Refleksi Akhir Tahun: Pelanggaran yang Satu Dibutuhkan untuk Menutupi Pelanggaran Lainnya

Ini tentang kegiatan pelayananku di jemaat HKBP Immanuel Kelapa Gading (HKBP IKG), Jakarta Utara, tempat kami sekeluarga berjemaat sejak pindah di Jakarta dari Palembang. Begitulah biasanya, perpindahan penugasan dari PT Nestle Indonesia pastilah berdampak kepada perpindahan tempat tinggal. Itu biasanya dibarengi dengan perpindahan berjemaat. Aku katakan biasanya, karena tidaklah selalu demikian, pastinya sejak pindah ke Jakarta.

            Walau pindah tugas ke Bandung bersama keluarga, namun tempat berjemaat kami tidak berpindah. Jadilah aku “penatua lintas batas” yang hampir setiap minggu – Jum’at malam atau Kamis malam sesuai jadwal sermon parhalado – pulang pergi Bandung-Jakarta. Disupiri oleh office boy Didin atau Ahmad dari kantor, berganti-ganti sesuai shift mereka masing-masing. Begitulah selama 2010-2013, sampai kemudian kami pindah kembali ke Jakarta.

            Pun ketika aku pindah tugas ke Tangerang, tempat berjemaat kami tidak berubah. Karena ‘nge-kos di Anggrek Loka Bumi Serpong Damai, kembali aku jadi “penatua lintas batas”. Kalau dulu Bandung-Jakarta disupiri oleh office boy, maka kemudian menjadi Tangerang – Bekasi dan disupiri diri sendiri. Itu selama setahun persis, Maret 2015 sampai Maret 2016 manakala aku dipindahkan kembali ke Kantor Pusat sampai sekarang ini.

            Dan dalam berbagai situasi dan keterbatasan yang menantang tersebut, namun kesetiaanku pada panggilan sebagai pelayan jemaat tidak menjadi luntur. Mungkin bagi orang lain dapat dijadikan alasan untuk tidak melayani penuh, namun bagiku tidak. Walau di awal perpindahan ke Bandung aku memberikan surat resmi ke pak pendeta resort untuk dapat dimaklumi, namun faktanya aku selalu berusaha memenuhi kewajiban yang menyertai panggilan tersebut. Bukan “cuma” sermon, bahkan untuk maragenda dan marjamita di partangiangan wejk sekali pun! Selalu ada kerinduan untuk melakukan pelayanan sesuai jadwal panggilan tersebut. Dan aku selalu mencocokkan jadwalku di pekerjaan agar selalu sesuai dengan jadwal pelayananku di gereja.

            Oh ya, selama periode penugasan di Bandung tersebut, aku juga punya jadwal maragenda dan marjamita di HKBP “sempalan” Riau Martadinata, yakni jemaat kecil yang melakukan ibadah Minggu di komplek keuangan milik TNI yang berlokasi di depan Taman Lalu Lintas. Jemaat yang tidak diakui keberadaannya oleh Kantor Pusat HKBP walau beberapa kali aku bertemu dengan beberapa pendeta HKBP (satu di antaranya adalah pendeta yang adalah dosen STT HKBP yang istri dari pendeta yang kemudian jadi Praeses Distrik Jakarta-3 pada periode yang baru berakhir tahun 2016 ini) yang berkhotbah di jemaat tidak resmi tersebut. Tak lama sebelum kami pindah ke Jakarta, suatu kali bersamaan dengan Perayaan Natal kami diundang dalam ibadah di jemaat tersebut. Ternyata itu adalah ibadah terakhir karena kemudian semua warga jemaat akan bergabung ke jemaat “resmi” lainnya di Bandung.

Pelayanan, Bukan Jabatan. Apalagi Pangkat!    

Itulah prinsip yang selalu aku pegang dalam menyikapi tugas pelayanan jemaat. Bagiku, gereja bukanlah tempat untuk mencari kemuliaan (pribadi), karena hanya Yesus-lah, sang Kepala Gereja yang layak beroleh kemuliaan. Satu-satunya!

            Prinsip tersebut yang menyebabkan aku tidak pernah menolak tugas pelayanan jemaat. Sebagai apapun itu! Bahkan di luar kewajiban yang utama dan standar sebagai penatua. Itulah makanya aku ‘nggak menampik ketika diusulkan untuk membentuk kelas pra-remaja, konseling pra-nikah, dan pengawas/pemeriksa credit union (yang kemudian umurnya tidak panjang karena kurang dukungan warga jemaat yang menganggap operasionalnya mirip “koperasi simpan pinjam” yang melibatkan penatua dan pendeta muda yang dikhususkans sebagai manajer). Juga di panitia pembangunan, panitia jubileum, bahkan panitia pembelian mobil untuk pendeta resort.

            Satu hal yang membuatku terkejut, ternyata masih banyak dalam pikiran pelayan jemaat – aktivis gereja dari warga jemaat, termasuk penatua, bahkan pendeta sekalipun – yang menganggap fungsi pelayanan di jemaat adalah jabatan, bahkan pangkat. Posisi yang harus direbut dan dipertahankan! Karena apa? Mungkin karena gengsi, atau kebanggaan yang harus “dipertontonkan”, aku pun tidak mengerti. Persisnya: tidak sepaham!

            Inilah yang aku akan ceritakan berikut ini …

Jadi Ketua Dewan Koinonia? Ditunjuk, atau Diangkat, atau Dipilih?

Karena periode empat tahunan (bagi pengurus Dewan) dan dua tahunan (bagi pengurus Seksi) sudah berakhir, maka awal tahun 2016 ini dalam salah satu sermon parhalado dibicarakanlah siapa-siapa yang akan menjadi pengurus untuk periode selanjutnya. Pada sermon sebelumnya kami semua sudah mendapat buku Aturan Peraturan HKBP 2002 yang sudah diperbaharui untuk pelaksanaan sampai sepuluh tahun mendatang.

            Entah karena tidak membaca (sebagaimana sebagian besar kami penatua yang berdasarkan pengamatanku adalah bukan pembaca yang sungguh-sungguh …) ataukah sekadar untuk mempercepat proses (yang aku prihatinkan adalah: “anggap enteng”), pendeta resort sambil berdiri mengatakan: “Amang sintua Tobing-lah yang jadi Ketua Dewan Koinonia”. Aku ‘nggak kaget, karena selama ini aku sudah diposisikan jadi ketua Dewan Koinonia sejak amang sintua Sihombing meninggal tahun yang lalu ketika masih menjabat sebagai ketua Dewan Koinonia. Walau aku sudah sampaikan berulangkali bahwa di banyak organisasi pada umumnya kalau Ketua berhalangan tetap maka Sekretaris-lah yang menggantikan tugasnya, namun tetap saja tidak dianggap. Hal yang sama aku sampaikan ketika Rapat Jemaat, bahwa kalau aku pun yang mempresentasikan program kerja Dewan Koinonia hanyalah sekadar presenter karena Sekretaris merasa tidak mampu melakukannya.

            “Mohon ma’af, pak pendeta. Tadi ketua Dewan Marturia sudah ditunjuk walaupun orangnya tidak hadir di rapat ini. Kalaupun pak pendeta bilang bahwa amang sintua tersebut sudah setuju jadi ketua Dewan Marturia, menurutku itu tidak pas, karena tadi tidak ada dibicarakan dan diputuskan bahwa orang yang tidak hadir dapat ditunjuk sebagai pengurus. Lagian, rapat parhalado hanyalah mengusulkan siapa yang akan jadi pengurus, bukan yang memutuskan. Apalagi yang akan menjadi ketua dewan, karena menurut buku aturan dan peraturan ini yang juga sudah dilaksanakan di gereja ini, masing-masing ketua dewan akan dipilih oleh orang-orang yang jadi anggota dewan tersebut. Yakni dalam rapat pertama yang dihadiri oleh pendeta resort. Kita harus patuhi peraturan, ‘nggak boleh suka-suka.”.

          “Oh, kalau begitu …”, jawab pak pendeta resort agak terkejut, “jadi kordinator ajalah dulu. Kordinator inilah yang akan menghubungi siapa-siapa yang akan jadi anggota di masing-masing dewannya”.

          Jawaban yang melegakan, karena bagiku mematuhi ketentuan yang sudah ditetapkan adalah suatu keharusan. Kalau bukan kami yang adalah parhalado yang mematuhi Aturan Peraturan HKBP, maka siapa lagi yang dapat diharapkan untuk tunduk kepadanya? Selain pengurus (tepatnya: calon pengurus), malam itu juga ditetapkan siapa yang jadi Utusan Sinode Distrik dan Utusan Sinode Godang. Perhatikan: untuk utusan Sinode Godang ini juga yang kemudian menjadi masalah karena apa yang diputuskan malam itu kemudian diganti dengan penatua (calon) ketua Dewan Marturia yang tidak hadir pada rapat tersebut. Jelas ini suatu pelanggaran!

            Aku akui, memang setelah bekerja kembali di Jakarta waktuku banyak tersita dengan tugas ke luar kota di seluruh Indonesia. Dan seringkali waktunya bertepatan dengan jadwal sermon parhalado yang adalah Jum’at malam. Walau begitu, aku tetap ter-update dengan adanya komunikasi di grup Whatsapp pelayan jemaat yang diinisiasi oleh pendeta resort yang sekaligus beliau menjadi adminnya – yang kemudian aku dikeluarkan dari grup tersebut karena mempertanyakan keabsahan penggantian utusan Sinode Godang dan utusan Sinode Distrik tanpa melalui Rapot Parhalado yang sesuai dengan ketentuan pada AP HKBP yang berlaku (tentang perubahan utusan sinode ini aku akan sampaikan lebih jelasnya kemudian).

            Sebagaimana kebiasaanku di pekerjaan kantor, aku juga selalu meng-up date kabar di grup Wa parhalado tersebut, misalnya ‘nggak bisa ikut sermon karena sedang bertugas di luar Jakarta. Termasuk juga mengirimkan calon pengurus Dewan Koinonia, yang aku ingat persis aku kirimkan ketika baru saja check in di hotel di Balikpapan. Dan aku ingat pula menyampaikan bahwa semua nama dan fungsi orang-orang yang tercantum dalam daftar tersebut adalah masih calon karena perlu dibicarakan dan diputuskan saat Rapat Dewan Koinonia yang pertama nanti. Termasuk di dalamnya adalah calon “paniroi” untuk Seksi Parompuan Huria (SPH) yang juga menimbulkan perdebatan di kemudian hari. Pakai tanda kutip, karena menurut AP HKBP sebenarnya hanya Seksi Remaja saja yang mengenal pendamping alias “paniroi” yang artinya kurang lebih sama dalam bahasa Batak dan istilah yang sudah lama dipakai di jemaat HKBP.

            Nama yang aku usulkan adalah seorang ibu yang aku kenal karena berasal dari wejk tempat aku melayani selama ini. Warga jemaat yang paling rajin datang di partangiangan wejk (datang sendirian, lalu pulang bareng suaminya yang seringkali datang menjemput kemudian ketika partangiangan hampir selesai). Sebelum aktif di wejk, beliau aku tahu (yang juga dikonfirmasi oleh beberapa penatua lain yang mengenal) adalah aktivis di berbagai persekutuan di luar HKBP. Selain seorang professional, suaminya adalah mahasiswa pasca sarjana Sekolah Tinggi Teologi di Jakarta, sebagaimana beliau juga adalah mahasiswa pasca sarjana Fakultas Hukum. Apa ‘nggak pantas untuk “sekadar” jadi pendamping SPH?

            Oh ya, dalam rapot parhalado untuk pengusulan fungsionaris tersebut, ada beberapa inang sintua yang diminta menjadi pendamping SPH. Ada yang senior (akan pensiun tahun depan), dan ada pula yang lebih muda (satu angkatan di atasku tahun penahbisannya menjadi penatua). Semuanya menolak dan tidak bersedia. Alasannya? Jawaban yang disampaikan mereka di depan kami semua parhalado malam itu membuatku prihatin: merasa tidak pantas (karena alasan yang menurutku “klasik” di kalangan ibu-ibu), dan tidak mampu. Bahkan ada kesan yang aku tangkap: “takut”.

            Agak mengejutkan memang, terutama bagiku yang selama ini menjalankan tugas pelayanan jemaat tanpa ada agenda tertentu, apalagi yang terkesan jauh dari semangat pengabdian sebagai hamba Tuhan. Walau kemudian setelah ada guncangan – beberapa ibu-ibu di jemaat kami ini yang merasa paling berhak menentukan siapa yang harus jadi pengurus SPH datang ke konsistori mengajukan protes kepada pendeta resort karena pendamping SPH yang aku usulkan (yang ternyata kemudian diumumkan dan dilantik pendeta resort tanpa aku ketahui karena tidak diberitahu sama sekali walau selama ini untuk kegiatan pelantikan selalu ada surat resmi kepada masing-masing orang yang akan dilantik) tidak sesuai dengan “aspirasi” ibu-ibu tersebut – semua penatua ibu-ibu tersebut (atau ibu-ibu penatua?) membantah, malah ada yang mengatakan bahwa mereka sebenarnya mereka ingin jadi pendamping SPH. Membantah sesuatu yang jelas-jelas pernah disampaikan di sermon parhalado sudah semakin menjadi sesuatu yang biasa di kalangan kami pelayan belakangan ini. Salah satu yang membuatku prihatin karena mengesankan berdusta bukan lagi suatu pantangan bagi kami …

            Apa yang menurut ibu-ibu yang merasa dirinya berkuasa tersebut sehingga tidak pantas dengan usulanku tentang pendamping SPH? Alasan resminya adalah: ibu tersebut bukan anggota SPH, dan menurut tradisi, yang menjadi paniroi SPH haruslah penatua. Jawaban yang menggelikan bagiku. Jujur saja aka merasa geli, bahkan ketawa dalam hati, apalagi ada pula (konon, karena aku hanya mendengar dari beberpa penatua …) yang mengancam akan berhenti jadi anggota SPH kalau pendamping SPH tidak diganti.

Lucu sekaligus membuatku prihatin. Betapa sangat “hebatnya” peranan pendamping ini sampai-sampai ada yang “rela” berhenti dari SPH karena tidak sesuai dengan aspirasinya. Apa saja yang mereka dapatkan selama bertahun-tahun jadi anggota SPH kalau hanya karena seorang pendamping terus berhenti jadi anggota SPH? Kalau firman Tuhan, firman Tuhan yang mana? Apalagi ketika aku datang memenuhi undangan Ketua SPH untuk menjelaskan hal itu dalam satu Minggu kegiatan latihan SPH. Aku sudah sampaikan bahwa tidak ada yang bertentangan dengan AP HKBP yang berlaku saat ini untuk menetapkan beliau menjadi pendamping SPH. Bahkan aku sudah bacakan AP HKBP dimaksud sambal sekaligus memberikan hard copy-nya agar mereka juga melihat ketentuan yang berlaku.”HKBP sudah berubah, ale angka inang. Bahkan yang bukan penatua pun sudah bisa menjadi ketua Dewan Koinonia, bukan harus sintua, apalagi untuk sekadar paniroi. Kalau alasannya bukan anggota, ya malah seharusnya bersyukur karena dengan demikian akan bertambah satu orang anggota SPH. Selama ini sering dikeluhkan bahwa sangat sulit mendapatkan anggota baru.”

Pelantikan Tanpa Undangan

Pada Sabtu Sunyi – sehari setelah Jum’at Agung alias Ari Parningotan Hamamate ni Jesus – ada info yang memecahkan kesunyian: seorang anggota senior SPH memberi tahu bahwa pengurus Seksi dan Dewan sudah dilantik oleh pendeta resort di Ibadah Minggu yang lalu. Sama seperti aku, beliau tidak hadir beribadah di HKBP IKG ketika upacara pelantikan tersebut dilakukan, sehingga bertanya kenapa aku ‘nggak tahu apalagi ‘nggak hadir pada salah satu “ritual besar” tersebut selain Natal, Jum’at Agung, Paskah, Ulang Tahun Gereja dan perayaan-perayaan rutin lainnya.

            Masih belum percaya – karena pendeta-pendeta resort yang sebelumnya, pasti ada pemberitahuan jauh hari sebelumnya, bahkan ada undangan tertulis yang disampaikan kepada masing-masing orang yang akan dilantik tersebut – aku pun bertanya di Wa grup parhalado. Memang di Jum’at sebelumnya aku ‘nggak ikut sermon parhalado karena bertugas di luar Jakarta, tapi setiap Minggu aku selalu hadir di konsistori untuk menghitung kolekte. Dan pastinya bertemu dengan pendeta resort, pendeta pembantu, sekben, dan atau siapapun. Juga ada grup Wa parhalado yang sepatutnya dimanfaatkan untuk memberi tahu tentang rencana pelantikan tersebut. Zaman teknologi yang relatif murah sekarang, koq susah berkomunikasi?

            Setelah lewat dua jam – yang menurutku waktu yang sangat lama untuk merespon – dan tak satupun anggota grup yang memberikan tanggapan, pendeta resort malah memberikan jawaban yang sangat aneh: “Amang menunjuk pendamping SPH yang tidak sesuai dengan keinginan sehingga SPH memprotes mendatangi konsistori”. Dan sedikit pesan lain yang menurutku tidak ‘nyambung sehingga aku posting: “Selama jadi pelayan jemaat di gereja kita ini baru kali inilah aku temukan ada pelantikan pengurus tapi yang dilantik tidak ada pemberitahuan. Biasanya pendeta resort mengirimkan surat undangan kepada masing-masing orang yang akan dilantik.”.

            Karena aku bilang bahwa seharusnya masing-masing Dewan melakukan Rapat Dewan yang dihadiri pendeta resort untuk memilih siapa ketua, sekretaris, dan pendamping masing-masing seksi barulah sah dilakukan pelantikan, malah dijawab: SK bisa diubah kapanpun sesuai keinginan apabila ditemukan ada kesalahan. Enteng banget, ya … Oh ya, SK kepengurusan baru diterima hampir tiga bulan kemudian, yakni setelah berulangkali dimintakan oleh salah seorang penatua karena sudah berulangkali pula pengurus yang dilantik memintakannya. SK buatku? Sampai sekarang pun setelah aku mengundurkan diri, tidak pernah menerima SK dimaksud. Bagus jugalah, karena sampai sekarang pun aku tidak pernah mengakui keabsahan SK pendeta resort tersebut. ‘Gimana mau mengakui suatu keputusan yang tidak sejalan dengan AP HKBP?

Mengalah … Lalu Mengundurkan Diri

Di Dewan Koinonia yang ditunjuk oleh pendeta resort ada kami tiga orang penatua, namun satu orang yang aku usulkan menjadi pendamping Ama tidak menunjukkan kesungguhannya menjadi pendamping Ama. Pada periode yang lalu, beliau menjadi Ketua Ama di mana kegiatannya hampir boleh dikatakan “mati suri”. Setelah di dewan lain tidak ada tempatnya, maka diusulkanlah untuk masuk ke Dewan Koinonia. Dan menurutku, tempat yang paling pas adalah pendamping Ama karena sudah cukup mendapat pembelajaran selama menjadi Ketua Ama dengan harapan bisa menghidupkan-kembali dari mati surinya.

            Nah, hanya satulah inang sintua yang jadi temanku berdiskusi. Dari diskusi kami tersebut, kami putuskan untuk mengalah saja. Aku bilang, “Baiklah, kita akan undang pak pendeta pada rapat kita karena memang seharusnya beliaulah yang mengundang dan memimpin rapat pertama ini. Jika tidak bersedia datang dan memimpin, maka aku akan kembalikan ke sermon parhalado untuk memutuskan bagaimana kelanjutannya karena aku ‘nggak bersedia lagi melanjutkan. Inang-lah yang meminta ke beliau, jangan aku karena aku tidak merasa jadi Ketua Dewan Koinonia”. Jadilah diundang (jadi terbalik, ‘kan?) melalui Wa parhalado. Dan dijawab, “Saya sibuk dan belum tentu sempat untuk hadir karena Kamis itu ada partangiangan wejk”. Kesal juga membaca respon pendeta resort tersebut, apalagi beliau sendiri pada Selasa meminta agar semua Dewan melakukan finalisasi pengurus untuk dibikinkan SK pengangkatannya (yang terbukti setelah berbulan-bulan dan didesak berulang kali barulah ada SK tersebut …).

Kamis malam tersebut – setelah lama kami tunggu – akhirnya pak pendeta resort singgah ke Ruang Sekolah Minggu tempat kami berkumpul untuk rapat, sebelum beliau ke acara partangingan wejk yang dilakukan di konsistori yang persis bersebelahan dengan ruang kami berkumpul tersebut. Aku persilakan beliau yang memimpin setelah aku buka dengan pembacaan firman Tuhan sesuai Almanak HKBP, nyanyian dari Buku Ende, dan doa sebagaimana diaturkan dalam AP HKBP untuk rapat di jemaat. Terkesan setengah hati dan sekadarnya yang terlihat buru-buru mau ke konsistori padahal masih setengah jam lagi sebelum partangiangian wejk, namun aku kuatkan hati sambil meminta agar beliau nanti yang menutup rapat. “Kami tunggu amang, sampai amang selesai bertugas dari partangiangan wejk di sebelah”, kataku yang langsung diiyakan oleh beliau.

Sebelum pemilihan pengurus Dewan Koinonia, aku sempatkan mempresentasikan butir-butir AP HKBP tentang kepengurusan Dewan dan Seksi. Pakai LCD projector milik Seksi Sekolah Minggu yang dibawa oleh ketuanya. Juga aku bagikan dengan hard copy. Sejelas-jelasnya agar mereka benar-benar tahu dan paham, termasuk proses, prosedur, dan ketentuan yang berhubungan dengan Dewan Koinonia. Juga aku beritahu ada yang harus diperbaiki agar benar-benar sejalan dengan maksud AP HKBP. “Kita harus patuh pada ketentuan yang ditetapkan HKBP. Jika di awal saja sudah ‘nggak benar, maka kemungkinan kesalahan-kesalahan berikutnya akan terjadi juga. Oleh sebab itu, nama-nama pengurus yang sudah kita sepakati ini akan aku serahkan ke pendeta resort untuk ditetapkan dengan pembuatan SK. Untuk SPH, aku akan memberikan penjelasan pada Minggu mendatang supaya semua menjadi jelas.”.

Ujian Tesis

Puji Tuhan! Selasa, 23 Agustus 2016 yang lalu aku mengikuti ujian tesis di kampus tempatku kuliah sejak tahun lalu. “Penundaan” sebenarnya, karena sesuai jadwal semula yang diinfo ke aku sebelumnya adalah Senin, 22 Agustus 2016 jam 08.00 WIB. Itulah sebabnya, aku langsung mengambil cuti untuk Senin tersebut. Ternyata – ini salah satu yang aku tidak suka dengan pengelolaan perguruan tinggi ini – kemudian diralat beberapa hari sebelum hari-H dengan alasan: salah satu dosen penguji tidak dapat hadir dari Batam karena tidak mendapat tiket pesawat! Aneh, ‘kan? Pengurus kampus pun mengusulkan agar ditunda seminggu (yang tentu saja aku tidak mau karena ‘ngga mudah bagiku untuk mengubah dan meminta izin cuti dari kantor seperti itu …), atau diganti dengan dosen penguji yang lain.

Tentu saja aku memilih opsi pertama, karena bagiku tidak terlalu berpengaruh dengan siapa pun yang akan menjadi dosen penguji. Selain dosen pembimbingku (Bapak DR. Poltak Y. P. Sibarani) yang akan menjadi penguji utama dan istri beliau (Ibu Rohana S) sebagai penguji kedua sudah aku kenal dan aku yakin pastilah bertanggung jawab dengan hasil pembimbingan selama ini, materi tesis juga sudah aku kuasai dengan sepenuhnya. Berarti, penundaan sama dengan membuang kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan lain, ‘kan?

Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di kampus. Hanya penjaga kantin (yang juga mahasiswa strata satu dan saudara kandung pak Poltak) yang sudah ada di kampus. Dan sedang berberes-beres.

Aku Datang Lagi …

20160907_155810

Rindu … Itu adalah kata yang pas yang aku rasakan dalam beberapa hari ini. Mendadak aku sangat ingin meneruskan menuliskan sesuatu dalam blog yang telah lama “menganggur” ini. Kemarin sengaja mengambil cuti sehari – tepatnya menggantikan masuk kerja Sabtu dua minggu lalu karena harus mendampingi karyawan tenaga penjualan yang baru (ada tigabelas orang dari seluruh Indonesia) dalam mengikuti pelatihan Defensive Driving di kantor – dengan tujuan punya waktu untuk mulai menulis lagi selain untuk mendampingi ito dan lae tertua yang akan menjalani operasi syaraf di leher di RS Pusat Otak Nasional di Jakarta (yang ternyata kemudian tertunda karena konon peralatannya belum lengkap sampai kemarin dan rencananya akan dioperasi hari ini …), mengambil perlengkapan wisuda di STT Lintas Budaya (yang juga semula direncanakan kemarin namun mendadak ditunda ke hari ini …). Ternyata sampai Selasa kemarin berakhir, keinginan tersebut belum juga bisa terwujud.

Puji Tuhan! Hari ini dapat aku mulai dengan “postingan pembuka” ini. Dari Banjarmasin (tepatnya di Kantor Banjarmasin Area) setelah mendarat kurang dari sejam yang lalu. Kedatanganku ke Banjarmasin (yang pertama selama hidupku …) adalah untuk menjadi fasilitator Micro Sales Analysis workshop. Akan dimulai besok sampai Jum’at malam. Biasanya – seperti yang terjadi di Semarang, Solo, dan Surabaya pada minggu-minggu yang lalu – aku naik pesawat dengan penerbangan pertama. Itu artinya berangkat dari rumah jam empat pagi, hal yang menjadi perhatian boss-ku yang baik hati sehingga kemarin ketika mengurus penerbangan dan penginapan ke Banjarmasin beliau mendesak supaya aku tidak berangkat subuh lagi. 

“Enggak sayang biaya penginapannya, pak? Jadi harus tambah semalam lagi ..”, kataku

“Jangan terlalu mikir biaya, pak. Lebih penting pak Tobing menginap semalam dan datang lebih awal supaya saat mulai training-nya dalam keadaan yang lebih segar. Dengan demikian, workshop bisa lebih produktif.”.

Jawaban yang menyukacitakan. Itulah sebabnya aku sudah sampai di Banjarmasin sesiang ini. Tadinya, kawan-kawan di sini menganjutkan supaya dari bandara aku langsung ke Hotel Daffam Syariah untuk beristirahat dan besok saja datang ke kantor untuk memulai pelatihan. Hal yang serta-merta aku tolak dengan halus dengan mengatakan, “Aku ke kantor aja, pak. Besok itu waktu aku mendarat di Banjarmasin ‘kan masih jam kerja, tentunya aku harus bekerjalah …”.   

Sesampai di kantor ternyata semua kawan-kawan sedang melakukan workshop dan komitmen pencapaian target penjualan September ini. Di lantai dua. Karena aku ‘nggak mau mengganggu keseriusan mereka, maka aku mohon izin untuk bekerja di ruangan yang lain aja. Dan mereka menyediakan ruangan yang sehari-harinya dipakai oleh Area Sales Manager. “Ruangannya ber-AC, pak. Silakan aja di sana.“, tawaran mereka setelah melihatku siap-siap di ruang “bersahaja” (sesuai dengan kebiasaanku sedari dulu yang memang ‘nggak mau repot dan juga ‘nggak mau merepotkan …) di lantai yang sama. 

Jadilah aku bekerja di ruangan bawah yang sejuk ini. Bukan dingin, karena aku memang ‘nggak cocok di ruangan yang dingin. Dan jadilah tulisan singkat ini. Rencanaku, nanti malam aku akan menulis hal-hal menarik dan penting yang sempat “terlewatkan” dalam bulan-bulan absen selama ini. Mudah-mudahan jaringan internet di hotel lumayan bagus sehingga aku bisa mewujudkan kerinduan yang sudah lama terpendam.

Sampai berjumpa kembali denganku, kawan-kawan …

Selamat Tinggal Kamar Kos … Kembali Bertugas di Jakarta, Kembali ke Rumah!

Malam ini adalah malam terakhir aku ‘nginap di kamar kos yang sudah aku tinggali sejak Minggu, 15 Maret 2015. Yakni sejak aku ditunjuk (kembali) menjadi Area Sales Manager Tangerang meliputi Tangerang Selatan, Jakarta Selatan (ring satu Head Office dan West Java Region tempat aku bernaung sehingga hampir setiap bulan direpotkan untuk persiapan menyambut tamu yang memang seringkali diarahkan ke wilayah kerjaku dengan alasan “dekat ke kantor sehingga para tamu tidak menghabiskan banyak waktu untuk market visit …”), dan Serang. Banyak kenangan – seperti yang disampaikan oleh koh Benny tetangga kamarku begitu tahu aku akan meninggalkan kehidupan kos di Anggrek Loka AC-58 Bumi Serpong Damai, Tangerang – salah satunya adalah kehilangan mobil Kijang Innova B-1854-SIO warna hitam yang baru beberapa bulan aku dapatkan sebagai kendaraan dinas yang disediakan oleh perusahaan pada 07 Juli 2015 beberapa hari menjelang Lebaran. Aku akan menceritakan tentang hal ini nanti …

Hidup ‘nge-kos menjadi keputusan kami sekeluarga – aku, Auli, dan mamaknya – harus diambil mengingat betapa jauhnya perjalanan dari rumah kontrakan kami di Harapan Indah, Bekasi ke kantor Distributor PT Sekawan Pangan Jaya di Pamulang, Tangerang Selatan tempat aku dan timku menumpang. Butuh lebih dua jam jika perjalanan normal, dan akan bertambah lama jika perjalanan lewat dari jam tujuh pagi karena bersaing dengan anak-anak sekolah dan orang kantoran. Juga biaya bensin dan tol yang harus aku bayar manakala melewati pintu tol Lingkar Luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road) dan BSD.

Semula aku merasa “geli” juga, koq tinggal di Jakarta (persisnya Bekasi), ‘ngantor di Jakarta (persisnya Tangerang) harus ‘nge-kos di BSD. Namun, manakala menyadari bahwa penghuni rumah kos ini juga ada beberapa orang yang keluarganya tinggal di Bekasi semunya menjadi normal terasa. Ada koh Benny yang bekerja di optik, ada Dave yang jadi DJ di salah satu diskotik (yang membuat mak Auli terperanjat ketika pertama kali kami datang di rumah kos ini melihat tattoo di sekujur tubuhnya ketika mempersilakan kami masuk untuk menemui mas Dirin selaku pengurus rumah kos ini sekaligus orang kepercayaan pasangan bu Lia dan pak Andryanto sang pemilik rumah kos), ada perempuan Jepang yang setiap pagi jam setengah delapan bersembahyang Shinto dengan mengeluarkan suara nyaring (sempat aku mengira semula adalah suara provider internet saking kerasnya dan dengan bahasa yang tak satupun penghuninya memahaminya …), ada juga Alberto yang tinggal persis di depan kamarku yang bernomor lima (laki-laki paruh baya Italia yang seringkali didatangi anak dan isterinya yang pekerjaannya menggunakan notebook di tengah malam), ada Kevin, ada Erwin (orang Medan yang bekerja di perusahaan lift Otis), juga beberapa laki-laki dan perempuan lain yang tidak begitu aku kenal.

Biasanya aku Jum’at tidak menginap di sini karena pulang ke rumah di Bekasi (setelah mengikuti sermon parhalado di HKBP Immanuel Kelapa Gading, Jakarta Utara), lalu kembali pada Minggu malam. Setelah Tangerang Area bersama North Jakarta Area dan South Jakarta Area ditahbiskan sebagai “Danger Zone Area”, maka aku jadi lebih sering kembali ke kosan pada Senin karena pagi harinya jam sepuluh harus mengikuti Sales Evaluation Day di West Java Region Office di Gedung Antam di Jl. T. B. Simatupangan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ditambah lagi sejak Juli 2015 aku memutuskan ikut perkuliahan doktoral di Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya di Kelapa Gading, maka menjadi bertambahlah hari-hariku tidak menginap di kosan karena seringkali pulang ke Bekasi usai perkuliahan yang selalunya selesai setelah tengah malam. Karena berangkat ke kantor pagi dan pulang setelah lewat jam delapan sehingga persisnya hanya “sekadar” menumpang tidur, aku ‘nggak begitu banyak mengenal penghuni rumah kos ini.

Oh ya, aku juga baru tahu minggu lalu ketika koh Benny memberi tahu bahwa ada juga penghuni yang adalah perempuan simpanan. “Ah … masak bang Tobing ‘nggak tahu? Itu perempuan yang tinggal di lantai tiga. Mobil itu hadiah dari laki-laki beristeri yang seringkali mendatanginya …”, katanya setengah berbisik waktu aku tanya siapa pemilik mobil Honda Freed putih yang baru kali itu aku lihat dan diparkirkan di lapangan rumput di sebelah samping kanan rumah kos. “Mobil itu juga jarang dipakai makanya diparkir di situ terus. Habisnya, dia sendiri ‘nggak bisa bawa mobil ..”, imbuhnya sambil tersenyum penuh arti. Mungkin dia juga heran mengetahui betapa aku tidak mengetahui tentang hal tersebut yang mungkin dianggap sudah jadi pengetahuan umum penghuni rumah kos ini. Bah!

Menurut surat pemberitahuan Sales Management yang dirilis awal Februari yang lalu aku ditugaskan kembali ke Head Office, ke Department tempatku bekerja tahun 2013 setelah pindah dari Bandung, lalu sebelum kembali ke Jakarta sebagai Area Sales Manager. Mutasi yang sampai sekarang pun menjadi “misteri” bagiku karena tidak pernah ada diskusi sebelumnya dengan atasanku langsung maupun atasan dari atasan langsungku. Ya sudahlah, toh hidup ini juga penuh misteri, ‘kan? Sama misteriusnya dengan rencana Tuhan di balik perpindahan ini yang aku amini dan imani pasti yang terbaik dan indah. Bukankah setiap perpindahan adalah “tanah terjanji yang baru”, yakni yang penuh susu dan madu?