Selamat Lebaran (Lagi, Setelah yang Kemarin …): Karena Hillal Setitik, Rusak Opor Sebelanga?

Terjadi kekacauan dan pemborosan massal! Ini adalah dampak terlambatnya pemerintah mengumumkan tanggal dan hari Lebaran yang “terlambat”. Sebagaimana diketahui, pada Senin malam, 29 Agustus 2011 pemerintah mengumumkan Lebaran jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011. Padahal di kalender sejak ahir tahun 2010 lalu (ketika kalender 2011 banyak dijual di mana-mana …) tercantum Hari Raya Idul Fithri adalah 30 – 31 Agustus 2011. Itulah sebabnya, banyak orang mempersiapkan diri dengan Lebaran 30 Agustus 2011. Dan mengingat pengalaman tahun yang sudah-sudah, biasanya hari pertama perkiraan itu yang akan menjadi kenyataan …

Begitu pula yang aku duga untuk Lebaran tahun ini. Sejak 27 Agustus kami (aku, Auli, dan mamaknya) sudah menginap di Puncak. Aku diminta menjadi pembicara pada retreat Remaja Naposobulung HKBP Immanuel Kelapa Gading Jakarta sekaligus “fasilitator” kegiatan (persisnya: meminjamkan tambahan LCD projector milik kantor …). Karena mengira Lebaran akan jatuh pada 30 Agustus, maka Senin, 29 Agustus aku berharap kami tidak terlalu sore beranjak dari penginapan agar tidak mengalami macet yang ditambahi oleh rombongan pawai takbiran.

Faktanya, acara penutupan menjadi selesai pukul empat sore (aku punya peranan juga menyebabkan “keterlambatan” penutupan ini karena minta waktu lebih panjang dalam penyampaian kesan dan pesan setelah usai ibadah penutupan …). Dan masih “tertahan” lagi, karena – sebagai sintua pelayan jemaat – aku pun menemani Ketua Dewan Koinonia memastikan semua rombongan berangkat pulang ke Jakarta dengan tertib dan baik. Kurang sedikit dari jam lima, kami pun meninggalkan lokasi Hotel Lembah Pinus sambil berharap jangan ketemu dengan rombongan pawau takbiran malam itu.

Puji Tuhan! Jalanan tidak terlalu macet. Kami tidak ketemu dengan rombongan pawai takbiran yang sempat dikuatirkan sebelumnya. Walaupun sudah lewat maghrib, tidak terlihat sedikitpun kesan ada persiapan perayaan “hari kemenangan” (biasanya di banyak pinggiran jalan dan lokasi masjid selalu ada rombongan orang yang berjubel di kendaraan roda empat membawa pengeras suara sambil memukul bedug bertalu-talu).

Kamipun tiba di rumah menjelang jam makan malam. Ketika membuka siaran televisi, barulah aku mahfum dengan melihat tayangan langsung di mana Menteri Agama sedang mendengarkan “suara hati” seorang wakil organisasi agama Islam yang dengan lantang (sehingga menurutku mengesankan tidak sopan …) tentang perayaan Lebaran mereka yang berbeda dengan tanggal organisasi lainnya. Selanjutnya – bahkan akhirnya – Menteri Agama menyampaikan keputusan pemerintah bahwa Lebaran jatuhnya Rabu, 31 Agustus 2011. Sempat ‘nggak sreg juga aku melihat tayangan yang menampilkan sikap orang-orang dalam menyampaikan pandangannya saat itu.

Lalu yang mengejutkan lagi, ternyata Arab Saudi (negara asal muasalnya agama Islam lho ini …) dan sebagian besar negara-negara Timur Tengah sudah menetapkan Selasa, 30 Agustus 2011 sebagai Idul Fithri. Juga Malaysia dan Singapura …

Aneh … koq hillal aja menimbulkan perdebatan. Padahal masing-masing orang bisa berbeda dalam melihat hillal karena itu sangat dipengaruhi oleh kemampuan panca indera manusia (yang memang sangat terbatas …) dan letak geografis dalam “mencarinya”. Lebih aneh lagi, ada potensi  sholat Ied akan menjadi haram karena hari rayanya tidak tepat (masak ada sembahyang yang prinsipnya untuk memuji Tuhan, malah jadi perbuatan dosa alias haram …). Esoknya, di TV One aku melihat talk show yang menampilkan salah seorang tokoh Islam (mantan rektor IAIN Jakarta) yang mengatakan bahwa sejak zaman nabi pun sudah terjadi perbedaan hari Idul Fithri antar kota-kota di seputaran Mekkah. Saat itu tidak terjadi “kehebohan” (karena belom ada SMS, kata beliau mencoba bergurau …).

Dampaknya ternyata lumayan “heboh”. Ada beberapa kawan menjadi ragu dengan ibadah puasa dan sholat Ied-nya. Di televisi swasta juga disiarkan ada banyak terjadi kebasian makanan perayaan (opor, ketupat, lontong, dan makanan bersantan lainnya) akibat tertundanya Lebaran … Kasihan, umat yang seharusnya bersukacita dalam merayakan hari besar agama, malah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan … Untunglah Natal, Jum’at Agung, dan Paskah sudah bisa ditetapkan jauh-jauh hari karena tidak dipengaruhi oleh hillal yang bisa mengakibatkan khilaf

Puasa? Siapa Takut!

Hari libur nasional 17 Agustus 2011 yang lalu menjelang saat berbuka puasa, aku sudah di terminal Cipaganti di Pasteur untuk bersiap-siap berangkat ke Jakarta. Ada Area Sales Manager (ASM) meeting dwibulanan di Kantor West Java Region selama 18-19 Agustus 2011. Tidak seperti biasanya, penginapan disediakan di Hotel Santika di Serpong. Alasannya, lokasi hotel ini lebih dekat ke lokasi meeting, yakni kantor baru (sejak Juli 2011) yang berlokasi di Jagakarsa.

Siang harinya saat makan siang, kami yang tidak berpuasa dipersilakan makan siang. Ada tiga nasi kotak sesuai jumlah peserta rapat yang bukan muslim: aku yang Batak, satu lagi ASM Yogyakarta yang orang Palembang, dan satu lagi dari Jakarta yang asli orang Ambon. Yang muslim, tentu saja melakukan sholat berjamaah. Karena sudah “berpuasa” (tidak makan dan minum sejak sarapan sampai maghrib …), maka aku pun tidak mengambil dan tidak memakan jatah makan siangku. Aku malah meneruskan bekerja di ruang meeting dengan mengirim dan membaca e-mail serta mempersiapkan presentasi untuk aku bawakan esok harinya.

Karena itu, beberapa orang – utamanya yang muslim – mulai bertanya kepadaku tentang keberpuasaanku. Tentu saja ini aku manfaatkan untuk menjelaskan (= mempersaksikan?)  tentang puasa bukanlah sesuatu yang baru bagiku (sejak bertugas di Aceh dulu aku sudah mulai melakoninya setiap Ramadhan), sebagaimana juga orang Kristen lainnya yang mengetahui bahwa di Alkitab juga ada pengajaran tentang puasa yang tentu saja berbeda dengan motivasi orang Islam yang “berburu” pahala.

Ketika usai istirahat siang dan akan memulai meeting sesi siang, pak Hartono yang Regional West Java mengajukan pertanyaan bagiku apakah aku serius berpuasa sehingga tidak perlu menyediakan makan siang bagiku untuk esok harinya. Tentu saja aku menjawab tantangan tersebut dengan mengatakan memang aku berpuasa. Melihat rona wajah peserta meeting saat itu, tertangkap kesan mereka tentang “ada sesuatu yang aneh”. (bahkan ada yang bertanya apa memang benar aku berpuasa)

Subuh esok harinya akupun ikut berpuasa. Ketika sahur pada subuh jam empat, aku pun turun ke restoran menikmati hidangan sahur. Saat itu aku bertemu dengan dua orang kawanku ASM, yakni yang di Cirebon dan di Semarang. Lalu duduk semeja dengan mereka. Tentu saja aku berdoa sebelum menyantap sahur saat itu. Secara tak langsung, ini juga merupakan suatu kesaksian bahwa di restoran subuh itu ada anak Tuhan, ‘kan? (ma’af, ini tanpa bermaksud menyombongkan diri …).

Dan, hidup berlangsung seperti biasa pada hari itu. Tidak ikut makan siang, aku pun bertahan sampai berbuka pada maghrib bersama semua peserta meeting dan orang-orang yang ada di kantor. ‘Nggak ada masalah, ‘kan? Lagian, kalau hanya sekadar puasa tidak makan dan tidak minum, bagiku tidaklah sulit-sulit amat. Yang sulit adalah mempertanggungjawabkan iman dari godaan yang lain yang pasti lebih sulit. Apalagi untuk hal-hal yang kasat mata alias tidak terlihat oleh banyak orang …

Buka Puasa Bersama: Lho koq Pak Ustadz Tahu Ada Persepuluhan?

Selain berpuasa selama Ramadhan – kecuali Minggu – alhamdulillah …, aku berhasil menjalankannya. Dengan berbagai konsekuensi: pandangan aneh beberapa orang yang mengetahui aku beragama Kristen (aktivis gereja setingkat imam lagi …), ancaman potensi dehidrasi (karena office boy juga tidak menyediakan minuman ke ruanganku sesuai arahanku sejak hari pertama Ramadhan …), perut yang keroncongan (terutama hari-hari pertama …), akhirnya aku bangga juga bisa melewati beberapa hari ini. Berpuasa saat Ramadhan bukanlah hal baru bagiku, sebab ketika bertugas lama di Nanggroe Aceh Darussalam lebih sepuluh tahun yang lalu aku sudah mulai mengikuti kegiatan yang memang secara ilmiah ada manfaatnya (mengurangi beban lambung kita, menurut beberapa rujukan yang sempat aku baca …). Selain itu, juga untuk menunjukkan toleransi bahwa sebagai orang yang tidak diwajibkan berpuasa pun, aku masih mau melakukannya sehingga semua tim tidak punya alasan untuk mengurangi produktivitasnya selama bulan puasa karena aku pun berpuasa sama dengan mereka …

Orang Amerika Non Muslim Jadi Rujukan

Sama seperti tahun lalu, tahun ini aku pun melakukan acara berbuka puasa bersama di kantor dengan mengundang ustadz sebagai penceramah. Tahun lalu, boss-ku yang muslim yang sedang berkunjung ke Bandung sempat terheran-heran ketika melihat banyak ibu-ibu berpakaian serba putih anggota majelis taqlim berkumpul di kantor melakukan pengajian. Lebih kaget lagi beliau ketika mengetahui bahwa aku yang merancang itu semua. Baru beberapa bulan pindah di Bandung sudah bisa mengundang pengajian segala, mungkin itu dalam benak beliau saat itu. Padahal anggota tim-ku lainnya adalah muslim yang kebanyakan adalah orang Bandung yang memang saat aku minta bantuannya ternyata agak kewalahan mendapatkan akses yang seperti yang aku dapatkan. Ini membuktikan anak Tuhan punya banyak kelebihan yang tidak semua orang memilikinya …

Ustadz Iyan Sofyan (mengaku sebagai ketua majelis ulama kecamatan di Bandung Selatan) yang memberikan ceramah menyampaikan bahwa menurut ilmu pengetahuan bahwa berpuasa adalah baik bagi kesehatan karena lambung membutuhkan istirahat tiga hari setiap bulan supaya tubuh tetap sehat. Artinya, setahun membutuhkan 36 hari. Ramdhan 30 hari, lalu dilanjutkan dengan puasa tambahan bagi yang mampu di bulan Syawal. “Itu pendapat orang Amerika yang bukan Islam, lho …”, katanya menegaskan.

Yang BukanMuslim Itu Membayar Sepuluh Persen, Lho …

Ketika menyampaikan kewajiban dalam memberikan sedekah (sambil mengutip keputusan MUI dan Departemen Agama di Bandung yang sudah menetapkan zakat untuk tahun ini adalah Rp 20.000,- per orang), beliau mengingatkan besaran 2,5%. “Bagi umat di luar Islam yang saya tahu, itu malah sepuluh persen. Bahkan lebih, bisa sampai 20% …”, katanya bermaksud mengingatkan semua yang hadir akan kewajiban zakat “yang tidak seberapa itu”.

Mungkin beliau sudah mendapat info dari salah seorang warga di lingkungan sekitar kantor kami yang mendampingi beliau saat itu, bahwa aku (sebagai pengundang dan yang punya inisiatif acara berbuka puasa itu) adalah orang Batak (Kristen pula lagi …). Aku yang duduk di hadapan pak ustadz selalu menyimak ucapannya, agar yang lain yang muslim bisa menunjukkan sikap hormat yang sama (karena ada beberapa malah asyik mengirim SMS …).

Sesuai pembicaraan di awal tentang urutan acara berbuka puasa malam ini, usai tauziah dilanjutkan dengan berbuka puasa (membatalkan puasa), sholat maghrib berjemaah, lalu makan malam bersama. Menjelang sholat aku pimpin semua orang untuk membersihkan sisa minuman dan makanan ringan pembatal puasanya terlebih dahulu sambil mengingatkan bahwa karpet yang dipakai adalah pinjaman dari masjid dan harus dijaga kebersihannya karena akan dipakai untuk sholat maghrib berjemaah.

Setelah memastikan bahwa semua yang hadir sudah mendapatkan makanan (nasi kotak yang dipesan oleh salah seorang karyawan muslimah) dan minuman ta’jil (yang datang telat sehingga tidak dimanfa’atkan sebagai pembatal puasa …), aku pun menerima bagianku. Lalu aku berdoa dalam hati (sendirian, karena dua orang yang lain yang bukan muslim sudah makan terlebih dahulu …). Bukan bermaksud untuk pamer, tapi aku yakin bahwa sebagian besar hadirin (utamanya pak ustadz yang duduk tepat di seberangku …) melihatku berdoa secara HKBP, eh … Kristen, maksudku …

Siapa bilang kita tidak bisa bersaksi?

Puasa, Pahala, dan Sahala …

Hari ini adalah hari ketiga bulan puasa, namun aku sudah lumayan punya cerita yang layak dibagi denganmu di sini.

Sabtu lalu aku menyiapkan makan siang pada SUM (= Summary Up-date Meeting, yaitu rapat setiap Sabtu yang diselenggarakan di kantor yang mengundang semua perusahaan yang terlibat dalam bisnis dengan perusahaan kami). Biasanya tidak disediakan, itulah sebabnya ada yang memelesetkan SUM menjadi Sepi Urusan Makan … Sabtu lalu aku sediakan dengana alasan sebagai hari terakhir menjelang puasa yang akan dimulai Senin-nya (munggahan, istilahnya di Bandung. Selain itu, juga Sabtu lalu adalah hari pertama aku gerakkan bermain bulutangkis dengan semua karyawan di sport club yang terletak di komplek perumahan tempat kantor kami berada. Sedikit orang heran menyadari kepedulianku sebagai orang Kristen terhadap ibadah orang muslim (apalagi bagi yang belum tahu bahwa tahun lalu pun aku mengadakan buka puasa bersama di kantor sekalian pengajian majelis taklim yang saat itu boss-ku yang sedang berkunjung juga terheran-heran karena tidak menyangka aku bisa mengundang begitu banyak ibu-ibu pengajian berseragam jubah putih mendaraskan ayat-ayat suci di kantor …).

Sejak hari pertama aku sudah ikut berpuasa. Dua orang di kantor (perempuan, satu muslimah dan satunya lagi sudah Batak, Kristen pula’ …) heran setelah mengetahui bahwa aku ikut berpuasa …

Kemarin hari kedua puasa, ada tamu dari Kantor Pusat Jakarta yang datang ke kantor untuk menyampaikan pelatihan yang mengundang semua supervisor Distributor. Aku minta sekalian saja diadakan buka puasa bersama. Maka bertambah pula orang yang terheran-heran setelah mengetahui aku ikut berpuasa, sama dengan mereka …

Melalui facebook, bahkan seorang muslimah (sahabat penaku lebih dua puluh tahun yang lalu) juga sampai meminta ma’af karena harus menanyakan agamaku setelah membaca up-date-ku yang menceritakan itu semua (kegiatanku selama bulan puasa). Tentu saja aku menjawab yang sebenarnya dengan menyampaikan bahwa aku pernah dibesarkan di lingkungan yang akrab dengan kehidupan Islam, lama tinggal di Aceh, dan pernah diajar oleh dosen lulusan Al Azhar Kairo.

Kalau sebelumnya orang-orang yang terkejut, pagi ini sebaliknya aku yang menjadi terkejut. Melalui facebook, nantulang-ku yang tinggal di Jakarta (yang tentu saja mengenalku dengan baik, dan ketemu denganku bulan lalu di Medan saat pesta pasahathon sulang-sulang kepada mertuaku) sampai bertanya: “naung pindah do bere …?” (maksudnya pindah agama …). Setelah terkejut sejenak, aku pun menjadi geli, sehingga aku jawab: “Nunga tibu hami pinda, nantulang … tu Bandung do, ‘kan? He … he … he … Jotjot do ahu marpuaso, ndang holan bulan Ramadhan. Panghorhonna do na asing, nasida mangido PAHALA ahu manghirim SAHALA sian Debata …”

Oleh-oleh dari Beijing (2): Jika Ada Tuhan, di mana Dia? Berikan Alamat E-mail dan Nomor HP-Nya!

Selama perjalanan di Beijing, kami dipandu oleh orang lokal yang mengaku bernama Wang. Lumayan fasih berbahasa Indonesia, walaupun seringkali kedengaran lucu karena kekurangtepatan dalam penempatan istilah bahasa Indonesia. Namun, namanya dalam perjalanan yang lumayan melelahkan di negeri orang, hal tersebut tetaplah sedikit menghibur …

Sehari sebelumnya ketika berkunjung ke salah satu istana dan masjid di Jalan Sapi, saat berjalan kaki, seorang peserta (yang bulan lalu pensiun) bertanya kepada Wang dengan serius. Tentang hal yang sangat sensitif, yaitu: tentang agama dan kepercayaan. Tanpa beban, kawan tersebut bertanya, “Kenapa rakyat Cina tidak beragama? Kenapa Anda ateis?“. Aku yang saat itu beriringan di sampingnya, terkejut dan tidak menyangka akan ada pertanyaan seperti itu, dan menjadi waspada dengan reaksi orang yang ditanya. Apalagi ketika Wang menjawab dengan nada tinggi, “Kenapa mesti beragama? Apakah Tuhan yang kalian orang Islam sembah itu memang ada? Kalau memang ada, beritahu alamatnya. Dan nomor handphone-nya supaya saya hubungi dan bicara! Ayo beritahu saya alamat e-mailnya supaya saya kirim pesan!”. Karena hal ini berpotensi mengganggu kenyamanan suasana, aku pun menarik kawanku itu ke sisiku dan menenangkannya.

Tadinya dia masih mau menjawab. Untunglah dia masih menghargaiku, mungkin karena mengingat aku ini dulu adalah kawan seperjuangannya dalam satu tim di Tangerang dan mengetahui bahwa aku ini adalah aktivis di gereja (karena seringkali berinteraksi dan melakukan dialog tentang agama dengannya), dia pun mengurungkan niatnya untuk “berdakwah” …

Esok paginya sesaat akan memulai program perjalanan pada hari itu, Wang membukanya dengan kalimat, “Menyambung apa yang sempat dibicarakan kemarin tentang bangsa Cina yang ateis, saya perlu sampaikan bahwa kami memang tidak mengakui Tuhan. Kecuali ada yang bisa memberi tahu saya tentang alamat dan nomor handphone Tuhan, dan saya bisa berbicara langsung dengannya barulah saya akui tentang Tuhan …” Sebagian besar peserta bingung karena tidak mengetahui yang terjadi sehari sebelumnya. Namun karena semua sadar bahwa hal tersebut tidak pantas dibicarakan lebih lanjut, semua menahan diri. Dengan berbisik, aku sampaikan kepada orang-orang yang duduk di dekatku tentang kejadian kemarin dan meminta mereka untuk tidak mau terpancing.

Akupun waspada dan mencoba antisipasi dengan kejadian berikutnya: jangan sampai sisa perjalanan malah menjadi runyam. Untunglah kalimat yang diucapkan Wang berikutnya sedikit menenangkan, “Walaupun tidak beragama, tapi saya tidak melakukan dosa. Tidak menyakiti orang lain, tidak berlaku jahat, tidak korupsi, dan hal lainnya yang tidak baik. Di sekolah-sekolah di Cina ini, semua murid diajarkan berkelakuan baik. Jadi, kami tidak perlu beragama. Mungkin Anda menganggap kami yang ateis ini aneh, tapi kami juga menganggap orang-orang beragama sebagai orang yang aneh …”

Semua diam. Tenang. Dan saat itu aku sempat merenung, bahwa apa yang disampaikan Wang ada benarnya juga. Untuk apa beragama kalau tetap melakukan dosa dan berbuat jahat. Pernyataan tersebut semakin meyakinkanku yang berprinsip – dan selalu menyampaikan dalam berbagai kesempatan – agama tidak pernah membuat orang menjadi baik, kecuali keimanan kepada Tuhan dengan benar.

Dan aku pun titip pesan kepada Tuhan, jangan sampai kemakmuran yang dicapai Cina dalam tahun-tahun belakangan semakin menjauhkan mereka dari harapan mendengar Kabar Baik. Dalam hati kecilku aku yakin, bahwa Tuhan pasti sudah mempersiapkan suatu rencana yang indah kepada Cina untu memanggil mereka pulang untuk mengenal-Nya.

Demikian juga kita – aku dan kau, dan semua anak yang dikasihi-Nya – pasti Tuhan punya rencana yang indah di balik setiap yang kita alami saat ini. Dalam sukacita, maupun dukacita. Tinggal sensitivitas kitalah yang dituntut, apakah mendengar panggilan-Nya ataukah tidak …