Pindah! Ke “Tanah Perjanjian”. Terima Kasih, Tuhan!

Setelah tertunda hampir setahun, konfirmasi perpindahan tugasku sudah aku terima beberapa bulan yang lalu. Kembali ke Jakarta setelah hampir tiga tahun (sejak 05 Maret 2010) kami tinggal di Bandung. Banyak suka dan duka selama bertugas di Bandung.

Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor (berjalan kaki, sebagaimana hari-hari sebelumnya …) aku sempat mengabadikan beberapa kejadian sebagai kenang-kenangan. Walau tadi malam sudah aku beritahu ke mak Auli dan Auli bahwa truk beserta crew-nya akan datang pagi-pagi – “Bahkan sebelum kita sarapan mereka sudah akan tiba di rumah ini …”, demikian aku sampaikan – namun tetap saja masih ada keterkejutan ketika aku bangun pagi dan menghidupkan mesin mobil, ada dua truk baru parkir di jalan di depan rumah. Lalu segeralah terasa kesibukan yang tidak seperti biasanya.

IMG_1712[1]

Petugas pengangkutan yang sigap segera mengemasi barang-barang yang akan diangkut. Setelah menanyakan barang-barang mana yang akan ditinggal. Ada beberapa memang yang harus kami tinggalkan karena milik yang punya rumah.

IMG_1714[1]

Rencananya, malam nanti kami akan menginap di hotel (setelah menyerahkan kunci rumah ke penggantiku yang akan meneruskan tinggal di rumah yang dikontrak oleh perusahaan ini sampai habis periodenya di bulan Juni yang akan datang). “Sekalian ajalah kita ajak si Alfi supaya dia pernah juga merasakan nikmatnya menginap di hotel. Jangan cuma membantu kita selama ini dengan baik dan penuh perhatian”, kataku ke mak Auli tadi malam yang segera saja diiyakan waktu aku usulkan untuk memesan dua kamar di Hotel Horison.

IMG_1716[1]

Selamat tinggal, Bandung dan kenangannya … Selamat kembali ke Jakarta, “tanah perjanjian” dari Tuhan …

Iklan

Puji Tuhan, Kerinduanku Jadi Kenyataan: Sai Mulak, Sai Mulak …

Ibadah Terakhir (211212)

Tiga tahun lalu, ketika mengetahui bahwa aku pindah tugas ke Bandung, seorang penggiat jemaat yang juga adalah pengacara beberapa jemaat HKBP yang “teraniaya” memintaku untuk menjadi pelayan di salah satu persekutuan di Bandung. Sebagai ekses konflik kepemimpinan HKBP dengan adanya Eforus “kembar” yakni Dr. S. A. E. Nababan dan Pdt. Dr. P. W. T. Simanjuntak lebih sepuluh tahun yang lalu, ada sekelompok warga jemaat yang pergi meninggalkan HKBP Jalan Riau dengan menamakan dirinya sebagai HKBP Resort Bandung Riau. Saat aku datang, ibadah dilakukan di Gedung Keuangan Kodam Siliwangi di Jl. Sumatera, Bandung. Menempati aula tentara yang berdekatan dengan mushola, ibadah dilakukan setiap Minggu (pernah sekali mendadak dipindahkan ke lokasi lain karena komplek tersebut dipakai tentara berkegiatan pada suatu Minggu …).

Sebelumnya aku sudah meminta izin kepada pendeta resort kami untuk melayani di jemaat yang kecil tersebut (“Sebelumnya kami sangat banyak, Amang namun karena ada kawan-kawan yang ‘nggak kuat bertahan sehingga menyerah dan mengaku salah ke pimpinan pusat HKBP di Pearaja, tinggallah kami sekarang yang lebih sedikit”, kata seorang tokohnya padaku pada berbagai kesempatan manakala aku melayani di tempat itu). Pesan pendeta resort saat itu kepadaku jelas, “Boleh aja, Amang melayani di sana. Tapi jangan terlibat dalam urusan dan konflik mereka yang dianggap membangkang oleh Kantor Pusat HKBP”.

Jadilah aku melayani di sana. Berganti-ganti. Manakala tidak sedang bertugas di Jakarta, maka aku pun bertugas di jemaat yang kecil tersebut. Sebelumnya juga sebagai liturgis, namun setelah ada penambahan penatua yang ditahbiskan, maka aku praktis hanya berkhotbah. Kerinduanku sejak awal adalah bagaimana agar tercipta rekonsiliasi. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Tokh, semua orang pernah melakukan kesalahan. Itulah sebabnya, setiap ada kesempatan ketika berkhotbah aku selalu selipkan “pesan sponsor” tentang indahnya perdamaian.

Cuma, sayangnya … dalam beberapa kesempatan aku melihat bahwa beberapa pendeta yang diundang berkhotbah di sana malah menyemangati untuk tetap bertahan dan berjuang sampai “titik darah penghabisan”. Sayangnya lagi, pesan disampaikan seringkali dengan nada dan kalimat yang menyalahkan orang-orang yang mereka anggap seharusnya bertanggung jawab terhadap nasib perjemaatan mereka. Jujur saja, setiap kali selesai beribadah di sana, aku bertanya-tanya dalam hati bagaimana Tuhan menilai ibadah Minggu kami itu?

***

Pada suatu Minggu, usai ibadah, seorang penatua yang aktif mengajakku berdiskusi tentang masa depan persekutuan tersebut. Ternyata tuntutan tentang kejelasan status mereka semakin santer dari beberapa orang warga jemaat. Bahkan ada yang sudah tidak aktif lagi beribadah di sana walau sudah diajak berulang kali. Faktor utamanya adalah tentang kejelasan status. Ini bukan yang pertama kali. Biasanya aku hanya menawarkan diri untuk membantu mereka dalam pelayanan, bagaimana caranya agar penatua semakin percaya diri dalam maragenda dan memahami khotbah. 

Beberapa minggu sebelumnya disampaikan bahwa setelah pergantian Eforus menjadi Pdt. Simarmata ada secercah harapan untuk meraih mimpi setelah bertahun-tahun terkatung-katung. “Kita diberikan opsi apakah mau jadi resort, atau jemaat biasa. Syaratnya harus ada jumlah kepala keluarga sesuai ketentuan yang diminta. Oleh sebab itu, kita harus mulai mengajak kawan-kawan yang dulu sama-sama berjuang untuk kembali ke mari”.

Mungkin setelah berjuang memanggil kembali belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan, maka hari itu sudah semakin kuat tekad sebagian orang untuk “membubarkan diri”. “Bagaimana lagi kita mau pertahankan, Amang kalau jumlah yang rajin beribadah tinggal sebegini saja. Untuk merayakan Natal nanti aja kita jadi ragu apakah masih ada yang akan hadir dalam jumlah yang sama seperti tahun lalu. Mana kodam juga sudah menyampaikan rencana untuk merehab gedung aula ini, jadi semakin kuranglah semangat untuk terus berjuang”, kata seorang isteri penatua yang juga tokoh sentralnya.

Tak berapa lama, beberapa hari kemudian, beliau bertelepon kepadaku setelah beberapa kali missed call (yaitu ketika kami melaksanakan Rapat Jemaat yang gagal di Jakarta saat itu). “Begini, Amang … kami sudah rapat dan memutuskan untuk membubarkan diri saja. Jadi, bagi pelayan yang pernah melayani kami seperti amang kami undang untuk mengikuti ibadah Minggu terakhir. Rencananya mau dibikin saat Natal 25 Desember nanti, tapi karena banyak yang ‘nggak bisa maka kita rencanakan pada Minggu, 16 Desember nanti. Amang bisa hadir?”

Dheg! Aku terkejut. Kaget karena tetap berita ini mengejutkan dan mendadak. Yang kedua, karena pada hari Minggu itu aku juga sudah diminta untuk menjadi pendo’a syafa’at pada perayaan Natal Tobing sa-ompu di Jakarta. Selain berdo’a, aku juga mendapat kehormatan untuk menyediakan hadiah Natal bagi anak-anak (yang sudah jadi rutin setiap tahun yang tetap membuatku bahagia, hehehe …).

Di tengah menimbang-nimbang harus pilih yang mana, kawanku yang juga aktif melayani jemaat tersebut meneleponku: “Sudahlah, Amang Sintua. Ke acara yang di Bandung ajalah kita. Saya juga sebenarnya ada acara bertemu Eforus di peresmian distrik Jakarta dan pelantikan praeses. Tapi karena jemaat yang kita layani ini sangat khusus, maka saya memutuskan untuk ke Bandung karena diminta juga marjamita karena pendeta yang selama ini sangat setia mendampingi mereka hanya sanggup menahbiskan penatua yang baru karena belum begitu pulih dari sakit stroke-nya yang dulu. Melayani di jemaat yang kecil itu ajalah kita …”.

Bukan suatu kebetulan, karena beberapa menit sebelumnya, di mobil kami mendiskusikan apakah mau tetap ber-Natal di Jakarta atau ke Bandung karena Auli juga ada acara pada hari yang sama di Bandung, yakni festival paduan suara mewakili sekolahnya di Trans Studio karena masuk semi final setelah Minggu sebelumnya berhasil menjadi juara ketiga ketika diselenggarakan di Lottemart. Sebelumnya itu suasana diskusi sempat memanas, “Kalau papa tetap memaksa ke Natal Tobing di Jakarta, kalau gitu kami dengan Auli pulang ke Bandung untuk acara festival Auli. Apa papa tega karena Auli sendiri sudah sangat gembira untuk tampil sama kawan-kawan sekolahnya?”, kata mak Auli dengan nada setengah “mengancam” (setengahnya lagi pasrah dan kecewa, mungkin …. hehehe …).

“Iya, pa … kata ibu guru kalau Auli ‘nggak ikut, ‘nggak ada yang bisa menggantikan posisi Auli menyanyikannya nanti di festival”, kata si boru Tobing pula memelas yang membuatku ‘nggak tahan untuk mengecewakannya.

Tak berapa lama aku menelepon dongan tubu di Jakarta untuk permisi dan meminta kemakluman mereka atas ketidakhadiranku di perayaan Natal Tobing di Jakarta tersebut. Hadiah untuk anak-anak sudah aku kirim sebelumnya, jadi ‘nggak bakalan mengganggu kemeriahan perayaan Natal bagi anak-anak nantinya.

***

Maka kami pun mengikuti ibadah Minggu di jemaat kecil tersebut pada Minggu yang lalu. Setelah khotbah, dilanjutkan dengan penahbisan dua orang penatua (yang menurutku sangat “istimewa” karena begitu ditahbiskan mereka langsung ‘nggak punya jemaat lagi, melainkan “jemaat baru” nantinya …). Benarlah, pak pendeta sudah sangat sulit membacakan agenda penahbisan, dengan terbata-bata akhirnya penahbisan selesai (namun sangat berbeda ketika menyampaikan “kata perpisahan” yang berapi-api setelah acara makan siang …).

Lalu kami semua yang pernah melayani di sana dipanggil ke depan untuk menerima hadiah (seperangkat pulpen yang bagus dan handuk yang dikemas khusus …). Terharu juga melihat situasi peribadahan hari itu. Ada yang menangis karena menyadari akan berpisah dengan kawan-kawan seperjuangan.

“Kita masih akan merayakan malam Natal tanggal 24 Desember dan Natal tanggal 25 Desember di sini yang dilayankan oleh inang pandita. Saat itulah akan dibagikan hadiah kenang-kenangan kepada semua jemaat. Dan kita akan tartingting di HKBP Bandung Timur pada minggu kedua Januari 2013. Bagi yang tidak ke Bandung Timur, silakan ke jemaat lain yang sesuai dengan kehendak hati masing-masing …”, kata isteri sintua yang sangat aktif melayani di jemaat tersebut.

“Kita akan tetap bertemu, paling tidak sekali tiga bulan. Undangannya akan kami sampaikan …”.

Ketika mau berpisah pulang, kawanku sesama penatua di jemaat yang sama di Jakarta yang tadi berkhotbah, mengatakan: “Sudah paslah itu semua diatur Tuhan, amang sintua. Dulu itu yang menjadi kerinduan sintua waktu melayani mereka pertama kali sejak ditempatkan di Bandung, ‘kan? Nah, sekarang jemaatnya sudah bergabung kembali dan amang kembali pindah tugas dari kantor ke Jakarta. Memang begitulah yang diminta Tuhan dari amang sintua.“. Aku sempat kaget sejenak, namun segera teringat bahwa rencana kepindahanku kembali ke Jakarta sudah pernah aku sampaikan ke beliau pada minggu lalu ketika aku mengikuti rapat dinas di Jakarta dan malam sebelumnya bareng membesuk kawan penatua yang terbaring dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto di Jalarta. 

Haleluya! Terpujilah Tuhan!

Yang “Lucu-lucu” Tentang Kematian

Inspirasi ini datang begitu saja ketika di mobil dalam perjalanan Bandung – Jakarta kemarin. Minggu subuh itu aku ditemani oleh OB Didin untuk beribadah di Jakarta. Auli dan mamaknya ‘nggak ikut karena di rumah sedang ada keluarga Simanjuntak yang datang dari Medan untuk menghadiri wisuda puteri mereka di STT Telkom Bandung. Seperti biasa – karena disupiri – maka aku punya waktu sekira dua jam untuk melakukan hobiku, kalau ‘nggak membaca buku, ya memainkan iPhone dengan membaca e-mail, website, dan ber-facebook ria.

Minggu itu adalah Minggu Ujung Taon Parhurian sekaligus parningotan ni angka naung monding. Setelah pesan yang pertama, maka aku pun menuliskan pesan yang kedua. Isinya adalah sebagai berikut:

Hari ini di jemaat HKBP seluruh dunia menjadi ibadah Minggu penutupan tahun pelayanan jemaat (selanjutnya Minggu depan mulailah Adven). Hari ini juga dijadikan sebagai minggu peringatan PADA warga jemaat (bukan KEPADA) yang sudah meninggal. Akan banyak isak tangis pada ibadah Minggu hari ini. 

Bagi warga setia HKBP, daripada sedih berlarut-larut, mendingan kita ingat hal-hal “lucu” tentang kematian …:

(1) Kebanyakan menjadi sedih bila berbicara tentang kematian, padahal kita mengimani bahwa hanya dengan kematianlah proses menuju surga bisa berlangsung. Surga mau, tapi mati ‘nggak mau. Lucu, ‘kan? Tapi jangan pula malah jadi tertawa terbahak-bahak di depan mayat ortu …
(2) Pagi hari menjelang dimasukkan ke peti mati, keturunan ortu melakukan “penghormatan terakhir kali” yang dilakukan secara berurutan (biasanya dimulai dari keturunan yang paling muda). Bukan menyampaikan kenangan tentang yang meninggal kepada khalayak untuk mengambil pelajaran semasa hidupnya, malah biasanya – dan ini hal yang kurang pas, menurutku – satu per satu berbicara kepada mayat ortu. Lucunya, semasa hidup ada yang tidak pernah berbicara (mungkin karena perselisihan …), malah ketika sudah jadi mayat komunikasi mulai dijajaki …
(3) Masih tentang acara “penghormatan terakhir”: paling sering malah berisi ucapan penyesalan (sayang sekali, ya?) dan “promosi”. Pernah aku melihat yang seperti ini: “Ma’afkanlah aku Ompung, ‘nggak bisa menjengukmu waktu opname karena aku baru pulang jalan-jalan ke Eropa selama sebulan”, lalu dilanjutkan sama yang lain: “Aku ‘nggak sempat melihatmu karena mendadak dipanggil rapat sama Gubernur …”. Kalau dipanggil KPK karena jadi tersangka, apakah juga akan diadukan kepada mayat tersebut?
(4) Di peti “dititipkan” Alkitab. Mungkin maksudnya supaya ada bacaan di alam sana sambil menunggu sangkakala berbunyi, padahal ketika hidup pun sang almarhum/almarhumah hampir ‘nggak pernah baca Alkitab … Lebih lucu lagi kalau harus beli Alkitab baru karena mengganggap sebagai salah satu syarat! Ada pula yang memasukkan sepatu kesayangan almarhum/ah yang saking sayangnya ‘nggak permah dipakai karena tiap hari pergi ke sawah dan jarang pula pergi ke gereja …
(5) Banyak sekali mengenang orang mati dengan ucapan penyesalan. Ada yang benar-benar menyesal, ada pula yang pura-pura (kalau di fb biasanya diimbuhi dengan “hikksss …”). Katanya sayang dan hormat sama ortu, tapi waktu “ditagih” urunan biaya berobat – misalnya – semuanya berlomba mencari alasan (karena mau beli rumahlah, mau ambil S2- lah, macamlah …), bukan mencari obat! 
Ada pula yang jadi rajin berkomunikasi dengam almarhum/ah (pakai fb pula …), padahal selama hidupnya hampir ‘nggak pernah berkomunikasi. Jangankan datang menjenguk, atau bertelepon, atau berkirim surat, mengirim SMS pun kagak … Apalagi mendoakan ketika masih hidup!

Hehehe …

PS: Bersukacitalah! Jadikanlah pengingatan orang mati untuk motivasi diri dengan mengenang saat-saat bahagia bersama mereka, bukan jadi sarana untuk bersentimentil-ria …
(Ditambai angka dongan ma, hatanghi hata tambaan)

Kuitansi Kosong …

Mungkin karena tampangku mengandung unsur korupsi dan mengesankan layaknya koruptor, aku beberapa kali mengalami perlakuan yang ‘nggak menyenangkan karena diajak berbohong. Mungkin sepele bagi beberapa orang (atau mungkin juga hal menyenangkan bagi orang lain?), tapi sangat mengganggu bagiku. Yaitu tentang kuitansi kosong.

Menjelang perayaan 17 Agustus tahun lalu datanglah ketua RT ke kantor. Dengan surat yang banyak tandatangan oleh para pejabat setempat, di belakangnya ada formulir untuk mengisi nama, alamat, dan jumlah uang yang mau disumbangkan. Waktu disodorkan padaku (oleh office boy kami, karena pak ketua RT entah mengapa menunggu di luar saja, sesuatu yang tidak lazim bagi tamu-tamu yang selama ini selalu aku pesankan agar office boy mengundang masuk dan duduk di ruang tamu dan ‘nggak lewat lima menit sudah harus dihidangkan minuman …) sudah ada beberapa orang yang mengisi dan meneken sesuai baris dan kolom yang tersedia.

Sebagai warga yang baik, aku pun melakukan kewajibanku. Aku isi, teken, lalu memanggil office boy untuk menyerahkan surat tersebut beserta mapnya yang aku sertakan beberapa lembar uang kertas pecahan ratusan ribu, sambil memesankan: “Ajak masuk pak erte, hidangkan minuman, dan jangan lupa minta kuitansi untuk sumbangan partisipasi kita ini, ya …”. Tak lama kemudian office boy masuk lagi ke ruanganku, dan bilang: “Pak erte ‘nggak mau masuk karena buru-buru mau ke warga yang lain mengumpulkan sumbangan, pak. Ini ada kuitansinya yang dikasih pak erte tadi …“. Terkejut karena kuitansinya kosong, aku pun bertanya, “Lho, koq kuitansinya kosong?

“Biar bapak isi sendiri aja, tadi kata pak erte begitu, pak. Katanya biasanya begitu kalau untuk kantor, pak”

“Ah, ‘nggak bisa begitu. Sekarang bawa kuitansi ini dan cari pak erte untuk mengisi sesuai jumlah uang yang tadi kita berikan …”

Itu kejadian berbulan-bulan yang lalu. Awal bulan lalu terjadi lagi hal yang mirip.

Sudah lama aku merencanakan untuk memoles mobil bagian luar dan dalam, namun belum kesampaian karena belum ada waktu yang pas. Beberapa minggu sebelumnya mobil tersebut ketimpa pintu gerbang yang kebablasan ditarik oleh anak pariban-ku yang sedang berlibur di rumah kami sehingga body-nya lecet dan penyok. Nah, waktu aku bertugas ke Sukabumi dan Cianjur menggunakan bis seperti biasanya, maka aku manfaatkan untuk mengirim mobil ke bengkel untuk di-service. Orang di kantor, seperti biasanya, bersedia membantu untuk menjemput dan mengantarkan mobil kalau sudah selesai.

Sesuai rencana, sepulang aku ke Bandung, orang kantor pun sudah menunggu dengan mobil yang sudah selesai dirawat. Periksa sana, periksa sini, maka aku pun mengajaknya ke ruangan dalam untuk memberikan uang pembayaran ongkos perbaikan. Lalu dia memberikan kuitansi. Kosong, dan dua pula! Hanya ada stempel bengkel. “Kenapa kuitansinya kosong, pak?”, tanyaku dengan nada setenang mungkin (walau di dalam dada rasanya sudah mulai menggelegak, hehehe …).

“‘Nggak apa-apa, pak. Biasanya juga begitu. Terserah bapak mau mengisi berapa jumlah uangnya. Pak Anu juga begitu waktu men-service mobilnya, pak …”, jawabnya sambil menyebut nama seseorang yang menjadi anggota timku di Bandung, dengan nada yang mulai gusar (mungkin disebabkan oleh keterkejutannya dan merasakan ketidaksenanganku).

“Samaku ‘nggak bisa begitu. Karena tukang bengkel ‘nggak menulis, maka kamu saja yang mengisi kuitansinya dan jumlah uangnya. Berapa yang kamu tulis, segitulah yang akan aku bayar. Kuitansinya itu saja, yang satunya lagi kembalikan ke pemilik bengkel. Jelas?”

“I … iya, pak. Ma’af, ya pak …”, jawabnya sambil menuliskan di kuitansi. Lalu aku berikan uangnya sesuai yang ditulisnya di kuitansi, lalu dia pun bergegas mohon pamit setelah menghabiskan kopinya yang tadi disediakan oleh office boy.

Tinggallah aku sendiri merenung di ruanganku tentang kejadian tersebut. Karena sudah biasa, mungkin pula awalnya diminta oleh pemesan, terlihat kuitansi kosong tersebut sudah menjadi budaya. Mungkin bermaksud untuk men-service dan menyenangkan hati orang supaya dapat pesanan/pekerjaan lagi di waktu mendatang, tapi seharusnya jangan menyamaratakan bahwa semua orang menyukai hal seperti itu. Belum tahu dia, anak Tuhan diharamkan melakukan perbuatan buruk seperi itu, hehehe …

Ah, itu ‘kan karena jumlah uangnya relatif sedikit sehingga masih mampu menolak. ‘Gimana kalau sudah ratusan juta, atau bahkan miliar? Mungkin ‘nggak bakalan ditolak …, kata orang yang sinis, barangkali. Mungkin saja, tapi itu pun dengan syarat: kalau aku sudah berubah. Artinya bukan aku yang sekarang lagi. Tapi perlu diingat juga, kalau untuk perkara-perkara kecil saja pun sudah ‘nggak bisa dipercaya, ‘gimana pula untuk perkara-perkara besar? Betul, kan? 

Biola … Akhirnya! Awalnya Hari Ini. Terima Kasih, Tuhan!

Kapan persisnya aku sudah tak ingat lagi. Yang aku ingat, waktu masih kanak-kanak aku terkagum melihat foto keluarga yang di dalamnya ada ompung doli-ku di depan gereja saat pamasu-masuon perkawinan bapak dan mamakku. Tentu saja aku ‘nggak kelihatan karena baru akan lahir bertahu-tahun kemudian … Aku melihat kepala beliau menggeleng ke kiri, dan ketika aku tanya dijawab salah seorang kerabat dekat, “Oh, memang begitu kebiasaan Ompung kalau berfoto. Miring ke kiri karena kebiasaan bermain biola. Di gereja Ompung main biola selain marpoti marende.“. Aku ‘nggak pernah melihat beliau bermain musik, karena beberapa tahun setelah pensiun guru huria kesehatan Ompung menurun sampai beberapa tahun kemudian meninggal dunia …

Waktu SMP aku kagum dengan biola. Sepertinya masa SMP inilah aku mulai menyukai musik klasik. Saat itu statusnya masih “numpang dengar” pada bapakku yang di waktu senggang (habis mengajar) suka mendengar musik klasik dari pita kaset yang diputar oleh tape recorder yang portable dengan loudspeaker masing-masing satu buah bass dan treble. Bach, Tchaikovsky, Mozart, Strauss adalah musikus yang akrab bagiku. Meskipun tidak paham beda yang nyata antara yang satu dengan yang lainnya, tapi aku bisa betah duduk diam mendengarnya berjam-jam (kalau kasetnya ‘nggak diganti, tentunya …).

Setelah lama mengendap, keinginan untuk belajar biola muncul kembali ketika sudah berkeluarga dan kami tinggal di Kelapa Gading di Jakarta. Saat itu aku memang berkeinginan ikut kursus bersamaan dengan saat kami memutuskan bahwa anak kami si Auli harus bermain musik. “Selain kecerdasan berpikir, anak kita juga sebaiknya kita bekali dengan kecerdasan emosional. Waktu bayi aku selalu memperdengarkan musik klasik pada Auli, sekarang pun kita perlu memperkenalkannya dengan musik sesuai bakatnya. Terserah nanti alat musik mana yang dipilihnya“, kataku kepada mak Auli isteriku saat itu. Ketika itu jadual kursusnya ‘nggak pas dengan jadual kerjaku, karena yang paling lama adalah sore jam lima yang mana saat itu adalah jam keluar kantorku. “Nggak keburu. Akhirnya tertunda …

Auli akhirnya memilih electone dan mengikuti kursus tersebut dengan tekun sampai sekarang. Ketika pindah ke Bandung dan memilih rumah kontrakan, salah satu pertimbangannya memilih komplek perumahan ini adalah karena di dalam komplek ada kursus musik Yamaha sehingga Auli bisa melanjutkan pelajaran musiknya dengan kurikulum yang sama. Aku sendiri? Setelah lewat dua tahun tinggal di Bandung, barulah beberapa minggu lalu aku “serius” dengan mendaftar sebagai murid kelas biola dewasa. Harus privat, karena hanya ada itu yang cocok dengan usia dan jadual guru dan jadualku.

Jadilah aku hari ini belajar biola. Dengan guru yang dipanggil “encik” dan baru tahu bahwa beliau juga belajar biola setelah dewasa (memang belum setua aku ini, hehehe …). “Saya juga baru bermain musik setelah tamat kuliah dan menganggur dua tahun, pak …”, katanya berusaha membesarkan hatiku yang kesannya sangat sulit mempelajari, bahkan untuk belajar memegang peralatannya. “Saya berjemaat di Kalam Kudus, pak …”, lanjutnya lagi manakala aku beritahu bahwa aku pelayan di gereja Batak (beliau ‘nggak paham HKBP …) dan punya kerinduan untuk memainkan lagu Natal pada perayaan Natal di gereja bulan Desember yang akan datang. “Kalau hanya untuk memainkan lagu Silent Night saya sanggup mengajari Bapak, tapi tidak dengan lagu lainnya …”, jawabnya menanggapi keseriusanku meminta.

Supaya bisa belajar di rumah sendirian – di kursus hanya 30 menit untuk setiap pertemuan selama satu minggu – aku pun membeli biola dari kursus Yamaha tersebut. Tidak yang paling murah, tidak pula yang paling mahal. Yang penting bisa dululah, kataku dalam hati.

Sampai di rumah, Auli yang paling hempot. “Sebenarnya Auli dulu pun mau belajar biola, pa. Nanti Auli kursus biola lagi, ya pa …”, katanya yang aku baru tahu tentang keinginannya untuk bermain biola juga.  Aku baru tahu hari itu, dan untuk menenteramkan hatinya aku bilang, “Oh kalau gitu, gini aja, nak. Auli ajari papa main organ, lalu papa ajari Auli main biola. Cocok?”. Malam itu kami pun “berkenalan” dengan biola yang aku baru beli itu. Aku lihat Auli sangat semangat menggosok bow dengan alat yang disediakan untuk mengencangkan talinya (entah apa namanya, aku tidak ingat lagi …).

Lalu kami pun memainkan biola tersebut. Berganti-ganti. Tentu saja suaranya sumbang karena belum pakai kunci, alias sekadar menggesek. Karena belum dikencangkan – aku ‘nggak tahu, ternyata harus diputar pada pin dan talinya setiap mau dipakai – maka benang-benangnya berlepasan … Sempat panik sejenak (biola baru dibeli sudah rusak …), namun aku menenteramkan diri, “Biar aja besok diurus ke tempat kursus”, kataku yang membuat Auli juga tenang walau tadi sempat tertegun melihat benang-benang yang berlepasan.

Lalu kami mainkan lagi seolah-olah sudah menjadi violis sejati. Ketawa-ketawa dengan gaya masing-masing (yang tentu saja masih kacau karena belum sesuai kaidah dalam mengepit biola dan memegang bow-nya …). Ketawa-ketawa lagi, mendengar nada biola yang (sebenarnya) sumbang tapi kami menganggapnya merdu. Mak Auli yang bolak-balik naik-turun dari lantai dua rumah karena sedang mencuci pakaian di mesin cuci (pembantu belum datang juga setelah Lebaran) hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kami berdua. “Kalian berdua ini sama saja, kalau sudah asyik bukan main berisik. Perasaan sudah jago main biola aja …”.

Lalu kami pun ketawa berderai-derai. Lagi dan lagi …