Masih Adakah Harapan di Rapat Jemaat?

Minggu, 15 Desember 2013 kemarin gereja kami mengadakan Rapat Jemaat. Dimulai usai ibadah Minggu jam 08.30 WIB, setelah selesai menghitung kolekte kami pun naik ke Ruang Sekolah Minggu di Lantai-2, tempat rapat akan dilakukan. Aku ‘nggak melihat antusiasme warga jemaat dalam mengikuti rapat kali ini (walaupun dalam faktanya pak pendeta resort menyatakan bahwa rapat sah karena dihadiri oleh jumlah peserta yang memenuhi quorum. Ada “uniknya” rapat kali ini: ada satu wejk yang mengirimkan surat bahwa mereka tidak ada usulan dan tidak ada utusan, yakni wejk yang seringkali hubungannya “panas” dengan pendeta resort.

Bagaimana dengan wejk kami? Mengejutkan juga bagiku karena pada akhirnya ‘nggak ada seorang pun utusan yang hadir mewakili warga jemaat. Dua nama yang sebelumnya (bulan Agustus 2013 yang lalu) menyatakan kesediaannya, beberapa hari yang lalu mengurungkan niatnya sambil bertanya penuh arti: “Masih adakah harapan perubahan di gereja ini? Untuk apa ikut rapat kalau keadaannya masih seperti ini, pendetanya masih dia juga …”. Sebagai parhalado, tentu saja aku harus menetralisir hal yang seperti ini, sehingga aku menjawab: “Harapan itu ‘kan bergantung pada kita. Kalau datang ke rapat jemaat dan menyuarakan pendapat, berarti masih ada harapan, walau sekecil apapun itu. Daripada ‘nggak datang di rapat jemaat yang berarti sudah ‘nggak ada harapan sama sekali …”.

Dua hari menjelang hari-H, seorang utusan membatalkan keinginannya untuk hadir pada rapat dengan menjawab e-mail yang aku kirimkan bersamaan dengan materi usulan wejk yang akan dibacakan pada saat rapat dimaksud. “Ma’af, saya rencananya ‘nggak bergereja di tempat kita pada hari Minggu ini. Cari aja yang lain untuk menggantikan saya sebagai utusan wejk kita”. Dibuat dalam dua bahasa dengan dua e-mail. ‘Nggak tanggung-tanggung!

Tinggallah sepasang suami isteri yang mengonfirmasi akan hadir sebagai utusan wejk kami. Karena rapat akan dibuka – dan aku ‘nggak melihat kehadiran mereka – aku pun menelepon ke ponselnya. ‘Nggak diangkat. Lalu aku mengirim pesan-pendek yang menanyakan keberadaan mereka. Tak berapa lama dijawab, bahwa mereka ‘nggak bisa hadir karena ada acara pesta di Bekasi. Pupuslah sudah harapan … Akhirnya Wejk Betania tidak mengirim utusan karena semua pada akhirnya mengundurkan diri … Merefleksikan apakah ini? Entahlah …

Ketika membicarakan sesi pelayanan umum yang memperdebatkan jadwal ibadah: apakah mempertahankan yang sudah berjalan tahun 2013 ini (masuk jam 06.00 WIB dan 08.30 WIB) atau kembali ke tahun-tahun sebelumnya (masuk jam 09.00 WIB dan 18.00 WIB) sempat terjadi kekisruhan. Sebagian besar penyampai pendapat setuju untuk mempertahankan jadwal ibadah yang sudah berjalan tahun 2013 ini (yang terasa kental bahwa mereka “sekadar” menunjukkan dukungan bahwa apa yang diinisiatifi oleh pendeta resort adalah sudah sangat baik sehingga ‘nggak perlu dikutakkatik lagi), walaupun ada utusan wejk yang menyampaikan pandangan yang berbeda (namun kurang tegas dalam penyampaiannya …) dengan mempertimbangkan anak-anak Sekolah Minggu dan Guru Sekolah Minggu serta mengingatkan bahwa dari data statistik (yang saat rapat jemaat terdahulu sudah aku presentasikan) terjadi penurunan umat yang hadir sebanyak 27 orang setiap Minggu, tetap saja kelompok “pro status quo” yang mendominasi.

Selayaknya setiap keputusan yang diambil dilakukan dengan mengetuk meja tiga kali oleh pemimpin rapat jemaat yang adalah pendeta resort sebagai tanda keabsahan yang kali ini ‘nggak dilakukan sebagaimana juga pembukaan rapat yang tanpa ketukan tiga kali, terbukti menimbulkan kekisruhan. Setelah diputuskan tentang jadwal ibadah (tanpa mengetuk meja tiga kali), salah seorang penatua temanku seangkatan meminta waktu untuk bicara. Sedari tadi beliau berulangkali bertanya dengan berbisik kepadaku, “Koq jadi begini keputusannya, ya lae? Waktu kita rapat parhalado ‘kan disampaikan bahwa kita sebenarnya lebih memilih untuk kembali ke tahun-tahun sebelumnya karena banyak yang kurang bersedia kalau harus melayani ibadah jam 06.00 subuh. Lagian, tujuan tambahan ibadah kedua ‘kan untuk menampung umat yang datang dari luar gereja yang memilih beribadah sore karena mereka bekerja pada pagi hari”. Selalu aku jawab untuk segera menyampaikan pendapatnya. Dan beliau sudah berbisik ke inang pendeta diperbantukan untuk diberikan waktu berbicara, yang aku ‘nggak tahu apa jawaban dari inang pendeta diperbantukan menanggapi permintaan beliau tersebut. Berulang-ulang, sampai keputusan sudah diambil. Mungkin karena sudah ‘nggak tahan lagi, beliau berdiri setelah dipersilakan pimpinan rapat untuk berbicara. Lalu beliau berbicara panjang lebar. Disusul oleh utusan naposobulung yang berbicara dengan lantang tentang keberatannya dan ingin dikembalikan saja jadwal ibadah seperti tahun 2012 sebelumnya: “Kami bukan anak kecil lagi, jadi jangan kami dijadikan sebagai alasan untuk tidak melakukan ibadah Minggu sore karena kami bermain bola di halaman gereja. Tahun-tahun yang lalu ‘nggak pernah ada masalah karena kami tahu kami harus berhenti saat jam setengah enam sore karena akan dimulai ibadah. Kami juga ikut ibadah sore. Jadi, kembalikanlah jadwal ibadah seperti semula”.

itulah yang memicu kekisruhan. Kelompok yang bersuara kuat berdalih:

(1) sebagai penatua harusnya jangan berbeda pendapat dengan apa yang sudah diputuskan di rapat parhalado (walau dengan jelas sudah disampaikan bahwa apa yang tertulis pada dokumen rapat adalah masih draft statusnya, namun begitulah kalau memang hanya mengandalkan suara kuat untuk adu urat leher, hehehe …)

(2) kalau sudah diputuskan tadi, jangan dimentahkan lagi walaupun tidak dengan mengetuk meja tiga kali

Suasana menjadi penuh emosional. Termasuk pak pendeta yang memimpin rapat, yang sekaligus memutuskan untuk mengulangi pembahasan kembali ke semula (sebagian besar berteriak-teriak tidak setuju …), sambil berkata: “Tadi ‘kan sudah disepakati bahwa tidak perlu mengetuk meja tiga kali, tapi kenapa dimentahkan kembali? Begini saja, kita ulangi pembahasan topik tadi supaya semuanya senang. Saya dan inang pendeta ‘nggak keberatan kalau pun rapat ini sampai jam sembilan malam. Dan saya akan memukul meja ini tiga kali setiap ada keputusan supaya semua puas!” (sambil memukul meja tiga kali dengan sangat keras, sehingga semua orang terkejut dan terdiam …). Ada yang menyangka respon seperti itu harus muncul pada rapat gereja seperti ini.

Aku sendiri memang sudah menetapkan hati untuk tidak akan bicara, apalagi menyadari suasana batin sebagian peserta rapat yang mendominasi pembicaraan. Apalagi manakala data statistik tidak jadi bahan pertimbangan, apa lagi yang diharapkan dari rapat seperti itu? Sudah tentu rasional tidak dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan, berarti orang-orang irrasionallah yang mendominasi rapat dan bisa dibayangkan keputusan dengan kualitas yang bagaimana yang akan diambil?

Dan hal ini semakin memantapkan tekadku untuk meninggalkan rapat ini, karena lebih baik bagiku untuk mengikuti acara manghata-hatai dengan lae dan ito-ku yang datang ke rumah abang untuk membicarakan rencana pesta perkawinan bere kami di Medan. Semula aku berencana untuk permisi sejenak, lalu kembali sore harinya untuk mengikuti kelanjutan rapat (yang tahun lalu selesai lewat malam hari …) manakala acara di rumah sudah selesai, namun itu tidak menjadi kenyataan karena kerinduanku untuk mengikuti rapat jemaat sampai tuntas pupuslah sudah …  Setelah permisi ke pendeta dengan penjelasan acara tersebut yang sebelumnya sudah aku info dengan mengirimkan pesan-pendek ke dua nomor ponsel beliau, aku pun turun menemui Auli dan mamaknya untuk sama-sama beranjak ke rumah abangku di mana lae dan ito sudah menunggu.