Andaliman-257 Khotbah 24 November 2013 Minggu Ujung Taon Parhuriaon

Ke Mana Setelah Mati? Penghiburan Akan Hal Kematian

Evangelium 1 Tesalonika 4:13-18

Kedatangan Tuhan

4:13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. 

4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. 

4:15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. 

4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; 

4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. 

4:18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.

Epistel Wahyu 7:9-17 (bahasa Batak Pangungkapon)

Orang banyak yang tidak terhitung banyaknya

7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. 

7:10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

7:11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, 

7:12 sambil berkata: “Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”

7:13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?” 

7:14 Maka kataku kepadanya: “Tuanku, tuan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

7:15 Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka. 

7:16 Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. 

7:17 Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.”

Menghadiri upacara kematian dan penyampaian penghiburan seringkali membuatku bertanya-tanya tentang betapa mudahnya orang-orang menyampaikann bahwa almarhum/almarhumah “sudah bahagia bersama Bapa di surga”. Bukan hanya menyatakan (yang seharusnya adalah merupakan pengharapan) bahkan mengklaim bahwa yang meninggal tersebut pasti sudah ada di surga. Dari berbagai diskusi sebelumnya – dan membaca beberapa referensi – asal muasal ucapan tersebut adalah untuk memotivasi keluarga yang ditinggalkan agar tidak berlarut-larut dalam dukacita, sekalian menghibur, dan berharap bahwa mereka akan bersama-sama kelak di surga.

Nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini berpesan tentang hal yang patut menjadi pegangan dalam menyikapi kematian, orang-orang yang mendahului. Dan di situ ditegaskan bahwa orang-orang yang meninggal lebih dahulu, menunggu orang-orang yang meninggal kemudian, bahkan yang masih hidup sekalipun ketika kedatangan Kristus kedua kalinya untuk bersama-sama menyongsong kedatangan Kristus di angkasa untuk bersama-sama kemudian dengan Tuhan untuk menjalani kehidupan yang kekal. Ke surga yang kekal atau ke neraka yang kekal, sesuai dengan perbuatannya di dunia.

Kemudian, dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini, Yohanes menceritakan tentang penglihatannya di surga. Untuk membantu dalam membayangkan dan memahami situasi yang terlihat saat itu, beberapa penafsir memberikan komentarnya sebagai berikut:

Wahyu 7:9

Yohanes menggambarkan sebuah pemandangan di surga tentang suatu kumpulan besar orang dari semua bangsa yang diselamatkan oleh iman kepada Kristus. Mereka akan tinggal bersama-sama dengan Allah, bebas dari kesakitan dan dukacita. Banyak orang percaya bahwa kumpulan besar orang banyak yang diselamatkan oleh “darah Anak Domba” adalah orang kudus masa kesengsaraan, karena Yohanes menyatakan bahwa mereka “keluar dari kesusahan yang besar”. Orang-orang yang menerima Kristus secara khusus menjadi sasaran penganiayaan iblis dan orang-orang jahat. Ada juga yang menyatakan bahwa mereka ialah para martir Kristen yang sudah menikmati kebahagiaan surgawi. 

Wahyu 7:10

Dalam pujian ini mereka berseru, kemenangan bagi Allah kami. Di sini jelas istilah ini, yang sering diterjemahkan “keselamatan”, memiliki suatu arti yang lain dari apa yang sering kita anggap biasa untuk istilah ini. Karena itu, dalam konteks ini, sebaiknya kata ini diterjemahkan “kemenangan”, dan juga di dalam nas-nas yang lain.

Wahyu 7:11-122 – — 7:11-12 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Alla…

Penyembahan yang diceritakan dalam nas ini mirip dengan yang diceritakan dalam pasal 4:8-11. Malaikat mengaminkan pujian mereka yang “keluar dari kesusahan besar”, lalu mempermuliakan Tuhan Allah dengan tujuh kata, dan menutup pujiannya dengan mengucapkan ulang kata Amin.

Wahyu 7:13 – — 7:13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?” Di antara ke…

Di antara kedua puluh empat tua-tua, ada seorang yang menarik perhatian Yohanes sehingga mengarahkan pandangannya kepada kumpulan besar yang dari segala bangsa. Dia menarik perhatian Yohanes karena mengajukan suatu pertanyaan yang jelas di luar pengertiannya. Pola tanya jawab ini biasa dalam sastra nubuatan.

Wahyu 7:14 – — 7:14 Maka kataku kepadanya: “Tuanku,341 tuan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari Kesusahan Besar…

Istilah Kesusahan Besar itu bisa juga diterjemahkan Kesengsaraan Besar. Pemakaian kata sandang menyatakan bahwa yang dimaksudkan bukan kesusahan yang biasa yang dialami oleh umat Allah dari zaman ke zaman, tetapi Kesusahan Besar yang akan diadakan pada hari kiamat. Wahyu pasal 3:10 dan pasal 6:17 juga menceritakan masa ini. Kaitan antara mereka yang keluar dari Kesusahan Besar dan mereka yang dibunuh bagi Tuhan Yesus yang ada “di bawah mezbah” (yang juga diberi jubah putih) dalam pasal 6:9, sulit dipastikan. Ada penafsir yang berkata bahwa mereka adalah orang percaya yang keluar dari Kesusahan Besar itu karena meninggal dunia secara biasa, bukan karena dibunuh karena iman dan kesaksiannya. Tetapi mungkin pada masa itu, ketika penganiayaan menjadi begitu berat, tidak banyak orang percaya yang setia kepada Kristus boleh hidup tenteram dan meninggal secara damai. Mungkin unsur kesyahidan ada tersirat dalam kata keluar dari Kesusahan Besar.

Jika sesungguhnya mereka yang digambarkan dalam nas ini mati syahid, maka sikap mereka dalam pasal 7:10 sangat mengesankan, karena mereka tidak begitu memikirkan penderitaannya, tetapi sebaliknya mereka memikirkan kemenangan Anak Domba Allah. Dalam pernyataan ini ada gambaran yang sangat mengesankan. Pakaian yang dicuci dalam darah Anak Domba menjadi putih! Darah yang lain tidak memiliki kuasa sebagaimana darah Tuhan Yesus. Segala usaha manusia yang paling hebat pun tidak berfaedah untuk membuat pakaian kita menjadi putih. Dengan kata lain, tidak ada usaha manusia yang berguna untuk memperoleh pengampunan seperti yang ada dalam Kristus yang telah disalibkan bagi kita. Melalui pengorbanan Anak Domba Allah, kesalahan kita karena dosa telah hilang, dan kita diberi kekudusan Kristus sendiri. Pakaian kita menjadi putih.

Wahyu 7:15 7:15 Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan memben…

Hak mereka untuk terus-menerus berada di dalam Bait Allah mengingatkan kita pada hak “barangsiapa yang menang”, karena mereka juga “tidak akan keluar lagi dari situ”, yaitu dari “Bait Suci Allah-Ku”. Ternyata, dalam pasal dua dan pasal tiga, kita membaca janji-janji bagi orang percaya yang setia sampai mati, dan di dalam bagian ini kita melihat penggenapan janji-janji itu. Ada juga satu janji bahwa Tuhan Allah akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka. Di dalam Perjanjian Lama kemah Allah terkait erat dengan hadirat-Nya dan perlindungan-Nya.

Wahyu 7:16 – — 7:16 Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Janji dengan empat unsur ini dia…

Janji dengan empat unsur ini diambil dari Yesaya 49:10, yang menceritakan tentang kebahagiaan mereka yang pulang kembali dari Pembuangan Babel. Mungkin dalam konteks Yesaya ada arti harfiah, tetapi dalam konteks Kitab Wahyu tampaknya ada arti yang lebih luas dan dalam dari sekadar arti harfiah dan jasmani. Matius 5:6 berbunyi, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Yohanes 6:35 berbunyi, “…barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Keadaan yang sangat indah ini pasti menghibur mereka yang takut dibunuh oleh Kaisar. Dengan Firman ini manusia dapat “melihat” lebih jauh, melewati batas-batas jasmani, hingga keadaan yang selanjutnya menjadi nyata.

Wahyu 7:17 – — 7:17 Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu,347 akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan m…

Dalam janji ini, ada Anak Domba yang menggembalakan mereka. Di sini ada penukaran peran dari hal yang biasanya, karena biasanya domba digembalakan oleh manusia, namun di sini Anak Domba menjadi gembala. Memang, Anak Domba yang diceritakan dalam Kitab Wahyu luar biasa. Air mata yang akan dihapus oleh Allah dari mata mereka bukanlah air mata yang keluar akibat menyesali kehidupan yang boros atas apa yang fana, tetapi air mata ini seperti air mata di wajah anak yang sedih dan tiba-tiba bersukacita. Air mata masih di wajahnya, tetapi kesedihan sudah dilupakan dan diganti dengan sukacita. Seperti itulah keadaan mereka “yang keluar dari Kesusahan Besar itu”. Di wajah mereka masih ada air mata yang keluar akibat penderitaan berat yang mereka alami di bumi, sebelum mereka dibunuh karena kesaksian mereka.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Dalam nas Ep di ayat-9 dikatakan bahwa di surga terdapat “suatu kumpulan besar orang banyak”, yang dengan tegas mengatakan bahwa jumlah penghuni surga tidak terbatas dan tidak dibatasi jumlahnya. Dan tidak membatasi asal-muasalnya karena mengakomodsi segala suku bangsa. Dan tidak membatasi asal-muasalnya karena mengakomodasi segala suku bangsa. Hal ini perlu bagi kita untuk dikuatkan dalam menolak ajaran dengan pernyataan bahwa hanya sejumlah orang tertentu (144.000) yang layak mendiami surga bersama Allah Bapa.

Beberapa pesan penting yang dapat kita ambil dari nas perikop yang menjadi Ev dan Ep Minggu ini sehubungan dengan Minggu Ujung Taon Parhuriaon yang sekaligus mengenang orang-orang yang kita kasihi yang terlebih dahulu meninggalkan kita untuk selama-lamanya, antara lain:

(1)     Kematian adalah sesuatu yang pasti, sebagaimana juga kekekalan adalah juga suatu kepastian. Kekekalan dalam hidup di surga (yang menjadi tujuan kehidupan anak-anak Tuhan), ataukah di neraka, itulah menjadi hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan selagi masih ada waktu.

(2)     Orang-orang yang mendahului kita bukanlah “otomatis” langsung ke surga, melainkan “tertidur” sambil menunggu kedatangan Tuhan bersama orang-orang yang meninggal kemudian, dan juga orang-orang yang masih hidup.

(3)     Surga itu benar-benar ada dan Yesus Kristus sebaai Anak Domba yang menjadi figur yang disembah sesuai iman kekristenan kita yang mengakui kebenaran firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Yohanes mendapat penglihatan yang seharusnya kita imani kebenaran dan keberadaannya.

Penetapan HKBP dengan adanya satu Minggu untuk mengenang orang-orang yang sudah meninggal bukanlah untuk mangarungkari sidangolon, melainkan untuk mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara karena kita pun juga suatu saat akan meninggal dunia. Kehidupan yang lain setelah kehidupan di dunia inilah yang menjadi tujuan dan pengharapan akan kehidupan kekal di surga menjadi tujuan setiap orang-orang Kristen yang beriman. Pengharapan yang teguh dan keyakinan akan adanya kehidupan kekal tersebut sebagaimana disampaikan oleh nas perikop Minggu ini menjadi suatu penghiburan bagi kita yang masih hidup bahwa orang-orang yang kita kasihi yang telah terlebih dahulu pergi untuk selama-lamanya bukanlah berada di suatu tempat yang tidak jelas, melainkan tetap dalam pemeliharaan Tuhan.

Itulah suatu penghiburan yang menenangkan bagi kita. Sambil kita juga mempersiapkan diri untuk bersama-sama dengan mereka menghadap Tuhan dan menyongsong kedatangan-Nya kelak. Percayalah!

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Benarkah bahwa keluarga kita yang telah meninggal saat ini sudah berada di surga, di sebelah kanan Allah, atau di pangkuan Bapa, atau bersama Yesus Kristus sebagaimana seringkali diungkapkan oleh orang-orang dalam setiap peristiwa kematian? Bukan hanya di jemaat HKBP, bahkan di sebagian denominasi dengan berani mengatakan bahwa kematian tidak perlu lagi disikapi dengan dukacita, melainkan sukacita yang dinyatakan dengan menaikkan lagu-lagu pujian yang menggembirakan hati. Bagaimana kita menyikapi hal ini? Bagaimana pula dengan tradisi Batak yang dalam hal-hal tertentu lebih terkesan alkitabiah, utamanya dalam peristiwa kematian yang digolongkan sari matua?

(2)     Benarkah di surga para penghuninya hanya melakukan kegiatan menaikkan nyanyian pujian bagi Allah? Tidak perlu makan, minum, dan melakukan aktivitas lainnya layaknya di bumi?

(3)      Dalam versi Bibel disebutkan di ayat-11 dan ayat-13 bahwa sintua yang hadir dalam perkumpulan besar tersebut dan menjadi teman dialog Yohanes, bahkan berada dalam kumpulan “lingkaran satu”. Ke manakah “jenis” parhalado lainnya? Apakah mereka tidak ikut dalam kumpulan tersebut kelak? (intermezzo …)

Andaliman-254 Khotbah 03 November 2013 Minggu-XXIII setelah Trinitatis

Evangelium Markus 3:31-35

Yesus dan sanak saudara-Nya

3:31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.

3:32 Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.”

3:33 Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”

3:34 Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

3:35 Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Epistel Kolose 3: 12-14

3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.