Andaliman-252 Khotbah 20 Oktober 2013 Minggu-XXI setelah Trinitatis

Hanya Ada Satu Tuhan. Mengasihi-Nya Berarti Mengasihi Manusia dan Makhluk Lainnya. Ajarkan Itu!

Evangelium Markus 12:28-34

Hukum yang terutama

12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”

12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.

12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Epistel Ulangan 6:4-9 (bahasa Batak 5 Musa)

6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Dalam suatu komunitas warga HKBP di dunia maya, salah seorang pendeta curhat tentang semakin meningkatnya warga jemaat yang kawin dengan umat non-kristiani. Selain menyesalkan kejadian tersebut (aku juga turut prihatin …) pak pendeta juga menyesalkan pembinaan oleh gereja yang dirasakan kurang untuk pemuda sehingga akhirnya mengikuti kepercayaan pasangannya dan menyembah Tuhan agama barunya tersebut (pernyataan membedakan Tuhan ini membuatku lebih prihatin …). Apakah Tuhan yang kita sembah berbeda dengan Tuhan yang disembah orang lain? Apakah Tuhan orang Kristen sama dengan Tuhan orang yang bukan Kristen?

Sama dengan nas perikop Minggu sebelumnya, nas perikop Minggu ini dengan tegas mengatakan tentang keesaan Allah, artinya Tuhan itu satu (Markus 12:29 dan Ulangan 6:4). Dan banyak lagi ayat dalam Alkitab yang mengatakan keesaan Allah. Sekadar berbagi pengalaman, salah satu hal yang membuatku cukup terguncang ketika masih kuliah di STT Jakarta beberapa tahun yang lalu adalah tentang keesaan Allah ini. Seumur-umur aku belum pernah memikirkan tentang samanya Tuhan yang aku sembah dengan yang disembah oleh Tuhan orang-orang yang beragama lain. Ruangan kuliah kami saat itu pun jadi gaduh karena sebagian besar keberatan menerima kenyataan bahwa Tuhan orang Kristen sama dengan Tuhan yang disembah orang Islam dan agama lainnya.

Aku juga membutuhkan pendalaman dan waktu yang lumayan panjang untuk bisa memahami hal ini. Setelah menggali isi Alkitab dan membaca banyak rujukan serta minta pertolongan Tuhan, akhirnya aku bisa memahami bahwa memang Tuhan itu satu adanya. Perbedaan yang terjadi kemudian adalah disebabkan oleh latar belakang budaya suku bangsa dari orang-orang yang pertama kali menerima pewahyuan tersebut.

Satunya Tuhan itu jualah yang dipesankan oleh kedua nas perikop Minggu ini. Imani Tuhan yang mengasihi, lalu kasihi Dia dengan sungguh-sungguh, dengan segala kekuatan, akal, pikiran, dan sepenuh jiwa. Itu pulalah yang menginspirasiku ketika mencoba mencari tahu mengapa orang Israel diperintahkan Tuhan untuk mendengarkan perintah dan melaksanakannya dengan menuliskannya di dahi, di tangan, di atas pintu, dan di gerbang kota. Lama mencari tafsiran dan referensi yang tidak satupun mencantumkan tentang hal ini, akhirnya aku bisa menangkap maksud ayat ini, yaitu untuk menjadikan firman Tuhan sebagai landasan berfikir (lambang di dahi), bekerja (mengikatkannya di tangan), mematuhinya dengan rendah hati sebagaimana orang Israel selalu menundukkan kepala dan membungkuk manakala melewati pintu rumah (menuliskannya pada tiang pintu rumah) dan mengingatnya selalu ketika meninggalkan rumah dan kembali memasuki rumah (menuliskannya berupa mezuzah di atas pintu gerbang). Klop, ‘kan?

Hal inilah yang diminta untuk selalu diajarkan kepada anak-anak. Dalam setiap kesempatan agar selalu diingat dan menjadikannya sebagai sesuatu yang alamiah.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi  

Pernah aku membaca kisah tentang seorang ibu aktivis gereja yang menghabiskan banyak waktunya untuk pelayanan jemaat di gereja dan persekutuan lain. Suatu kali dia meninggal, dan berhadapan dengan malaikat yang segera membuatnya sangat bersukacita. Sebelumnya dia dibawa ke neraka dan sangat ketakutan melihat orang-orang yang disiksa dengan derita yang tiada tara. Sempat takut, namun kemudian lega manakala malaikat kemudian membawanya melihat surga. Dia melihat kawan-kawannya sesama pelayan yang sudah meninggal terlebih dahulu melambai-lambaikan tangan mengajak dirinya untuk bergabung di kehidupan surga yang sangat menyenangkan tersebut, tentunya.

Dengan ‘nggak sabaran dia bertanya kepada malaikat: “Ito malaikat, kenapa aku masih di sini? Bukankah tempatku seharusnya di sana bersama dengan kawan-kawanku sepelayanan? Aku sangat mengenal mereka, dan sebagian besar adalah anak buahku di pelayanan. Lihatlah, mereka memanggil dan menyebut namaku. Apalagi yang kamu tunggu, hai malaikat?”. Lalu malaikat menjawab dengan jawaban yang sangat mengejutkannya: “Tentu ibu aku akan bawa ke tempat kehidupan yang kekal. Bukan di sini karena ini adalah surga, melainkan di sana di tempat satunya lagi. Di nereka itu sudah banyak kawan-kawanmu menunggu”.

“Ha?!!! Apa ‘nggak salah kamu, malaikat? Aku ‘kan pelayan yang setia di jemaat. Waktuku aku habiskan untuk melayani jemaat dan Tuhan. Apakah kamu ‘nggak tahu? Jangan-jangan kamu salah tentang aku …”

“Sudah pasti tidak, ibu. Memang engkau melayani banyak orang dengan menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan uang. Cuma sayangnya, kamu ‘nggak melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tidak dengan motivasi iman yang benar. Tragisnya lagi, di rumahmu ada seorang suamimu yang sangat membutuhkan pelayananmu, yang sayangnya kamu sering tinggalkan dengan alasan pelayanan jemaat”.

“Ah, malaikat … tapi dia ‘kan sudah kena stroke, sudah ‘nggak mungkin lagi bisa berkomunikasi. Untuk apa aku menghabiskan waktu untuknya yang sudah tidak bisa merespon lagi. Bukankah lebih baik aku melayani banyak orang di luar sana daripada menghabiskan waktu untuk satu orang yang sudah merasakan lagi manfaatnya?”

“Ibu, walaupun sudah ‘nggak bisa merespon, tapi suamimu masih bisa dan sangat memerlukan pelayananmu. Dengan belaian penuh kasih merawat dirinya, membacakan firman Tuhan, dan menyanyikan lagu pujian, serta berdoa bersamanya. Bagaiamana kamu bisa melayani dengan sungguh-sungguh banyak orang di luar rumahmu, sedangkan satu orang belahan jiwamu di rumahmu sendiri kamu tidak melayani dengan baik? Tinggallah di sana bersama orang-orang yang munafik dan jahat yang pantas menerima hukuman yang sangat berat dan menyakitkan dengane menahan kertak gigi dan meratap sepanjang hari!”

Menyedihkan, memang cerita fiksi tersebut. Namun kita bisa belajar tentang pelayanan dan motivasi pelayanan dari ilustrasi singkat tersebut.

Hal mengasihi Tuhan dan sesama, inilah yang harus kita lakukan sepanjang hari di sepanjang hidup kita. Dan jangan lupa untuk selalu mengajarkannya kepada anak-anak kita. Bukan yang lain!

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Apa yang dimaksud dengan Tuhan itu esa? Apakah memang Tuhan itu sebenarnya satu, dalam artian sama Tuhan yang kita sembah dengan yang disembah oleh agama lain?

(2)     Jika ada yang bertanya, mana yang lebih dahulu: mengasihi sesama manusia atau mengasihi Tuhan? Jawabannya adalah bersamaan. Jika “dipaksa” hanya menjawab satu, manakah yang harus dipili untuk dilakukan?

(3)     Kasihilah Tuhan Allah-mu dengan sungguh-sungguh. Dengan melakukannya, maka secara otomatis kita akan melakukan hal mengasihi kepada sesama manusia. Apa iya? Bagaimana menurutmu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s