Berkhotbah di SPH: Kenangan Tentang Sintua “Pangompas” …

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

Selasa, 18 Maret 2014 jam 19 lewat sedikit aku mendapat “panggilan” untuk berkhotbah di persekutuan ibu-ibu yang tergabung dalam Seksi Parompuan Huria (SPH). “Panggilan”, karena sebenarnya tidak dijadwalkan melayani pada persekutuan ini, namun seorang inang sintua yang seharusnya melayani, berhalangan karena sesuatu hal. Saat sermon parhalado – karena ‘nggak seorang pun yang bersedia menggantikan setelah dicoba mengharapkan kesukarelaan penatua lainnya – maka aku pun mengajukan kesediaan sambil berujar setengah bercanda: “Aku bersedia, tapi apakah boleh penatua laki-laki yang melayani perkumpulan ibu-ibu ini?”, yang langsung saja dijawab oleh sebagian peserta sermon dengan mengatakan “bisalah …”. Hal ini spontan aku lontarkan karena tahun lalu pun aku berkhotbah di perkumpulan ini karena juga menggantikan inang sintua paniroi SPH yang berhalangan karena ada ulaon adat di huta …

Dan pas juga jadwal pekerjaanku dari perusahaan pada hari itu adalah melakukan diskusi bisnis dengan TipTop, salah satu supermarket terbesar yang menjadi peganganku saat ini, yang berkantor pusat di daerah Rawamangun (tidak jauh lokasinya dari HKBP Rawamangun). Dari supermarket tersebut ke gereja kami tidak membutuhkan waktu lama sehingga aku pun tiba di gereja sebelum jam enam petang.

Seperti biasa, aku menggunakan LCD-projector sebagai media penyampaian khotbah. Karena milik “resmi” gereja sudah rusak dan belum dibeli penggantinya sampai saat ini, maka aku meminjam LCD-projector milik Guru Sekolah Minggu (konon dibeli berdasarkan urunan dari masing-masing guru-guru Sekolah Minggu yang lebih merasakan membutuhkan alat ini dalam pelayanan mereka di jemaat …). Karena Sabtu nanti aku juga diminta berkhotbah di persekutuan Remaja Naposobulung HKBP (RNHKBP) yang juga menggantikan sintua parhalado resort yang berhalangan karena bertugas kantor di Bandung, aku pun sudah mem-book alat multimedia tersebut untuk Sabtu yang akan datang.

Menurutku, sangat banyak ibu-ibu yang hadir pada malam itu (percayalah, ini bukan karena aku yang berkhotbah!) sehingga beberapa orang harus mengambil kursi dari bilut parhobasan di ruangan sebelah karena kehabisan tempat. “Ini belum seberapa amang kalau dibandingkan dengan jumlah semua ibu-ibu yang ada di gereja kita ini”, kata salah seorang ibu yang menjadi ketua SPH ketika aku memuji kehadiran ibu-ibu yang antusias tersebut. Tentunya sambil meminta ma’af karena isteriku sendiri belum ikut perkumpulan SPH, “Hari-hari ini masa-masa ulangan akhir anak SD kelas enam, sehingga harus mendampingi si boru Tobing yang di rumah belajar dan mengulangi pelajarannya …”, jawabku berdalih ketika ada yang menanyakan kenapa mak Auli ‘nggak aku ajak.

Begitulah … Nas perikop menceritakan tentang nubuatan Yehezkiel tentang masa depan Israel yang ketika itu masih dalam masa pembuangan yang banyak menyembah dewa-dewa Babel. Israel akan bertobat dan menjadikan Allah sebagai Tuhan mereka, sebaliknya bagi yang tidak bertobat akan dipandang Allah sebagai kejijikan yang layak dijatuhi hukuman berat. Dan ketika menyampaikan hal inilah aku coba menyentuh hadirin dengan kalimat, “Hea do hita maminsangi halak manang dakdanak na adong di humaliangta ala pangalaho nasida na hurang denggan? Andigan do hita maminsang sahalak dakdanak di garejanta on? Ndang hea? Aha do alana?”

Lalu aku mengingatkan semua yang hadir tentang “wabah” sekadar yang mulai menjangkiti banyak orang. “Sekadar” jadi penatua (dengan mencontohkan diriku sendiri), yang sekadar datang marsermon, maragenda, marjamita, partangiangan, yang semuanya sekadar menjadi ritual. Atau sekadar jadi warga jemaat yang “baik”, yang sekadar datang beribadah, ikut punguan, rajin partangiangan, dan lain-lain, bahkan secara teratur memberikan persembahan dan ucapan syukur. Tanpa Roh. Jika tidak dibarengi dengan Roh maka semuanya menjadi hambar, dan tidak punya kekuatan. Kekuatan untuk menegur orang, bahkan kekuatan untuk menegur diri sendiri yang pasti juga seringkali melakukan kesalahan alias kejijikan di mata Tuhan.

Lalu aku bercerita tentang seorang penatua di gereja kami zaman dulu ketika kami masih anak-anak Sekolah Minggu. Di komplek gereja yang luas dan teduh kami anak-anak nakal seringkali bermain “tuwok” (mengundi dengan dua keping uang logam dilemparkan ke udara sambil bertaruh apa saja yang sedang “musim” saat itu, bisa aja karet gelang alias goje, tutup limun, kulit pembungkus permen, atau apa saja bergantung kesepakatan …) atau bermain “kes” (meluncurkan uang logam di atas dua buah batu-bata yang disusun sedemikian rupa sebagai peluncur dengan garis batas wilayah, siapa yang paling jauh luncurannya dialah yang berhak mendapatkan taruhan …). “Ada sintua yang rajin mengusir kami kalau main tuwok dan atau kes itu di gereja. Saking takutnya kami, kalau beliau datang ke gereja, biasanya mau marsermon atau markoor, seringkali kami langsung lari terbirit-birit meninggalkan pertaruhan yang biasanya diletakkan begitu saja di tanah. Tentu saja yang dilakukan oleh beliau itu adalah suatu kebenaran, yakni tidak membiasakan anak-anak berjudi agar di masa depan tidak menjadi penjudi beneran. Tapi, bagi kami beliau adalah orang jahat karena mengganggu kenyamanan kami dan menyita barang-barang pertaruhan kami. Ini salah satu contoh bahwa kebenaran dan kebaikan selalu terjadi bersamaan namun tidak selalu berjalan seiring, karena kebaikan bergantung pada sudut pandang orang yang menilainya. Sampai sekarang aku ingat gelaran yang kami berikan kepada beliau sebagai “sintua pengompas” yang kemudian berubah bunyi menjadi “sintua kompes” (karena postur beliau yang kurus layaknya ban yang kempes …). Aku percaya beliau berani melakukan itu karena bukan seorang penjudi, bahkan mungkin juga seorang yang hidupnya bersih. Dan juga didorong oleh kasihnya kepada anak-anak sebagai masa depan gereja yang sangat dikasihi oleh Tuhan.”

Bagaimana dengan kita? Kapan kita terakhir sekali menegur orang-orang yang ada di sekitar kita yang melakukan kejijikan bagi Tuhan?

NB: Sebagaimana sudah menjadi kebiasaanku manakala menjadi pembicara seperti ini yang mencontohkan diriku sendiri (yang juga seringkali aku jadikan sebagai “pelaku kejahatan” agar tidak menyinggung perasaan yang hadir), aku selalu memesankan: “Aku menyampaikan hal ini, yakni menjadi sempurna seperti Yesus yang adalah model dalam hidupku sebagai panutan karakterku, bukan berarti aku sudah sempurna dan lebih baik daripada semua yang hadir di sini. Bukan! Bahkan tidak bakalan sempurna sampai akhir hayatku, namun aku menuju ke arah sana dengan melakukan penyempurnaan dari hari ke hari. Jangan dengarkan ucapanku semua, namun ambillah pesannya yang sejalan dengan firman Tuhan yang aku sampaikan dan telitilah kembali dengan Alkitab”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s