ai asing do Debatangku dohot Debata nasida. Ai so diangkui nasida Debata Sitolusadanta …”. Walau sudah aku sampaikan firman yang mengatakan bahwa Tuhan adalah satu sebagaimana juga yang tercantum dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini (ayat-12), orang tua tersebut masih bersikeras dengan pemahamannya …

Nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini menjelaskan bahwa Tuhan memberikan perjanjian yang baru kepada bangsa Israel pada saat itu, yang semula mengakui keselamatan adalah dengan melakukan Taurat menjadi keimanan di dalam roh. Dari generasi ke generasi mereka diajari untuk mengetahui Taurat dan menjalankannya dengan segala konsekuensi agar beroleh keselamatan. Dulunya Musa menerima Taurat (baca: dasa titah) dengan dituliskan pada log batu, maka kemudian Taurat tersebut (yang tidak hanya “sekadar” dasa titah melainkan sudah termasuk seluruh hukum masyarakat Yahudi yang berasal dari Tuhan) dituliskan di hati setiap orang percaya. Nubuatan Nabi Yeremia ini mengarah kepada Kristus dan digenapi berabad-abad kemudian. Dengan dituliskannya di dalam hati (ayat-33), maka Allah yang akan menjadi Tuhan mereka, dengan demikian – yang kemudian dikenal dengan roh – mereka bias mengenal Allah secara langsung. Kesalahan mereka di masa lampau (yang masih terikat dengan perjanjian yang lama, yakni dengan Taurat) akan diampuni untuk memasuki masa perjanjian yang baru.

Pemahaman yang lebih baik disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini, yakni dengan membandingkan antara Taurat Musa (“… orang yang melakukan Taurat akan hidup karenanya” (ayat-5)) dengan keselamatan dari Yesus Kristus sebagai penggenapan hukum Taurat (ayat-4) yang sudah menempatkannya di dalam hati (yang dipenuhi oleh Roh Kudus). Roh Kudus-lah (yang sudah sangat dekat karena berada di hati orang percaya – ayat-8) yang membimbing orang percaya untuk pemahaman kepada Yesus Kristus adalah Tuhan dan mempercayainya secara sungguh-sungguh. Tak usah memusingkan tentang apakah benar Yesus yang turun ke dalam jurang maut (dengan kematian-Nya di kayu salib) dan atau kenaikan Yesus ke surga (setelah mati dan dikuburkan lalu bangkit pada hari ketiga yang masih terus diperdebatkan …). Percaya saja dengan iman!

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Iman tanpa perbuatan adalah layaknya tubuh tanpa roh. Itulah yang dipesankan oleh Ep Minggu ini. Diawali dengan percaya, lalu ucapkan (perkatakan dengan mulut), selanjutnya lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Itu barulah komplit!

Nah, mempersaksikan keimanan ini yang seringkali menjadi tantangan tersendiri – bahkan mungkin yang paling berat – bagi orang-orang percaya. Lebih sepuluh tahun yang lalu di Nanggroe Aceh Darussalam kami sekumpulan rombongan dari gereja harus singgah makan malam di warung sate sepanjang perjalanan pulang dari Takengon (Aceh Tengah) ke Lhokseumawe (Aceh Utara). Layaknya warung sate di pinggir jalan dengan kursi-kursi dan meja-meja di ruangan terbuka, rombongan kami mendapat tempat di bagian depan yang juga berarti tempat orang-orang berlalu-lalang. Setelah semua pesanan dihidangkan, kami saling berpandangan: siapa yang akan memimpin do’a makan. Dalam rombongan tersebut ada penatua dan pendeta jemaat. Sebagai warga jemaat biasa (yang masih “culun”, hehehe …) aku sudah menduga bahwa yang terjadi kemudian adalah masing-masing orang akan berdoa dalam hati sebagaimana yang selalu terjadi dalam berbagai kesempatan seperti ini.

Ternyata tidak! Dan ini yang membuatku terkagum-kagum. Pak pendeta (yang sudah bertugas sebagai pendeta jemaat bertahun-tahun di Tanah Rencong yang sangat fanatik dengan julukan Serambi Mekah tersebut) di malam baru beranjak beberapa menit dari saat maghrib, memimpin kami dalam doa makan yang singkat: “Tuhan, terima kasih untuk penyertaanmu dalam perjalanan kami. Sekarang kami mau makan, berkatilah agar berguna bagi kehidupan kami. Dalam nama anak-Mu, Yesus. Amin!”. Semula aku sempat tersenyum, demikian juga dengan kawan-kawanku serombongan lainnya. Tapi tidak demikian dengan pak pendeta, rona wajah beliau serius, dan aku melihat ada ketegangan yang baru lepas yang terlihat di ekspresinya. Kemudian aku sadar, beliau berhikmat dalam mengeskpresikan iman tanpa harus mengganggu orang-orang sekitar dan terganggu oleh mereka yang mayoritas yang masih tetap saja memandang orang Kristen sebagai makhluk “asing”.

Tak usah malu mempersaksikan iman kita, namun jangan pula menjadikan kesaksian sebagai “show“. Tuhan ‘nggak bakalan mempermalukan kita saat mempersaksikan iman percaya (ayat-11) yang sesuai dengan kehendak-Nya. Selama ini aku mengira bahwa lebih berat mempersaksikan iman di tengah-tengah orang non Kristen daripada di lingkungan Kristen sendiri. Pengalamanku kemudian membuktikan bahwa hal tersebut tidak selalu benar. Lihatlah betapa semakin banyak orang Kristen yang tidak berdoa saat makan bersama sesama orang Kristen di tempat-tempat umum. Dan kecenderungan belakangan ini yang aku lihat adalah berdoa masing-masing sebelum makan. Sebaliknya, ada saja orang yang berdoa di tengah-tengah kerumunan (dengan agama yang berbaur) saat makan siang bersama-sama teman sekantor. Yang ini membuatku terharu …

Oh ya, itu adalah doa tersingkat kedua yang pernah aku ikuti. Yang pertama adalah ketika aku masih ikut NHKBP di Medan yang saat itu ada roster pendoa yang terdiri dari doa pembuka (saat akan mulai latihan koor) dan doa penutup (ketika akan pulang ke rumah masing-masing), dan seorang kawan anggota NHKBP yang diminta kesediaannya memimpin lalu berdoa begini: “Tuhan, berikanlah kami kasih. Amin”. Bukan mau menghakimi (karena aku mengimani bahwa hanya Tuhan sajalah yang berhak atas penghakiman), dan bukan pula membedakan antara pendeta dengan warga jemaat, tapi aku melihat perbedaan yang sangat tajam antara doa di warung sate di Aceh tadi dengan doa di gereja di Medan tersebut. Yang kedua aku merasakan kuasanya dan pelepasan beban kesaksian pada lingkungan yang berat, sebaliknya yang pertama aku merasakan “main-main” karena ketiadaan beban pendoa, apalagi kemudian dia tertawa-tawa (entah apa maksudnya dan alasannya tertawa) sebagai respon dari sebagian besar kawan-kawan lainnya yang menyorakinya …

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Percaya saja dengan iman yang teguh bahwa Yesus adalah Tuhan, tak usah memusingkan tentang kebenaran kematian dan kebangkitan Yesus. Apakah itu cukup? Ataukah hanya sekadar dasar dalam mengimani kekristenan?

(2)     Roh yang ada dalam diri setiap orang percaya yang akan menuntun kepada keimanan pada Yesus Kristus. Itulah yang memungkinkan kita bisa mengimani pada hal-hal yang tidak mampu dijelaskan oleh logika sederhana. Bukankah kita diminta untuk tidak mengandalkan pikiran semata? Bagaimana bisa menjelaskan tentang hal-hal ini?

(3) Tuhan adalah satu adanya. Ini sesuai dengan firman Allah yang tertulis dalam Alkitab. Lalu, bagaimanakah kita memahaminya bila dihubungkan dengan pluralisme agama-agama saat ini? 

Iklan

One comment on “Andaliman-251 Khotbah 13 Oktober 2013 Minggu-XX setelah Trinitatis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s