Andaliman-06 Khotbah 30 Maret 2014 Minggu Letare

Berani Menjadi Terang? Lakukanlah Kebenaran dengan Hati yang Dipenuhi Roh, Karena Itulah yang Dilihat Oleh Tuhan

Evangelium Efesus 5: 8-14

5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,

5:9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,

5:10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.

5:11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.

5:12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.

5:13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.

5:14 Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Epistel 1 Samuel 16: 1-13

Daud diurapi menjadi raja

16:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”

16:2 Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman TUHAN: “Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.

16:3 Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.”

16:4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?”

16:5 Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

16:6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.”

16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

16:8 Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

16:9 Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN.”

16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.”

16:12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.”

16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

Jika suatu kali melihat orang bermain judi di gereja – siapapun itu, warga jemaat “biasa”, apalagi pelayan jemaat – apa yang akan engkau lakukan? Terkejut, lalu marah, dan menegur mereka untuk segera menghentikan perjudian tersebut? Atau malah pura-pura ‘nggak tahu? “Bukan urusanku”, berkata dalam hati sambil pergi …

Dulu, waktu masih anggota naposo bulung di Medan, aku terkejut dan ‘nggak percaya ketika mendengar ada sekelompok penatua yang berjudi di bilut parhobasan (konon di balik ruangan konsistori) sehabis melakukan sermon parhalado. Bukan di jemaat kami, melainkan di gereja pagaran di mana jemaat kami sebagai sabungan-nya. Karena kaget dan ‘nggak percaya tentang betapa rendahnya moral dan keimanan mereka yang “lupa” pada jabatan keimaman mereka, sekaligus aku juga ‘nggak tahu apa yang harus dilakukan dalam hal “kejadian luar biasa” ini aku benar-benar tidak melakukan apa-apa (sampai sekarang aku berharap bahwa sudah dilakukan tindakan tegas oleh yang berkompeten dalam hal ini …).

Pernah juga guru huria yang mengajar kami markoor ketika masih anggota NHKBP punya kebiasaan rutin minta ditemani minum kamput (nama minuman beralkohol di Medan dengan merek Cap Kambing Putih yang lalu disingkat dan lebih populer dengan nama “kamput”) setiap usai mengajari kami latihan koor di gereja. Tengah malam tersebut, sang guru huria (sekarang jadi pendeta resort di Jakarta …) mengajak kami ke warung grosir milik penatua jemaat yang juga adalah bendahara huria yang Cuma berjarak kurang dari satu kilometer dari lokasi gereja. Dengan berboncengan sepeda motor, biasanya mereka (guru huria dan kawan anggota NHKBP) menghabiskan waktu dengan menenggak alkohol di sana, di pinggir jalan raya yang tentu saja akan mudah terlihat oleh orang-orang yang melintas di jalan tersebut.

Pertama kali diajak, aku ikut karena mengira bahwa kegiatan usai latihan koor tersebut adalah sekadar minum kopi atau minuman ringan (sebagaimana ada tradisi kami saat itu untuk pergi rame-rame makan bubur kacang hijau dan minum bandrek, utamanya kalau ada perayaan kecil-kecilan). Setelah tahu bahwa yang diminum oleh guru huria dan beberapa kawan tersebut adalah kamput, maka aku pun bereaksi dengan cara mengajak pulang kawan-kawan yang sama terkejutnya dengan aku. Selanjutnya, aku ‘nggak pernah mau sekalipun ikut rame-rame usai latihan koor kalau pesertanya ada guru huria tersebut dalam rombongan.

Waktu itu aku merasa ‘nggak pantas kalau ada “orang-orang gereja” yang melakukan perbuatan tercela (yang sekarang aku semakin sadar bahwa gereja bukanlah dihuni oleh semua orang-orang yang suci, walaupun Tuhan memerintahkan untuk menjadi orang-orang yang kudus). Walau nyaris menjadi bagian dari kelompok “sesat” tersebut, aku bersyukur tidak ikut-ikutan dalam perbuatan tersebut, dan berharap bahwa apa yang aku lakukan sebagai bentuk protes dengan tidak pernah mau diajak bisa dianggap sebagai sebuah bentuk teguran. Aku bukanlah orang yang sangat baik (apalagi sempurna!), namun untuk hal-hal yang standar aku masih tahu mana yang pantas dan yang tidak pantas. Apalagi sekarang setelah menjadi penatua, ya …

Demikianlah pesan yang mau disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. “Jadilah terang, jangan ikut menjadi bagian dari kegelapan, malah seharusnya menelanjangi kegelapan tersebut”. Artinya, harus dalam bentuk tindakan karena peneguran aadalah refleksi dari kasih, yakni kalau teguran tersebut dilakukan dengan hati yang tulus dan bersih. Bukan untuk menunjukkan kehebatan, atau kelebihan diri sendiri yang malah mengarah kepada kesombongan. Untuk itu meman dibutuhkan keberanian “ekstra” karena tidak semua orang yang ditegur dalam kegelapannya dapat dengan mudah menerima teguran.

Demikian jugalah dengan proses pengurapan Daud menjadi raja Israel sebagaimana dikisahkan dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Samuel yang dulu mengurapi Saul menjadi raja Israel yang pertama, harus melaksanakan perintah Tuhan untuk mencari penggantinya. Ada beban moral, memang baginya. Tapi perintah Tuhan harus dilaksanakan. Oleh sebab itu, pergilah dia ke keluarga Isai sesuai petunjuk Tuhan.

Karena dipengaruhi profil Saul yang konon tinggi besar sebagai raja yang dulu dilantiknya, postur tersebut memengaruhi Samuel ketika menduga Eliab-lah yang akan mengganti Raja Saul, namun Tuhan menolaknya. Demikian juga dengan saudara-saudara lainnya (yang kemungkinan besar adalah berpostur yang mirip dengan Eliab yang adalah prajurit perang Israel yang tangguh), yang juga ditolak oleh Tuhan. Karena semuanya ditolak Tuhan, akhirnya Samuel menyuruh Isai untuk memanggil anaknya yang seorang lagi yang ternyata masih ada dan sedang bekerja di ladang.

Yang semula ‘nggak “masuk hitungan” karena posturnya yang relatif kecil dan profesinya yang “cuma” seorang gembala, malah akhirnya Daud yang terpilih menjadi (calon) Raja Israel dan yang berkenan bagi Tuhan. Sungguh tak terduga kehendak Tuhan, bisa sangat jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh manusia!   

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Sebagai manusia yang terbiasa mengandalkan pikiran, kita terbiasa menetapkan suatu standar dalam menentukan pilihan. Termasuk di dalamnya dalam memilih seseorang, yang biasanya sangat ditentukan oleh apa yang kelihatan daripada apa yang tidak kelihatan. Fisik seringkali menjadi parameter utama, namun hari ini kita diingatkan bahwa bagi Tuhan yang utama adalah hati (sesuatu yang hanya Tuhan paling mengetahui …).

Berhubungan dengan hal itu, dalam menjalankan peran kita sebagai terang, kita juga harus melakukannya dengan hati yang sungguh-sungguh. Bukan untuk “sok-sokan”, supaya dilihat dan dipuji oleh orang-orang, yang berpotensi mengarah kepada mencuri kemuliaan Tuhan.

Bagaimana kita mengetahui tentang “hati” sebagaimana yang dimintakan oleh Tuhan? Nas Ev memberi petunjuk, yaitu dengan menguji segala sesuatu (ayat-10). Dan firman Tuhan adalah alat uji alias standar kualitasnya. Dengan terang Roh Kudus, kita pasti akan mengetahui apakah yang dilakukan oleh orang lain dan yang kita lakukan dalam pelayanan jemaat adalah sesuai dengan firman-Nya, ataukah sekadar untuk kesombongan dan kemuliaan diri sendiri.

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)    Tidak mudah dalam menjalankan peran sebagai terang dalam kegelapan, misalnya dengan menegur orang yang melakukan kesalahan. Apalagi bila orang tersebut adalah orang yang dihormati dalam lingkungan tersebut. Apa yang menjadi batasan Antara menjalankan peranh sebagai terang dengan mencampuri urusan orang lain?

(2)   Saul dipilih oleh Tuhan sebagai Raja Israel dengan perantaraan Samuel yang adalah nabi-Nya. Lantas, Samuel pula yang diminta Tuhan untuk mencari pengganti Saul dengan cara memilih Daud yang sebenarnya tidak “masuk hitungan” dalam kriteria sebagai raja. Bagaimana kita bisa memahami hal ini dalam terang Alkitab?

Daud walau sudah diurapi sebagai Raja Israel, ternyata tidak langsung secara otomatis menjadi Raja Israel karena masih mengalami berbagai peristiwa lain – antara lain menjadi pelayan Saul, mengalahkan Goliat, bahkan dilecehkan oleh saudara-saudara kandungnya juga – sebelum akhirnya dilantik menjadi raja setelah kematian Saul. Pesan apa yang bisa kita dapatkan dari proses yang masih harus dijalani oleh Daud ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s