Andaliman-253 Khotbah 27 Oktober 2013 Minggu-XXII setelah Trinitatis

Jadikan Orang Lain Lebih Penting Daripada Dirimu!

Evangelium Matius 20:20-28

Permintaan ibu Yakobus dan Yohanes. Bukan memerintah melainkan melayani

20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Epistel 1 Petrus 4: 7-11

Hidup orang Kristen

4:7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

4:9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.

4:10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.

4:11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Masih berhubungan dengan diskusi pada salah satu komunitas warga HKBP di dunia maya, ketika Rapat Pendeta HKBP berlangsung di Siantar minggu lalu, dalam beberapa hari itu (periode aku mengikutinya dengan lebih intensif untuk mengetahui subyek apa yang sedang menarik dibicarakan …) sayang sekali banyak curhat dan komentar tentang pelayanan dan kualitas pendeta yang dipertanyakan. Walau sudah mendengar beberapa gelintir sebelumnya dari pergaulan dengan pelayan HKBP, aku sedikit terkejut mengetahui bahwa di banyak tempat telah terjadi degradasi penilaian jemaat tentang pendetanya. Yang lebih aku sayangkan adalah komentar beberapa pendeta yang mencoba membela sesama rekan berbaju hitam yang malah dalam beberapa bagian mengesankan kekurangbijaksanaan. Yang membuatku terkesan adalah ketika salah seorang pendeta meminta pendeta yang lain (yang membela korps pendeta) untuk diam saja dan jangan meneruskan upayanya dalam membela diri.

Aku bukanlah anti-pendeta (untuk apa pula, ya?). Dan tidak pernah terbersit sedikit pun keinginan untuk membenci pelayan Tuhan jenis ini (ditambah lagi dengan mengingat pesan mamakku – salah satu di antara tiga perempuan perkasa dalam hidupuku – yang mengatakan: “Unang rehei pandita, manang boha pe roa na. Na nimiahan ni Debata do i …“). Bahkan ketika memutuskan untuk ikut kuliah di STT Jakarta beberapa tahun yang lalu (setelah ‘nggak kuasa lagi menolak “panggilan hati” …), motivasiku adalah bagaimana berkontribusi dalam perbaikan pelayanan di jemaat di mana pun aku berada dengan menyediakan diri sebagai mitra pendeta. Yang aku benci adalah kelakuan buruk pendeta yang tidak pantas karena tidak mencerminkan dirinya sebagai hamba Tuhan. Aku dengan terbeban menyampaikan informasi dan usulan koreksi kepada pendeta jika mendapati hal-hal yang perlu diantisipasi dan diperbaiki. ‘Ngobrol berdua, melibatkan beberapa orang teman pelayan, dan di sermon parhalado. Blog adalah wahana terakhir setelah tidak bergeming, sekalian sebagai catatan pengingat bagiku untuk introspeksi dan resolusi (sebagai bahan perenungan) di kemudian hari.

Hamba yang jadi pelayan, atau pelayan yang berhati hamba, itulah yang dimintakan oleh nas perikop Minggu ini. Sederhana, ‘kan? Tapi, ‘nggak mudah melaksanakannya! Bagiku, prinsip pelayanan adalah menjadikan orang lain lebih penting daripada diriku. Siapapun dia. ‘Nggak perduli status sosialnya, harus dilayani dengan baik dan sungguh-sungguh. Dan siapa “membayar” dengan konsekuensi yang akan terjadi, dan atau yang akan dialami. Dibenci oleh orang lain karena melakukan kebenaran (yang tentunya tidak semua orang dapat menerimanya dengan mudah, apalagi kalau ketahuan “belang”-nya, ‘kan?) adalah salah satu di antaranya sebagai konsekuensi.

Dan satu lagi prinsip yang aku yakini sampai sekarang: bukan kemuliaan diri sendiri, melainkan hanya untuk kemuliaan Tuhan saja karena hanya Dia sajalah yang pantas untuk mendapatkannya. Godaan seperti ini sudah mulai mendekati aku, dengan ujaran beberapa warga jemaat yang baru mendengarkan khotbahku, seperti: “Wah, bagusan amang lagi yang berkhotbah daripada pendeta yang selama ini ke mari …”, dan “Pengkhotbah terbaik selama saya jadi (warga) jemaat di sini”. Tentu saja aku menampik semua ucapan dan anggapan tersebut. Selain karena ‘nggak pantas, juga aku selalu melihat banyak kekurangan yang aku sadari tak berapa lama setelah selesai menyampaikan firman Tuhan, yang untuk menenteramkan hatiku selalu aku bilang dalam hati, “Memang Tuhan belum menginginkan aku menyampaikan hal itu saat ini. Mungkin lain kali …”          

Godaan kemuliaan diri sendiri jugalah yang menghampiri kedua murid Yesus ini, yaitu kesombongan yang mengklaim bahwa diri mereka lebih istimewa dari murid-murid lainnya. Uniknya lagi, mereka memanfa’atkan kedekatan ibu mereka dengan Yesus (ibu mereka yang bernama Salome adalah saudara kandung Maria, ibu Yesus) untuk menyampaikan permintaan mereka. Bisa jadi hal ini untuk mengesankan bahwa mereka berdua adalah orang yang rendah hati, yang tidak pamrih, sehingga orang lainlah yang memintakan untuk kepentingan mereka.

Selain sombong, mereka juga salah meminta. Yang dimintakan adalah hal yang ‘nggak pantas mereka dapatkan. Mereka memohon kehormatan dan kemuliaan di dunia ini – sebagai “ajudan” atau “pengawal” Yesus – padahal yang dimaksud Yesus adalah kehidupan sorgawi yang tentu saja tuntutannya jauh berbeda: Yesus menuntut kesediaan mereka menjadi pelayan bagi orang lain. Sangat jauh berbeda daripada yang mereka bayangkan (yang aku juga bayangkan …). Menjadi pelayan bagi orang lain? Ah, bagaimana bisa !? Aku ini boss di kantor/di perusahaan, kepala rumah tangga di keluarga, harusnya aku dong yang dilayani …

Begitulah iman kristiani, dalam banyak hal menuntut kesungguhan untuk menjadi pengikut, bahkan hal-hal yang berbeda daripada pemahaman dan pandangan pada umumnya … Sekali lagi, untuk melakukan hal yang luar biasa tersebut, sikap mendahulukan orang lain dan menjadikan orang lain sebagai yang lebih penting, adalah menjadi kunci utama. Namanya juga hamba …

Oh ya, murid-murid yang lain memprotes tindakan dua orang kawan mereka. Apakah mereka keberatan dengan tindakan kedua orang murid tersebut? Menganggap yang mereka lakukan ‘nggak pantas sebagai murid Yesus yang harusnya tidak “gila hormat”? ‘Nggak juga, jangan-jangan murid-murid lainnya yang protes itu sebenarnya juga sangat pengen dan menginginkan kedudukan terhormat sebagaimana juga dua orang kawan mereka itu …

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Bagaimana Yesus menanggapi permintaan kedua orang murid yang dikasihi-Nya itu sungguh menarik dan sangat layak dijadikan teladan bagi kita yang adalah pelayan jemaat dan atau hanya “sekadar” warga jemaat biasa:

(1)     Menjawab langsung kepada murid-murid, bukan kepada ibu atau melalui ibu mereka walaupun ibu mereka yang bertanya kepada Yesus. Selain karena mengetahui yang sebenarnya, hal ini juga untuk mengajari murid-murid tentang hal yang mereka harus ketahui dan tidak bias. Berbeda dengan kita yang cenderung lebih memilih menghindari konflik daripada menghadapi dan menyelesaikannya secara langsung, ya?

(2)     Menegur tanpa harus memarahi. Bahkan Yesus mengarahkan mereka kepada iman yang benar. Sangat jauh berbeda dengan kecenderungan orang-orang (termasuk kita) yang langsung menghakimi orang-orang yang bersalah, mungkin dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang bodoh. Sangat menyenangkan bila orang yang bersalah mendapatkan pengampunan, malah dibawa ke jalan yang benar.

(3)     Setelah menegur, Yesus memberitahu kedua murid tersebut dengan lemah lembut. Dengan kelemahlembutan, lebih mudah menyadarkan orang-orang dan merubah paradigma mereka untuk berbalik menjadi orang yang baik.

Sebagai pelayan jemaat, sikap Tuhan sangat pas dan pantas dijadikan sebagai model pelayanan yang juga seringkali diperhadapkan pada situasi yang sama dan atau sekadar mirip. Sikap kedua murid tersebut juga adalah mencerminkan sikap kita yang menganggap pelayanan adalah suatu kepangkatan atau kedudukan untuk mendapatkan kehormatan. Sikap yang menjadi semakin jamak terdengar belakangan ini: minta dilayani, bukan melayani walaupun mengaku sebagai hamba yang adalah pelayan Tuhan!

Jadilah pelayan bagi orang lain, yang melayani, bukan untuk dilayani!

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Dua orang murid yang dimaksud dalam nas perikop Ev ini adalah murid-murid yang paling dikasihi Yesus. Bagaiamana kita bisa memahami bahwa orang yang dikasihi Tuhan pun tak luput mendapatkan teguran – bahkan yang keras sekalipun! – dari Yesus yang dikasihi dan mengasihi?

(2)      Murid-murid Yesus masih belum paham juga tentang konsep kerajaan Allah yang disampaikan oleh Yesus, walaupun mereka sudah bergaul langsung dengan Yesus dalam jangka waktu yang relatif lama. Bagaimana pula dengan kita yang “hanya sekadar” mengenal Yesus dari Alkitab?

(3)     Dalam nas perikop yang menjadi Ev di ayat-23 disebutkan “…diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” apakah itu berarti bahwa sejak dahulu kala sudah ditentukan siapa saja orang-orang yang akan masuk sorga? 

Iklan

2 comments on “Andaliman-253 Khotbah 27 Oktober 2013 Minggu-XXII setelah Trinitatis

  1. Terima kasih amang atas bahan kotbah ini, semoga amang diberikan Tuhan hikmat, agar hamba Allah khususnya di HKBP semakin sadar, bahwa hamba yang benar adalah hamba yang lebih memetingkan orang lain dari pada dirinya sendiri.St. H.Sinaga HKBP Reformanda Bandung

    • Horas jala mauliate, amang St. H. Sinaga! Nunga lam denggan panghobasion di HKBP Reformanda nuaeng, ate? Hea do ahu marminggu uju di asrama tentara dope parmingguon i … Lam marsaringar ma goar ni Debata jala holan tu hamuliaon-Na sambing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s