Andaliman-03 Khotbah 02 Maret 2014 Minggu Estomihi

Jangan Takut, dan Jangan Ragukan Keselamatanmu yang Datangnya dari Tuhan! Bagi Dia Sajalah Kemuliaan!

Evangelium Matius 17:1-9

Yesus dimuliakan di atas gunung

17:1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. 17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. 17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. 17:4 Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” 17:5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” 17:6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. 17:7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!” 17:8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. 17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

Epistel Keluaran 14: 12-18 (Bahasa Batak 2 Musa)

14:12 Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” 14:13 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. 14:14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

Menyeberangi Laut Teberau

14:15 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. 14:16 Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. 14:17 Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku. 14:18 Maka orang Mesir akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda.”

Alkitab itu sungguh luar biasa! Hari ini aku kembali terpesona dengan pesan yang disampaikannya melalui nas perikop Minggu ini. Beberapa simbolis tersirat di dalam nas Ev yang mengisahkan penglihatan luar biasa yang disaksikan oleh tiga orang murid pilihan Yesus untuk peristiwa sarat makna ini. Lihatlah:

  1. Yesus berubah rupa, yang dalam Bahasa aslinya menjelaskan bahwa perubahan tersebut berasal dari dalam diri Yesus. Artinya ekspresi yang disebabkan perubahan dari dalam diri Yesus, bukan dipengaruhi oleh faktor luar (sangat berbeda dengan perubahan wujud yang dilakukan oleh manusia, misalnya dengan bedah wajah, atau perawatan wajah di salon yang bisa dilakukan supaya menjadi apa saja sesuai dengan keinginan, bukan?). Perubahan dari dalam diri (secara rohani, itulah yang diinginkan bagi semua orang percaya, bukan sekadar tampilan luar yang adalah kepura-puraan …).
  2. Percakapan yang terjadi antara Yesus, Musa, dan Elia. Mereka bertiga membicarakan apa yang akan terjadi kemudian di Yerusalem (yang tentunya sekitar peristiwa kematian Yesus dan keselamatan atas kebangkitan-Nya dari kematian), yang ditunjukkan oleh Musa (tokoh besar bangsa Israel) yang mati dan mendapat tempat istimewa di surga, dan Elia (nabi besar bangsa Israel) yang naik ke surga tanpa melalui kematian, alias diangkat langsung ke surga. Menurutku, pemilihan kedua tokoh ini dan dipersaksikan oleh ketiga murid pilihan tersebut bukan tanpa alasan yang pasti. Ini membuktikan bahwa kisah surgawi (dan penghuninya) adalah hal yang pasti dan benar-benar ada. Dan tidak ada hambatan/pertentangan antara Perjanjian Lama dengan Tauratnya, dan Yesus yang adalah tokoh pada Perjanjian Baru yang menggenapi Taurat tersebut dengan hukum kasih. Suara Allah Bapa yang berseru di balik awan meneguhkan tentang ke-benar-an Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia.

Nas Minggu ini mengingatkanku untuk tidak takut (hal yang benar-benar relatif sering menghantuiku belakangan hari ini, utamanya bila memikirkan pekerjaanku sekarang ini …), sikap yang sudah sangat lama aku tinggalkan, bahkan ketika masih hidup di wilayah konflik Nanggroe Aceh Darussalam. Maklum ajalah kalau aku menjadi rada emosional membaca perikop ini. Dinihari tadi di doa pagiku aku masih protes kepada Tuhan (setelah sore hari kemarin protes keras secara langsung) manakala mendengar kabar bahwa seorang kawanku mantan sesama karyawan di satu perusahaan yang sama (dan beberapa kali di kota yang sama denganku) yang sudah berhenti bekerja beberapa tahun lalu dan beralih jadi pengusaha restoran yang mulai sukses (sehingga menurutku ‘nggak butuh lagi bekerja sebagai karyawan …) malah mendapat tawaran bekerja sebagai seorang professional dengan pekerjaan yang lebih pas (sekali lagi, ini menurutku ya …) bagiku karena sesuai dengan latar belakangku daripada beliau sendiri. “Aneh banget Kau, Tuhan! Aku yang memintanya dengan sungguh-sungguh karena sangat membutuhkan pekerjaan yang baru yang lebih punya banyak waktu untuk pelayanan jemaat, koq malah dia yang sepertinya ‘nggak butuh malah mendapat pekerjaan tersebut yang lebih cocok buatku?”

Betul-betul manusia banget aku ini, ya? Sudah manusia, sangat kedagingan pula! Ketika terbangun dari tidur tadi pagi, aku jadi tersipu malu (karena sadar akan kesombonganku yang sok protes kepada Tuhan karena merasa diri lebih pintar tentang keputusan-Nya yang adalah mutlak dan paling tepat, hehehe …) sambil bertanya-tanya tentang makna mimpiku sebelumnya yang dengan tegas ada kalimat: “Tunggu tujuh setengah tahun lagi …”. Alamakkkk!

Kelakuan orang Israel sebagaimana diceritakan di nas Ep ini rada mirip dengan apa yang aku lakukan belakangan ini. Berteriak-teriak, berseru-seru meminta, sambil bersungut-sungut (ini sedikit aku lakukan, tidak seperti bangsa Israel yang selalu menggerutu …). Untungnya ada Musa (bagiku siapa, ya? Ow, Yesus sajalah tentunya!) yang menjadi perantara mereka dengan Allah yang selalu menguatkan mereka agar selalu percaya dan berharap kepada Tuhan. Bahkan menghadapi kejaran orang Mesir, Musa menunjukkan kuasanya melalui tongkat yang diberkati oleh Tuhan untuk membelah dan mengeringkan laut.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Sungguh menyejukkan perkataan yang disampaikan Yesus dan Allah dalam nas perikop Minggu ini: “Jangan takut!”. Lebih menguatkan lagi ucapan Musa (yang tentunya diilhami oleh Allah), “Kamu tidak akan bertemu dan melihat lagi orang Mesir”, yang kemudian membelah laut dengan tongkatnya sehingga memungkinkan bagi orang Israel untuk menyeberang dengan selamat, sedangkan laut yang sama kemudian menjadi kuburan bagi orang-orang Mesir.

Rasa takut dan kuatir adalah “makanan” sehari-hari bagi manusia pada zaman ini. Takut miskin (utamanya bagi pemuja materialisme), takut ‘nggak dapat jodoh (bagi yang sudah dewasa namun belum menemukan belahan jiwanya), takut ‘nggak dapat pekerjaan, takut ‘nggak diterima dalam pergaulan, dan banyak perasaan takut lainnya. Puji Tuhan, hari ini kita diingatkan untuk mengalahkan rasa takut tersebut berlandaskan iman kepada Tuhan dan Yesus yang dalam kemuliaan-Nya berkuasa dalam mengatasi segala masalah (apakah ada lagi masalah yang lebih berat daripada mengeringkan laut di tengah kejaran maut yang mengancam kehidupan secara nyata?) sehingga “kita tidak akan pernah lagi bertemu dengan masalah tersebut”.

Satu lagi, Tuhan itu sangat kreatif. Siapa yang menyangka Beliau “kepikiran” mengeringkan air laut (‘nggak seorang pun menduga itu sebagai jalan yang dilakukan Tuhan, bahkan mungkin sampai hari ini!) sebagai solusi jitu dalam menyelamatkan bangsa Israel yang kesehariannya adalah juga orang-orang yang tidak selalu patuh pada perintah-Nya. ‘Nggak jauh beda dengan kita juga, ‘kan? Lantas, koq masih ragu? Tuhan mampu melakukan hal luar biasa tersebut pada ratusan tahun yang lalu, apa alasannya kita meragukan kemampuan yang sama dalam mengatasi masalah kita saat ini?

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)         Pada nas Ev di ayat 9, Yesus mengingatkan ketiga murid tersebut untuk tidak memberitahu siapapun tentang penglihatan yang luar biasa tersebut sebelum Dia (“Anak Manusia”) dibangkitkan dari antara orang mati. Mengapa? Apakah Yesus “malu-malu” menunjukkan tentang diri-Nya? Dan bagaimana pula kedua murid tersebut mampu menahan diri merahasiakan hal tersebut? Bandingkan dengan situasi sekarang bilamana ada seseorang yang mengklaim dirinya melihat suatu penglihatan yang langsung berkoar-koar dalam khotbahnya kepada semua orang betapa luar biasanya dirinya, bukan diri-Nya (yang memberikan penglihatan tersebut!)

Jika dalam nas Ep ini bangsa Israel diselamatkan Tuhan melalui pimpinan Musa dengan tongkatnya yang luar biasa, siapakah yang menjadi “pengganti” Musa dan tongkat tersebut bagi kita saat ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s