Selamat Ulang Tahun, Kekasih Hatiku …

Tiup Lilin Mama

Tadi malam selesai meeting bulanan di kantor aku teringat akan janjiku untuk pulang ke rumah, tidak ke kos-an sebagaimana biasanya. Aku berjanji bareng anakku Auli untuk bersama-sama membeli kue. Besoknya adalah ulang tahun mamanya, isteriku tercinta. Kemacetan lalu lintas di tol Lingkar Luar Jakarta membuatku makin ‘nggak sabaran untuk cepat-cepat tiba di rumah kontrakan kami di Heliconia Extension, Harapan Indah, Bekasi. Waktu sudah menjelang tengah malam menambah ketergesaanku untuk tiba di rumah dan menjemput Auli. Belum makan malam pula …

Sebelumnya aku sudah bertelepon agar Auli bersiap-siap di ruang makan yang aslinya adalah garasi yang disulap menjadi tempat makan dan tempat istirahat dan menonton teve Umi, pembantu setia kami saat ini. Mama Auli sudah tertidur lelap waktu kami bergerak dari rumah. “Ke Dapur Coklat aja, pa. Auli senang makan kue coklatnya, mama juga pasti suka.”, kata Auli dengan semangat.

“Bukan ke tempat tukang roti yang biasanya kita beli sama mama, nak?”

“Enggak, pa. Ke situ aja, yang tempatnya di sebelah tempat Auli les Bahasa Inggris. Tambahin uang Auli ya, pa. Uang Auli ini pasti kurang, pa,”, ujarnya lagi sambil menunjukkan dua lembaran seratus rupiah.

“Wah, mahal juga harganya, nak ..”, kataku sambil terkejut karena tidak menyangka kesediaannya “mengorbankan” uang tabungannya. Saat itu aku teringat bahwa tahun lalu Auli malah menggunakan semua uangnya untuk membeli kue ulang tahun buat mama Auli. “Biar ajalah mahal, pa. Ini ‘kan untuk mama yang ulang tahunnya juga sekali setahun”, itulah ucapannya setahun yang lalu yang membuatku terharu. Dan tadi malam aku kembali terharu melihat anakku yang masih (atau sudah?) kelas delapan di SMPK Penabur dekat rumah melihat antusiasnya memilih kue coklat yang diyakininya paling lezat di antara susunan kue coklat yang dipajang di toko tersebut yang memang masih buka walau sudah menjelang tengah malam.

Sampai di rumah, Auli berusaha untuk tidak berisik menyimpan kue coklat tersebut ke dalam kulkas. Ada bereku boru Silitonga yang sedang praktek mengajar di SMPN yang tidak jauh dari rumah kami sehingga menginap bersama kami sejak bulan lalu dititipkan orangtuanya yang adalah lae dan ito yang menjadi pendeta HKBP Cengkareng dan tinggal di rumah huria

Mama Auli sudah tidur lelap ketika aku dan Auli masuk ke kamar untuk tidur. Aku sudah makan malam ditemani Auli dan bere-ku itu. “Jangan lupa bangunkan Auli nanti jam nol nol lewat satu ya pa,”, pintanya sambil bergegas tidur setelah berdoa seperti biasanya. Aku hanya senyum saja karena tahu betapa sulitnya anakku ini dibangunkan mama Auli setiap pagi untuk siap-siap berangkat ke sekolah. 

Dan benarlah … aku malah ‘nggak tega membangunkan Auli ketika pergantian hari dan tanggal tersebut. Apalagi mengingat batuk-batuknya tadi, jadi aku biarkan sajalah dia terlelap. Aku berdoa sendirian di kesunyian pagi itu, kebiasaan baik yang sudah beberapa minggu tidak aku lakukan. Mengucap syukur atas semua yang sudah dapatkan dari Tuhan, termasuk pertambahan umur mak Auli. Juga kepulihan bagi ito-ku yang baru menjalani operasi batu ginjal di Medan minggu lalu.

Lalu aku mengecup kening istriku (kebiasaan yang aku lakukan manakala terbangun dinihari dan usai berdoa kalau menginap di rumah) sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Lalu aku kembali tidur di kasur bawah. Sendirian, karena Auli dan mamanya di atas.

Jam lima lewat aku kembali terbangun. Kembali mengecup dan memeluk mak Auli sambil mengucapkan selamat ulang tahun yang dibalasnya dengan senyuman. Tak lupa aku sampaikan bahwa aku harus berangkat lebih awal karena masih ada meeting hari ini. Mak Auli memahaminya, dan memintaku membangunkan Auli.

“Harus dicium mama dulu baru Auli bangun, karena rahasia kami yang Tobing harus dicium Tupang baru bisa bangun”, kataku. Karena walau sudah dicium namun tetap belum bangun, aku pun membisikkan ke telinganya: “Auli, bangun! Kita mau potong kue ulang tahun mama”. Mujarab! Auli pun terbangun, tersenyum, lalu bergegas ke turun ke lantai dasar untuk mengambil kue dari kulkas.

Aku tadi sudah mandi. Lalu ikut ke bawah sesuai permintaan mak Auli yang sudah tahu bahwa kami sudah membeli kue ulang tahun (tiap tahun memang begitu, ‘kan?) untuk memastikan semuanya oke, dan memintaku kembali ke kamar tidur di atas untuk bersikap seolah-olah mak Auli belum tahu tentang kue tersebut. Di bawah pun tadi aku diminta Auli untuk kembali ke atas, “Ini untuk bikin kejuatan, pa”. Aku tersenyum sajalah …

Tak lama Auli datang dengan kue ulang tahunnya. Sudah menyala lilin angka 47. Dan memintaku untuk memotret dengan menggunakan ponselnya setelah beberapa kali jepret dengan ponselku. Karena batere ponselnya habis, maka Auli batal memakai ponselnya lalu memakai ponselku. Jadilah dia memotretku dan mama Auli.

Ultah Mama

Selanjutnya kami pun ke bawah untuk memotong kue dan memakannya. Di depan pintu kamar sudah ada bere-ku yang sudah bersiap berangkat mengajar ke sekolah, lalu menyalam dan mengucapkan selamat ulang tahun. Hanya Auli dan mamanya yang sempat menikmati kue tersebut. Karena sudah hampir jam enam maka aku pun buru-buru pamit mau bergegas ke kantor. Mak Auli mengantarku sampai teras. Tawaran untuk memberikan uang sakuku aku tolak, karena sudah harus berangkat dan ‘nggak sempat menunggunya mengambil uang ke kamar tidur di lantai dua. Lagian, aku ‘nggak butuh banget juga.

Di jalan tol, aku baru teringat bahwa aku lupa berdoa bersama dengan mereka. Ada perasaan menyesal, tapi aku kembali ingat bahwa sudah berdoa dini hari tadi. Sedikit terhibur, tapi tetap ada penyesalan, koq mesti terburu-buru. Apalagi aku termasuk peserta meeting yang datang paling cepat hari ini setelah kawanku ASM yang tinggal di Bekasi. 

Siang tadi di sela acara meeting aku sempatkan mengirim SMS mengajak mak Auli untuk makan malam bersama Auli di rumah makan Ikan Bakar Cianjur yang baru buka beberapa minggu lalu di komplek perumahan tempat kami tinggal ini. Saat itu ketika kami lewat di depannya setelah selesai mengisi bensin di SPBU yang terletak di sebelahnya, mak Auli mengatakan keinginannya untuk makan di restoran tersebut merayakan ulang tahunnya. Itulah sebabnya aku mengajaknya makan malam di sana. Namun dijawab, malam di hari ulang tahun ini ‘nggak bisa karena Auli punya pe-er yang banyak dan akan ada ujian besoknya. Sambil mengingatkan: “Yang lebih penting Auli anak kita ‘kan, pa? Kita tunda aja sampai kapan waktu kita longgar nanti”.

Ya, sudahlah … aku pun jadi ‘nggak buru-buru harus pulang ke rumah. Malah ‘nginap ke kos-an aja. Dan bisa mengerjakan sedikit lagi pekerjaan di kantor yang terletak di Gedung Antam di Jl, T. B. Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan tersebut. Walau kembali timbul penyesalan setelah ada kemudian SMS dari Auli yang memintakan bantuanku untuk mengerjakan pe-ernya setelah aku bantu mengerjakan kemarin. Aku harus meminta ma’af karena ‘nggak bisa memenuhi keinginannya kali ini …

Aku Datang Kembali!

Aku Datang Kembali di HUT

Setelah berbulan-bulan – dan disebabkan oleh kesibukan di pekerjaan baru yang terasa sangat menyita waktu dan perhatian – kerinduan untuk kembali menulis, hari ini mendapatkan pelabuhannya. Bertepatan dengan hari ulang tahun istriku tercinta, sang belahan jiwa. Selain itu, hal ini juga dipengaruhi oleh perkembangan dunia sosial media yang semakin cepat perubahannya di mana facebook (dengan segala kemudahannya dan hal-hal lain yang melekat dengannya …) menjadikan menulis di blog menjadi kurang “sesuatu” lagi saat ini. Bagiku, dan mungkin juga bagi banyak orang lain.

Tapi, hari ini – sebagaimana pada kedatanganku pertama kali pada beberapa tahun yang lalu – aku berjanji untuk rajin mendatangi wahana sederhana dan kecil ini. Untuk mencurahkan isi hati dan pikiran. Juga menoreh kenangan. Yang enak dibaca, mengingatkan sesuatu (yang indah maupun yang kurang indah), dan juga kenangan bagi yang ditinggalkan.

Semoga …