Oh, Parhalado … Oh, Buku “Impola ni Jamita” …

Sudah beberapa kali berulang, namun saat sermon parhalado Jum’at 30 Mei 2014 yang lalu aku sudah harus menyampaikan apa yang “mengganjal di hati”: “Aku perhatikan, hampir setiap kali selesai pembahasan perikop Epistel untuk dikhotbahkan di partangangan wejk selalu ada waktu yang terbuang karena ‘nggak ada seorang pun yang mengajukan pertanyaan atau komentar atau tanggapan atas materi yang sudah disiapkan oleh sintua yang mendapat giliran sebagai penyaji bahan sermon. Malam ini bahkan sudah dua kali diajukan pertanyaan oleh pendeta kepada kita semua untuk bertanya namun tak seorang pun yang bertanya. Sudah lewat lima belas menit, dan kita semua terdiam …”.

Yang bertanya biasanya “yang itu-itu aja” penatuanya. Aku adalah satu di antaranya yang sedikit. Malam itu aku “segan” untuk bertanya karena memang bahan yang disajikan sangat jauh melenceng dari perikop yang dibahas. Perikopnya adalah Mazmur, namun hanya satu paragraf yang ‘nyambung dengan perikop tersebut (dan untuk hal ini beberapa penatua sudah “bersungut-sungut” …).

Lalu aku sambung lagi, “Sayang sekali waktu kita terbuang karena harus menunggu semua orang untuk membaca-ulang dan mencoba memahami isi materi yang disampaikan. Kalau begini keadaannya, ‘kan sayang sekali usaha yang dilakukan oleh penatua penyaji dalam mempersiapkan bahannya menjadi kurang berguna karena kurang ditanggapi untuk memperkaya bahan yang sudah disajikan. Kenapa kita ‘nggak memakai saja buku Impola ni Jamita yang dari Kantor Pusat HKBP yang penulisnya terdiri dari para pendeta dengan gelar yang hebat-hebat. Tiap tahun kita menghabiskan dana untuk membeli buku ini, namun lihatlah apa ada yang membawanya setiap kali marsermon? ‘Gimana kawan-kawan penatua, tolong berikan tanggapan karena aku tahu banyak dari antara kita sebenarnya kesulitan dalam mempersiapkan bahan sermon ini. Biasanya aku butuh lebih dari tiga minggu untuk mencari bahan dan membuat tulisan kalau aku dapat giliran bertugas membuatnya. Dan juga kita perlu mewaspadai jangan sampai berdusta, misalnya dengan membuat tulisan yang jelas-jelas kita ambil utuh dari sumber lain namun menuliskan nama kita sendiri sebagai penulisnya.

Kemudian ada komentar dari beberapa sintua dan pendeta:

(1) Ini sudah kesepakatan bersama

(2) Permintaan penatua membuatkan bahan sermon adalah sebagai salah satu cara untuk “memaksa” penatua dalam meningkatkan kemampuannya dalam menulis dan menyiapkan bahan khotbah (cita-cita yang “mulia”  ini menggelikan bagiku melihat faktanya selama ini bahwa hampir 100% penatua yang merasa ‘nggak berbakat dalam menulis dan berkhotbah melakukan hal ini secara terpaksa tanpa melihat konsekuensi lainnya …)

(3) Keputusan diserahkan kembali kepada masing-masing penatua, apakah akan tetap menulis bahan sermon seperti yang sudah berjalan selama ini (dengan kondisi yang jelas-jelas tidak terlalu positif …) atau menggunakan buku Impola ni Jamita saja tanpa harus membuatkan tulisan lainnya.

Langsung saja aku men-declare bahwa untuk sermon parhalado Jum’at, 20 Juni 2014 aku akan menggunaan buku Impola ni Jamita sebagai bahan diskusi, sekaligus mengingatkan kawan-kawan penatua untuk membawanya pada hari itu. Dan paling penting: sudah dibaca sebelumnya di rumah sehingga bisa punya waktu lebih banyak untuk berdiskusi.

Iklan

Bahan Sermon Minggu Judika

Khotbah 06 April 2014 Minggu Judika

Mulak mangolu ala hata ni Debata/Dipahehe Jahowa do hita asa unang mandate

Keinginan Daging atau Roh? Pilihlah Hidup!

Evangelium Yehezkiel 37:1-14 (bahasa Batak Hesekiel)

Kebangkitan Israel

37:1 Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang.

37:2 Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering.

37:3 Lalu Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!”

37:4 Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!

37:5 Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali.

37:6 Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”

37:7 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain.

37:8 Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas.

37:9 Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.”

37:10 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar.

37:11 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.

37:12 Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel.

37:13 Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya.

37:14 Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN.”

Epistel Roma 8:6-11

8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

8:7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.

8:8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

8:9 Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.

8:10 Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.

8:11 Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

Hidup Adalah Pilihan!

Demikianlah salah satu semboyan yang seringkali kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Maksudnya – baik dalam konotasi positif, maupun negatif – mengajarkan bahwa apapun yang kita jalani dalam kehidupan ini adalah merupakan pilihan atau kombinasi pilihan yang sudah dilakukan. Tidak mudah memang dalam menjatuhkan pilihan, karena setiap pilihan akan datang dengan konsekuensi dan resiko masing-masing.

Hal yang sama akan menghampiri kita manakala membaca nas perikop Minggu Judika ini, baik Ev maupun Ep; namun pada akhirnya kita diarahkan untuk memilih kehidupan.

Eksegese Nas Perikop

Nas : Yehezkiel 37:1-14

Melalui Roh Kudus Yehezkiel melihat di dalam penglihatan suatu lembah penuh tulang. Tulang-tulang tersebut melambangkan “seluruh kaum Israel” (Yeh 37:11), yaitu Israel dan Yehuda dalam pembuangan, yang harapannya telah punah ketika tersebar di antara orang asing. Allah memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat kepada tulang-tulang itu (Yeh 37:4-6). Tulang-tulang itu kemudian dibangkitkan dalam dua tahap:

  1. suatu pemulihan politis kembali ke negeri itu (ayat Yeh 37:7-8), dan
  2. pemulihan rohani kepada iman (ayat Yeh 37:9-10). Penglihatan ini diberikan untuk meyakinkan para buangan bahwa mereka akan dipulihkan oleh kuasa Allah dan menjadi masyarakat yang hidup di tanah perjanjian lagi kendatipun keadaan mereka sekarang kelihatanya suram (Yeh 37:11-14).

Karena partangiangan wejk kita menjadikan nas Ep sebagai bahan khotbah, maka pembahasannya akan lebih banyak memberikan porsi kepada surat Paulus kepada jemaat Roma, yakni Roma 8:6-11.

Nas : Roma 8:5-14

Paulus menguraikan dua golongan orang: mereka yang hidup menurut daging (tabiat berdosa) dan mereka yang hidup menurut Roh.

  1. Hidup “menurut daging” berarti mengingini, menyenangi, memperhatikan, dan memuaskan keinginan tabiat manusia berdosa. Ini meliputi bukan saja kedursilaan seksual, perzinaan, kebencian, kepentingan diri sendiri, kemarahan, dan sebagainya (Gal 5:19-21), tetapi juga percabulan, pornografi, obat bius, perjudian, mabuk-mabukan,dan lain-lain.
  2. Hidup “menurut Roh” ialah mencari dan tunduk kepada pimpinan dan kemampuan Roh Kudus dan memusatkan pikiran pada hal-hal dari Allah
  3. Mustahil untuk mengikuti hukum daging dan pimpinan Roh pada saat yang bersamaan (Rom 8:7-8Gal 5:17-18). Jikalau seorang gagal melawan keinginan dosa dengan pertolongan Roh dan sebaliknya hidup menurut hukum daging (Rom 8:13), dia menjadi seteru Allah (Rom 8:7Yak 4:4) dan dapat menantikan kematian rohani yang kekal (ayat Rom 8:13). Mereka yang terutama mengasihi dan memperhatikan hal-hal dari Allah dalam hidup ini dapat mengharapkan hidup kekal dan hubungan dengan Allah (Rom 8:10-11,15-16).

Refleksi/Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Tidak mudah, bahkan sangat sulit untuk selalu hidup di dalam Roh dan meninggalkan sama sekali keinginan daging. Tubuh jasmani kita yang sudah sangat dipengaruhi oleh dosa, sangat sulit untuk begitu saja bertransformasi kepada kehidupan yang dikuasai oleh Roh. Butuh penyesuaian dan pembentukan yang terus-menerus agar bisa benar-benar sampai kepada kondisi tersebut. Nah, hal yang sangat sulit tersebut dapat diatasi dengan pertolongan Roh yang ada di dalam diri kita, yakni Roh Kudus.

 Roh Kudus dimiiki oleh setiap orang yang sudah menerima Kristus sebagai juru selamatnya. Dan Dia selalu berada di dalam diri setiap orang tersebut. Oleh sebab itu, kita menolak ajaran yang mengatakan bahwa Roh Kudus harus terlebih dahulu diundang agar datang dalam diri seseorang, ataupun diundang untuk hadir dalam ibadah atau persekutuan. Dengan memilih jalan bersama Roh Kudus, maka kita akan beroleh hidup yang sebenarnya, dan bolehlah pula berharap akan kehidupan kekal yang sangat didambakan oleh setiap orang percaya. Sebagaimana Kristus sudah dibangkitkan dari kematian, orang-orang percaya juga akan mengalami hal yang sama dengan iman pada kebangkitan.

 Karena salah satu fungsi Roh di dalam diri orang percaya adalah sebagai pendorong (sering dianalogikan sebagai “angin” atau “udara”), maka sebagai warga jemaat HKBP Immanuel Kelapa Gading kita sebenarnya punya Roh yang memampukan kita untuk tidak lagi melakukan pelayanan dan mengikuti pelayanan pada tingkatan “sekadar”. Misalnya, sekadar menjadi warga jemaat, sekadar menghadiri ibadah Minggu dan partangiangan wejk, sekadar ikut dalam kegiatan kategorial, bahkan sekadar memberikan persembahan dan persepuluhan. Dan sebagai pelayan jemaat, misalnya sekadar maragenda, sekadar menyampaikan firman, bahkan sekadar marsermon. Jika tidak dilakukan dalam Roh, ada kecenderungan dan bahkan potensi bahwa semua pelayanan yang seolah-olah dilakukan untuk Tuhan tersebut, ternyata pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan daging.

Waspadalah! Pilihlah hidup dalam Roh supaya mendaptkan hidup yang sesungguhnya.

Slaid (Slides) Khotbah di RNHKBP: Set Your Goal!

Menggantikan penatua yang berhalangan, Sabtu (22 Maret 2014) yang lalu aku menyampaikan bahan renungan di persekutuan Remaja dan Naposobulung HKBP. Memenuhi permintaan kordinator RNHKBP untuk membawakan renungan sesuai topik bulanan mereka – yakni Set Your Goal! – yang berarti berbeda dengan nas perikop Almanak, aku pun menyiapkan bahan yang sesuai.

Dijadwalkan jam tujuh malam – dan aku juga datang sebelum jam tujuh setelah mengingatkan kordinator ibadah untuk tepat waktu – ternyata ibadah baru bisa dimulai jam delapan kurang (penyakit jam karet di kalangan gereja yang masih belum bisa disembuhkan, bahkan di kalangan remaja Batak …), yang hadir banyak juga, ternyata. Bahkan ada beberapa orang yang harus mengambil kursi dari konsistori dan duduk menempel ke dinding karena meja dan kursi di Ruangan Sekolah Minggu sudah terisi penuh.

Nas perikop aku bawakan dari pengalaman bangsa Israel yang mengirim para pengintainya dalam perjalanan dari Mesir ke Tanah Kanaan, yang terdiri dari orang-orang optimis (Kaleb dan Yosua) dan yang pesimis. Aku tampilkan juga video clip tentang Goal (cuplikan Steven Covey) dan tentang perlunya kerjasama (iklan biro perjalanan dengan model semut, pinguin, dan kepiting), sehingga membuat suasana sangat hidup. Lalu aku berbagi tentang pengalamanku berdoa belakangan hari ini yang sudah “otomatis” terbangun hampir setiap jam 3 dini hari untuk berdoa.

Slide19

Slide18 Slide17 Slide16 Slide15 Slide14 Slide13 Slide12 Slide11

Slide10

Slide9

Slide8 Slide7 Slide6

Slide5

Slide4

Slide3 Slide2 Slide1

Berkhotbah di SPH: Kenangan Tentang Sintua “Pangompas” …

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

Selasa, 18 Maret 2014 jam 19 lewat sedikit aku mendapat “panggilan” untuk berkhotbah di persekutuan ibu-ibu yang tergabung dalam Seksi Parompuan Huria (SPH). “Panggilan”, karena sebenarnya tidak dijadwalkan melayani pada persekutuan ini, namun seorang inang sintua yang seharusnya melayani, berhalangan karena sesuatu hal. Saat sermon parhalado – karena ‘nggak seorang pun yang bersedia menggantikan setelah dicoba mengharapkan kesukarelaan penatua lainnya – maka aku pun mengajukan kesediaan sambil berujar setengah bercanda: “Aku bersedia, tapi apakah boleh penatua laki-laki yang melayani perkumpulan ibu-ibu ini?”, yang langsung saja dijawab oleh sebagian peserta sermon dengan mengatakan “bisalah …”. Hal ini spontan aku lontarkan karena tahun lalu pun aku berkhotbah di perkumpulan ini karena juga menggantikan inang sintua paniroi SPH yang berhalangan karena ada ulaon adat di huta …

Dan pas juga jadwal pekerjaanku dari perusahaan pada hari itu adalah melakukan diskusi bisnis dengan TipTop, salah satu supermarket terbesar yang menjadi peganganku saat ini, yang berkantor pusat di daerah Rawamangun (tidak jauh lokasinya dari HKBP Rawamangun). Dari supermarket tersebut ke gereja kami tidak membutuhkan waktu lama sehingga aku pun tiba di gereja sebelum jam enam petang.

Seperti biasa, aku menggunakan LCD-projector sebagai media penyampaian khotbah. Karena milik “resmi” gereja sudah rusak dan belum dibeli penggantinya sampai saat ini, maka aku meminjam LCD-projector milik Guru Sekolah Minggu (konon dibeli berdasarkan urunan dari masing-masing guru-guru Sekolah Minggu yang lebih merasakan membutuhkan alat ini dalam pelayanan mereka di jemaat …). Karena Sabtu nanti aku juga diminta berkhotbah di persekutuan Remaja Naposobulung HKBP (RNHKBP) yang juga menggantikan sintua parhalado resort yang berhalangan karena bertugas kantor di Bandung, aku pun sudah mem-book alat multimedia tersebut untuk Sabtu yang akan datang.

Menurutku, sangat banyak ibu-ibu yang hadir pada malam itu (percayalah, ini bukan karena aku yang berkhotbah!) sehingga beberapa orang harus mengambil kursi dari bilut parhobasan di ruangan sebelah karena kehabisan tempat. “Ini belum seberapa amang kalau dibandingkan dengan jumlah semua ibu-ibu yang ada di gereja kita ini”, kata salah seorang ibu yang menjadi ketua SPH ketika aku memuji kehadiran ibu-ibu yang antusias tersebut. Tentunya sambil meminta ma’af karena isteriku sendiri belum ikut perkumpulan SPH, “Hari-hari ini masa-masa ulangan akhir anak SD kelas enam, sehingga harus mendampingi si boru Tobing yang di rumah belajar dan mengulangi pelajarannya …”, jawabku berdalih ketika ada yang menanyakan kenapa mak Auli ‘nggak aku ajak.

Begitulah … Nas perikop menceritakan tentang nubuatan Yehezkiel tentang masa depan Israel yang ketika itu masih dalam masa pembuangan yang banyak menyembah dewa-dewa Babel. Israel akan bertobat dan menjadikan Allah sebagai Tuhan mereka, sebaliknya bagi yang tidak bertobat akan dipandang Allah sebagai kejijikan yang layak dijatuhi hukuman berat. Dan ketika menyampaikan hal inilah aku coba menyentuh hadirin dengan kalimat, “Hea do hita maminsangi halak manang dakdanak na adong di humaliangta ala pangalaho nasida na hurang denggan? Andigan do hita maminsang sahalak dakdanak di garejanta on? Ndang hea? Aha do alana?”

Lalu aku mengingatkan semua yang hadir tentang “wabah” sekadar yang mulai menjangkiti banyak orang. “Sekadar” jadi penatua (dengan mencontohkan diriku sendiri), yang sekadar datang marsermon, maragenda, marjamita, partangiangan, yang semuanya sekadar menjadi ritual. Atau sekadar jadi warga jemaat yang “baik”, yang sekadar datang beribadah, ikut punguan, rajin partangiangan, dan lain-lain, bahkan secara teratur memberikan persembahan dan ucapan syukur. Tanpa Roh. Jika tidak dibarengi dengan Roh maka semuanya menjadi hambar, dan tidak punya kekuatan. Kekuatan untuk menegur orang, bahkan kekuatan untuk menegur diri sendiri yang pasti juga seringkali melakukan kesalahan alias kejijikan di mata Tuhan.

Lalu aku bercerita tentang seorang penatua di gereja kami zaman dulu ketika kami masih anak-anak Sekolah Minggu. Di komplek gereja yang luas dan teduh kami anak-anak nakal seringkali bermain “tuwok” (mengundi dengan dua keping uang logam dilemparkan ke udara sambil bertaruh apa saja yang sedang “musim” saat itu, bisa aja karet gelang alias goje, tutup limun, kulit pembungkus permen, atau apa saja bergantung kesepakatan …) atau bermain “kes” (meluncurkan uang logam di atas dua buah batu-bata yang disusun sedemikian rupa sebagai peluncur dengan garis batas wilayah, siapa yang paling jauh luncurannya dialah yang berhak mendapatkan taruhan …). “Ada sintua yang rajin mengusir kami kalau main tuwok dan atau kes itu di gereja. Saking takutnya kami, kalau beliau datang ke gereja, biasanya mau marsermon atau markoor, seringkali kami langsung lari terbirit-birit meninggalkan pertaruhan yang biasanya diletakkan begitu saja di tanah. Tentu saja yang dilakukan oleh beliau itu adalah suatu kebenaran, yakni tidak membiasakan anak-anak berjudi agar di masa depan tidak menjadi penjudi beneran. Tapi, bagi kami beliau adalah orang jahat karena mengganggu kenyamanan kami dan menyita barang-barang pertaruhan kami. Ini salah satu contoh bahwa kebenaran dan kebaikan selalu terjadi bersamaan namun tidak selalu berjalan seiring, karena kebaikan bergantung pada sudut pandang orang yang menilainya. Sampai sekarang aku ingat gelaran yang kami berikan kepada beliau sebagai “sintua pengompas” yang kemudian berubah bunyi menjadi “sintua kompes” (karena postur beliau yang kurus layaknya ban yang kempes …). Aku percaya beliau berani melakukan itu karena bukan seorang penjudi, bahkan mungkin juga seorang yang hidupnya bersih. Dan juga didorong oleh kasihnya kepada anak-anak sebagai masa depan gereja yang sangat dikasihi oleh Tuhan.”

Bagaimana dengan kita? Kapan kita terakhir sekali menegur orang-orang yang ada di sekitar kita yang melakukan kejijikan bagi Tuhan?

NB: Sebagaimana sudah menjadi kebiasaanku manakala menjadi pembicara seperti ini yang mencontohkan diriku sendiri (yang juga seringkali aku jadikan sebagai “pelaku kejahatan” agar tidak menyinggung perasaan yang hadir), aku selalu memesankan: “Aku menyampaikan hal ini, yakni menjadi sempurna seperti Yesus yang adalah model dalam hidupku sebagai panutan karakterku, bukan berarti aku sudah sempurna dan lebih baik daripada semua yang hadir di sini. Bukan! Bahkan tidak bakalan sempurna sampai akhir hayatku, namun aku menuju ke arah sana dengan melakukan penyempurnaan dari hari ke hari. Jangan dengarkan ucapanku semua, namun ambillah pesannya yang sejalan dengan firman Tuhan yang aku sampaikan dan telitilah kembali dengan Alkitab”.