Batak! Kita Sudah Satu Abad Ternyata …

Batak, Satu Abad Perjalanan Anak Bangsa

Dr. Ir. Bisuk Siahaan

Kempala Foundation, Jakarta, 2011

468 halaman

Jujur saja, ini buku bagus. Bagus banget! Pertama kali melihatnya di toko buku jaringan nasional di Jakarta aku langsung jatuh hati. Mau beli, harganya “mahal banget” … Memang masih masuk dalam anggaran bulananku untuk beli buku, namun saat itu masih ada beberapa buku yang sudah aku pegang yang sudah membuatku jatuh hati terlebih dahulu. Ketika menimbang-nimbang dan akan memutuskan untuk membeli, ketika membuka halaman demi halamannya lebih perlahan … aku ketemu halaman 164 yang langsung membuatku kehilangan semangat untuk membelinya saat itu.

“Sabar saja, nanti pasti ada saatnya. Beli yang paling penting saja dulu …”, kata mak Auli isteriku menyabarkanku karena melihatku penuh pertimbangan saat itu.

“Tapi aku belum pernah melihat buku ini dijual di Bandung“, kataku mencoba mempertimbangkan untuk membeli. Namun, hasilnya tetap tidak membeli. Sampai beberapa lama, bahkan ketika sudah kembali ke Bandung, aku masih mengidamkan buku bagus tersebut.

Bukunya bagus dari luar dan sangat tebal. Isinya meneceritakan fase-fase kehidupan orang Batak sejak zaman prasejarah sampai dengan masa terkini. Juga dilengkapi pengetahuan tentang asal muasal Danau Toba sebagai “sentral” kehidupan masyarakat Batak. Bagi yang menyukai sejarah (seperti aku ini) pasti akan terpuaskan, apalagi dilengkapi penuh dengan gambar-gambar.

Aku sangat menyukai gambar-gambar orang Batak zaman dahulu. Di antara kesukaan pada gambar-gambar tersebut, aku melihat ada satu hal yang memprihatinkan: tidak satupun foto zaman baheula yang masih hitam putih tersebut menampilkan orang-orang Batak yang tersenyum. Selain bersedih, yang menonjol adalah tampilan kekerasan hidup yang tergambar di wajah mereka. Dan sangat kontras dengan orang-orang bule di sebelahnya. Lihatlah salah satu contohnya di bawah ini …

Meskipun demikian, ada satu foto yang membuatku bangga sehingga menjadikannya foto sampul di facebook-ku. Mudah-mudahan tidak masalah dengan izinnya …

Puji Tuhan, pada periode berikutnya – tepatnya setelah disentuh oleh kekristenan – wajah-wajah nenek moyang kita mulai terlihat tersenyum. Ada yang tertawa. Apalagi orang-orang Batak “kontemporer”,  sudah banyak yang terlihat sukacita.

Bagiku – yang sangat bangga menjadi orang Batak dan (puji Tuhan!) Kristen pula – buku ini semakin memperlengkapi pengetahuanku tentang berbagai istilah yang beberapa di antaranya mengalami pergeseran arti. Bukan hanya dalam hidup keseharian, melainkan juga berhubungan dengan kehidupan gereja. Misalnya joro yang sebelumnya diperuntukkan sebagai media untuk berhubungan dengan arwah orang yang sudah mati, kemudian bergeser menjadi bagas joro yang berarti gereja. Ada juga pengetahuan yang baru, ternyata orang Batak zaman dulu sudah mengenal konsep tritunggal, yakni Debata na Tolu,  yakni adanya tiga “oknum” ketuhanan.

Banyak lagi hal-hal lain. Aku sarankan untuk mengoleksi buku ini. Bagus untuk pengetahuan pribadi, dan juga dibagikan dan atau diwariskan kepada anak cucu (sebagaimana disampaikan penulis pada halaman iii: “untuk anak dan cucu di Parserahan“). Putriku si Auli juga aku persilahkan membaca buku ini untuk mengenal Batak yang sudah “terlanjur” melekat pada dirinya.

Bagaimana akhirnya buku ini bisa aku peroleh? Saat ulang tahunku yang lalu! Sudah aku jadikan tradisi sejak dipercayakan jadi pemimpin kantor di Bandung di sini untuk menghadiahkan buku pada setiap momen penting, misalnya ulang tahun, perpindahan tugas, dan lain-lain. Nah, ketika ulang tahunku yang lalu, ternyata anak buahku menghadiahkan buku ini kepadaku. Dan itu membuatku terharu manakala menerimanya, dan aku sampaikan rasa terima kasih dan penghargaanku pada mereka yang tahu apa yang menjadi kerinduanku.

Di rumah, mak Auli kaget dan tersenyum gembira manakala aku membawa buku hadiah tersebut ke rumah (sekaligus memintanya untuk menyampul rapi …): “Benar. ‘kan pa yang aku bilang, sabar saja. Pasti ada saja jalan untuk mendapatkannya. Tuhan mendengar permohonan papa dan mendapat buku yang bagus ini …”. Aku hanya tersenyum dan mengamini ucapannya.

Oh, ya … apa sebenarnya isi halaman 164 yang sempat membuatku “kehilangan gairah” tersebut? Begini, pada halaman tersebut dicantumkan beberapa pejabat HKBP, persisnya Eforus dan Sekjen, dan di antaranya tertulis “Pdt. Dr. J. R. Hutauruk Ephorus HKBP 2004-2012” dengan wajah tersenyum di sebelah foto Dr. SAE Nababan yang terlihat sangat semangat berpidato (atau berkhotbah?). Saking ‘nggak percayanya aku dengan yang tertulis, aku sempat bertanya kepada mak Auli: “Sekarang tahun 2012, ‘kan? Siapa Eforus HKBP sekarang? Bukan lagi Dr. J. R. Hutauruk, ‘kan?”

Sayang sekali … Semoga tidak membuat orang-orang mengurungkan niat untuk membelinya karena kesalahan “kecil” ini. Rugi juga sih sebenarnya kalau sampai tidak mengoleksi buku yang bagus seperti ini. “Gangguan” foto-foto berwarna yang lumayan banyak menyita isi buku yang menampilkan “keluarga-keluarga yang belum tentu dikenal oleh banyak orang” tanpa penjelasan yang memadai menjelang akhir buku, dan urutan yang kadangkala tidak ‘nyambung, masih bisalah tergantikan dengan hal-hal yang bagus lainnya di halaman-halaman sebelumnya …

Horas ma halak hita! Nunga saratus taon hape hita on, bo …!

Iklan

Bukan Jubileum 150 Tahun HKBP Ternyata …?

Pemikiran Tentang Batak Setelah 150 Tahun Agama Kristen di Sumatera Utara

Editor: Prof. Dr. Bungaran Antonius Simanjuntak

Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2011

Meskipun diterbitkan tahun ini, ternyata buku ini adalah hasil penulisan-ulang (menurut editornya adalah “lanjutan dari buku sebelumnya dengan judul yang sama”, meskipun ada lagi pernyataan bahwa buku ini adalah “pengembangan dan perluasan”). Sangat kental terasa ada salah satu alasan diterbitkan kembali tahun 2011 adalah memanfaatkan gembar-gembor yang didengung-dengungkan di HKBP sebagai tahun di mana akan dirayakan Jubileum 150 Tahun HKBP. Berisi pemikiran yang berhubungan dengan Batak, salah satu suku bangsa terbesar di nusantara. Dengan gereja terbesar di Asia Tenggara, konon HKBP pernah mengklaim demikian.

Bunga rampai dari penulis berkaliber dan handal di bidangnya masing-masing menjadikan buku ini lengkap sebagai rujukan. Lihatlah penulisnya. Ada mantan Eforus (yang ternyata tulisannya agak “berseberangan” dengan prinsip umum HKBP, organisasi yang pernah dipimpin oleh mantan ompu i ini, sehingga mengingatkanku dengan sindrom yang dialami oleh mantan pejabat di negeri ini yang baru kemudian berani bersuara berbeda setelah tidak lagi menjabat dan tidak lagi berkuasa …), guru besar teologi, pendeta dan dosen aktif di lingkungan pendidikan HKBP (sempat membuatku respek dengan kegigihannya membela “kaum lemah” di HKBP dan keberaniannya melakukan otokrtitik, namun sedikit berkurang rasa kagumku manakala melihatnya berkhotbah yang diiringi dengan “panorangion” yang cenderung memanas-manasi warga jemaat daripada sekadar menyampaikan kebenaran …), mantan pemimpin gereja, tokoh gereja dan tokoh adat Batak, serta sastrawan nasional. Kecuali orang bule, semuanya adalah Batak. Sekali lagi, benar-benar komplit.

Kata Pengantar dan Refleksi yang Menohok

Sebagaimana buku lainnya, buku ini juga diawali dengan kata pengantar. Prof BAS – demikian beliau suka menyingkat nama dengan hanya sekadar inisial – menyampaikan alasan singkat dan latar belakang munculnya buku ini. Secara eksplisit tidak disebutkan untuk menyambut jubileum HKBP sebagai salah satu alasannya, memang. Namun, masih di lembaran kedua pengantar, pak BAS sudah mempertanyakannya dengan hanya menyebutkan bahwa “… HKBP sendiri baru dikenal sesudah tahun 1932 dengan keluarnya pengakuan pemerintah …”.

Ada dua refleksi. Satunya dengan tegas dicantumkan bahwa penulisnya adalah Eliakim Sitorus dengan judul 150 Tahun Injil di Tapanuli.  Alinea pertama tulisan refleksi ini sudah menegaskan bahwa 7 Oktober 1861 adalah tanggal bersejarah di mana empat orang misionaris – Heine, Klammer, Betz, dan van Asselt yang kemudian dengan “sangat kreatif” huruf awal nama mereka disingkat menjadi HKBP … – melakukan rapat kordinasi penginjilan di Parausorat. Sejarawan gereja di Tapanuli kemudian menyebutkan rapat itu sebagai sinode pertama, lalu diklaim sebagai hari lahirnya gereja Batak pertama, yakni Huria Kristen Batak Protestan. Agak aneh memang, karena para misionaris itu masih membawakan organisasi pengutus mereka, yakni Rijnische Mission Gesselschaft (RMG) yang berkedudukan di Wuppertal, Jerman. Tentu saja belum sedikit pun “berbau” HKBP …

Tulisan refleksi kedua dengan judul tulisan yang sama dengan yang pertama – aku ‘nggak tahu siapa penulisnya – disebutkan di akhir sebagai “diterjemahkan oleh Bungaran Antonius Simanjuntak”. Lebih merupakan kilas balik singkat sejarah masuknya Injil di Tanah Batak. Lalu konflik yang terjadi di HKBP, yang puncaknya adalah dualisme kepemimpinan 1988-1994 di mana pada masa itu ada dua orang yang mengaku sebagai Eforus HKBP. Masa yang sangat kelam yang pernah aku alami sebagai warga HKBP. Sangat “membingungkan”, karena kedua belah pihak yang sama-sama dipimpin pendeta sama-sama mengklaim sebagai yang benar dan paling sah sebagai pemilik “merek” HKBP. Menjadi semakin membingungkan lagi karena kelakuannya sudah sangat mirip dengan premanisme yang “dipakai” (atau malah “memakai”?) untuk menguasai bangunan gereja. Dengan segala cara, tentu saja.

Juga sudah dicantumkan konflik di HKBP Banda Aceh paska tsunami. Bayangkan saja, di daerah “100% Islam” yang mengklaim dirinya sebagai serambi mekah dengan menjalan syariat Islam yang paling menyerupai zaman nabi di antara wilayah nusantara yang sudah menjalankan syariat Islam, masih juga terjadi konflik kepemimpinan yang kemungkinan besar adalah juga ada faktor kepemimpinan Kantor Pusat. Di wilayah yang seharusnya kita mengumandangkan syukur alhamdulillah hirabbal al’amin karena gereja masih bisa berdiri, koq “tega-teganya” dibiarkan tercipta perpecahan, bahkan dipertahankan perpecahan …

Dan yang terakhir adalah perilaku seksual yang menyimpang dari seorang pendeta aktif HKBP terhadap siswi-siswinya dengan melakukan pelecehan seksual yang sangat memalukan. Bahkan menjijikkan, menurutku. Lebih menjijikkan lagi adalah kesan HKBP (baca: pemimpinnya) yang melindungi dan membela sang pendeta laknat tersebut seakan-akan itu semua ‘nggak benar (walau sudah masuk ranah hukum publik dan sudah diputus oleh pengadilan). Aku jadi sempat bercuriga, jangan-jangan tindakan seperti itu sudah seringkali terjadi di lingkungan pendeta HKBP sehingga merupakan sesuatu yang biasa. Orang bijak mengatakan, air yang kotor jangan diharapkan untuk bisa membersihkan kekotoran. Betul juga …

Konfesi HKBP, oh … Pendeta Pelaksana Konfesi …

Ini adalah dua tulisan yang paling sering aku baca berulang-ulang. Keduanya tentang Konfesi HKBP, pengakuan iman yang dianut HKBP. Ditulis oleh guru besar, dan anak murid dari anak muridnya di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Sangat menyemangati ketika membaca tulisan Lothar Schreiner yang menginspirasi perjalanan HKBP dalam tahun-tahun kesejarahannya. Sebaliknya, keprihatinan yang amat sangat ketika membaca tulisan Dewi Sri Sinaga yang membahasnya dengan menjadikan peristiwa pelecehan seksual yang dilakukan oleh pendeta HKBP di Sekolah Bijbelvrouw HKBP di Laguboti.

Yang paling menyedihkan adalah tanggapan pemimpin HKBP yang menanggapinya secara dingin. Bukan melindungi para siswi korban pelecehan yang tentu saja tertekan secara psikologis, malah meneror para korban dan mengintimidasi dengan arogan. Bukan pemimpin, malah mereka menunjukkan sebagai penguasa HKBP yang bisa dengan semena-mena memamerkan kekuasaannya untuk melindungi korpsnya (atau kroninya, atau malah dirinya sendiri? Entahlah …).

Banyak hal-hal menarik yang bisa didapatkan dari buku yang lumayan tebal ini. Apalagi untuk memenuhi kerinduan tentang pemikiran kontemporer orang Batak. Sudah Batak, Kristen pula … Saranku, bacalah untuk menambah pengetahuan. Dan dengan kejernihan hati dan kejernihan berpikir. Itu semua akan menambah referensi kita dalam memahami Batak. Dan juga memahami HKBP bilamana masih berada di lingkungan HKBP. Karena selalu saja ada kemungkinan bahwa sejarah adalah sekadar siklus hidup. Jadi, apa yang terjadi pada HKBP saat ini tidaklah jauh dari apa yang ditabur oleh orang-orang yang berpengaruh pada HKBP pada masa-masa yang lalu.

Alangkah Indahnya …

Janganlah pernah berharap pada sesuatu yang benar-benar sempurna. ‘Nggak bakalan menemukannya selagi hidup di dunia yang fana ini. Begitu juga dengan buku ini. Baru di bab-bab awal, aku sudah seringkali terganggu dengan kesalahan tulis maupun penggunaan istilah yang seharusnya sudah baku. Misalnya kata teologi yang merupakan kata serapan yang sudah dibakukan dalam bahasa Indonesia, masih memakai teologia, dan bahkan teologies.   

Untuk membuatnya lebih bermanfaat, aku sarankan:

(1)     Membaca buku ini dengan penuh kerinduan akan perbaikan pelayanan di jemaat HKBP, bukan untuk mencari tahu kebobrokan HKBP

(2)     Cukup mendiskusikannya dengan warga jemaat yang sudah dewasa, bukan sekadar usia, namun juga pemahaman tentang jemaat

Buku ini pertama kali aku lihat di salah satu toko buku terkemuka dengan jaringan nasional di Serpong, Tangerang beberapa bulan yang lalu. Bersebelahan dengan hotel tempatku menginap saat menghadiri rapat di Kantor Wilayah di Jakarta, aku pun berkunjung ke toko buku tersebut usai makan malam. Tertarik membacanya dengan menyempatkan diri di kamar hotel menjelang istirahat tidur, aku pun memutuskan untuk membagikannya kepada pelayan gereja di lingkungan HKBP. Yang pertama kali aku berikan – dengan mengirimkannya via kurir dari Bandung – adalah pendeta resort tempatku berjemaat saat ini di Jakarta. Lalu mendiskusikan tentang tanggal jubileum sebagai salah satu isi dari buku yang akan aku kirimkan kepada beliau (saat itu aku “sekadar” menunjukkan buku yang aku beli pertama kali sambil berjanji akan membeli yang baru dan mengirimkannya karena buku pertama tersebut sudah aku corat-coret …):

Aku : Kalau aku Eforus, aku akan memberikan pengakuan kepada semua jemaat HKBP tentang kesalahan tanggal penetapan hari lahir HKBP. Lalu, mengajak semua gereja-gereja di Sumatera Utara dengan berbagai denominasi yang lahir karena penginjilan RMG Jerman untuk sama-sama merayakan Jubileum Injil di Sumatera Utara. Jadi, bukan Jubileum HKBP, amang.
Pendeta : Bukan itu yang penting sebenarnya, amang. ‘Nggak perlulah harus dipersoalkan lagi tanggal lahirnya HKBP karena kita akan berkutat di situ-situ terus. Kapan lagi kita punya waktu untuk memikirkan kemajuan HKBP kalau habis untuk berdebat tentang hal yang tidak prinsipil.
Aku : Bukankah kebenaran harus disampaikan, amang? Kalau memang lahirnya bukan tahun 1861, kenapa kita tidak jujur saja mengakuinya? Menurutku, warga jemaat sekarang sudah banyak yang pintar, dan kita patut bersyukur pada Tuhan tentang hal itu. Mereka akan menganggap kita berdusta karena ‘nggak menyampaikan hal yang benar. Memang untuk melakukan itu perlu kesadaran yang dalam dan kerendahan hati yang tidak semua orang memilikinya …

Usia sekali lagi tidak menentukan keluasan wawasan dan kesediaan menerima pembaharuan. Pendeta resort kawanku berbicara ini masih sangat muda. Usia beliau masih  di bawahku beberapa tahun. Waktu mulai bertugas di jemaat kami lima tahun yang lalu, aku sempat berharap banyak bahwa beliau akan membawa angin segar pembaharuan pelayanan di jemaat kami. Apalagi mengingat pengalaman beliau di mana sebelumnya adalah bertugas di jemaat di Jakarta yang jaraknya sangat dekat dengan jemaat kami sehingga ‘nggak butuh banyak penyesuaian dalam melayani jemaat yang sekarang. Lima tahun berlalu, secara umum menurutku adalah ‘nggak jauh dengan HKBP pada umumnya. Berjalan di tempat, kalau tidak mundur. Sangat kontras dengan agresivitas gereja-gereja di seputaran lingkungan gereja kami …

Aku kurang yakin apakah beliau memang benar-benar membaca buku yang aku kirimkan. Atau hanya sekadar melihat sekilas, lalu tahu isinya “bukan dari golongan kami”, lantas menyimpannya di suatu tempat yang disediakan bukan untuk dibaca kembali. Apalagi kecenderungan beliau yang lebih terkesan sebagai “pegawai HKBP” daripada pelayan jemaat yang sangat mendambakan peningkatan kerinduan untuk selalu datang ke gereja untuk bersekutu.

Menjawab Fenomena Sikap Anarkis Ormas (Berkedok) Islam

Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia

Editor: KH. Abdurrahman Wahid

Ma’arif, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, The Wahid Institute, 2009

Karena mengetahui aku suka membaca – dan punya blog yang sering “membahas” buku koleksi pribadi – suatu hari pada dua tahun yang lalu seseorang memberikan buku ini kepadaku. “Tidak dijual di pasaran. Yang ini dicetak-ulang oleh anggota DPR untuk dibaca oleh orang-orang supaya punya pengetahuan yang benar, dan jangan salah memilih nanti”, demikianlah kira-kira ucapan orang yang telah berbaik hati tersebut. Saat itu memang menjelang pemilu (yang memang membuat pilu …). Beberapa hari aku sempat membacanya, namun karena ada kesibukan lain, tidak tuntas aku baca (bahkan sampai hari ini …). Sempat juga semangat lagi untuk membacanya, yakni ketika suatu hari di kalangan terbatas membicarakan isinya. Itupun dipicu oleh pernyataan salah seorang peserta, “Sudah baca buku terbaru yang membicarakan si gaja dompak, amang? Saya hanya mendapatkan kopinya dari internet karena bukunya tidak beredar di pasaran”. Oh ya, si gaja dompak maksudnya adalah salah satu partai politik yang logonya mirip pedang khas Raja Batak Sisingamangaraja XII (meskipun hubungannya bagai langit dan bumi …).

Selama bulan puasa yang lalu aku selalu berusaha menyempatkan membaca buku yang sebenarnya sangat menarik ini. Dengan tujuan membuatkan “resensi” di blog yang sederhana ini, karena KOLEKSI sudah berbulan-bulan tidak memunculkan “resensi”. Ma’afkan aku, sejak di Bandung ini kesibukanku semakin bertambah-tambah saja seakan-akan tidak punya waktu lagi untuk menikmatinya dengan lebih rileks buat diriku sendiri. Aku belum selesai membacanya dengan tuntas (karena selalu mengulanginya dari halaman-halaman awal setelah lama tidak menyentuhnya …), namun kejadian penyerangan dan penikaman hamba Tuhan di HKBP Pondok Timur Indah, Ciketing, Bekasi hari Minggu (hari Minggu pertama pasca Lebaran yang secara Islam seharusnya para penyerang sedang dalam masa fitri alias bersih suci …).

Prolog, Pengantar Editor, dan Epilog: Sangat Menarik!

Buku ini dibuka dengan prolog Masa Depan Islam di Indonesia oleh Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, yang memulai dengan mengatakan bahwa Islam yang mayoritas dengan jumlah penganutnya yang 88,22% di Indonesia sepatutnya tidak perlu risau dengan masa depannya. Dan masyarakat non muslim juga tidak perlu cemas dengan angka itu sebab dua sayap besar umat Islam (yaitu NU dan Muhammadiyah) sudah sejak awal bekerja keras untuk mengembangkan sebuah Islam yang ramah terhadap siapa saja, bahkan terhadap kaum tidak beriman sekalipun, selama semua pihak saling menghormati perbedaan pandangan.

Sedangkan Gus Dur dengan Musuh dalam Selimut selaku editor penulisan buku yang merupakan hasil penelitian selama hampir dua tahun di kota-kota besar di Indonesia ini menjelaskan banyak hal sehubungan dengan sepak terjang organisasi Islam di Indonesia. Dengan gayanya yang khas, beliau menceritakan perjalanan bangsa Indonesia yang juga diwarnai dengan perjalanan ormas Islam dan sepak terjangnya di Indonesia.

Dengan kemampuan yang dimiliki, Gus Dur dalam pengantarnya seakan-akan sudah menjadi jiwa dari seluruh buku ini. Membaca tulisannya, seakan sudah membaca seluruh isi kitab ini. Terus terang saja, hampir setiap halamannya sangat perlu dan menarik untuk dibaca.

Menurut Gus Dur, ada dua kategori manusia. Yang pertama adalah orang-orang yang sudah mampu menjinakkan hawa nafsunya sehingga member manfaat kepada siapapun (di Indonesia yang tergolong dalam kategori ini adalah Sunan Kalijogo, lalu ada HOS Cokroaminoto, KH Hasjim Asy’ari, dan KH Wahab Chasbullah, serta beberapa orang lainnya). Golongan yang kedua adalah mereka yang masih dikuasai hawa nafsu sehingga selalu menjadi biang keresahan dan masalah bagi siapapun (nah, ini yang paling banyak muncul belakangan ini  …). Inilah yang umumnya kita kenal dengan penganut Islam garis keras.

Dalam epilognya yang berjudul Belajar Tanpa Akhir, A. Mustofa Bisri menyampaikan bahwa dari sisi politik, buku ini mengingatkan tentang adanya bahaya tersembunyi dalam gagasan dan usaha-usaha untuk mengubah Indonesia dari negara-bangsa menjadi negara agama, negara Islam.

Islam Garis Keras: Mengubah Islam dari Agama Menjadi Ideologi

Penganut Islam garis keras selalu berupaya mewujudkan cita-cita ideologinya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, antara lain dengan cara mengganti ideologi negara Pancasila dengan Islam versi mereka., atau bahkan menghilangkan NKRI dan menggantinya dengan Khilafah Islamyah. Pada akhirnya Islam menjadi dalih dan senjata politik untuk mendiskreditkan dan menyerang siapa pun yang pandangan politik dan pemahaman keagamaannya berbeda dari mereka (misalnya menuduh anngota DPR muslim yang tidak mendukung penerapan syariat Islam sebagai bukan Islam alias murtad, apalagi yang bukan Islam, akan dituduh sebagai orang kafir …).

Menurut Gus Dur, pada umumnya aspirasi kelompok garis keras (selanjutnya kita singkat saja dengan “KGK”) di Indonesia dipengaruhi oleh gerakan Islam transnasional dari Timur Tengah, terutama yang berpaham Wahabi atau Ikhwanul Muslimin, atau gabungan keduanya. Dalam beberapa tahun kemunculannya, kelompok-kelompok garis keras kelihatan berhasil mengubah wajah Islam Indonesia mulai menjadi agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian. Ini semua mengingatkan kita kepada ormas-ormas yang belakangan ini seakan-akan menjadi kelompok paling suci bersih dan merasa paling berhak menghukum orang-orang yang berbeda dengannya, bahkan dengan tindakan anarkis sekali pun!

Pada saat yang sama, dengan dalih memperjuangkan dan membela Islam, mereka berusaha keras menolak budaya dan tradisi yang selama ini telah menjadi bagian integral kehidupan bangsa di Indonesia, mereka ingin menggantinya dengan budaya dan tradisi asing dari Timur Tengah, terutama kebiasaan Wahabi-Ikhwanul Muslimin, semata karena mereka tidak mampu membedakan agama dari kultur tempat Islam diwahyukan. Mereka selalu bersikap keras dan tidak kenal kompromi seolah-olah dalam Islam tidak ada perintah ishlah, yang ada hanya paksaan dan kekerasan. Karena itulah, mereka popular disebut dengan kelompok garis keras.

Kelompok garis keras berusaha merebut simpati umat Islam dengan jargon memperjuangkan dan membela Islam, yang sering memperdaya banyak orang, bahkan orang-orang yang berpendidikan tinggi sekalipun, semata karena tidak terbiasa berpikir tentang spiritualitas dan esensi ajaran Islam. Mereka mudah terpancing, terpesona dan tertarik dengan symbol-simbol  kegamaan. Sementara kelompok-kelompok garis keras sendiri memahami Islam tanpa mengerti substansi ajaran Islam sebagaimana dipahami oleh para wali, ulama, dan pendiri bangsa. Pemahaman mereka dan platform politiknya tidak mampu melihat, apalagi memahami , kebenaran yang tidak sesuai dengan batasan-batasan ideologis, tafsir harfiah, atau platform politik mereka sehingga mudah menuduh kelompok lain yang berbeda dari mereka atau tidak mendukung agenda mereka sebagai kafir atau murtad. Tak aneh ‘kan betapa mudahnya orang menjadi takut kepada ormas-ormas penganut paham seperti ini karena takut dituduh kafir atau murtad?

Bahkan NU dan Muhammadyah juga sering dituduh kafir oleh kelompok garis keras dan kaki tangannya. KGK mengukur kebenaran pemahaman agama secara ideologis dan politis, sementara NU mendasarkan pemahaman dan praktik keagamaan pada semangat rahmat dan spiritual yang terbuka. KGK mewarisi kebiasaan ekstrem Khawarij yang gemar mengkafirkan dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dari mereka, kebiasaan buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tangannya. Tentang Khawarij, KH Hasyim Muzadi mengatakan, “… dulu ada sebuah kelompok namanya Khawarij yang mengkafirkan semua orang di luar golongannya. Nah ini sampai sekarang reinkarnasinya masih ada, sehingga seperti Azhari datang ke Indonesia ‘ngebom itu dia merasa mendapat pahala”.

Penyusupan yang Perlu Diwaspadai: Sudah Sampai Muhammadyah, NU, dan MUI

Penyusupan dilakukan dengan berbagai cara dan di banyak sendi kehidupan. Gerakan garis keras transnasional dan kaki tangannya di Indonesia sebenarnya telah lama melakukan infiltrasi ke Muhammadyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan bahkan Majelis Ulama Indonesia. Jadi jangan heran kalau ada pernyataan dari ketiganya yang bernada “aneh”, itu kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh KGK yang berhasil menguasai lembaga tersebut dengan menjadi pengurusnya. Dari penelitian yang dilakukan, menyatakan bahwa 75% pengurus KGK yang sempat diwawancari adalah punya hubungan dengan Muhammadyah. Bahkan ada juga fenomena rangkap anggota (dual membership).

Muhammadyah dimulai dengan kongres dalam pemilihan pengurus pusatnya pada Juli 2005. Lalu NU dimulai dengan sekelompok anak muda yang datang membersihkan masijd secara sukarela, demikian berulang-ulang. Tertarik dengan kesungguhan mereka, diberikan kesempatan beradzan, lalu melibatkannya sebagai pengurus masjid. Setelah semakin kuat, lalu mengundang kawan-kawannya bergabung, lalu menentukan siapa yang pantas menjadi imam, khatib, dan mengisi pengajian dan yang tidak boleh. Secara perlahan tapi pasti, masjid jatuh ke tangan KGK sehingga tokoh setempat yang biasa member pengajian dan khotbah di masjid tersebut kehilangan kesempatan mengajarkan Islam kepada jemaahnya, bahkan kehilangan masjid dan jamaahnya, kecuali jika bersedia menerima dan mengikuti ideology keras mereka. Tak heran ‘kan kalau banyak orang berpengaruh yang terkesan “kehilangan akal” dalam bersikap karena kemungkinan besar sudah di bawah pengaruh KGK ini.

Infiltrasi ke MUI juga sudah lama terjadi. Bahkan sudah dibilang, MUI kini telah menjadi bungker dari organisasi dan gerakan fundamentalis dan subversive di Indonesia. Maka tidak heran jika fatwa-fatwa yang lahir dari MUI bersifat kontra-produktif dan memicu kontroversi, misalnya fatwa pengharaman sekualrisme, pluralism, liberalism, dan vonis sesat terhadap kelompok-kelompok tertentu di masyarakat yang telah menyebabkan aksi-aksi kekerasan atas nama Islam.

Gerakan Islam Transnasional dan Kaki Tangannya di Indonesia. Siapa Mereka? Tak Jauh-jauh … Kita Pasti Sudah Menduganya!

Ada sejarah panjang yang dijelaskan dalam buku ini tentang Wahabi sebagai “generasi penerus Khawarij”, di antaranya bagaimana “perkawinan” paham Wahabi dengan dinasti raja Saudi yang membuat Wahabi semakin kuat secara politik dan finansial. Wahabi yang pada masanya pernah membunuh ribuan umat Islam karena dianggap tidak sepaham dengan ajaran mereka dan menghalagi mereka dalam mencapai tujuan politisnya (lantas dikafirkan dan dimurtadkan sehingga layak untuk dibunuh sebagai “musuh Islam” …), suatu kali berusaha membersihkan citra dengan cara menggelontorkan uang yang sangat banyak ke seluruh dunia. Inilah yang disebut dengan globalisasi-Wahabi.

Pertama kali di Indonesia infiltrasi dilakukan secara ideology dengan gerakan Padri di Sumatera Barat. Lalu berlanjut dengan beasiswa belajar untuk mahasiswa ke Arab Saudi. Tahun 1970 ketika umat Islam di Indonesia kesulitan keuangan untuk membiayai studi mahasisa ke luar negeri, Wahabi menyediakan dana yang lumayan besar yang dikelola oleh Dewan Dakwah Islamyah Indonesia (DDII). Belakangan, kebanyakan alumni program ini menjadi agen penyebaran paham transnasional dari Timur Tengah ke Indonesia. Tidak berhenti di situ, dengan dukungan dana Wahabi pula, DDII mendirikan LIPIA, dan kebanyakan alumninya kemudian memainkan peran yang berpengaruh sebagai agen Salafi (Wahabi) dan Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin). DDII pula yang telah meletakkan dasar gerakan dakwah di kampus-kampus, dan sebagaimana alumni Timur Tengah, mereka juga menjadi agen penyusupan paham gerakan transnasional ke Indonesia.

Selain DDII, menjelang dan setelah Orde Baru tumbang, Indonesia menyaksikan begitu banyak KGK local yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Beberapa kelompok ini antara lain Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), Laskar Jihad, Jamaah Islamyah, Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI), PKS, Komite Persiapan Penerapan Syari’ah Islam (KPPSI) di beberapa daerah, dan lain-lain. Dalam momen inilah, Ikhwanul Muslimin (yaitu PKS) dan Hizbut Tahrir menampakkan diri secara terbuka di Indonesia.

Pola-pola penyusupan yang mereka lakukan sangat beragam, seperti pendekatan finansial hingga hal-hal yang tak terpikirkan seperti melalui layanan jasa kebersihan gratis di masjid-masjid, bahkan dengan pola akademis atau berbagi pengetahuan. Dalam kaitan ini, pada akhir tahun 2005, proposal dari sebuah LSM telah ditujukan kepada Kepala Negara berisi tawaran kerjasama dalam penyaluran dana sebesar 500 juta dolar AS yang diparkir di beberapa bank asing di luar negeri. Jika Pemerintah RI mengizinkan dana tersebut masuk dan mau bekerjasama, LSM tersebut member tawaran: 40% dari dana itu, yaitu USD 200 juta, untuk dimanfaatkan Kabinet RI, dan LSM dimaksud akan menggunakan 60% untuk melakukan berbagai program pembangunan non-APBN/APBD, khususnya untuk “infrastruktur pendidikan kemuliaan akhlak”, terutama di Sulawesi Tengah yang baru saja keluar dari konflik bersenjata yang di dalamnya KGK terlibat dengan jelas. Tidak cukup sampai di situ, proposal itu juga menyebutkan bahwa jika pemerintah RI tertarik dengan dana itu, maka dari pihak LSM mengharapkan diberikan kesempatan untuk menempatkan personilnya di Tim Ekonomi RI. Luar biasa gilanya!

Oh, HKBP … Oh, Gereja-gereja di Indonesia …

Kembali ke kasus penyegelan gereja-gereja di Indonesia dan pelarangan beribadah serta sulitnya memperoleh izin mendirikan gereja, sekali lagi, tak usah heran dengan mengetahui latar belakang sebagaimana disampaikan oleh buku ini. Secara sederhana, jika kepala daerahnya adalah dari PKS (lihat Bekasi dan Depok), maka penghalangan yang sangat kuat akan datang dari aparatnya. Dari kasus penikaman pelayan HKBP Pondok Timur Indah di Ciketing sangat jelas siapa yang bermain di sana. Meskipun polisi (direpresentasikan oleh Kapolda Metro Jaya dan Kapolres Bekasi) menyatakan bahwa kasus penikaman itu adalah kriminal murni (mungkin saja mereka di bawah pengaruh KGK atau “takut”, aku tidak tahu …), nyatanya siang tadi Ketua FPI Bekasi dinyatakan tersangka karena dugaan keterlibatannya dalam peristiwa memalukan tersebut.

Sangat kontradiktif dengan pernyataan pengurus pusat FPI yang tegas menolak keterlibatan ormasnya dalam peristiwa penikaman tersebut. Sudah semakin kelihatan peta keterlibatan KGK sebagai kaki tangan gerakan Islam transnasional di Indonesia. Ini adalah ancaman bahaya di pelupuk mata, bukan hanya mengancam kerukunan umat beragama, melainkan juga keutuhan bangsa dan negara.

Waspadalah!

Berkomunikasi dengan Arwah, ah … Apa Bisa?

Speak 2

Speak with the Dead

Konstantinos

Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2005

 

Mengejutkan dan sedikit menyesal. Itulah yang aku rasakan setelah usai melahap semua isi buku ini. Mengejutkan, karena ada buku seperti ini yang berusaha menguak misteri arwah setelah hari kematiannya sebelum benar-benar berangkat dan berdiam di surga. Bahkan menjanjikan untuk dapat berkomunikasi dengan arwah dimaksud, bahkan merekamnya dalam pita suara! Menyesal, setelah aku tahu belakangan bahwa ini adalah bagian dari upaya menyebarluaskan paham okultisme di kalangan masyarakat modern.

Menarik Sehingga Aku Seakan Tertarik ke dalam Dunia Arwah

Keputusan untuk membeli buku ini tidaklah serta-merta aku lakukan saat pertama kali melihatnya dipajang di rak toko buku tempat aku biasa berkunjung dan berbelanja. Hingga pada suatu saat, ketika waktuku sangat senggang sehingga punya kesempatan lebih banyak melihat-lihat buku yang ada. Dan setelah beberapa buku yang aku ”taksir” sudah aku masukkan ke dalam keranjang belanja untuk kemudian dibayar di kasir.

Tulisan sub-judul Tujuh Metode Komunikasi Arwah, terus terang, sangat menarik bagiku saat itu. Namun karena bukunya disampul rapat dengan plastik yang kuat – dan tidak ada buku contoh tanpa plastik sebagaimana buku lainnya – ”terpaksalah” aku membeli buku ini juga. Sampai di rumah, sempat aku lihat halaman-halaman awalnya, dan berlanjut dalam beberapa hari kemudian. Paragraf-paragraf awalnya memang sangat menggugah rasa ingin tahu karena teknik yang dilakukan sangat sederhana dan pasti berhasil. Semua orang bisa melakukannya, sehingga semua orang dapat berkomunikasi dengan arwah. Bahkan memilih berkomunikasi dengan orang tertentu, orang yang dikasihi, misalnya. Terus terang, saat sampai pada halaman-halaman yang menyatakan ini, pikiranku sempat terbawa kepada ide ”gila” yang pernah aku dengar lebih sepuluh tahun yang lalu, yaitu menemukan suara asli Yesus ketika masih melayani di muka bumi ini …

Pada suatu titik, rasa ingin tahuku berubah drastis sampai aku harus berhenti membacanya dengan perasaan rada ”kacau”, yakni saat aku menyadari bahwa ini mengarah kepada kepercayaan pada arwah orang-orang mati alias okultisme. Dan penegasan itu lebih kuat ketika aku mengakses pada alamat situs yang disediakan di http://www.konstantinos.com.

Ketika penulis menyebutkan (h. 19) bahwa kegiatan berkomunikasi dengan arwah ini bukanlah dosa (sambil menyitir ayat Alkitab pada Kitab Ulangan 18:10-11 yang menyebutkan tentang orang-orang berdosa, yakni peramal, tukang tenung, penyihir, pemantra, maupun orang-orang yang mengungkapkan masa depan dengan mendapatkan petunjuk dari arwah) aku belum terlalu terganggu. ”Oh iya, ada benarnya juga karena ada dasarnya dalam Alkitab”, gumamku dalam hati saat itu. Namun, pada penjelasan selanjutnya yang terkesan meragukan kebenaran ayat tersebut, aku mulai bercuriga. Dan puncaknya adalah ketika mengakses situs yang disediakan oleh Konstantinos, sang penulis, aku menjadi tersadar bahwa buku ini bukan buku ”biasa”.

Ketidakbiasaannya itu antara lain terlihat dalam pemahamannya yang mengesankan bahwa semua arwah akan masuk dalam surga. Hanya bergantung kepada kemampuannya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya yang baru. Menurutnya, di ”alam sana” ada tiga tahapan sebagai proses yang harus dilewati oleh arwah, yaitu ”tahap bawah”, ”tahap musim panas”, dan ”tahap-tahap yang lebih spiritual”. Masing-masing tahapan mempunyai karakteristik dan kesulitan tersendiri yang menuntut kemampuan arwah untuk beradaptasi lalu naik tingkat ke tahapan selanjutnya. Artinya, arwah tersebut masih memiliki kesempatan untuk selalu masuk sorga, tergantung pada kemampuan dan daya tahannya dalam mengatasi tantangan selama perjalanannya tersebut. Yang paling tinggi adalah laksana surga. Dihubungkan dengan kemampuan berkomunikasi dengan orang yang hidup di dunia, semakin tinggi tahapan tempat arwah berdiam maka semakin mudahlah berkomunikasi dengannya.

Ada Hal-hal Positif Juga …

Selain menantang iman percaya kita, buku ini juga ternyata mencantumkan hal-hal positif yang dapat dijadikan pedoman, terutama menyangkut kehidupan arwah. Antara lain disebutkan:

–        jangan berharap bahwa arwah itu akan membantu menjadikan kita pemenang dalam kehidupan

–        para arwah tidak memberikan pelayanan berdasarkan perintah, tetapi mereka memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan kepada kita: pesan-pesan penuh kasih, kata-kata yang menenteramkan, dan pengetahuan bahwa hidup kita akan berlanjut

–        para arwah tidak dapat membuat kita mengetahui masa depan

–        memiliki pengetahuan tentang arwah akan mampu menghindarkan kita dari tipuan medium palsu, misalnya pesulap dan mentalis

Akhirnya, motivasi kita adalah yang paling menentukan dalam menikmati bacaan ini. Sebagai sekadar pengetahuan sih, oke-oke saja … tetapi jika lebih daripada itu, sebaiknya pertimbangkan-ulang …

Alkitab dalam “Kepungan” Agama-agama Lain

Alkitab dan Org Berkepercayaan Lain (010709)

Alkitab dan Orang-orang yang Berkepercayaan Lain

Wesley Ariarajah

BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003          

Pendahuluan

Buku yang ditulis Ariarajah ini mengangkat topik yang sangat aktual yang berhubungan dengan konsep kehidupan pluralis yang tentu saja sangat relevan dengan masyarakat Indonesia saat ini. Pdt. Eka Darmaputera, Ph. D. selaku penerjemah menyambutnya dengan positif sambil mengingatkan bahwa buku ini tidaklah dimaksudkan sebagai jawaban, sebab jawaban itu harus kita temukan sendiri dan dari dalam konteks kita sendiri (h.x).

Penulis buku ini berusaha untuk mendengarkan berita Alkitab secara menyeluruh, dan secara Alkitabiah memikirkan masalah yang amat kontroversial tetapi juga amat penting bagi zaman kita ini. Masalah yang Alkitab sendiri tidak menyediakan jawaban siap-pakai sehingga harus mengungkapkan pemahamannya sendiri tentang bagaimana Alkitab harus ditafsirkan (h.xiii).

Sangat menarik membacanya, dan coba mendalami pemahaman yang disampaikan di dalamnya. Meskipun tidak memberikan suatu jawaban yang mutlak, Kelompok kami percaya bahwa bisa dijadikan referensi dalam membahas berbagai isu-isu kontroversial yang memang seringkali kita harus hadapi dalam kehidupan pluralis saat ini.

Tak Ada Allah Lain

Dimulai dengan pertanyaan yang menggelitik: apakah Allah itu satu. Artinya adalah sama dan tidak ada perbedaan antara Allah Kristen, dengan Allah agama-agama yang lain. Jika bertanya kepada beberapa orang, pastilah jawaban mereka akan berbeda dengan yang lainnya. Bukan karena perbedaan agama, bahkan bagi mahasiswa Program Magister Ministri STT Jakarta yang notabene adalah sesama Kristen, jawabannya bisa jadi akan berbeda.

Dalam sub-bab Awal dari Segala Awal, penulis menyatakan bahwa seluruh Alkitab berdiri di atas satu dasar yang kokoh: bahwa hanya ada satu Allah, tak ada yang lain. Tentang murtad, disebutkan sebagai percaya bahwa ada allah-allah lain, dan disembah (h.2). Itulah sebabnya mengapa Alkitab mulai dengan penciptaan, sebuah konsep dasar yang menyangkut hubungan kita dengan orang-orang yang berkepercayaan lain. Bukan penciptaan gereja, atau agama Kristen, bahkan Israel, melainkan penciptaan kosmos.

Dalam bagian selanjutnya disebutkan bahwa sifat perjanjian Allah adalah bersifat semesta, jadi tidak mengikat hanya suatu bangsa (Israel saja, meskipun diklaim sebagai ‘umat pilihan’). Implikasi logis ajaran Alkitab tentang Allah sebagai pencipta adalah, bahwa Ia adalah pencipta semua orang – apapun agamanya – dan pemelihara semua makhluk. Tidak ada Allah Kristen, Allah Hindu, atau Allah muslim; yang ada hanyalah pemahaman Kristen, Hindu, dan Muslim tentang Allah – atau penyangkalan bahwa Allah benar-benar ada oleh mereka yang tidak mau percaya. Ajaran Alkitab ialah bahwa tidak ada dua allah, hanya Allah. Tidak mungkin ada allah lain.

Tentang agama, disebutkan bahwa agama-agama tidaklah sama. Namun betapa pun berbeda, bagi pemeluknya masing-masing memiliki kadar kesahihan dan kebenaran yang luar biasa. Dan di dalam diri masing-masing agama, sama-sama terdapat unsur-unsur demonis pula (h. 15). 

Dua Perjumpaan

Pada bagian kedua ini dibahas kisah tentang orang-orang yang mempuyai kepercayaan berbeda. Kisah pertama adalah tentang Yunus. Ketika Yunus dipanggil oleh Allah untuk pergi ke kota Niniwe dan berbicara kepada penduduk kota besar itu, ia memutuskan untuk pergi ke arah yang berlainan untuk menghindari tugas. Niniwe adalah ibu kota dari kerajaan besar Asyur, musuh bebuyutan Israel, dan yang berkepercayaan lain dari Israel. Untuk alasan-alasan tertentu, Yunus tidak mau melibatkan diri. Selanjutnya kapal Yunus diterpa badai dan Yunus ditelan oleh ikan besar dan dimuntahkan ke pantai. Kembali ia diutus oleh Allah untuk pergi ke Niniwe, untuk memperingatkan penduduknya tentang hukuman yang menanti oleh sebab kejahatan kota itu. Kali ini Yunus taat. Ia menyampaikan berita: Tuhan telah mengambil keputusan untuk menghancurkan kota itu oleh karena kejahatannya. “Empat puluh hari lagi maka Niniwe akan ditunggangbalikkan”.

Kemudian terjadilah sesuatu yang tidak pernah Yunus harapkan. Penduduk Niniwe memutuskan untuk berpuasa dan semua orang mengenakan pakaian berkabung dan berdoa untuk memperoleh pengampunan. Raja Niniwe juga menyerukan agar semua orang berbalik dari tingkah lakunya yang jahat. Raja itu benar. “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, …. maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkannya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya”. (3:10). Namun Yunus menjadi marah akan hal ini. Ia berdoa dengan marah kepada Tuhan dan dalam kemarahannya ia minta Tuhan mencabut saja nyawanya. Dalam cerita ini Yunus lebih mengungkapkan karakter manusia dari pada sikap seorang nabi. Yunus mewakili persepsi dan pemahaman religius tertentu tentang orang-orang yang berkepercayaan lain.

Kemarahan Yunus terletak pada 3 hal. Pertama, ia tidak mengharapkan pertobatan orang-orang Niniwe. Baginya mereka itu sudah tidak mungkin lagi bertobat. Oleh karena itu ia tidak menyerukan agar mereka berhenti dari perbuatan jahat mereka. Ia hanya memberitakan tentang kehancuran yang menanti. Kedua, ia tidak mengharapkan Allah untuk memberikan tanggapan begitu cepat dan begitu mudah, dengan begitu mempermalukan nabi penghukuman yang Allah sendiri utus.

Ketiga, Yunus curiga bahwa sejak awal Allah memang tidak dapat dipercaya. Ia sebenarnya tidak ingin terlibat. Ia dipaksa dan kemudian dipermalukan. Kitab Yunus dimaksudkan untuk melukiskan kedaulatan Allah yang mutlak atas seluruh ciptaan. Allah yang rahmani dan mengasihi, yang lebih suka mengampuni dari pada menghancurkan. Bahwa rahmat dan kasih Allah tidak terbatas kepada bangsa-bangsa atau orang –orang tertentu.

Kisah kedua adalah mengenai perjumpaan antara Petrus dan Kornelius, seorang perwira pasukan Romawi. Kornelius adalah seorang yang “takut akan Allah”, sebuah istilah bagi seorang bukan Yahudi yang mempunyai minat yang aktif terhadap Taurat dan menaruh hormat kepada Allah orang Israel. Kornelius mendapat sebuah penglihatan. Ia disuruh oleh malaikat Allah menjemput Simon Petrus seorang penyamak kulit yang sedang berada di Yope. Kornelius mengutus tiga orang untuk mengundangnya datang ke rumahnya di Kaisara.

Sementara itu, Petrus naik ke atas rumah untuk berdoa. Ia juga mendapat penglihatan yang aneh. Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung. Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!”. Tetapi Petrus menjawab : “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah memakan sesuatu yang haram dan tidak tahir”. Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram”. Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.

Kornelius yang tengah mengutus orang untuk menjemput Petrus, adalah seorang “kafir”. Biasanya Petrus tidak akan pernah mau memasuki rumah atau makan bersama orang kafir. Petrus menyatakan hal ini ketika ia masuk ke rumah Kornelius. Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau kafir. (Kis 10:28).

Cerita ini diletakkan di dalam konteks pertobatan Kornelius. Namun dalam banyak hal, ia juga merupakan cerita pertobatan Petrus. Pertama, Petrus belajar bahwa hukum-hukum agama yang dilahirkan oleh tradisi-tradisi agama tidak dapat membatasi tindakan Allah. Hukum-hukum itu memang memberikan identitas, kesatuan dan makna bagi persekutuan religius tertentu. Banyak di antaranya lebih banyak dibentuk oleh kebutuhan kultural serta historis tertentu, ketimbang pemahaman yang mendalam tentang Allah dan tentang hubungan Allah dengan manusia. Masalah yang sesungguhnya mulai, ketika hukum-hukum tersebut diberi kesahihan yang bersifat universal, dan dipegangi sebagai batas-batas kegiatan Allah sendiri. Pada satu ketika, ada upaya untuk membatasi tindakan penyelamatan Allah di dalam batas-batas gereja, dengan menekankan bahwa “tidak ada keselamatan di luar gereja”. Kedua, bahwa Allah tidak membutuhkan “saluran” untuk mencapai manusia. Allah dapat mencapainya secara langsung, maka orang itu pun berada di dalam hubungan dengan Allah.

Di dalam kisah Kornelius kita diberitahu, bahwa Allah mendengar doa Kornelius dan menyukai perbuatan-perbuatan amalnya. Memang benar Kornelius kemudian menjadi murid Yesus. Namun jauh sebelum ia mendengar tentang Kristus, ia sudah berada dalam hubungan dengan Allah. Petruslah yang justru harus belajar tentang kebenaran itu. Samasekali tidak pernah terpikirkan oleh Petrus, bahwa Allah berkomunikasi begitu langsung dengan seseorang yang berada di luar agama Yahudi. Dan yang hidup keagamaannya tidak dapat diterima dari pandangan agama Yahudi.

Yesus Satu-Satunya Jalan?

Pemahaman yang menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan dan bahwa seorang dapat masuk ke dalam keselamatan itu, hanya melalui iman kepada Yesus. Pemahaman seperti itu lebih diperkokoh lagi oleh apa yang biasanya disebut ayat-ayat eksklusif di dalam Alkitab, yang menampilkan Yesus sebagai jalan yang unik dan satu-satunya kepada Allah dan keselamatan (Yoh 3; 16,18; Yoh 14 : 5-6; Kis 4 : 11-12; Ibr 10 : 9-10; I Tim 2 : 3-6). Klaim-klaim dan pemahaman-pemahaman di atas, yang disajikan dalam bentuk kebenaran-kebenaran mutlak hanya akan menghasilkan keterasingan dan menutup jalannya dialog. Ia tidak hanya merupakan “batu sandungan” tetapi benar-benar penghalang yang diletakkan di jalan orang lain, yang akan mencegah mereka mengenal Yesus yang hidupnya ditandai pemberian diri.

Kata “satu-satunya” dipakai berulang-ulang. Satu-satunya Juruselamat, satu-satunya Injil, satu-satunya Allah-manusia, satu-satunya tebusan, satu-satunya pengantara. Tekanan diberikan kepada penegasan bahwa tidak ada nama lain melalui mana orang diselamatkan. Ini adalah sungguh sebuah cara penafsiran yang eksklusif tentang pemahaman Alkitab mengenai universilitas.

Apabila kita mempelajari Injil-injil Sinoptik, yaitu Matius, Markus dan Lukas, maka kita akan melihat Yesus yang sedikit banyak berbeda daripada Yesus yang ditampilkan oleh Yohanes. Fakta yang paling mencolok di dalam sinoptik adalah hidup Yesus yang betul-betul berpusat pada Allah. Ia tidak pernah menyebut diriNya sendiri Anak Allah, tetapi Anak Manusia. Bahkan lebih penting lagi, Yesus melihat fungsinya yang utama adalah sebagai pemula bagi Kerajaan Allah (Markus 1 : 14-15; Lukas 11 : 20). Yesus memberitakan pengampunan yang mengiringi kedatangan Kerajaan Allah, memanggil orang untuk bertobat, serta menantang mereka dengan sebuah pemahaman etis yang amat dalam tentang hubungan antara Allah dan manusia, dan antara manusia dengan sesamanya. Allah-lah yang menawarkan kehidupan bagi semua orang yang masuk ke dalam Allah dan terarah kepada Allah. Di dalam lingkungan sinoptik, akan terasa amat ganjillah, bila Yesus mengatakan : “Aku dan Bapa adalah satu,“ atau “Akulah jalan kebenaran dan hidup.“ Di dalam sinoptik, nampaknya tidak ada klaim tentang keilahian atau kesatuan dengan Allah. Yang ada ialah tantangan untuk menjalani kehidupan yang sepenuhnya tertuju kepada Allah.

Yang mesti kita ingat adalah, bahwa semua itu adalah pernyataan iman mengenai Yesus Kristus. Kita mengambil makna itu dalam konteks iman, dan oleh karena itu tidak mempunyai arti apa-apa di luar persekutuan iman. Konteks yang benar untuk memahami klaim-klaim bahwa Kristus adalah jalan satu-satunya, juru selamat satu-satunya, pengantara yang esa, dan sebagainya, itu dibuat dalam bahasa iman, dan harus dipahami dalam konteks komitmen iman gereja.

Suatu Dasar Alkitabiah Untuk Dialog?

Hakekat Allah adalah kasih. Yaitu bahwa Allah menghubungkan diri dengan manusia di dalam kasih (Mat 5: 45), Ia menandai seluruh hidup-Nya dan berita-Nya dengan keterbukaan dan penerimaan-Nya yang penuh sebab Injil bukanlah sebuah berita penolakan. Ia adalah sebuah berita penerimaan. Di dalam pengertian ini, inkarnasi adalah dialog Allah dengan dunia. Ia merupakan perwujudan tentang bagaimana Allah selalu bersama dengan umat manusia.

Semua itu ingin mengatakan, bahwa dialog antar-kepercayaan adalah didasarkan pada penerimaan, yang merupakan jantung dari berita Injil. Penerimaan yang tidak menuntut, tetapi memberi diri sendiri. Ia merupakan kemampuan untuk menerima yang lain di dalam ke”lain’an mereka. Bila kita tidak dapat menerima orang lain sebagai anak-anak Allah kecuali mereka percaya apa yang kita percayai, maka kita telah tidak bertindak atau berbicara dari berita Injil. Bila kita berkata, bahwa mereka yang tidak percaya kepada Kristus dan tidak termasuk di dalam persekutuan Kristen itu berada di luar pemeliharaan dan kuasa Allah yang menyelamatkan, maka kita telah berbicara tentang Allah yang bukan Allah dari Yesus Kristus.

Penolakan orang Kristen terhadap Hinduisme, Budhisme dan Islam, oleh karenanya sama sekali tidak boleh disamakan dengan tantangan Yesus kepada tradisi agama pada jaman-Nya. Yesus sendiri adalah bagian dari agama itu, Ia seperti nabi-nabi lain yang mendahului-Nya, menantang tradisi-Nya sendiri agar supaya setia kepada panggilannya yang sejati. Oleh sebab itulah, Ia dipandang sebagai guru dan nabi oleh bangsa-Nya.

Tentu saja kita tidak tahu, apakah yang kira-kira Yesus akan katakan tentang tradisi-tradisi agama “lain”! Catatan Injil yang tidak banyak tentang perjumpaan Yesus dengan orang –orang yang berada di luar Yudaisme, tidak menolong kita untuk mengambil kesimpulan. Namun ada beberapa kasus, dimana Yesus merasa heran ketika menemukan, bahwa yang disebut “orang luar”, seperti perempuan Kanaan itu, ternyata lebih responsif terhadap ajaran-Nya daripada banyak orang sebangsanya (Mat. 15 : 21-28).

Yesus berada dalam dialog dengan tradisi agama-Nya sendiri. Ia meng”ia”kannya, tetapi juga menantangnya bila ia menyeleweng  dari maksud dan tujuan yang sebenarnya. Ia mempunyai persepsi yang baru tentang maksud Allah bagi hidup manusia, Ia mewujudkan persepsi itu melalui seleuruh sikap yang menunjukkan keikutsertaan dan keterlibatannya di dalam tradisi agama-Nya sendiri.

Dialog juga menyangkut upaya untuk mampu melihat. Panggilan untuk mampu melihat adalah sesuatu yang sentral di dalam berita yang disampaikan oleh Yesus. Dan bagaimanakah kita akan mampu melihat, bika kita tidak bersedia  untuk mendengar dan belajar dari apa yang Allah lakukan dalam hidup orang-orang lain. Dialog dapat menjadi suatu pertalian, dimana orang-orang Kristen mampu melihat serta merayakan pemerintahan Allah yang sungguh-sungguh universal atas seluruh kehidupan.

Dengan kata lain, bahwa berita yang sentral dari Alkitab adalah amat dialogis. Sungguh disayangkan, bahwa banyak dari sikap kita terhadap kepercayaan-kepercayaan lain diperkembangkan hanya dari ayat-ayat Alkitab yang ekslusif, dan tidak dari beritanya yang sentral itu. Kita berada di dalam dialog, justru oleh karena Allah kita adalah Allah yang dinyatakan oleh Yesus kepada kita, dan kita percaya kepada kasih Allah yang merangkul seluruh umat manusia.

Orang-orang Kristen sesungguhnya tidaklah terpanggil oleh Alkitab untuk membuat klaim-klaim tetapi untuk membuat satu komitmen yang membukakan hidup mereka bagi orang-orang lain. Dan orang-orang lain itu juga mempunyai komitmen mereka. Jadi, dialog adalah ajang perjumpaan antar komitmen. Di dalam perjumpaan inilah, orang dapat melihat dan mendengar kesaksian yang saling ditawarkan. 

Kesaksian dan Dialog

Dalam kesaksian belum tentu ada dialog tapi dalam dialog pasti juga berlangsung kesaksian, maksudnya didalam dialog setiap pihak harus mengalami apa yang dialami pleh tiap-tipa orang yang berdialog.

Apa yang dilakukan oleh murid-murid Yesus pada masa itu ialah memberi kesaksian tentang apa yang mereka ketahui dan alami mengenai Yesus yang di tolak, di salibkan namun telah bangkit, dalam kesksian tersebut juga berlangsung dialog dan itu mencakup berbagai kehidupan masyarakat oleh karena itu penting sekali untuk mengenal akan situasi ketika di langsungkan kesaksian maupun dialog.

Contoh dalam buku ini ialah bagaimana Paulus bersaksi dan berdialog ketika berada di tengah-tengah orang yang berkepercayaan lain seperti di Atena dimana ia bersaksi dan berdialog dimulai dengan apa yang dipahami oleh orang-orang yang mendengarnya artinya situasinya berbeda dengan ketika dia berhadapan dengan bangsanya sendiri. Oleh karena itu kita perlu melihat konteks situasi, waktu dan kehidupan kita bersama-sama dengan orang yang berkepercayaan lain.

Bersaksi dalam Berdialog

Dalam buku ini penulis memberi contoh tentang berhadapan dengan penganut agama Hindu, baginya bersaksi bukanlah sesuatu tindakan untuk melakukan pemaksaan agar orang yang mendengar kesaksian tersebut lantas berubah agamanya, berubah namanya dan berubah budayanya, tetapi bagaimana ia memahami dan mengenal Kristrus melalui pemahaman dirinya sendiri seperti juga murid-murid memahami Yesus dengan pemahaman yang mereka miliki.

Penting ketika kita bersaksi ialah bagaimana memahami apa yang kita saksikan kepada orang lain dan sekaligus juga memahami akan orang yang mendengar kesaksian kita, karena kesaksian Kristen harus bersifat membangun hidup bersama.

Kesaksian yang kita berikan harus lahir dari kehidupan spiritualitas kita yang dalam tanpa pemaksaan tetapi hanya dengan kerendahan hati, namun tidak berarti lantas kita tertutup untuk mendengar kesaksian yang mereka sampaikan kepada kita karena dengan demikian akan berlangsung juga dialog dalam kehidupan satu dengan yang lain, karena hubungan yang terbuka dan tulus dengan orang yang hidup dalam tradisi dan kepercayaan yang lain sama sekali tidak bertentangan dengan iman Kristen.

Menuju Suatu Teologi Dialog

Cara baru untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda kepercayaan, dengan memberikan tekanan kepada bagian-bagian dari Alkitab dan tujuan dalam teologi dialog, bukanlah untuk memenangkan atau mengalahkan sesuatu, tetapi yang diharapkan menunjukkan bahwa ada sisi lain yang menurut pandangan sentral dari sudut jiwa berita Alkitab – yang mendukung dan mengundang kita kepada suatu yang hidup berdialog. Semua pandangan selalu didasarkan pada pendekatan Alkitabiah yang selektif, misalnya seperti sikap Kriaten terhadap perang, Keterlibatan Kristen dalam politik, atau mengenai wanita dalam gereja dan masyarakat – untuk menyadari Alkitab dapat didekati dengan bermacam cara. Situasi sejarah gereja telah membentuk/mengubah bagaimana bagian Alkitab harus dipilih, ditafsirkan dan diterapkan di dalam hidup sehari-hari.

Tantangan Kemajemukan Agama  

Gereja diperhadapkan kepada situasi yang baru secara hakiki. Sebelumnya kontak dengan agama-agama lain mempunyai dampak yang memperkaya dan memperluas iman Kristen. Gereja mempunyai pemahaman diri yang atas dasar ini ia menolak untuk memandang kepercayaan lain itu dengan serius. Teologi gereja untuk melayani misiologinya. Teologi dan filsafat agama yang lahir dari tradisi gereja pada akhirnya selalu bersifat apologetis. Mereka selalu menunjukkan mengapa iman kristiani itu superior terhadap kepercayaan-kepercyaan lain. 

Sekarang kita berhadapan dengan situasi yang sungguh baru, dan penting sekali untuk mencatat beberapa ciri khas dari babakan baru sejarah manusia:

 1.  Tradisi agama lain telah pulih kembali dari penaklukan kolonial mereka, dan menampilkan diri sebagai alternatif yang universal bagi kepercayaan Kristen.

2. Ada kebangkitan kembali agama, ada vitalitas baru, tekad missioner yang baru.

3. Kemajemukan agama telah menjadi realitas pada setiap masyarakat; Di dalam segala situasi kehidupan, kelompok di dalam masyarakat memerlukan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan menikmati hasilnya bersama-sama pula.

4. Telah bertumbuh kesadaran tentang kekayaan yang terdapat pada kepercayaan-kepercayaan lain. Kini Kristen menaruh minat terhadap meditasi Buddha dan Yoga Hindu. Dulu Islam dianggap sebagai saingan, kini bertumbuh minat yang besar terhadap pemahaman Islam tentang masyarakat dan doa.

Menuju sebuah Pendekatan Teologis yang Teosentris

Banyak suara kecaman terhadap kristomonisme dari teologi Protestan, adalah merupakan kelemahan teologi Protestan dalam menghadapi kemajemukan agama. Seperti ayat eksklusif dari Alkitab sebagai pernyataan kebenaran: “Tidak seorang pun tiba kepada Bapa, kecuali melalui Aku”, dan “Tidak ada nama lain di dalam mana keselamatan diberikan”. Pemahaman ini adalah menghimbau mereka untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan mereka. Hal ini merupakan koreksi kita yang akan memampukan kita untuk hidup di dalam dunia yang majemuk, dengan tanpa menyangkali panggilan kita yang khas, dan sekaligus memberi dasar teologis bagi kehidupan dan pengalaman orang-orang lain.

Meninjau Ulang Kristologi

Kristologi yang kita miliki dalam Alkitab adalah petunjuk jalan. Ia menunjukkan bagaimana murid-murid yang pertama dan para rasul bergumul untuk memahami makna Kristus di dalam kehidupan dan jaman mereka. Di dalam konteks yang baru dari kemajemukan agama, kita tidak dapat mengabaikan tanggung jawab kita untuk melanjutkan pergumulan ini. Saksi-saksi di dalam Alkitab kita meletakkan tugas ini di atas bahu kita.

Pemerintahan Allah dan Misi Allah

Kesulitan kita menghadapi kemajemukan agama kebanyakan bersangkutpaut dengan teologi yang ecclesio-sentris (berpusat kepada gereja). Tahapan sejarah yang mengatakan “Tidak ada keselamatan di luar Kristus” telah berubah menjadi “Tidak ada keselamatan di luar gereja” karena hal ini telah mengganggu dan merusak hubungan gereja dengan orang-orang yang berkepercayaan lain. Situasi baru menuntut upaya yang lebih keras memulihkan kerajaan atau pemerintahan Allah sebagai fokus dari teologi Kristen. Tugas yang paling penting untuk memahami kembali konsep tentang “Misi Allah” sebagai dasar dari hubungan kita dengan orang-orang lain. Kita sebagai Kristen hanyalah sebagian dari misi Allah yang lebih luas, akan memampukan kita bergandengan tangan dan bekerja sama dengan orang yang berkepercayaan lain dengan secara lebih sadar.

Teologi yang kita butuhkan adalah teologi “yang lebih setia kepada Allah, yaitu dengan lebih bermurah hati dan lebih terbuka, sebuah teologi yang lebih mengasihi sesama dengan lebih bersahabat dan mau mendengar, sebuah teologi yang tidak memisahkan kita dari sesama manusia kita tetap menopang kita dalam pergumulan dan pengharapan bersama. Ketika kita hidup bersama sesama kita, apa yang kita butuhkan sekarang adalah, sebuah teologi yang menolak untuk menjadi teologi yang selalu dapat mematahkan setiap serangan, tetapi sebuah teologi yang, di dalam semangat Kristus, bersedia dan mau untuk berada dalam situasi yang rawan dan mudah diserang”

Refleksi Teologis     

Kita dapat dan harus menyambut baik suatu masyarakat yang majemuk karena dia memberikan kita suatu jangkauan pengalaman dan keberagaman yang lebih luas dari tanggapan-tanggapan manusia terhadap pengalaman, dan karena itu merupakan kesempatan-kesempatan yang lebih kaya untuk menguji kecukupan iman kita daripada yang dapat diperoleh dari corak saja. Sebagaimana kita harus mengaku Yesus di dalam suatu masyarakat yang majemuk dan sebagaimana Gereja bertumbuh melalui kedatangan orang-orang yang datang dari banyak tradisi kebudayaan serta keagamaan yang berbeda-beda untuk beriman kepada Kristus, kita dimampukan untuk lebih mempelajari betapa panjang dan lebarnya dan tingginya dan dalamnya kasih Allah (Efesus 3: 14-19).

Alkitab – dalam beberapa prinsip yang tercantum di dalamnya – mengenal semangat dialog, yang juga termasuk di dalamnya adalah dalam hubungannya dengan orang-orang yang berkepercayaan lain. Hal ini bisa dilihat dari keesaan Allah sebagai pencipta langit dan bumi (Kejadian 1:1, Mazmur 24:1, dan 104:24-30). Perjanjian-Nya bersifat semesta, tidak eksklusif pada bangsa-bangsa tertentu dan golongan-golongan tertentu. Dinyatakan melalui penciptaan dan kejatuhan Adam, perjanjian dengan Nuh, dengan Abraham, lalu penciptaan baru dan penebusan oleh Yesus Kristus (1 Petrus 2:9-10, dan 2 Korintus 5).

Kenyataan-kenyataan tersebut bisa dijadikan sebagai pendekatan dalam melakukan dialog dengan orang-orang yang berkepercayaan lain. Beberapa ayat yang bisa dirasakan sebagai bukti tentang eksklusivisme (misalnya Yohanes 3:16; 1 Timotius 2:3-6; Matius 28) sebaliknya dipahami di dalam konteks iman gereja karena dibuat dalam bahasa iman.   

Masyarakat dunia kita terpecah-pecah  menjadi banyak bagian yang saling bermusuhan, yang kaya tidak hidup dalam impian yang miskin; penganut ideologi kanan tidak mau mengerti penganut ideologi kiri. Umat manusia telah membangun umat manusia yang berbahaya. Agama-agama juga ikut mengakibatkan perpecahan masyarakat dunia. Dengan dialog kita dapat berbuat sesuatu guna mempertahankan sendi-sendi masyarakat dunia dari kehancuran lebih jauh, maka hanya dengan pertobatan yang dialogis yang diperlukan untuk tugas raksasa ini. Para ilmuwan dan teolog umat beragama dipaksa menilai ulang konsep-konsep yang berhubungan antara Allah, manusia dan alam. Akhirnya kita menyadari bahwa Allah tidak menyukai dogmatisme dan eksklusivisme.

Alkitab harus dipandang sebagai terang atau pelita yang memancarkan cahaya ke atas kehidupan orang-orang Kristen. Ketika mereka mencari bagaimana harus hidup bersama dengan orang-orang kepercayaan lain, ada Alkitab sebagai jawabannya karena di dalam Alkitab berisi pemahaman-pemahaman tentang Allah dan cara-cara Allah yang bekerja lebih terbuka, lebih murah hati dan lebih inklusif dan bahkan lebih dari yang kita sadari. Di dalam Alkitab, terdapat satu ajaran yang akan membebaskan kita dari diri kita sendiri dan memampukan kita untuk hidup bersama-sama dengan yang lain di dalam satu masyarakat.