Ujian Tesis

Puji Tuhan! Selasa, 23 Agustus 2016 yang lalu aku mengikuti ujian tesis di kampus tempatku kuliah sejak tahun lalu. “Penundaan” sebenarnya, karena sesuai jadwal semula yang diinfo ke aku sebelumnya adalah Senin, 22 Agustus 2016 jam 08.00 WIB. Itulah sebabnya, aku langsung mengambil cuti untuk Senin tersebut. Ternyata – ini salah satu yang aku tidak suka dengan pengelolaan perguruan tinggi ini – kemudian diralat beberapa hari sebelum hari-H dengan alasan: salah satu dosen penguji tidak dapat hadir dari Batam karena tidak mendapat tiket pesawat! Aneh, ‘kan? Pengurus kampus pun mengusulkan agar ditunda seminggu (yang tentu saja aku tidak mau karena ‘ngga mudah bagiku untuk mengubah dan meminta izin cuti dari kantor seperti itu …), atau diganti dengan dosen penguji yang lain.

Tentu saja aku memilih opsi pertama, karena bagiku tidak terlalu berpengaruh dengan siapa pun yang akan menjadi dosen penguji. Selain dosen pembimbingku (Bapak DR. Poltak Y. P. Sibarani) yang akan menjadi penguji utama dan istri beliau (Ibu Rohana S) sebagai penguji kedua sudah aku kenal dan aku yakin pastilah bertanggung jawab dengan hasil pembimbingan selama ini, materi tesis juga sudah aku kuasai dengan sepenuhnya. Berarti, penundaan sama dengan membuang kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan lain, ‘kan?

Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di kampus. Hanya penjaga kantin (yang juga mahasiswa strata satu dan saudara kandung pak Poltak) yang sudah ada di kampus. Dan sedang berberes-beres.

Aku Datang Lagi …

20160907_155810

Rindu … Itu adalah kata yang pas yang aku rasakan dalam beberapa hari ini. Mendadak aku sangat ingin meneruskan menuliskan sesuatu dalam blog yang telah lama “menganggur” ini. Kemarin sengaja mengambil cuti sehari – tepatnya menggantikan masuk kerja Sabtu dua minggu lalu karena harus mendampingi karyawan tenaga penjualan yang baru (ada tigabelas orang dari seluruh Indonesia) dalam mengikuti pelatihan Defensive Driving di kantor – dengan tujuan punya waktu untuk mulai menulis lagi selain untuk mendampingi ito dan lae tertua yang akan menjalani operasi syaraf di leher di RS Pusat Otak Nasional di Jakarta (yang ternyata kemudian tertunda karena konon peralatannya belum lengkap sampai kemarin dan rencananya akan dioperasi hari ini …), mengambil perlengkapan wisuda di STT Lintas Budaya (yang juga semula direncanakan kemarin namun mendadak ditunda ke hari ini …). Ternyata sampai Selasa kemarin berakhir, keinginan tersebut belum juga bisa terwujud.

Puji Tuhan! Hari ini dapat aku mulai dengan “postingan pembuka” ini. Dari Banjarmasin (tepatnya di Kantor Banjarmasin Area) setelah mendarat kurang dari sejam yang lalu. Kedatanganku ke Banjarmasin (yang pertama selama hidupku …) adalah untuk menjadi fasilitator Micro Sales Analysis workshop. Akan dimulai besok sampai Jum’at malam. Biasanya – seperti yang terjadi di Semarang, Solo, dan Surabaya pada minggu-minggu yang lalu – aku naik pesawat dengan penerbangan pertama. Itu artinya berangkat dari rumah jam empat pagi, hal yang menjadi perhatian boss-ku yang baik hati sehingga kemarin ketika mengurus penerbangan dan penginapan ke Banjarmasin beliau mendesak supaya aku tidak berangkat subuh lagi. 

“Enggak sayang biaya penginapannya, pak? Jadi harus tambah semalam lagi ..”, kataku

“Jangan terlalu mikir biaya, pak. Lebih penting pak Tobing menginap semalam dan datang lebih awal supaya saat mulai training-nya dalam keadaan yang lebih segar. Dengan demikian, workshop bisa lebih produktif.”.

Jawaban yang menyukacitakan. Itulah sebabnya aku sudah sampai di Banjarmasin sesiang ini. Tadinya, kawan-kawan di sini menganjutkan supaya dari bandara aku langsung ke Hotel Daffam Syariah untuk beristirahat dan besok saja datang ke kantor untuk memulai pelatihan. Hal yang serta-merta aku tolak dengan halus dengan mengatakan, “Aku ke kantor aja, pak. Besok itu waktu aku mendarat di Banjarmasin ‘kan masih jam kerja, tentunya aku harus bekerjalah …”.   

Sesampai di kantor ternyata semua kawan-kawan sedang melakukan workshop dan komitmen pencapaian target penjualan September ini. Di lantai dua. Karena aku ‘nggak mau mengganggu keseriusan mereka, maka aku mohon izin untuk bekerja di ruangan yang lain aja. Dan mereka menyediakan ruangan yang sehari-harinya dipakai oleh Area Sales Manager. “Ruangannya ber-AC, pak. Silakan aja di sana.“, tawaran mereka setelah melihatku siap-siap di ruang “bersahaja” (sesuai dengan kebiasaanku sedari dulu yang memang ‘nggak mau repot dan juga ‘nggak mau merepotkan …) di lantai yang sama. 

Jadilah aku bekerja di ruangan bawah yang sejuk ini. Bukan dingin, karena aku memang ‘nggak cocok di ruangan yang dingin. Dan jadilah tulisan singkat ini. Rencanaku, nanti malam aku akan menulis hal-hal menarik dan penting yang sempat “terlewatkan” dalam bulan-bulan absen selama ini. Mudah-mudahan jaringan internet di hotel lumayan bagus sehingga aku bisa mewujudkan kerinduan yang sudah lama terpendam.

Sampai berjumpa kembali denganku, kawan-kawan …