Pendeta Pendusta!

Minggu, 13 Oktober 2013 yang lalu aku ‘nggak bertugas melayani ibadah. Sesuai kebiasaanku dan komitmen sebagai pelayan bahwa setiap Minggu harus berangkat dari konsistori (bareng dengan prosesi para pelayan ibadah setelah doa bersama yang dipimpin oleh Kordinator Ibadah Minggu) dan kembali ke konsistori setelah usai ibadah (untuk doa bersama yang dipimpin pengkhotbah, lalu menghitung kolekte yang selalu aku usahakan untuk membawanya dari bangunan gereja ke konsistori) sesuatu yang hilang belakangan ini setelah pergantian pendeta resort, aku pun melangkah ke konsistori. Sebelumnya bertemu dengan pengurus paduan suara Sekolah Minggu yang akan bernyanyi di ibadah Minggu jam 08.30 WIB itu (di awal acara ibadah) sekaligus meminta waktu untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga jemaat yang telah mendukung persiapan Paduan Suara Sekolah Minggu di Festival Koor Sekolah Minggu Distrik Jakarta bulan September yang lalu (yang lalu aku setujui penyampaiannya setelah pembacaan warta jemaat).

Di konsistori masih bertemu dengan pak pendeta resort yang semula aku kira sudah berangkat ke Medan untuk mengikuti Rapat Pendeta HKBP di Pematang Siantar). Tidak memakai baju kebesaran seorang pendeta karena beliau tidak melayani ibadah Minggu hari itu. Di tempat biasanya beliau duduk kalau melayani ibadah, duduk seseorang yang belum pernah aku jumpa sebelumnya. Hal ini mengingatkanku pada sermon parhalado Jum’at malam sebelumnya di mana pendeta resort menyampaikan tentang pengkhotbah yang akan menggantikan beliau selama mengikuti rapat pendeta di Siantar.

Orang tersebut tidak memakai jubah pendeta, namun aku mudah menduga bahwa beliaulah yang dimaksud yang akan berkhotbah pada ibadah Minggu itu. Lalu aku salami sambil menyebutkan nama:

“D. S. …”

“Aku Tobing, pak. Bapak dari gereja mana?”

“Oh, saya pendeta di Gakin.”

“Gereja apa itu, pak? Aku belum pernah mendengar sebelumnya.”

“Gereja Kristen Injili Nusantara, pak. Saya pendeta di Mediterania.”

“Gereja itu anggota PGI juga sama dengan HKBP? Jarang sekali terdengar namanya. Yang aku pernah dengar Gereja Injili Indonesia Hok Im Tong yang banyak jemaatnya di Bandung.”

“Masuk PGI, pak. Kami juga anggota PGLII, yaitu Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia karena kami juga terdiri dari beberapa yayasan.”

Lalu aku kembali ke bangunan gereja untuk memastikan paduan suara Sekolah Minggu bernyanyi di awal ibadah dan sudah harus bersiap-siap sebelumnya supaya jangan mengganggu urutan liturgi. Sekaligus menyampaikan kepada pengurus yang mau mandok hata tentang gilirannya adalah setelah pembacaan tingting. “Cukup lima menit waktunya, ‘kan?”, tanyaku yang langsung dijawab, “Kelamaan, ito. Dua menit aja cukup, koq … supaya jangan kepanjangan.”

Sekembali aku ke konsistori, aku melihat pak pendeta GKIN tadi duduk sendirian. Tidak ada yang mengajaknya ‘ngobrol. Kasihannya lagi, kami penatua – seperti biasanya – banyak menggunakan bahasa Batak dalam berkomunikasi saat itu. Merasa harus menjadi tuan rumah yang baik, aku pun lalu datang dan duduk di sebelahnya mengajak ‘ngobrol. Tentang apalagi kalau bukan pelayanan? Dari percakapan itulah aku tahu bahwa beliau punya jemaat dengan rata-rata 80 orang yang ikut ibadah Minggu, pernah melayani ibadah di luar sinodenya sebanyak tiga kali, tamat dari sekolah teologi milik sinode di Malang (bukan SAAT), kantor pusat sinodenya di Madiun, dan hal-hal lain.

Sebelum doa keberangkatan ke gereja untuk memulai prosesi, ada kejadian yang ‘nggak pantas menurutku yang dilakukan oleh kawan penatua. Karena Kordinator Ibadah menggunakan bahasa Indonesia (yang menurutku bagus karena pengkhotbahnya bukanlah Batak) dan mengajak menyanyikan lagu nomor 3 (versi beliau adalah Kidung Jemaat) padahal semua memegang Buku Ende karena ibadah jam 08.30 WIB adalah berbahasa Batak sehingga terjadi sedikit kekacauan yang segera diperbaiki, seorang penatua senior ‘nyeletuk: “Marhata Batak ho …”, yang lantas dibalas “Ai aha didokhon bai on! Na marsahit do huroa ibana!”. Terjadi ketegangan sejenak, untunglah ibu-ibu penatua segera melerai dan mengingatkan bahwa kami akan segera melakukan pelayanan ibadah, koq malah masih bertengkar …

Usai ibadah, ketika bersalaman dengan warga jemaat, beberapa berkata kepadaku: “Kenapa bukan penatua aja yang berkhotbah daripada khotbah seperti itu …”, dan “Khotbah apaan sih begitu? ‘Nggak ‘ngerti!”, yang lalu aku jawab, “Wah, kita ‘kan perlu juga mendengar khotbah dari gereja lain … supaya ada perbandinganlah … Penatua diangap belum layak berkhotbah di mimbar ibadah Minggu di gereja kita ini, masih belum pantas. Jadi hanya pendeta saja yang boleh berkhotbah.”.

Karena mengobrol dan berurusan dengan seorang ibu aktivis jemaat yang berulangkali mengeluhkan kualitas sound system sambil menunjukkan tutup telinga berwarna putih yang sengaja dipakai menyumbat telinganya karena ‘nggak tahan dengan bisingnya suara loud speaker yang dipakai gereja sehingga aku sarankan untuk ‘ngomong aja langsung dengan tukang service yang baru selesai menangani sound system sehingga masih memberikan garansi dan sepakat bertemu jam satu siangnya untuk langsung memeriksa kualitas suaranya, aku pun terlambat kembali ke konsistori. Belum masuk, di pintu aku berpapasan dengan pak pendeta yang tergopoh-gopoh pulang (kami lupa berjabat tangan …).

Di dalam konsistori ternyata sedang terjadi diskusi hangat tentang khotbah yang tadi disampaikan di ibadah Minggu. “Cobalah kita simak apa yang tadi disampaikan pendeta itu di khotbahnya. Katanya ada warga jemaatnya yang sudah sembilan tahun menikah namun belum dikarunia anak. Dia merasa bersalah karena lupa mendoakan supaya segera mendapat keturunan ketika menyampaikan pemberkatan nikah. Setelah memperoleh anak, kemudian anak tersebut mengidap keterbelakangan mental. Lalu didoakannya, kemudian menjadi anak pintar, dan sekarang sudah tamat S2 jurusan perlisterikan dan bekerja di Australia. Itu artinya, paling tidak, pendeta itu sudah melayani lebih dari 32 tahun kalau kita asumsikan anak yang o’on namun tamat S2 Australia itu sekarang berusia 23 tahun. Waktu tadi ditanyakan, dia bilang usianya 47 tahun, berarti dia sudah jadi pendeta sejak berumur 15 tahun. Apakah itu mungkin? Siapa yang berdusta, ya?”

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Mungkin “terpaksa” dilakukan supaya membuat khotbahnya menarik dan berkuasa. Hal yang membuatku ‘nggak pernah simpatik melihat pengkhotbah yang terkesan sepertinya menghalalkan segala cara untuk menunjukkan ke-aku-annya, sehingga lupa bahwa khotbah pun seharusnya untuk kemuliaan Allah karena dia adalah sekadar perantara penyampai isi hati Allah.

Dan semakin membuatku tidak simpatik ketika kemudian aku periksa daftar anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia alias PGI dengan melihat situs salah seorang pendeta HKBP seperti yang dulu aku lakukan saat menulis tentang tartingting perkawinan jemaat dengan anggota GPdI yang adalah juga bukan anggota PGI, dan ‘nggak menemukan GKIN sebagai salah satu anggota PGI. Masih belum yakin, besoknya aku diskusikan hal ini dengan seorang penatua senior lain yang segera mengambil Almanak HKBP dan memeriksa daftar anggota PGI yang ada di halaman belakangnya. Hasilnya sama: GKIN tidak terdaftar sebagai anggota PGI.

Apalagi yang diharapkan dari seorang pendeta pendusta? Yang berani berdusta bukan hanya di konsistori di hadapan semua pelayan jemaat dan hamba Tuhan, bahkan di mimbar juga melakukan dusta saat berkhotbah! Semoga hanya inilah sisa pendeta pendusta yang pernah ada …

Iklan

6 comments on “Pendeta Pendusta!

    • @ Hotman Sinaga: Begitulah, lae Sinaga. Seringkali beberapa pengkhotbah supaya menarik perhatian umat, menghalalkan segala cara. Berdusta adalah yang termasuk di dalamnya.

    • @ Amang Binsar Pakpahan: Tulisan amang di blog tentang daftar jemaat anggota PGI-lah yang aku jadikan rujukan dengan mem-print dan menunjukkan ke beberapa penatua yang concern tentang hal ini. Sayangnya, hanya segelintir penatua yang peduli tentang hal yang sensitif ini. Lainnya? Nyaris ‘nggak merespon …

  1. Yang harus diklarifikasi adalah bagaimana Pendeta Resort bisa menunjuk “PP” menggantikannya berkhotbah. Tidak bertanggungjawab itu.

    • @Amang Siahaan: Pada saat sermon sekembali pendeta resort dari Siantar, aku pertanyakan hal tersebut. Jawaban beliau adalah: “Bah, saya tak tahu itu. Saya hanya meminta ke PGI untuk dikirim seorang pendeta yang bisa melayani khotbah di mimbar selama saya tidak ada di Jakarta, dan mereka mengirimkan dia itu …”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s