Andaliman-03 Khotbah 02 Maret 2014 Minggu Estomihi

Jangan Takut, dan Jangan Ragukan Keselamatanmu yang Datangnya dari Tuhan! Bagi Dia Sajalah Kemuliaan!

Evangelium Matius 17:1-9

Yesus dimuliakan di atas gunung

17:1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. 17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. 17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. 17:4 Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” 17:5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” 17:6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. 17:7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!” 17:8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. 17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

Epistel Keluaran 14: 12-18 (Bahasa Batak 2 Musa)

14:12 Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” 14:13 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. 14:14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

Menyeberangi Laut Teberau

14:15 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. 14:16 Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. 14:17 Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku. 14:18 Maka orang Mesir akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda.”

Alkitab itu sungguh luar biasa! Hari ini aku kembali terpesona dengan pesan yang disampaikannya melalui nas perikop Minggu ini. Beberapa simbolis tersirat di dalam nas Ev yang mengisahkan penglihatan luar biasa yang disaksikan oleh tiga orang murid pilihan Yesus untuk peristiwa sarat makna ini. Lihatlah:

  1. Yesus berubah rupa, yang dalam Bahasa aslinya menjelaskan bahwa perubahan tersebut berasal dari dalam diri Yesus. Artinya ekspresi yang disebabkan perubahan dari dalam diri Yesus, bukan dipengaruhi oleh faktor luar (sangat berbeda dengan perubahan wujud yang dilakukan oleh manusia, misalnya dengan bedah wajah, atau perawatan wajah di salon yang bisa dilakukan supaya menjadi apa saja sesuai dengan keinginan, bukan?). Perubahan dari dalam diri (secara rohani, itulah yang diinginkan bagi semua orang percaya, bukan sekadar tampilan luar yang adalah kepura-puraan …).
  2. Percakapan yang terjadi antara Yesus, Musa, dan Elia. Mereka bertiga membicarakan apa yang akan terjadi kemudian di Yerusalem (yang tentunya sekitar peristiwa kematian Yesus dan keselamatan atas kebangkitan-Nya dari kematian), yang ditunjukkan oleh Musa (tokoh besar bangsa Israel) yang mati dan mendapat tempat istimewa di surga, dan Elia (nabi besar bangsa Israel) yang naik ke surga tanpa melalui kematian, alias diangkat langsung ke surga. Menurutku, pemilihan kedua tokoh ini dan dipersaksikan oleh ketiga murid pilihan tersebut bukan tanpa alasan yang pasti. Ini membuktikan bahwa kisah surgawi (dan penghuninya) adalah hal yang pasti dan benar-benar ada. Dan tidak ada hambatan/pertentangan antara Perjanjian Lama dengan Tauratnya, dan Yesus yang adalah tokoh pada Perjanjian Baru yang menggenapi Taurat tersebut dengan hukum kasih. Suara Allah Bapa yang berseru di balik awan meneguhkan tentang ke-benar-an Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia.

Nas Minggu ini mengingatkanku untuk tidak takut (hal yang benar-benar relatif sering menghantuiku belakangan hari ini, utamanya bila memikirkan pekerjaanku sekarang ini …), sikap yang sudah sangat lama aku tinggalkan, bahkan ketika masih hidup di wilayah konflik Nanggroe Aceh Darussalam. Maklum ajalah kalau aku menjadi rada emosional membaca perikop ini. Dinihari tadi di doa pagiku aku masih protes kepada Tuhan (setelah sore hari kemarin protes keras secara langsung) manakala mendengar kabar bahwa seorang kawanku mantan sesama karyawan di satu perusahaan yang sama (dan beberapa kali di kota yang sama denganku) yang sudah berhenti bekerja beberapa tahun lalu dan beralih jadi pengusaha restoran yang mulai sukses (sehingga menurutku ‘nggak butuh lagi bekerja sebagai karyawan …) malah mendapat tawaran bekerja sebagai seorang professional dengan pekerjaan yang lebih pas (sekali lagi, ini menurutku ya …) bagiku karena sesuai dengan latar belakangku daripada beliau sendiri. “Aneh banget Kau, Tuhan! Aku yang memintanya dengan sungguh-sungguh karena sangat membutuhkan pekerjaan yang baru yang lebih punya banyak waktu untuk pelayanan jemaat, koq malah dia yang sepertinya ‘nggak butuh malah mendapat pekerjaan tersebut yang lebih cocok buatku?”

Betul-betul manusia banget aku ini, ya? Sudah manusia, sangat kedagingan pula! Ketika terbangun dari tidur tadi pagi, aku jadi tersipu malu (karena sadar akan kesombonganku yang sok protes kepada Tuhan karena merasa diri lebih pintar tentang keputusan-Nya yang adalah mutlak dan paling tepat, hehehe …) sambil bertanya-tanya tentang makna mimpiku sebelumnya yang dengan tegas ada kalimat: “Tunggu tujuh setengah tahun lagi …”. Alamakkkk!

Kelakuan orang Israel sebagaimana diceritakan di nas Ep ini rada mirip dengan apa yang aku lakukan belakangan ini. Berteriak-teriak, berseru-seru meminta, sambil bersungut-sungut (ini sedikit aku lakukan, tidak seperti bangsa Israel yang selalu menggerutu …). Untungnya ada Musa (bagiku siapa, ya? Ow, Yesus sajalah tentunya!) yang menjadi perantara mereka dengan Allah yang selalu menguatkan mereka agar selalu percaya dan berharap kepada Tuhan. Bahkan menghadapi kejaran orang Mesir, Musa menunjukkan kuasanya melalui tongkat yang diberkati oleh Tuhan untuk membelah dan mengeringkan laut.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Sungguh menyejukkan perkataan yang disampaikan Yesus dan Allah dalam nas perikop Minggu ini: “Jangan takut!”. Lebih menguatkan lagi ucapan Musa (yang tentunya diilhami oleh Allah), “Kamu tidak akan bertemu dan melihat lagi orang Mesir”, yang kemudian membelah laut dengan tongkatnya sehingga memungkinkan bagi orang Israel untuk menyeberang dengan selamat, sedangkan laut yang sama kemudian menjadi kuburan bagi orang-orang Mesir.

Rasa takut dan kuatir adalah “makanan” sehari-hari bagi manusia pada zaman ini. Takut miskin (utamanya bagi pemuja materialisme), takut ‘nggak dapat jodoh (bagi yang sudah dewasa namun belum menemukan belahan jiwanya), takut ‘nggak dapat pekerjaan, takut ‘nggak diterima dalam pergaulan, dan banyak perasaan takut lainnya. Puji Tuhan, hari ini kita diingatkan untuk mengalahkan rasa takut tersebut berlandaskan iman kepada Tuhan dan Yesus yang dalam kemuliaan-Nya berkuasa dalam mengatasi segala masalah (apakah ada lagi masalah yang lebih berat daripada mengeringkan laut di tengah kejaran maut yang mengancam kehidupan secara nyata?) sehingga “kita tidak akan pernah lagi bertemu dengan masalah tersebut”.

Satu lagi, Tuhan itu sangat kreatif. Siapa yang menyangka Beliau “kepikiran” mengeringkan air laut (‘nggak seorang pun menduga itu sebagai jalan yang dilakukan Tuhan, bahkan mungkin sampai hari ini!) sebagai solusi jitu dalam menyelamatkan bangsa Israel yang kesehariannya adalah juga orang-orang yang tidak selalu patuh pada perintah-Nya. ‘Nggak jauh beda dengan kita juga, ‘kan? Lantas, koq masih ragu? Tuhan mampu melakukan hal luar biasa tersebut pada ratusan tahun yang lalu, apa alasannya kita meragukan kemampuan yang sama dalam mengatasi masalah kita saat ini?

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)         Pada nas Ev di ayat 9, Yesus mengingatkan ketiga murid tersebut untuk tidak memberitahu siapapun tentang penglihatan yang luar biasa tersebut sebelum Dia (“Anak Manusia”) dibangkitkan dari antara orang mati. Mengapa? Apakah Yesus “malu-malu” menunjukkan tentang diri-Nya? Dan bagaimana pula kedua murid tersebut mampu menahan diri merahasiakan hal tersebut? Bandingkan dengan situasi sekarang bilamana ada seseorang yang mengklaim dirinya melihat suatu penglihatan yang langsung berkoar-koar dalam khotbahnya kepada semua orang betapa luar biasanya dirinya, bukan diri-Nya (yang memberikan penglihatan tersebut!)

Jika dalam nas Ep ini bangsa Israel diselamatkan Tuhan melalui pimpinan Musa dengan tongkatnya yang luar biasa, siapakah yang menjadi “pengganti” Musa dan tongkat tersebut bagi kita saat ini?

Iklan

Andaliman-02 Khotbah 23 Februari 2014 Minggu Sexagesima

Dulu Kanak-kanak, Sekarang Tidak. Hanya Tuhan dan Firman-Nya yang Tidak Berubah

Evangelium Mazmur 119: 33-40 (bahasa Batak Psalmen)

119:33 Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir. 119:34 Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati. 119:35 Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya. 119:36 Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba. 119:37 Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan! 119:38 Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu. 119:39 Lalukanlah celaku yang menggetarkan aku, karena hukum-hukum-Mu adalah baik. 119:40 Sesungguhnya aku rindu kepada titah-titah-Mu, hidupkanlah aku dengan keadilan-Mu!

Epistel 1 Korintus 13:10-13

13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. 13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. 13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. 13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Andaliman-01 Khotbah 16 Februari 2014 Minggu Septuagesima

Dipilih, Dipilih … Ayo Dipilih! Jangan Sampai Salah Pilih!

Evangelium Ulangan 30: 15-20 (bahasa Batak 5 Musa)

15 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,

16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.

17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,

18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.

19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,

20 dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”

Epistel 1 Korintus 3:1-9

Perselisihan

1 Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.

2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.

3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

4 Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos,” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?

5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.

6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.

8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

Judul tulisan di atas terinspirasi oleh teriakan-teriakan pedagang kaki-lima dalam menjajakan daganganya. Umumnya barang-barang yang ditawarkannya adalah barang-barang keperluan sehari-hari, dan dijual dengan harga yang relatif murah. Mengesankan hal yang mudah kalau hanya sekadar mempertimbangkan bahwa uang yang “dipertaruhkan” adalah dalam jumlah yang sedikit. Tapi jangan salah, bagi yang sedang membutuhkan barang yang terkesan remeh tersebut (gayung plastik untuk mandi, misalnya …) kalau salah memilih tetap saja mengandung konsekuensi dan resikonya sendiri. Kalau gayung mandi tersebut ternyata ukurannya tidak sesuai dengan jumlah air yang bisa dimandikan (kebesaran atau kekecilan …), tentu saja pasti mengganggu kenyamanan mandi yang seharusnya dinikmati dengan sukacita karena merasakan sensasi kesegaran …

Hidup kita selalu diikuti dengan pilihan, dan keputusan untuk mendapatkan yang terbaik, tentunya. Dimulai dengan pagi hari ketika bangun dari tidur, kita akan mulai memilih, mau yang mana dulu: langsung mandi, atau sekadar sikat gigi terlebih dahulu, atau minum kopi? Tentunya setelah berdoa pagi dan membaca renungan, ya … Lalu memilih pakaian, mau pakai yang mana? Bahkan kalau ada kewajiban memakai seragam pun, tetap harus memilih (kalau ada lebih dari satu pakaian seragam yang tergantung di lemari pakaian, tentulah membutuhkan pilihan …). Demikian selanjutnya. Hidup adalah pilihan! Salah memilih, tanggung sendiri resikonya!

Demikianlah yang disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Melalui Musa, Tuhan menyampaikan, bahwa semua umat Israel diberikan kebebasan untuk memilih: ikut Allah, atau patuh kepada allah. Mau hidup, atau mau mati. Mati berkat, atau mau kutuk. Semua punya konsekuensi masing-masing. Untuk memilih dengan tepat, dibutuhkan kedewasaan. Bukan sekadar kedewasaan usia atau umur, melainkan juga kedewasaan dan kematangan berfikir. Termasuk juga di dalamnya adalah kedewasaan dalam menyikapi konsekuensinya. Tidak selamanya pilihan yang kita ambil adalah yang terbaik menurut kita, ‘kan? Jadi, diperlukan kedewasaan sikap dalam menerima dan menanggung akibatnya.

Bukan hanya kedewasaan dalam menerima kepahitan, namun juga dibutuhkan kedewasaan dalam menerima hasil yang menggembirakan. Betapa seringnya kita mendengar bahwa beberapa orang malah menjadi menderita setelah mendapatkan sesuatu yang semula dikira hal yang baik. Contohnya adalah betapa banyaknya orang terperosok dan menanggung derita setelah mendapatkan kekayaan, kenaikan pangkat, dan hal-hal lainnya. Orang yang semula baik, lalu terpilih menjadi bupati atau gubernur, malah kemudian masuk penjara, adalah satu contoh di antaranya.

Itulah sebabnya Paulus mengingatkan melalui nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini untuk bersikap dewasa. Jangan lagi menjadi anak-anak terus menerus yang selalu harus disuapi dengan susu, walau usia sudah seharusnya mampu memakan nasi yang keras. Sikap kekanak-kanakan jualah yang ditunjukkan oleh jemaat mula-mula tersebut dengan membanding-bandingkan diri mereka satu sama lain, yakni antara “geng” Paulus atau “geng” Apolos (ma’af, jangan salah memahami dengan penggunaan kata “geng” ini, ya?).

Yang satu menganggap dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Mereka tidak memahami bahwa Injil bukanlah semata-mata mengandalkan intelektualitas, melainkan kepatuhan dalam menuruti perintahnya, itulah yang paling penting. Bukan duniawi atau manusiawi, melainkan rohani. Siapapun pemberita firman, yang utama bukanlah dirinya, melainkan hanya Tuhan-lah yang diberitakan dan dimuliakan. Dan hanya Tuhan sajalah yang berhak menerima kemuliaan, bukan pemberitanya yang bisa jadi besok malah menjadi penyesat umat.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Sudahlah jelas bahwa jalan Tuhan-lah yang paling layak untuk diikuti. Sebagaimana Tuhan sudah menjanjikan – dan sekaligus menjadi saksi terhadap perjanjian kita untuk mengikuti-Nya – bahwa berkat akan selalu menyertai setiap orang yang mengikuti-Nya, kepatuhan yang mutlak sangat dimintakan dari kita yang mengaku sebagai pengikut-Nya.

Hari ini kita ditantang untuk menetapkan pilihan. Masih adakah yang belum menetapkan pilihannya? Atau, masih adakah yang sudah menetapkan pilihannya, namun berbeda dengan apa yang dipesankan oleh perikop ini?

Hanya Tuhan sajalah yang layak dipilih untuk diikuti, karena janji-Nya adalah teguh dan ‘ngak pernah meleset. Bukan manusia, siapapun itu, mau pendeta, sintua, raja, pejabat, atau siapapun dia atau siapapun mereka itu, janjinya bukanlah suatu jaminan yang mutlak untuk bisa mereka penuhi. Jangan salah pilih!

Selamat Tahun Baru! Ma’afkanlah Aku …

Tiada kata yang lebih pantas yang aku harus sampaikan saat ini selain kata “ma’af …”. Dua bulan sudah kita lewati tahun 2014, dan sudah selama itulah aku ‘nggak pernah hadir dalam blog pribadi yang sangat sederhana ini. Malu dan mengenaskan rasanya … Perubahan terjadi dalam diriku – persisnya: pekerjaanku – sejak 01 Oktober 2013 yang lalu. Hari itu adalah pertama kalinya aku pindah dan berkantor kembali di Kantor Wilayah (namanya sekarang disebutkan dengan West Java Region (disingkat dengan WJR), yang agak aneh bagi pemahaman banyak orang: di Jakarta koq pakai Jawa Barat sebagai wilayah induknya?).

Ini bagaikan pulang ke kandang kembali. Selama tahun 2010 sampai 2013 ketika ditugaskan sebagai Area Sales Manager (ASM) di Bandung, aku adalah bagian dari tim wilayah yang mencakup Jabodetabek, Cirebon, dan Kalimantan Barat ini. Setelah persis tiga tahun di Bandung, aku pun dipulangkan kembali ke Kantor Pusat di Jakarta, kembali ke departemen tempat aku bekerja sebelum ditugaskan ke Bandung. Tak lama “re-launch“, aku pun secara mendadak diminta untuk kembali ke WJR. Bukan sebagai ASM, melainkan sebagai Local Super Market Manager (LSMM) yakni bertanggung jawab terhadap kinerja customers yang adalah 10 penyumbang bisnis terbesar untuk WJR. Sebagian besar dulunya adalah Key Account, antara lain Yogya, Borma (keduanya berpusat di Bandung), Tip Top, Hari-hari, Naga, Farmer’s & Ranch, Aneka Buana, dan satunya lagi ada di Pontianak. Jujur saja, menangani ini benar-benar menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran. Apalagi kalau mengerjakannya sendirian!

Jam Kerja, Hari Kerja, dan Jalan Kerja

Beda dengan waktu bekerja di Kantor Pusat, masih berlaku libur setiap Sabtu, sekarang ini Sabtu adalah hari kerja. Perjalanan dari rumah di Bekasi ke Cilandak membutuhkan waktu paling cepat dua jam untuk sekali jalan (pulang pergi menghabiskan waktu minimal empat jam, sangat menghabiskan waktu dan energi, ‘kan?). Jam enam pagi sudah harus berangkat dari rumah. Tidak bisa lebih cepat karena harus mengantar Auli terlebih dahulu ke sekolah (yang sering kepagian tiba di sekolah, apalagi kalau kami berangkat dari rumah lebih awal …). Akibatnya perjuangan ke kantor semakin bertambah berat karena hampir setiap ruas jalan yang aku lewati adalah jalan utama yang padat lalu lintasnya pada pagi hari (termasuk di jalan tol Lingkar Luar Jakarta yang sekarang sudah menjadi semakin padat dan semakin macet).

Demikian juga manakala pulang sore harinya. Biasanya aku pulang dari kantor paling cepat pukul enam, “menyesuaikan” dengan kebiasaan orang-orang di kantor ini yang menjadikan sholat maghrib di kantor sebelum pulang ke rumah sebagai tradisi. Dengan kondisi jalan yang sangat membutuhkan perjuangan tersebut, biasanya aku sampai di rumah sudah jam sembilan malam. Biasanya Auli dan mamaknya sudah beranjak ke kamar tidur untuk belajar dan sekaligus tertidur. Agar tidak merepotkan mereka (apalagi bila harus turun dari lantai dua), maka disepakati untuk meletakkan kunci pintu garasi di bawah keset kaki untuk kemudian aku ambil, lalu masuk sendirian ke garasi, ke ruang makan (kalau masih selera makan malam sendirian …), nonton teve di ruang tamu (yang semakin jarang aku lakukan karena sudah sangat lelah, sambil kuatir kalau memaksakan diri menonton Indovision yang pastinya menayangkan program acara yang sangat menarik bagiku sehingga bisa memaksaku untuk tidur menjelang dini hari …).

Biasanya aku naik ke lantai dua dan melihat mereka berdua – kekasih hatiku – tertidur karena kelelahan setelah belajar sama (Auli yang belajar dan mamanya menemani belajar …). Kalau masih terbangun, aku akan ajak ‘ngobrol yang ringan-ringan tentang kegiatan hari ini. Kalau sudah lelap, aku hanya bisa mencium kening mereka dan menyelimuti. Satu per satu. Lalu aku ke kamar yang satunya di seberang.

Membaca buku, membaca firman Tuhan, merenung … lalu tertidur dalam kamar yang hanya diterangi cahaya lampu dan bulan (kalau hari cerah) dari luar. Jam tiga dini hari – sesuai kesepakatanku dengan Beliau, persisnya: permohonanku – aku akan otomatis terbangun. Lalu aku membaca Renungan Harian (sebisanya dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggeris, kalau ‘nggak mengantuk berat …). Berdoa dan bercerita pada Tuhan, Tentang banyak hal …

Gambar

Ada Apa dan Kenapa dengan Hari Ini?

Sejak pagi tadi ketika berangkat dari rumah ada kekuatan yang mengingatkanku untuk kembali ke kehidupan “normal” sedia kala. Artinya, menulis di blog yang sangat sederhana ini, dan kembali rajin mengikuti sermon parhalado (yang belum pernah sekalipun aku ikuti sejak 2014 ini, yang selain karena memang “off” sesuai pengumuman yang disampaikan inang pandita, banjir besar di Jakarta dan sekitarnya yang juga sangat dahsyat melanda Kelapa Gading di mana bangunan komplek gereja tempatku melayani beberapa tahun ini berada, menjadi faktor utamanya. Alasan lainnya: ada kemalasan yang melandaku belakangan hari ini. Ada aja godaan yang timbul dari diriku untuk menganggap jarak antara rumah ke komplek gereja dan atau dari kantor ke komplek gereja sebagai jarak yang sangat jauh.

Secara geografis memanglah sangat jauh, namun bila dibandingkan dengan jarak antara Jakarta – Bandung tentulah tidak seberapa. Dan ini yang membuatku malu pada diriku sendiri bila mengingat betapa aku termasuk penatua yang rajin marsermon, walau dengan menempuh perjalanan Bandung – Jakarta pada sore hari, lalu Jakarta – Bandung pada tengah malamnya sehingga sampai di Bandung seringkali menjelang dini hari. Untunglah selalu ada office boy di kantor yang selalu bersedia menyupiriku setiap hari sermon parhalado dan partangiangan wejk tiba (bila aku dapat giliran maragenda atau marjamita). Bukan hanya waktu dan tenaga, biaya juga (untuk BBM, makan malam di jalan, dan “honorarium” OB yang aku rogoh dari kocek pribadi) saat itu bagiku suatu sukacita yang meluap-luap (sambil mengingatkan diriku sendiri untuk tidak menjadikannya sebagai suatu kesombongan sebagai suatu yang layak dibangga-banggakan kepada orang lain …). Tidak!

Beberapa hari ini, kemalasanku (sebagai alasan untuk tidak marsermon, selain memang karena sedang bertugas di luar kota) menjadi topik yang selalu aku bawakan dalam doa dinihariku. Selain meminta ampun karena hampir melalaikan pelayanan jemaat, aku juga meminta kepada Tuhan untuk dimampukan tetap melayani jemaat dengan sepenuh waktu. Diberikan kesempatan yang leluasa juga, tentunya …

Hari ini jadwalku adalah meeting dengan manajemen TipTop di Rawamangun. Baru kemarin sore disampaikan oleh kawanku setim supaya aku mendampingi mereka bernegosiasi dengan supermarket yang kesohor di Jakarta ini. Semula direncanakan Kamis, namun aku minta diundur ke Jum’at karena aku masih di Bandung (sekalian supaya aku bisa langsung dari Rawamangun ke Kelapa Gading untuk ikut sermon parhalado, tanpa harus pulang dulu ke Bekasi yang lumayan jauh …). Pesan-pendek yang aku terima dari penatua yang adalah Ketua Dewan Koinonia ditambah telepon ajakan dari mantan Ketua Dewan Koinonia untuk berkumpul di rumah beliau tadi malam untuk mendiskusikan perkembangan pelayanan di jemaat kami yang terkesan mellep alias melempem (ternyata beberapa kali sermon belakangan ini hanya dihadiri oleh segelintir sintua, umumnya inang sintua sehingga dengan guyon diplesetkan sebagai inang sintua parari Kamis, hehehe …) semakin menguatkanku untuk hadir di gereja malam ini. Prinsipku tetap: yang namanya sintua, marsermon adalah salah satu kewajiban yang harus dilakukan!

Sore ini urusan dengan pekerjaan untuk sementara bisa dianggap selesai. Sambil menunggu beranjak ke gereja, maka aku sempatkan menulis ini di restoran yang berada di depan TipTop yang tadi siang kami pakai untuk makan bersama dengan tim.

Nah, aku akan lanjutkan dengan menulis Andaliman, refleksi singkat dan sederhana tentang pemahamanku terhadap perikop yang akan menjadi Epistel dan Evangelium alias bahan khotbah untuk minggu depan. Karena sudah ratusan, menurutku sebaiknya untuk memulai tahun 2014 ini kembali ke nomor satu ajalah, ya … Jadi, jangan heran kalau hari ini kembali dengan Andaliman-01.

Oh ya, selamat tahun baru, ya! Tahun baru Masehi (yang seharusnya diucapkan 01 Januari), dan sekaligus Tahun Baru Imlek. Dan sekaligus jugalah Happy Valentine! Aku baru ingat bahwa belum membeli hadiah untuk dua perempuan perkasa dalam hidupku …

Ma’af, ma’af, ma’af …