Hari Ini Masih Jum’at Agung, Kawan … Belum Paskah!

“Jum’at Agung datang lagi. ‘Nggak terasa, rasanya baru kemarin kita merayakannya. Dan aku mengingat tahun lalu sangat istimewa karena berdekatan dengan perjalananku pulang dari Yerusalem …”, demikian percakapan kami di mobil dengan keluarga paribanku dalam perjalanan Bandung – Bekasi. Beberapa hari ini aku memang bertugas dari kantor untuk mengadakan business review dengan Yogya dan Borma, dua supermarket besar yang jadi peganganku sejak akhir tahun 2013 yang lalu sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawabku. Seperti biasanya, aku naik bis pulang dan pergi karena terminalnya juga sangat dekat dengan tempat tinggal kami saat ini di Heliconia Extension Harapan Indah.

Karena tahu bahwa paribanku yang beberapa tahun ini bertugas di Kantor Pusat PT Pos Indonesia di Bandung selalu pulang Jum’at ke Bekasi untuk bertemu dengan keluarganya, maka aku pun iseng-iseng mengirim Whatsapp untuk bareng pulang naik bis. Tak ‘kusangka, ternyata keluarganya sedang ada di Bandung menikmati liburan Paskah yang dimulai Kamis kemarin. Aku pun menumpang di mobil Toyota Avanza mereka, berempat dengan anak semata wayang mereka.

“Memang kenapa, bang?”, tanyanya

“Tahun berganti, umur bertambah, semakin tua, namun keimanan masih begini-begini aja …”, jawabku spontan

“Masak sih, bang? Bukan abang menjadi semakin baik sekarang ini?”, timpalnya sambil nyetir di kemacetan lalu lintas yang sangat padat di jalan yang seharusnya bebas hambatan tersebut (berangkat jam setengah lima dari pintu tol Buah Batu sampai jam setengah sebelas malam di komplek perumahan kami di Bekasi).

“Maksudku, sampai sekarang pun aku merasa masih sangat jauh dibandingkan karakter Yesus yang menjadi idola dan model bagiku …”, jawabku yang masih dalam nada spontan. Itulah yang aku rasakan saat ini.

Dan pagi ini aku masih menemukan kesalahan dalam komunikasi di facebook, ketika salah seorang kawanku sesama anggota NHKBP di Medan yang sekarang menjadi calon legislator (yang kemungkinan besar gagal, yang terlihat dari penghilangan nama partainya dari nama facebook-nya yang selama ini menjadikannya sebagai nama tengahnya) menyampaikan selamat Paskah. Hal yang masih sering terjadi salah kaprah, bahkan di jemaat gereja juga yang mengucapkan “selamat Paskah” setelah usai ibadah Jum’at Agung. Untuk “mencegah” kesalahan lebih banyak, maka aku pun menulis di statusku: “Hari ini masih Jum’at Agung, kawan! Hari Minggu besok barulah Paskah …”. Puji Tuhan, jika dibandingkan tahun lalu kesalahan “membedakan” Jum’at Agung dengan Paskah, tahun ini sangat jauh berkurang. Tentunya, bukan karena penulisan statusku itu, ya!

Selain itu, aku juga menuliskan status kesaksianku bahwa setiap Jum’at Agung selalu terjadi bahwa jam tiga siang akan terjadi mendung (biar bagaimana pun teriknya matahari!) yang menunjukkan bahwa alam pun turut bersedih saat wafatnya Yesus Kristus. Kemarin pun hal yang sama aku sampaikan kepada salah seorang kawanku di kantor Bandung yang muslimah saat dia bertanya tentang Jum’at Agung dan Paskah: “Koq liburnya Jum’at, bukan Minggu pak? Bukankah Paskahnya itu hari Minggu sesuai penjelasan bapak tadi?”.

Puji Tuhan, setelah aku terbangun sore tadi (sangat lelap karena letih dalam perjalanan pulang tadi malam sehingga tidak ikut menyaksikan alam yang bersedih pukul tiga siang …), ucapan yang pertama kali aku dengar dari mak Auli adalah: “Wah, enak kali papa tidurnya sampai ‘nggak lihat alam yang bersedih karena kematian Yesus di kayu salib. Bukan cuma mendung, bahkan tadi hujan turun …”. Dan di facebook aku membaca beberapa status yang mempersaksikan bahwa siang tadi alam turut bersedih dengan cuaca mendung dan hujan yang turun walau sebelumnya sangat cerah.

Terpujilah Tuhan yang masih tetap menunjukkan kemuliaan-Nya! Selamat Jum’at Agung, kawan …