Bahan Sermon Minggu Judika

Khotbah 06 April 2014 Minggu Judika

Mulak mangolu ala hata ni Debata/Dipahehe Jahowa do hita asa unang mandate

Keinginan Daging atau Roh? Pilihlah Hidup!

Evangelium Yehezkiel 37:1-14 (bahasa Batak Hesekiel)

Kebangkitan Israel

37:1 Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang.

37:2 Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering.

37:3 Lalu Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!”

37:4 Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!

37:5 Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali.

37:6 Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”

37:7 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain.

37:8 Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas.

37:9 Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.”

37:10 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar.

37:11 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.

37:12 Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel.

37:13 Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya.

37:14 Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN.”

Epistel Roma 8:6-11

8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

8:7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.

8:8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

8:9 Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.

8:10 Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.

8:11 Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

Hidup Adalah Pilihan!

Demikianlah salah satu semboyan yang seringkali kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Maksudnya – baik dalam konotasi positif, maupun negatif – mengajarkan bahwa apapun yang kita jalani dalam kehidupan ini adalah merupakan pilihan atau kombinasi pilihan yang sudah dilakukan. Tidak mudah memang dalam menjatuhkan pilihan, karena setiap pilihan akan datang dengan konsekuensi dan resiko masing-masing.

Hal yang sama akan menghampiri kita manakala membaca nas perikop Minggu Judika ini, baik Ev maupun Ep; namun pada akhirnya kita diarahkan untuk memilih kehidupan.

Eksegese Nas Perikop

Nas : Yehezkiel 37:1-14

Melalui Roh Kudus Yehezkiel melihat di dalam penglihatan suatu lembah penuh tulang. Tulang-tulang tersebut melambangkan “seluruh kaum Israel” (Yeh 37:11), yaitu Israel dan Yehuda dalam pembuangan, yang harapannya telah punah ketika tersebar di antara orang asing. Allah memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat kepada tulang-tulang itu (Yeh 37:4-6). Tulang-tulang itu kemudian dibangkitkan dalam dua tahap:

  1. suatu pemulihan politis kembali ke negeri itu (ayat Yeh 37:7-8), dan
  2. pemulihan rohani kepada iman (ayat Yeh 37:9-10). Penglihatan ini diberikan untuk meyakinkan para buangan bahwa mereka akan dipulihkan oleh kuasa Allah dan menjadi masyarakat yang hidup di tanah perjanjian lagi kendatipun keadaan mereka sekarang kelihatanya suram (Yeh 37:11-14).

Karena partangiangan wejk kita menjadikan nas Ep sebagai bahan khotbah, maka pembahasannya akan lebih banyak memberikan porsi kepada surat Paulus kepada jemaat Roma, yakni Roma 8:6-11.

Nas : Roma 8:5-14

Paulus menguraikan dua golongan orang: mereka yang hidup menurut daging (tabiat berdosa) dan mereka yang hidup menurut Roh.

  1. Hidup “menurut daging” berarti mengingini, menyenangi, memperhatikan, dan memuaskan keinginan tabiat manusia berdosa. Ini meliputi bukan saja kedursilaan seksual, perzinaan, kebencian, kepentingan diri sendiri, kemarahan, dan sebagainya (Gal 5:19-21), tetapi juga percabulan, pornografi, obat bius, perjudian, mabuk-mabukan,dan lain-lain.
  2. Hidup “menurut Roh” ialah mencari dan tunduk kepada pimpinan dan kemampuan Roh Kudus dan memusatkan pikiran pada hal-hal dari Allah
  3. Mustahil untuk mengikuti hukum daging dan pimpinan Roh pada saat yang bersamaan (Rom 8:7-8Gal 5:17-18). Jikalau seorang gagal melawan keinginan dosa dengan pertolongan Roh dan sebaliknya hidup menurut hukum daging (Rom 8:13), dia menjadi seteru Allah (Rom 8:7Yak 4:4) dan dapat menantikan kematian rohani yang kekal (ayat Rom 8:13). Mereka yang terutama mengasihi dan memperhatikan hal-hal dari Allah dalam hidup ini dapat mengharapkan hidup kekal dan hubungan dengan Allah (Rom 8:10-11,15-16).

Refleksi/Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Tidak mudah, bahkan sangat sulit untuk selalu hidup di dalam Roh dan meninggalkan sama sekali keinginan daging. Tubuh jasmani kita yang sudah sangat dipengaruhi oleh dosa, sangat sulit untuk begitu saja bertransformasi kepada kehidupan yang dikuasai oleh Roh. Butuh penyesuaian dan pembentukan yang terus-menerus agar bisa benar-benar sampai kepada kondisi tersebut. Nah, hal yang sangat sulit tersebut dapat diatasi dengan pertolongan Roh yang ada di dalam diri kita, yakni Roh Kudus.

 Roh Kudus dimiiki oleh setiap orang yang sudah menerima Kristus sebagai juru selamatnya. Dan Dia selalu berada di dalam diri setiap orang tersebut. Oleh sebab itu, kita menolak ajaran yang mengatakan bahwa Roh Kudus harus terlebih dahulu diundang agar datang dalam diri seseorang, ataupun diundang untuk hadir dalam ibadah atau persekutuan. Dengan memilih jalan bersama Roh Kudus, maka kita akan beroleh hidup yang sebenarnya, dan bolehlah pula berharap akan kehidupan kekal yang sangat didambakan oleh setiap orang percaya. Sebagaimana Kristus sudah dibangkitkan dari kematian, orang-orang percaya juga akan mengalami hal yang sama dengan iman pada kebangkitan.

 Karena salah satu fungsi Roh di dalam diri orang percaya adalah sebagai pendorong (sering dianalogikan sebagai “angin” atau “udara”), maka sebagai warga jemaat HKBP Immanuel Kelapa Gading kita sebenarnya punya Roh yang memampukan kita untuk tidak lagi melakukan pelayanan dan mengikuti pelayanan pada tingkatan “sekadar”. Misalnya, sekadar menjadi warga jemaat, sekadar menghadiri ibadah Minggu dan partangiangan wejk, sekadar ikut dalam kegiatan kategorial, bahkan sekadar memberikan persembahan dan persepuluhan. Dan sebagai pelayan jemaat, misalnya sekadar maragenda, sekadar menyampaikan firman, bahkan sekadar marsermon. Jika tidak dilakukan dalam Roh, ada kecenderungan dan bahkan potensi bahwa semua pelayanan yang seolah-olah dilakukan untuk Tuhan tersebut, ternyata pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan daging.

Waspadalah! Pilihlah hidup dalam Roh supaya mendaptkan hidup yang sesungguhnya.

Iklan

Pendeta Pendusta!

Minggu, 13 Oktober 2013 yang lalu aku ‘nggak bertugas melayani ibadah. Sesuai kebiasaanku dan komitmen sebagai pelayan bahwa setiap Minggu harus berangkat dari konsistori (bareng dengan prosesi para pelayan ibadah setelah doa bersama yang dipimpin oleh Kordinator Ibadah Minggu) dan kembali ke konsistori setelah usai ibadah (untuk doa bersama yang dipimpin pengkhotbah, lalu menghitung kolekte yang selalu aku usahakan untuk membawanya dari bangunan gereja ke konsistori) sesuatu yang hilang belakangan ini setelah pergantian pendeta resort, aku pun melangkah ke konsistori. Sebelumnya bertemu dengan pengurus paduan suara Sekolah Minggu yang akan bernyanyi di ibadah Minggu jam 08.30 WIB itu (di awal acara ibadah) sekaligus meminta waktu untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga jemaat yang telah mendukung persiapan Paduan Suara Sekolah Minggu di Festival Koor Sekolah Minggu Distrik Jakarta bulan September yang lalu (yang lalu aku setujui penyampaiannya setelah pembacaan warta jemaat).

Di konsistori masih bertemu dengan pak pendeta resort yang semula aku kira sudah berangkat ke Medan untuk mengikuti Rapat Pendeta HKBP di Pematang Siantar). Tidak memakai baju kebesaran seorang pendeta karena beliau tidak melayani ibadah Minggu hari itu. Di tempat biasanya beliau duduk kalau melayani ibadah, duduk seseorang yang belum pernah aku jumpa sebelumnya. Hal ini mengingatkanku pada sermon parhalado Jum’at malam sebelumnya di mana pendeta resort menyampaikan tentang pengkhotbah yang akan menggantikan beliau selama mengikuti rapat pendeta di Siantar.

Orang tersebut tidak memakai jubah pendeta, namun aku mudah menduga bahwa beliaulah yang dimaksud yang akan berkhotbah pada ibadah Minggu itu. Lalu aku salami sambil menyebutkan nama:

“D. S. …”

“Aku Tobing, pak. Bapak dari gereja mana?”

“Oh, saya pendeta di Gakin.”

“Gereja apa itu, pak? Aku belum pernah mendengar sebelumnya.”

“Gereja Kristen Injili Nusantara, pak. Saya pendeta di Mediterania.”

“Gereja itu anggota PGI juga sama dengan HKBP? Jarang sekali terdengar namanya. Yang aku pernah dengar Gereja Injili Indonesia Hok Im Tong yang banyak jemaatnya di Bandung.”

“Masuk PGI, pak. Kami juga anggota PGLII, yaitu Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia karena kami juga terdiri dari beberapa yayasan.”

Lalu aku kembali ke bangunan gereja untuk memastikan paduan suara Sekolah Minggu bernyanyi di awal ibadah dan sudah harus bersiap-siap sebelumnya supaya jangan mengganggu urutan liturgi. Sekaligus menyampaikan kepada pengurus yang mau mandok hata tentang gilirannya adalah setelah pembacaan tingting. “Cukup lima menit waktunya, ‘kan?”, tanyaku yang langsung dijawab, “Kelamaan, ito. Dua menit aja cukup, koq … supaya jangan kepanjangan.”

Sekembali aku ke konsistori, aku melihat pak pendeta GKIN tadi duduk sendirian. Tidak ada yang mengajaknya ‘ngobrol. Kasihannya lagi, kami penatua – seperti biasanya – banyak menggunakan bahasa Batak dalam berkomunikasi saat itu. Merasa harus menjadi tuan rumah yang baik, aku pun lalu datang dan duduk di sebelahnya mengajak ‘ngobrol. Tentang apalagi kalau bukan pelayanan? Dari percakapan itulah aku tahu bahwa beliau punya jemaat dengan rata-rata 80 orang yang ikut ibadah Minggu, pernah melayani ibadah di luar sinodenya sebanyak tiga kali, tamat dari sekolah teologi milik sinode di Malang (bukan SAAT), kantor pusat sinodenya di Madiun, dan hal-hal lain.

Sebelum doa keberangkatan ke gereja untuk memulai prosesi, ada kejadian yang ‘nggak pantas menurutku yang dilakukan oleh kawan penatua. Karena Kordinator Ibadah menggunakan bahasa Indonesia (yang menurutku bagus karena pengkhotbahnya bukanlah Batak) dan mengajak menyanyikan lagu nomor 3 (versi beliau adalah Kidung Jemaat) padahal semua memegang Buku Ende karena ibadah jam 08.30 WIB adalah berbahasa Batak sehingga terjadi sedikit kekacauan yang segera diperbaiki, seorang penatua senior ‘nyeletuk: “Marhata Batak ho …”, yang lantas dibalas “Ai aha didokhon bai on! Na marsahit do huroa ibana!”. Terjadi ketegangan sejenak, untunglah ibu-ibu penatua segera melerai dan mengingatkan bahwa kami akan segera melakukan pelayanan ibadah, koq malah masih bertengkar …

Usai ibadah, ketika bersalaman dengan warga jemaat, beberapa berkata kepadaku: “Kenapa bukan penatua aja yang berkhotbah daripada khotbah seperti itu …”, dan “Khotbah apaan sih begitu? ‘Nggak ‘ngerti!”, yang lalu aku jawab, “Wah, kita ‘kan perlu juga mendengar khotbah dari gereja lain … supaya ada perbandinganlah … Penatua diangap belum layak berkhotbah di mimbar ibadah Minggu di gereja kita ini, masih belum pantas. Jadi hanya pendeta saja yang boleh berkhotbah.”.

Karena mengobrol dan berurusan dengan seorang ibu aktivis jemaat yang berulangkali mengeluhkan kualitas sound system sambil menunjukkan tutup telinga berwarna putih yang sengaja dipakai menyumbat telinganya karena ‘nggak tahan dengan bisingnya suara loud speaker yang dipakai gereja sehingga aku sarankan untuk ‘ngomong aja langsung dengan tukang service yang baru selesai menangani sound system sehingga masih memberikan garansi dan sepakat bertemu jam satu siangnya untuk langsung memeriksa kualitas suaranya, aku pun terlambat kembali ke konsistori. Belum masuk, di pintu aku berpapasan dengan pak pendeta yang tergopoh-gopoh pulang (kami lupa berjabat tangan …).

Di dalam konsistori ternyata sedang terjadi diskusi hangat tentang khotbah yang tadi disampaikan di ibadah Minggu. “Cobalah kita simak apa yang tadi disampaikan pendeta itu di khotbahnya. Katanya ada warga jemaatnya yang sudah sembilan tahun menikah namun belum dikarunia anak. Dia merasa bersalah karena lupa mendoakan supaya segera mendapat keturunan ketika menyampaikan pemberkatan nikah. Setelah memperoleh anak, kemudian anak tersebut mengidap keterbelakangan mental. Lalu didoakannya, kemudian menjadi anak pintar, dan sekarang sudah tamat S2 jurusan perlisterikan dan bekerja di Australia. Itu artinya, paling tidak, pendeta itu sudah melayani lebih dari 32 tahun kalau kita asumsikan anak yang o’on namun tamat S2 Australia itu sekarang berusia 23 tahun. Waktu tadi ditanyakan, dia bilang usianya 47 tahun, berarti dia sudah jadi pendeta sejak berumur 15 tahun. Apakah itu mungkin? Siapa yang berdusta, ya?”

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Mungkin “terpaksa” dilakukan supaya membuat khotbahnya menarik dan berkuasa. Hal yang membuatku ‘nggak pernah simpatik melihat pengkhotbah yang terkesan sepertinya menghalalkan segala cara untuk menunjukkan ke-aku-annya, sehingga lupa bahwa khotbah pun seharusnya untuk kemuliaan Allah karena dia adalah sekadar perantara penyampai isi hati Allah.

Dan semakin membuatku tidak simpatik ketika kemudian aku periksa daftar anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia alias PGI dengan melihat situs salah seorang pendeta HKBP seperti yang dulu aku lakukan saat menulis tentang tartingting perkawinan jemaat dengan anggota GPdI yang adalah juga bukan anggota PGI, dan ‘nggak menemukan GKIN sebagai salah satu anggota PGI. Masih belum yakin, besoknya aku diskusikan hal ini dengan seorang penatua senior lain yang segera mengambil Almanak HKBP dan memeriksa daftar anggota PGI yang ada di halaman belakangnya. Hasilnya sama: GKIN tidak terdaftar sebagai anggota PGI.

Apalagi yang diharapkan dari seorang pendeta pendusta? Yang berani berdusta bukan hanya di konsistori di hadapan semua pelayan jemaat dan hamba Tuhan, bahkan di mimbar juga melakukan dusta saat berkhotbah! Semoga hanya inilah sisa pendeta pendusta yang pernah ada …

Rapat CUM tidak Memenuhi Quorum

Di jemaat kami ada CUM (singkatan dari Credit Union Modification) yang kemudian dinamakan Komunitas Kredit Modifikasi “Karunia” sejak 2009 yang didirikan atas inisiatif salah seorang penatua pensiun yang saat itu adalah Ketua Seksi Penginjilan di jemaat. Sampai sekarang, posisinya menurutku sangat membingungkan: ada di tengah-tengah jemaat HKBP namun tidak direstui oleh jemaat yang direfleksikan oleh pendeta resort. Dari sejak awal beroperasinya aku selalu bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya posisi CUM yang mirip-mirip koperasi ini namun ‘nggak mau disamakan dengan koperasi pada umumnya? SK pengangkatan penyelenggaranya dari Kantor Pusat HKBP, dilantik di ibadah Minggu di HKBP oleh praeses, manajernya seorang pendeta HKBP dan ketuanya dilatih di Kabanjahe oleh Kantor Pusat HKBP, namun pendeta resort alergi dengan keberadaannya di tengah-tengah jemaat.

Pada bulan-bulan pertama sempat berkantor di salah satu ruangan yang ada di gereja, namun dipaksa hengkang ke rumah salah seorang pengurus konon karena ada keberatan dari warga jemaat (entah siapa …) karena berpendapat bahwa CUM ini bukanlah bagian dari pelayanan gereja. Aneh, ‘kan? Tak lama kemudian, laporan bulanan CUM juga hanya bisa diselipkan sebagai selebaran yang dimasukkan dalam buku warta jemaat karena ‘nggak layak di-tingtinghon. Perlakuan yang sangat aku tentang dan suarakan saat itu, namun seakan-akan semua menganggap bahwa itulah perlakuan yang layak bagi CUM. Tak aneh jika kemudian operasionalnya amburadul …

Sebagai bagian dari Badan Pengawas aku ikut melakukan verifikasi di tahun pertama dan sudah menemukan kejanggalan-kejanggalan yang lalu aku usulkan untuk dicantumkan pada laporan verifikasi. Cuma sekali itu saja, karena selanjutnya aku ‘nggak pernah lagi tahu perkembangannya, apalagi aku kemudian pindah tugas ke Bandung selama tiga tahun. Dan kenyataannya memang selama tiga tahun tersebut tidak pernah dilakukan verifikasi, bahkan rapat anggota yang resmi.

Demikianlah hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, sampai kemudian “tiba-tiba” ada orang-orang yang mengaku sebagai anggota CUM mengirimkan surat kaleng yang dimasukkan ke kantong persembahan (detilnya, silakan dilihat pada tulisan ini) yang kemudian menginspirasi untuk dilakukan verifikasi. Setelah tertunda lebih dari satu bulan untuk memberikan kesempatan kepada Bendahara yang terverifikasi melengkapi dokumen penunjangnya (tidak ada laporan keuangan 2010, 2011, dan 2012) dan laporan yang diberikan kepada kami Badan Pengawas adalah per 31 Mei 2013 yang angka-angkanya masih perlu dipertanyakan, dan memenuhi permintaan beliau agar fokus pada acara perkawinan anaknya di Pekanbaru, maka verifikasi bisa diselesaikan di awal September yang lalu. Lalu aku mendesak pengurus harian untuk segera melakukan Rapat Anggota yang sekaligus memutuskan bagaimana kelanjutannya. Pada rapat pengurus ketika kami melaporkan hasil verifikasi, permintaan Ketua untuk melakukan satu kali lagi rapat pengurus sebelum Rapat Anggota dan memberikan tambahan waktu lagi untuk Bendahara melengkapi laporannya tidak aku gubris. “Tak usahlah, amang ketua. Kita sudah menunda dan melenceng dari jadwal yang kita sepakati dan diumumkan kepada semua anggota di awalnya. Bendahara juga sudah kita berikan waktu untuk melengkapi dokumennya, bahkan kami Tim Verifikasi menyatakan kesediaan membantu agar laporannya sesuai dengan norma pemeriksaan tapi tak pernah sekalipun dimanfaatkan Bendahara. Terbukti hari ini, ‘nggak ada sedikit pun bedanya dengan verifikasi bulan lalu. Menurutku, kita lakukan sajalah Rapat Anggota di hari Sabtu, 05 Oktober 2013 ini. Kami Tim Verifikasi siap menyelesaikan Laporan Verifikasi untuk kemudian digandakan, besok diserahkan di gereja ke amang ketua. Ini juga ‘nggak ada hubungannya dengan surat yang disampaikan beberapa orang anggota CUM dengan tembusan sampai ke Eforus segala yang mendesak harus dilakukan sebelum 15 Oktober 2013 karena mengancam akan menempuh jalur hukum. Bukan! Tanpa itu pun, memang kita sudah rencanakan Rapat Anggota di bulan Juli yang lalu“, kataku yang akhirnya disetujui semua peserta rapat tengah malam di rumah kami saat itu.  Lalu dilakukan pembagian tugas: aku menyiapkan pemberitahuan untuk diselipkan di buku warta Minggu besoknya, lalu Sekretaris membuat surat undangan yang akan dibagikan kepada semua anggota yang juga akan dibagikan besok pagi usai ibadah Minggu pagi.

Sebagaimana tradisi di gereja kami, untuk menyelipkan selebaran itu memerlukan izin khusus dari pendeta resort. Karena sudah tengah malam, maka aku mengkomunikasikannya ke pendeta resort via pesan-pendek. Setelah beberapa kali saling balas, izin menyelipkan selebaran tersebut diperoleh. Dengan catatan Rapat Anggota tidak boleh diselenggarakan di gereja. Lho? Alasan pendeta resort adalah faktor keamanan yang mengkhawatirkan bila Rapat Anggota CUM dilakukan di gereja. “Anggo inganan parrapotan dohot anggota do st nami pingkiri hamu hian ma jo inganan nq asing unang ma di hkbp klp gading, ai molo adong hamaolon masa disi, na tarbarita ndada cum alai hkbp klp gading do dohononna jadi ndang une molo dipamasa parrapoton i di hkbp klp gading unang sai marlapu-lapu huria hape so adong hubungan ni huria klp gading tu cum”, demikianlah isi pesan-pendek pendeta resort yang membuatku mengernyitkan kening karena sangat berbeda dengan konsep yang aku pahami. Bukankah kegiatan yang melibatkan warga jemaat sepantasnya dilakukan di gereja? Apalagi ini pesertanya adalah 100% warga jemaat, tidak ada pihak luar. Indikasi keributan? Aku ‘nggak melihatnya sama sekali! Bahkan aku sampaikan ke beliau, kalau memang ada indikasi tersebut malah seharusnya kegiatan tetap dilakukan di gereja. Aku percaya pada kewibawaan gereja: masa’ ada warga jemaat yang tega merusak bangunan gereja tempatnya beribadah? Itulah yang harus kita cegah bersama!

Namun aku ‘nggak tanggapi lagi. Selain karena sudah larut malam (untuk apa membahas hal yang seperti itu, ya?), juga menurutku urusan lokasi rapat adalah bagian tanggung jawab dari pengurus harian CUM. Dan sebaiknya dibicarakan di sermon parhalado agar keputusannya bisa diambil secara kolektif. Puji Tuhan, di sermon parhalado akhirnya diumumkan bahwa Rapat Anggota CUM tetap diselenggarakan di salah satu ruangan yang ada di gereja sesuai surat edaran yang sudah disampaikan kepada semua anggota CUM.

Rapat CUM 051013

Sabtu malam, 05 Oktober 2013 yang lalu yang hadir hanya 16 orang, yang berarti tidak memenuhi quorum. Sesuai ketentuan yang ada di Aturan Peraturan HKBP, maka rapat harus dibatalkan dan harus dilakukan kembali paling lambat tiga hari kemudian. Walau aku ingatkan tentang batas waktu tiga hari tersebut, namun peserta bersikeras untuk menyelenggarakan rapat pada Sabtu, 12 Oktober 2013 yang akan datang. Hari itu aku punya dua kegiatan yang aku harus ikuti yang melibatkan kawan-kawan dari kantor tempatku bekerja: satu di Puncak, dan satunya lagi di Bekasi.

Andaliman-249 Khotbah 29 September 2013 Minggu-XVIII setelah Trinitatis

Mau Menolong, Malah Jadi Melolong … Persaksikan Iman yang Sudah Diikrarkan, Jangan Sekadar Omong!

Evangelium Matius 25:34-40

25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Epistel 1 Timotius 6:11-19

Pesan penutup

6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

6:13 Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu:

6:14 Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, 6:15 yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.

6:16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.

6:17 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

6:18 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi

6:19 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

Menurut Almanak HKBP, topik Minggu ini Mangurupi angka na marsangkot bulung yang secara harafiah arti marsangkot bulung adalah “berpakaian daun” yang artinya “begitu menderita sampai kehabisan darah”. Aku bayangkan bagaimana orang yang hidup bukan di zaman purba tapi masih harus berpakaian daun: miskin, ‘nggak punya apa-apa, menderita (panas kena matahari secara langsung dan sangat menggigil kedinginan pada suhu yang ekstrim). Lain halnya kalau untuk “gagah-gagahan”, misalnya acara pesta kostum, ya …

Pesan agar membantu orang yang sangat menderita karena kekurangan tersebut sangat jelas terbaca di nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini, yakni perintah Yesus untuk menolong yang haus, lapar, dan tidak berpakaian sebagaimana diri-Nya ketika hidup di dunia (yang kemudian dikatakan bahwa perbuatan menolong sesama adalah sama dengan menolong Yesus secara ‘nggak langsung).

Beberapa kali aku pernah membaca tentang cerita bahwa ada orang yang “menyamar” sebagai orang yang kedinginan di musim salju yang datang mengetuk pintu untuk menumpang sambil menunggu badai salju reda. Orang yang menolongnya dengan baik yang selain memberi tumpangan juga memberikan selimut hangat dan minuman yang mampu menghalau udara dingin, akhirnya menerima hadiah dari perbuatannya. Dan ketika mencari tahu siapa orang yang sudah ditolongnya yang seketika itu juga menghilang pergi entah ke mana (dan tak seorang pun yang lain yang pernah melihatnya …) akhirnya tersadar bahwa dia sudah melakukan perbuatan baik pada orang yang “bukan sembarangan”. Di Alkitab juga pernah ada kisah-kisah seperti itu: ada yang datang bertamu, lalu dijamu dengan baik, lalu menyampaikan nubuatan sebelum permisi meninggalkan tuan rumah yang baik tersebut. Masih ingat, ‘kan?

Sudah tentulah kesempatan untuk memberikan makan, minum, dan pakaian kepada Yesus tidak akan datang lagi pada zaman ini karena Yesus sudah ‘nggak berada di bumi ini lagi secara fisik. Namun, jangan kecil hati, karena melakukan perbuatan baik tersebut kepada orang yang paling hina di dunia ini, adalah sama artinya dengan melakukannya kepada Yesus. Dan ini menguatkanku untuk melakukan pelayanan jemaat maupun kepada orang-orang sekitar bahwa itu berarti juga melayani Yesus yang adalah model kehidupan bagiku. Namun, aku perlu berulang-ulang mengingatkan diriku, bahwa motivasi melakukan semua perbuatan baik itu adalah yang paling utama, yaitu berlandaskan iman kepada Tuhan, bukan untuk kemuliaan diri sendiri.

Dan hal melakukan perbuatan baik itu juga membutuhkan “kejelian” (alkitabiahnya dikatakan “berhikmat”, ‘kali ya …). Adakalanya perbuatan baik tersebut malah berdampak pada ketidakbaikan. Dan ini seringkali mengganggu pikiranku karena hampir setiap hari menjadi pergumulan (kecil-kecilan), yakni ketika berhenti di lampu merah jalan raya dan didatangi banyak sekali peminta-minta. Ada yang berlaku sebagai pengamen (belakangan ini malah mulai “mengancam” …), pengemis (belakangan ini mulai sering ketahuan kedoknya karena berpura-pura sebagai orang cacat, bahkan ada pula yang menyewa bayi untuk mendapatkan belas kasihan …), membersihkan kaca mobil dengan kemoceng (yang bagiku lebih menakutkan karena kondisi kemocengnya yang malah bisa menggores mobil …), dan banyak lagi yang bisa membuat orang-orang menjadi ‘nggak simpati. Tadinya mau bersedekah, malah jadi berserapah. Bukan pula karena pelit, ya … Sebaliknya, ada juga banyak orang baik yang berprinsip bahwa menyumbang tetap harus dilakukan, sekalipun sudah tahu bahwa itu semua adalah kepura-puraan dan kebohongan yang sebagian besar didorong oleh kemalasan untuk mencari nafkah dengan jujur dan kerja keras. Tapi, menurutku yang paling tepat dalam hal ini adalah: lakukan perbuatan baik bilamana itu adalah tindakan yang paling tepat!

Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini mengingatkan tentang konsepsi manusia Allah (ayat-11) yang harus menjauhi sifat cinta akan uang (ayat-9 dan 10), sebaliknya untuk mencari kekayaan yang kekal di bumi dan di surga. Istilah “manusia Allah” lazim dipergunakan di Perjanjian Lama yang mengacu kepada nabi yang menyampaikan sabda Allah dan memastikan bahwa kepentingan Allah diperjuangkan dalam kehidupan, yang menurutku berarti bahwa peran tersebut harus dilakukan oleh orang-orang percaya. Yakni menyampaikan firman dan mempersaksikan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Aku mengklaim diriku sebagai manusia Allah, berarti aku mengakui bahwa diriku telah dipilih Allah sebagai alat untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Untuk itu dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh.

Kesungguhan sangat dibutuhkan dalam mengejar kehidupan yang kekal, yakni melakukan keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan (ayat-11) untuk bertanding dalam pertandingan iman yang benar (ayat-12). Pertandingan iman yang benar artinya memperjuangkan iman kepada Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus sebagaimana diikrarkan (dalam baptisan, lepas sidi, dan setiap ibadah Minggu) dalam kehidupan. Dan Yesus adalah model dalam berikrar yang sungguh-sungguh sebagaimana dilakukan-Nya saat berhadapan dengan Pontius Pilatus (ingat episode The Passion di mana Yesus tetap teguh dengan ketuhanan-Nya yang antara lain tidak tergoda dengan tawaran Pilatus yang mengatakan kemampuannya melepaskan diri-Nya dari hukuman mati?). 

Godaan untuk meninggalkan ikrar setia adalah perjuangan iman yang dimaksud oleh Paulus dalam suratnya kepada Timotius ini. Orang-orang percaya harus memenangkannya dan jangan mau kalah dengan godaan jahat itu agar tidak bercela sampai Yesus datang kembali ke dunia ini, Raja dan Penguasa yang sesungguhnya, yang tidak pernah takluk oleh maut (Yesus bangkit dari kematian, ‘kan?) yaitu kegelapan, karena Yesus adalah Terang dan berdiam dalam terang. Tidak ada seorang pun yang dapat menghampiri-Nya, bahkan melihat-Nya pun tidak karena masih hidup dalam dimensi yang berbeda dengan-Nya (maka harus dipertanyakan jika ada orang-orang pada zaman sekarang ini yang mengklaim bahwa dirinya pernah bertemu dengan Yesus secara fisik alias lahiriah …).

Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya, yang menjanjikan kehidupan kekal bagi orang-orang yang menuruti perintah-Nya. Bukan kekayaan, karena kekayaan tidak menjanjikan kekekalan dan tidak bisa dijadikan pengharapan. Lebih baik mengumpulkan harta di sorga. Bagi yang sudah “terlanjur” kaya, jadikanlah kekayaan itu untuk kebaikan dan kebajikan dengan suka memberi dan berbagi.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Membantu orang yang kekurangan adalah hal yang sulit dalam kehidupan kita ini. Kalau menolong Yesus secara langsung, pastilah mudah melakukannya (bahkan akan berlomba-lomba melakukannya untuk menunjukkan kasih kepada-Nya …). Dalam dunia yang semakin jahat dan penuh kebohongan seperti sekarang ini (dulu ‘nggak, ya?) kita seringkali diperhadapkan dengan situasi yang dilematis. Mau menolong, malah jadi melolong. Kita tahu dan seringpula mendengar kejadian di mana ada orang yang bersedia menolong orang yang mengalami kecelakaan lalu lintas – tabrak lari, misalnya – malah mendatangkan kesulitan bagi dirinya karena harus berurusan dengan kepolisian. Menjadi saksi yang berulangkali datang ke lembaga hukum pun sudah sangat menyusahkan, ‘gimana pula kalau korban tabrak lari tersebut meninggal sehingga kita yang sebenarnya adalah yang menolong malah dituduh pula sebagai pelaku?

Ini adalah bagian dari kesaksian, atau ikrar yang seringkali kita sampaikan sebagai pengikut Kristus, yakni berbuat baik kepada sesama sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus yang adalah model kehidupan kita. Segala konsekuensinya, harus pula kita siap untuk menanggungnya, sampai kedatangan-Nya kelak. Dan kita harus memastikan kita tidak bercacat-cela dalam kehidupan kita agar layak menerima kehidupan yang kekal.

Termasuk dalam hal mengelola kekayaan yang dititipkan Tuhan kepada kita. Sudahkah kita memperolehnya dengan cara yang baik? Sudah pulakah kita menggunakannya untuk hal-hal yang baik?

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Jika dikatakan bahwa melakukan perbuatan baik kepada orang yang lapar, haus, dan telanjang adalah sama dengan melakukannya kepada Yesus, bagaimana seharusnya kita bersikap kepada para pengemis yang seringkali kita tahu adalah kepura-puraan yang didorong oleh kemalasan? Apakah kita tidak perlu melakukan perbuatan baik kepada mereka itu? Kalau mau melakukannya, apa yang harus mendasari kita bersikap?

(2)     Mempersaksikan iman adalah tantangan yang sangat berat pada zaman sekarang ini. Bukan karena kita hidup dalam dunia yang heterogen (misalnya dalam dunia pekerjaan), bahkan dalam kehidupan kita yang seiman sekalipun (misalnya dalam kehidupan berjemaat). Yang mana yang lebih sulit, bersaksi di dunia heterogen atau yang homogen?

(3)     Ada yang mengatakan adalah lebih mudah membantu orang-orang yang berkekurangan bila dari lingkungan sendiri (keluarga, kerabat, saudara) daripada yang tidak dikenal sama sekali. Apa iya? Atau, malah bukan sebaliknya? Menurutku, yang paralel dengan hal ini adalah, hal mengampuni sesama: mana yang lebih mudah, mengampuni orang yang dekat sama kita ataukah mengampuni orang yang tidak dekat dengan kita?