Hari Ini Masih Jum’at Agung, Kawan … Belum Paskah!

“Jum’at Agung datang lagi. ‘Nggak terasa, rasanya baru kemarin kita merayakannya. Dan aku mengingat tahun lalu sangat istimewa karena berdekatan dengan perjalananku pulang dari Yerusalem …”, demikian percakapan kami di mobil dengan keluarga paribanku dalam perjalanan Bandung – Bekasi. Beberapa hari ini aku memang bertugas dari kantor untuk mengadakan business review dengan Yogya dan Borma, dua supermarket besar yang jadi peganganku sejak akhir tahun 2013 yang lalu sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawabku. Seperti biasanya, aku naik bis pulang dan pergi karena terminalnya juga sangat dekat dengan tempat tinggal kami saat ini di Heliconia Extension Harapan Indah.

Karena tahu bahwa paribanku yang beberapa tahun ini bertugas di Kantor Pusat PT Pos Indonesia di Bandung selalu pulang Jum’at ke Bekasi untuk bertemu dengan keluarganya, maka aku pun iseng-iseng mengirim Whatsapp untuk bareng pulang naik bis. Tak ‘kusangka, ternyata keluarganya sedang ada di Bandung menikmati liburan Paskah yang dimulai Kamis kemarin. Aku pun menumpang di mobil Toyota Avanza mereka, berempat dengan anak semata wayang mereka.

“Memang kenapa, bang?”, tanyanya

“Tahun berganti, umur bertambah, semakin tua, namun keimanan masih begini-begini aja …”, jawabku spontan

“Masak sih, bang? Bukan abang menjadi semakin baik sekarang ini?”, timpalnya sambil nyetir di kemacetan lalu lintas yang sangat padat di jalan yang seharusnya bebas hambatan tersebut (berangkat jam setengah lima dari pintu tol Buah Batu sampai jam setengah sebelas malam di komplek perumahan kami di Bekasi).

“Maksudku, sampai sekarang pun aku merasa masih sangat jauh dibandingkan karakter Yesus yang menjadi idola dan model bagiku …”, jawabku yang masih dalam nada spontan. Itulah yang aku rasakan saat ini.

Dan pagi ini aku masih menemukan kesalahan dalam komunikasi di facebook, ketika salah seorang kawanku sesama anggota NHKBP di Medan yang sekarang menjadi calon legislator (yang kemungkinan besar gagal, yang terlihat dari penghilangan nama partainya dari nama facebook-nya yang selama ini menjadikannya sebagai nama tengahnya) menyampaikan selamat Paskah. Hal yang masih sering terjadi salah kaprah, bahkan di jemaat gereja juga yang mengucapkan “selamat Paskah” setelah usai ibadah Jum’at Agung. Untuk “mencegah” kesalahan lebih banyak, maka aku pun menulis di statusku: “Hari ini masih Jum’at Agung, kawan! Hari Minggu besok barulah Paskah …”. Puji Tuhan, jika dibandingkan tahun lalu kesalahan “membedakan” Jum’at Agung dengan Paskah, tahun ini sangat jauh berkurang. Tentunya, bukan karena penulisan statusku itu, ya!

Selain itu, aku juga menuliskan status kesaksianku bahwa setiap Jum’at Agung selalu terjadi bahwa jam tiga siang akan terjadi mendung (biar bagaimana pun teriknya matahari!) yang menunjukkan bahwa alam pun turut bersedih saat wafatnya Yesus Kristus. Kemarin pun hal yang sama aku sampaikan kepada salah seorang kawanku di kantor Bandung yang muslimah saat dia bertanya tentang Jum’at Agung dan Paskah: “Koq liburnya Jum’at, bukan Minggu pak? Bukankah Paskahnya itu hari Minggu sesuai penjelasan bapak tadi?”.

Puji Tuhan, setelah aku terbangun sore tadi (sangat lelap karena letih dalam perjalanan pulang tadi malam sehingga tidak ikut menyaksikan alam yang bersedih pukul tiga siang …), ucapan yang pertama kali aku dengar dari mak Auli adalah: “Wah, enak kali papa tidurnya sampai ‘nggak lihat alam yang bersedih karena kematian Yesus di kayu salib. Bukan cuma mendung, bahkan tadi hujan turun …”. Dan di facebook aku membaca beberapa status yang mempersaksikan bahwa siang tadi alam turut bersedih dengan cuaca mendung dan hujan yang turun walau sebelumnya sangat cerah.

Terpujilah Tuhan yang masih tetap menunjukkan kemuliaan-Nya! Selamat Jum’at Agung, kawan …

Iklan

Tertulis Sudah, Terbaca Juga Sudah, tapi Terlaksananya koq Masih Susah?

IMG_2644[1]

Masih tentang pengalamanku di fitness center alias sport club di komplek perumahan tempat kami tinggal sekarang di mana kami jadi anggotanya. Secara khusus tentang ketentuan yang sudah jelas-jelas tercantum pada ruangan di tempat sangat strategis di antara ruangan-ruangan sauna, hot steam, dan whirlpool. Begini yang tertulis di situ:

Duduk di ruangan sauna 10 menit

Duduk di ruangan hot steam 10 menit

Kemudian bilas

Berendam di cold whirlpool 10 menit

Berendam di hot whirlpool 10 menit

Mandi shower

Lalu ada tulisan berupa larangan, antara lain anak-anak usia di bawah 15 tahun, dan orangtua di atas usia 60 tahun.

Jelas, bukan? Bagiku itu sangat jelas. Selain letaknya di tempat sangat strategis (semua orang akan dengan mudah melihatnya), sangat mencolok (dengan warna hitam untuk anjuran dan merah untuk larangan dengan gambar yang menarik, yakni perempuan muda sedang berendam), dan bukan hanya satu buah.

Tapi, apa yang terjadi? Beginilah hasil pengamatanku:

(1)    Jarang sekali yang mematuhi urutan tersebut. Kebanyakan dari sauna, langsung ke hot whirlpool (karena cold whirlpool dihindari karena banyak yang ‘nggak kuat dengan suhunya yang sangat dingin …). Ada juga yang langsung ke hot whirlpool, karena lebih nyaman rasanya. Pokoknya suka-sukalah …

(2)    Waktu yang 10 menit sangat jarang yang mematuhinya, kebanyakan sesuai kekuatan dan kenyamanan masing-masing …

(3)    Setelah sauna dan hot steam (yang tentunya hasilnya adalah badan yang sangat dibasahi keringat bercucuran) disarankan membilas tubuh terlebih dahulu sebelum berendam ke kolam (agar keringatnya tidak tercampur dengan air kolam), eh … lumayan banyak juga yang langsung ‘nyemplung ke kolam …

(4)    Aku berulangkali mengingatkan kepada anak-anak (setelah memastikan umurnya kurang dari 15 tahun dengan menanyakannya kepada mereka , tentunya …) untuk keluar dari kolam (biasanya hot whirlpool ) sesuai larangan. Meskipun aku ‘nggak tahu apa yang jadi alasan sebenarnya yang mendasari pelarangan itu (pernah ada yang bilang, bisa jadi impoten kelak setelah dewasa …) tapi bagiku itu penting untuk dituruti. Dan menjadi tanggung jawabku sebagai orang dewasa untuk mengawasi pelaksanaannya (hehehe … hebat banget ya?). Sayangnya, petugas yang ada di situ ‘nggak pernah ambil pusing (mungkin merasa kurang pe-de kalau harus melarang anak-anak yang umumnya adalah dari kalangan orang kaya ?

Demikian jugalah kehidupan kita, ya. Segalanya sudah ada yang mengatur, namun apakah semuanya sudah bisa terlaksana dengan sendirinya? Nah, yang lebih spesifik lagi adalah manakala bicara tentang firman Tuhan. Betapa banyak firman Tuhan yang terbaca (di bangunan gereja-gereja, took-toko buku rohani Kristen, sekarang ada di facebook …), yang terlihat (di televisi, bahkan ada sekarang teve kabel yang 100% menyiarkan tayangan Kristen dan Alkitab …), dan terdengar (di radio, yang sekarang juga sudah ada yang “mempersembahkan” dirinya dengan program siaran lebih setengah hari dengan acara rohani Kristen …), namun berapa banyak yang kemudian “berbunyi” dalam sikap sehari-hari?

Bagaimana pula dengan Alkitab, apalagi kalau lebih banyak tertutupnya daripada terbukanya?

Pak Samuel, Teruslah Bergaul dengan Roh Kudus!

Ini kejadian di fitness center di komplek perumahan tempat kami sekeluarga saat ini menjadi anggotanya sejak beberapa bulan yang lalu. Selain berenang sebagai olahraga wajib bagiku beberapa tahun belakangan ini, di tempat dengan fasilitas yang sangat pas bagiku saat ini aku juga menikmati sauna, hot steam (mandi uap panas), whirlpool (kolam berendam) yang terdiri dari air panas dan air dingin.

Pada pagi hari itu, aku ketemu dengan seorang member. Usai sauna, aku langsung berendam di kolam dingin (karena uap panas sedang rusak sebagaimana belakangan hari ini sering terjadi demikian …). Setelah berhasil mengalahkan rasa takutku akan suhu dingin yang ekstrim (sebagaimana yang aku tulis pada Aku Bisa!),  malah berendam di kolam dingin bersuhu tujuh derajat Celcius itu menjadi salah satu favoritku saat ini. Lebih dari sekadar “ketagihan”, sekarang berendam di kolam dingin itu malah menjadi salah satu sarana bagiku untuk “showing off” alias “sok-sokan” alias “pamer” alias “sipanggaron” (kalau lagi kumat sifat sombongku, hehehe …). Bukan sekadar menunjukkan kemampuanku bertahan berendam selama 10 menit, tapi sekaligus juga memotivasi para laki-laki yang masih takut pada rasa dingin yang ekstrim tersebut …

Aku melihatnya ragu-ragu untuk menikmati betapa dinginnya air kolam tersebut. Aku sudah berendam beberapa menit dan sedang menikmati “hangatnya” air di kolam yang sangat dingin tersebut ketika mengamat-amati seorang bapak yang aku perkirakan umurnya lebih tua sedikit dariku. Setelah mencelupkan tangan (dan segera menariknya kemudian), lalu beliau mencelupkan kedua kakinya. Masih dengan ragu-ragu.

“Masuk aja dan berendam, pak. Enak, koq …”, kataku coba memengaruhi dan memulai permbicaraan.

“Dingin banget, pak …”, jawabnya dengan ekspresi gemetaran.

“Mula-mula aja itu. Aku juga dulunya begitu. Sekarang malah sudah enak. Ayo, masuk aja. Kita ‘ngobrol-‘ngobrol untuk melupakan rasa dinginnya. Tuhan memberikan kemampuan bagi tubuh kita untuk menyesuaikan diri dengan situasi ekstrim yang kita hadapi”

“Bapak, pendeta ya?”, tanyanya yang membuatku terkejut (Karena ini bukan pertama kali ada yang salah duga dengan diriku sebagai pendeta, di rumah aku membahasnya dengan isteriku seraya bercanda, yang aku bilang banyak orang “tertipu” dengan wajahku dengan mengatakan aku pendeta. Istriku menjawab, “Wajah sombong kayak gitu koq malah dikira pendeta, ya?”. Langsung saja aku menukas, “Jangan-jangan memang wajah kayak aku gini yang sekarang dianggap sebagai wajah pendeta, bukan lagi wajah yang teduh dan memancarkan penuh damai sejahtera. Hahaha …”).

“Oh, bukan. Aku penatua, pak. Pelayan jemaat …”, kataku jujur (sebagaimana biasanya, hehehe …

Lalu aku ‘ngobrol banyak hal. Saling berkenalan dengan menyampaikan identitas diri. Ternyata beliau adalah Katolik yang nyaris terjadi karena “kebetulan”. Maksudnya? Waktu anak-anak (bersama warga keturunan Tionghoa) pada masa itu suka bermain-main di komplek gereja Katolik yang memang biasanya luas dan punya fasilitas bermain dan berolahraga yang memadai. Mulanya bermain bulutangkis, lalu diajak ikut latihan drama untuk perayaan Natal.

“Teman-teman saya banyak yang langsung masuk Katolik, saya belum pak karena orangtua saya memarahi dan ‘nggak setuju. Tapi, pastor Katolik itu tetap baik pada saya, pada kami semua. Dan saya tetap diikutkan kegiatan gereja, bahkan saya pernah jadi pelayan pembantu pastor di ibadah, walau belum ikut katekhisasi dan belum jadi Katolik …”.

“Sekarang masih?”, tanyaku.

“Setelah dewasa saya memang akhirnya jadi Katolik. Sampai sekarang. Bisa saya menanyakan sesuatu kepada bapak?”

“Oh, tentu saja. Silakan, pak. Aku akan jawab apa yang aku mampu jawab”.

“Bapak percaya Roh Kudus?”

“Wah, itu harus!”

“Saya punya pengalaman beberapa kali yang menurut perkiraan saya adalah kedatangan Roh Kudus. Dalam beberapa kali ibadah, waktu meditasi, air mata saya bercucuran dengan derasnya, walau saya tidak merasa sedih. Dan mengalir sendiri. Sampai saya merasa malu, masa’ laki-laki menangis, di depan orang banyak lagi! Langsung saja perasaan itu hilang dan pergi dengan sendirinya karena saya tolak kehadirannya. Apa memang itu Roh Kudus ya, pak? Apa tanda-tandanya, pak?”

“Yang aku tahu, Roh Kudus itu ada pada setiap orang, namun menunjukkan eksistensinya yang lebih menonjol daripada biasanya pada saat-saat tertentu. Bapak sendiri yang paling tahu untuk meyakini apakah yang sedang menguasai diri Bapak saat itu Roh Kudus atau bukan. Kalau menghasilkan perasaan damai dan sukacita yang meluap-luap, bahkan kadang dibarengi dengan air mata bercucuran yang bukan karena sedih, itu kemungkinan besar adalah Roh Kudus yang sedang bekerja pada diri Bapak. Kita patut berhati-hati juga, karena iblis pun bisa menipu dengan melakukan hal yang sama yang seolah-olah seperti Roh Kudus”.

“Itulah yang sering jadi pertanyaan bagi saya, pak. Saya pernah juga mendoakan kakak saya yang sedang dirawat di rumah sakit karena tumor ganas yang menurut dokter sudah sangat tipis harapannya untuk hidup lebih lama. Saat itu datang orang yang mengaku punya kemampuan menyembuhkan orang sakit dengan mendoakannya. Dia mengusir semua orang yang ada di kamar tersebut sebelum berdoa, namun saya ‘nggak mau keluar. Waktu dia berdoa, saya juga berdoa dengan berkata di dalam hati: ‘Tuhan, saya ‘nggak yakin orang ini adalah pendoa yang benar yang bisa menyembuhkan kakak saya ini. Jika Tuhan mau, saya pun bisa berdoa memohon kesembuhan bagi kakak saya. Tolonglah Tuhan, sembuhkanlah kakak saya ini.’ Dan beberapa minggu kemudian kakak saya itu benar-benar sembuh, pak. Saya jadi makin yakin dengan bantuan Roh Kudus. Sayangnya di tempat saya ‘nggak begitu kuat diajarka tentang Roh Kudus ini. Saya sudah diskusi dengan pastor, tapi itulah, karena bukan ajaran yang menonjol sehingga pastor ‘nggak begitu bisa membantu saya. Saya juga sudah ke beberapa gereja atau persekutuan di hotel-hotel yang katanya kharismatis itu. Memang mereka sangat menonjolkan kuasa Roh Kudus, tapi saya tetap belum menemukan apa yang saya cari. ‘Gimana ini ya, pak?”, tanyanya penuh harap.

“Kita harus sepaham dulu bahwa agama bukanlah menyelamatkan. Tidak satupun agama yang bisa menyelamatkan, hanya imanlah yang menyelamatkan. Sekarang terpulang kepada bapak. Menurutku, tetap saja lanjutkan bergaul dengan Roh Kudus, tanpa harus terkendala dengan sekat-sekat yang ada. ‘Nggak usah malu kalau harus menangis kalau Dia datang lagi. Tangisan bukan berarti sikap kecengengan. Aku juga pernah mengalami. Yang penting ada damai sejahtera yang timbul dan kita rasakan. Yang paling merasakannya ‘kan kita sendiri. Tak usah ragu, maju terus pak!”

Setelah lewat sepuluh menit (sebagai standar waktu berendam) di kolam dingin, kami lanjutkan ‘ngobrol dengan sama-sama berendam di kolam air hangat. Nah, ini lebih lama dari sekadar sepuluh menit saking asyiknya ‘ngobrol … bahkan diselingi dengan beliau harus buang air kecil ke kamar mandi.

“Wah, sangat menyenangkan ‘ngobrol dengan bapak. Sayangnya, aku harus pergi karena sudah ditunggu meeting di kantor agency. Kapan-kapan kita bisa lanjutkan lagi ‘ngobrolnya, ya.”.

“Sama-sama, pak. Saya yang lebih merasa gembira bisa bertemu dan ‘ngobrol-‘ngobrol dengan bapak. Saya berharap bisa ketemu lagi dengan bapak. Boleh tahu dengan bapak apa?”

“Aku Tobing, pak”

“Saya Samuel, pak”

“Wah, nama orang yang luar biasa itu. Sesuai banget dengan bapak yang dikasihi Tuhan dengan diberi kesempatan bergaul dengan Roh Kudus …”.

Aku Bisa!

IMG_2644[1]

Setelah bergabung (kembali) dalam keanggotaan di sport club di komplek perumahan tempat kami tinggal sekarang (tahun 2005 kami sudah jadi anggota “otomatis” karena mendapat hadiah gratis setelah membeli rumah di komplek ini, namun hanya setahun karena harga perpanjangan keanggotaan yang sangat mahal sehingga kami pindah ke sport club di komplek perumahan yang berdekatan dengan harga yang lebih murah …) sejak April yang lalu, ada satu tantangan yang membuatku penasaran untuk menaklukkannya, yaitu berendam di whirpool dingin selama 10 menit. Di kelab kebugaran sekarang inilah yang aku rasakah fasilitasnya yang terbaik. Selain kolam renang yang luas dan apik (hanya ‘nggak ada yang berair hangat seperti di komplek perumahan Batununggal tempat kami tinggal selama tiga tahun di Bandung), ada sauna, steam, dan whirpool. Bukan sekadar whirlpool, tapi komplit dengan air panas dan air dingin. Dan dinginnya bukan sekadar dingin, melainkan dingin bangettt …

Dan di sini pula aku mengenal hydrotherapy, yakni perawatan kesehatan yang memadukan sauna, steam, berendam di air dingin, dan ditutup dengan berendam di air hangat dengan masing-masing waktu kurang lebih 10 menit (ini yang tercantum pada pemberitahuan dengan ukuran lumayan besar di dinding yang terletak antara steam dan whirlpool). Jadi, agak berbeda dengan terapi air yang aku coba searching di internet.  

Sebagai orang yang suka tantangan (dan suka pula “sok jagoan”), hari pertama aku coba memasukkan kedua kakiku ke kolam (setelah menyentuh airnya beberapa dingin dan merasakan “ah, ‘nggak ada apa-apanya …). Duduk di tepi kolam, tak sampai satu menit aku sudah merasa ada yang aneh dengan kakiku. Tak berapa lama, malah terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk duri, yang secara spontan aku pun tarik kedua kakiku. Setelah itu berendam di kolam air hangat (yang ini sangat enteng karena ‘nggak begitu panas, bahkan lebih 10 menit pun aku pasti sanggup bertahan di dalamnya …). Besoknya, begitu juga yang terjadi: habis berenang, lalu sauna, lalu steam, lalu kolam air dingin hangat walau hanya sekadar mencelupkan kaki karena ‘nggak tahan dengan suhunya yang sangat dingin, dan akhirnya ditutup dengan kolam air panas sesuai judul aslinya: hot water whirlpool dan mandi dengan shower yang ada air panas dan air dinginnya sesuai keinginan masing-masing.

“Ritual” itu berlangsung berhari-hari, sampai akhirnya Jum’at pagi 03 Mei 2013 yang lalu yang menjadi “sejarah”. Hari itu aku ‘nggak ke kantor karena jadualku adalah meeting dengan outsourcing agency yang berkantor di Rawasari, Jakarta Timur. Daripada ke kantor yang ada di Jakarta Selatan terlebih dahulu lalu ke Jakarta Timur (dan malamnya aku marsermon di gereja yang berada di Jakarta Utara) yang berarti “loncat-loncat”, maka aku mohon izin ke Sekretaris untuk tidak ke kantor. Untunglah, si mbak memaklumi …

Jam 10 lewat sedikit aku sudah tiba di kelab kebugaran tersebut yang hanya bisa ditempuh kurang dari 5 menit dari rumah kontrakan kami. Setelah menunjukkan kuitansi pembayaran (selama kartu anggota belum selesai) iuran keanggotaan satu tahun (dapat diskon besar karena “hanya” perlu membayar Rp 3,85 juta dari harga semula yang Rp 12,8 juta) dan mendapat kunci loker, aku pun ‘nyebur ke kolam. Byur …!

Hari itu relatif sepi sehingga aku bisa lebih menikmati kenyamanan dan keistimewaan fasilitas tersebut (dan masih sering mengucapkan puji syukur kepada Tuhan untuk kenikmatan tersebut walau sudah berhari-hari menikmati fasilitas di kelab kebugaran tersebut …). Dan rasa sukacita tersebutlah yang mendorongku manakala selesai berenang, selesai sauna, dan selesai steam, kembali menjajal kemampuan untuk ber-whirlpool air dingin.

Kali itu aku mengubah strategi. Tidak “mencicil-cicil” dengan mencelupkan tangan dan kaki terlebih dahulu, melainkan “full blast” dengan masuk dan berendam … Alamakkk, dinginnya! Sakit dan nyerinya masih sama seperti hari-hari yang lalu, bedanya adalah di suasana hati … Dan ada satu lagi: secara mentalitas aku yakinkan diriku bahwa aku mampu karena aku sudah pernah mengalami suhu air yang lebih dingin manakala berenang di kolam renang hotel di Santa Katarina (St. Catherine) di kaki pegunungan Sinai di Mesir pada bulan Maret yang lalu. Aku tahankan dinginnya sambil mengingat keberhasilanku saat itu yang jauh lebih dingin dibandingkan dinginnya kolam renang di Dago Pakar beberapa tahun sebelumnya sebagai kolam terdingin yang pernah aku renangi. “Ini belum ada apa-apanya …”, kataku berluang-ulang di dalam hati. Dan … ketika aku berbalik arah, secara ‘nggak sengaja menatap jam digital yang ada di dinding dekat plafon di ruangan tersebut, dan terkejut bahwa sudah hampir lima menit aku berendam, sekaligus tersadar bahwa aku memang mampu! Lalu, menit-menit berikutnya aku ‘nggak rasakan lagi dingin yang berarti. Bahkan setelah lewat sepuluh menit aku malah merasa betah berendam dan ingin meneruskan “sampai bosan” kalau tidak mempertimbangkan harus berangkat rapat sebelum hari siang. Lagian, sebagaimana tertulis pada petunjuk, kurang lebih sepuluh menit sudah cukup mendapatkan manfa’at dari kegiatan tersebut. Di menit ke-16 (sengaja aku pilih karena sangat ingat dengan angka ini sebagai nomor urutan leluhur …), aku pun dengan penuh kesadaran mengakhiri acara berendam di kolam (sangat) dingin tersebut untuk melanjutkan dengan berendam di air hangat. Berdasarkan pengalaman tersebut, ternyata setelah lewat dua menit, rasa sakit dan dingin benar-benar hilang dan digantikan dengan rasa nyaman.

Begitu mencelupkan kaki dan badan ke kolam hangat, ada sensasi yang sangat berbeda yang belum pernah aku alami sebelumnya. Tidak bisa terkatakan, namun rasanya sangat menyenangkan …

Apa yang bisa dipelajari dari pengalaman singkat tersebut?

(1)    Tubuh punya kemampuan untuk “melawan” rasa tidak nyaman dengan otak memerintahkan untuk mengeluarkan zat perlawanan untuk mengatasi rasa dingin (biasanya terjadi pada titik menjelang puncaknya …). Kita menyebutnya dengan kemampuan beradaptasi. Demikianlah juga dengan kehidupan kita. Setelah melewati masa tertentu dengan penderitaan dan kesukaran, akhirnya Tuhan memberikan kemampuan bagi kita untuk beradaptasi dengan kesulitan tersebut dan diberikan kemampuan untuk mulai mengatasinya. Proses selanjutnya adalah “mengalahkan” kesulitan tersebut dan keluar sebagai pemenang dengan sukacita yang meluap-luap.

(2)    Rasa sukacita (yang belum tentu berarti berbahagia, ya …) adalah “modal dasar” untuk menghadapi segala sesuatunya, termasuk kesulitan. Masalah yang berat dan kesukaran dalam hidup yang seringkali menghinggapi kita, seharusnya kita hadapi dengan sukacita. Berkat pertolongan Tuhan yang kita mintakan, maka proses selanjutnya menjadi lebih mudah.

Memori tentang keberhasilan, sanggup mendorong dan memotivasi untuk keberhasilan selanjutnya. Pengalaman akan pertolongan Tuhan pada masa-masa yang lalu (yang bahkan lebih sulit, mungkin …) , menjadi pengingat bagi kita bahwa pertolongan-Nya selalu ada dan datang dengan tepat waktu. Asalkan kita selalu hidup dengan benar.

Kuitansi Kosong …

Mungkin karena tampangku mengandung unsur korupsi dan mengesankan layaknya koruptor, aku beberapa kali mengalami perlakuan yang ‘nggak menyenangkan karena diajak berbohong. Mungkin sepele bagi beberapa orang (atau mungkin juga hal menyenangkan bagi orang lain?), tapi sangat mengganggu bagiku. Yaitu tentang kuitansi kosong.

Menjelang perayaan 17 Agustus tahun lalu datanglah ketua RT ke kantor. Dengan surat yang banyak tandatangan oleh para pejabat setempat, di belakangnya ada formulir untuk mengisi nama, alamat, dan jumlah uang yang mau disumbangkan. Waktu disodorkan padaku (oleh office boy kami, karena pak ketua RT entah mengapa menunggu di luar saja, sesuatu yang tidak lazim bagi tamu-tamu yang selama ini selalu aku pesankan agar office boy mengundang masuk dan duduk di ruang tamu dan ‘nggak lewat lima menit sudah harus dihidangkan minuman …) sudah ada beberapa orang yang mengisi dan meneken sesuai baris dan kolom yang tersedia.

Sebagai warga yang baik, aku pun melakukan kewajibanku. Aku isi, teken, lalu memanggil office boy untuk menyerahkan surat tersebut beserta mapnya yang aku sertakan beberapa lembar uang kertas pecahan ratusan ribu, sambil memesankan: “Ajak masuk pak erte, hidangkan minuman, dan jangan lupa minta kuitansi untuk sumbangan partisipasi kita ini, ya …”. Tak lama kemudian office boy masuk lagi ke ruanganku, dan bilang: “Pak erte ‘nggak mau masuk karena buru-buru mau ke warga yang lain mengumpulkan sumbangan, pak. Ini ada kuitansinya yang dikasih pak erte tadi …“. Terkejut karena kuitansinya kosong, aku pun bertanya, “Lho, koq kuitansinya kosong?

“Biar bapak isi sendiri aja, tadi kata pak erte begitu, pak. Katanya biasanya begitu kalau untuk kantor, pak”

“Ah, ‘nggak bisa begitu. Sekarang bawa kuitansi ini dan cari pak erte untuk mengisi sesuai jumlah uang yang tadi kita berikan …”

Itu kejadian berbulan-bulan yang lalu. Awal bulan lalu terjadi lagi hal yang mirip.

Sudah lama aku merencanakan untuk memoles mobil bagian luar dan dalam, namun belum kesampaian karena belum ada waktu yang pas. Beberapa minggu sebelumnya mobil tersebut ketimpa pintu gerbang yang kebablasan ditarik oleh anak pariban-ku yang sedang berlibur di rumah kami sehingga body-nya lecet dan penyok. Nah, waktu aku bertugas ke Sukabumi dan Cianjur menggunakan bis seperti biasanya, maka aku manfaatkan untuk mengirim mobil ke bengkel untuk di-service. Orang di kantor, seperti biasanya, bersedia membantu untuk menjemput dan mengantarkan mobil kalau sudah selesai.

Sesuai rencana, sepulang aku ke Bandung, orang kantor pun sudah menunggu dengan mobil yang sudah selesai dirawat. Periksa sana, periksa sini, maka aku pun mengajaknya ke ruangan dalam untuk memberikan uang pembayaran ongkos perbaikan. Lalu dia memberikan kuitansi. Kosong, dan dua pula! Hanya ada stempel bengkel. “Kenapa kuitansinya kosong, pak?”, tanyaku dengan nada setenang mungkin (walau di dalam dada rasanya sudah mulai menggelegak, hehehe …).

“‘Nggak apa-apa, pak. Biasanya juga begitu. Terserah bapak mau mengisi berapa jumlah uangnya. Pak Anu juga begitu waktu men-service mobilnya, pak …”, jawabnya sambil menyebut nama seseorang yang menjadi anggota timku di Bandung, dengan nada yang mulai gusar (mungkin disebabkan oleh keterkejutannya dan merasakan ketidaksenanganku).

“Samaku ‘nggak bisa begitu. Karena tukang bengkel ‘nggak menulis, maka kamu saja yang mengisi kuitansinya dan jumlah uangnya. Berapa yang kamu tulis, segitulah yang akan aku bayar. Kuitansinya itu saja, yang satunya lagi kembalikan ke pemilik bengkel. Jelas?”

“I … iya, pak. Ma’af, ya pak …”, jawabnya sambil menuliskan di kuitansi. Lalu aku berikan uangnya sesuai yang ditulisnya di kuitansi, lalu dia pun bergegas mohon pamit setelah menghabiskan kopinya yang tadi disediakan oleh office boy.

Tinggallah aku sendiri merenung di ruanganku tentang kejadian tersebut. Karena sudah biasa, mungkin pula awalnya diminta oleh pemesan, terlihat kuitansi kosong tersebut sudah menjadi budaya. Mungkin bermaksud untuk men-service dan menyenangkan hati orang supaya dapat pesanan/pekerjaan lagi di waktu mendatang, tapi seharusnya jangan menyamaratakan bahwa semua orang menyukai hal seperti itu. Belum tahu dia, anak Tuhan diharamkan melakukan perbuatan buruk seperi itu, hehehe …

Ah, itu ‘kan karena jumlah uangnya relatif sedikit sehingga masih mampu menolak. ‘Gimana kalau sudah ratusan juta, atau bahkan miliar? Mungkin ‘nggak bakalan ditolak …, kata orang yang sinis, barangkali. Mungkin saja, tapi itu pun dengan syarat: kalau aku sudah berubah. Artinya bukan aku yang sekarang lagi. Tapi perlu diingat juga, kalau untuk perkara-perkara kecil saja pun sudah ‘nggak bisa dipercaya, ‘gimana pula untuk perkara-perkara besar? Betul, kan?