Berangkat!

Sudah lama menjadi keinginanku. Bertahun-tahun yang lalu aku sudah merencanakan untuk bisa berangkat ke Yerusalem. Keinginan tersebut menguat ketika kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, manakala ada buku Silsilah Yesus Kristus karangan James D. Tabor yang sempat menghebohkan. Bukan bercerita secara spesifik tentang Yerusalem, namun penceritaannya tentang Taman Getsemani benar-benar merangsang imajinasiku yang sekaligus membuatku sangat tertarik untuk melihat sendiri dan hadir di taman yang bagiku sangat luar biasa itu.

Bukan karena pohon-pohon dan kegelapan yang seringkali (bahkan selalu) ditampilkan dalam berbagai tayangan, baik film maupun potret sebagai sesuatu yang sangat gelap secara harafiah. Tentu saja, karena peristiwa Getsemane berlangsung pada malam hari menjelang dini hari. Bukan, bukan itu! Tapi aku melihatnya dari sisi yang berbeda.

Dalam snapshot peristiwa Getsemani aku lebih bisa melihat ke-manusia-an Yesus. Berdoa dengan rasa takut yang amat sangat (yang sampai sekarang aku belum mampu menerima kenyataan bahwa pada saat itu Yesus bisa juga dihinggapi rasa takut yang amat sangat!) sampai berkeringat bagaikan darah. Pada snapshot Getsemani pulalah terlihat juga ke-manusia-an para murid yang langsung tertidur pulas walau Yesus meminta mereka untuk berjaga-jaga (dan berdo’a). Selain itu, upaya Petrus sang murid yang coba membela Yesus dengan cara menghunus pedangnya dan memenggal telinga Malkus (Manusiawi sekali, ‘kan? Coba renungkan: manusia mencoba membela Tuhan-nya …). Dan sekali lagi para murid menunjukkan ke-manusia-annya dengan lari terbirit-birit karena ketakutan yang amat sangat melihat gurunya digiring oleh pasukan untuk kemudian disiksa dan dibunuh.

Pernah suatu kali sebuah biro perjalanan yang biasa secara rutin memberangkatkan pendeta “dengan cuma-cuma” ke Yerusalem. “Bayar berapa aja, bu akan kami bantu agar bisa ikut tur ke Yerusalem bersama rombongan kami yang sudah ada”, bunyi pesan-pendek yang aku terima di awal tahun-tahun yang silam yang segera saja menyadarkanku bahwa pesan tersebut tidak ditujukan kepadaku …

Tahun 2010 – setelah melalui proses doa yang panjang – aku sempat merasa yakin bahwa itulah saatnya bagiku untuk berangkat. Awal tahun tersebut aku menerima bonus yang jumlahnya persis dengan biaya yang harus aku bayarkan jika ingin ikut dalam tur ke Yerusalem tersebut. Semakin dekat saatnya bagiku untuk menyetorkan uang tersebut, malah hatiku semakin ‘nggak mantap, sampai aku merasa yakin akan jawaban Tuhan bahwa bukan itu saatnya: beberapa hari kemudian aku menerima kabar bahwa bapakku sakit keras di Medan dan punya kerinduan agar kami semua yang bersaudara kandung berkumpul merayakan hari ulang tahun perkawinan orangtua kami. Jadinya, uang tersebut kami pakai untuk ongkos pulang-pergi kami bertiga (aku, isteri, dan anakku) …

Oktober 2012 yang lalu mertuaku laki-laki meninggal dunia di Medan. Sesuai tradisi, Punguan Tobing sa-ompu datang ke rumah kami di Bandung untuk manghata-hatai alias memberikan penghiburan. Salah seorang dari peserta rombongan yang datang dari Jakarta tersebut melihat foto wisudaku yang memang terpajang di bufet ruang tamu. Dan bertanya, “Ini foto wisuda di mana, koq agak berbeda dengan wisuda perguruan tinggi umumnya?”. Lalu aku jawab dengan sebenarnya (seperti biasanya …), yang lantas disambungnya lagi, “Oh, ampara lulusan S2 dari STT Jakarta? Kalau gitu, bisalah nanti jadi pembimbing rohani kalau ke Yerusalem …”. Lalu aku jawab dengan bercanda-canda bahwa bisa aja, asalkan “sesuai dengan bayaran” yang secara spontan diiyakan oleh beliau yang ternyata adalah pemilik biro perjalanan yang setiap bulan mengirimkan rombongan ke Yerusalem. Tak lupa pula beliau mengatakan, “Saya juga punya kerinduan agar kita sa-ompu sekali berangkat dalam satu rombongan ke Yerusalem. Dan saya sudah siapkan brosur khusus tentang hal ini untuk nanti kita bicarakan setelah selesai acara mangapuli ini”.

Antara serius dan tidak pada mulanya, hingga pada suatu hari beberapa minggu kemudian aku mencari-cari brosur tersebut. Dan tidak ada lagi di bufet tempat aku terakhir kali meletakkannya pada malam itu ketika mengantarkan para tamu pulang ke Jakarta meninggalkan rumah kami di Bandung. Secara finansial aku yakin bisa berangkat karena aku mendapat insentif yang lumayan banyak saat itu. Namun “ijin prinsip” belum turun dari mak Auli yang seringkali menantangku dengan pertanyaan dan pernyataannya yang kadangkala terasa tajam menusuk, yaitu:

(1) “Untuk apa sih menghabiskan uang untuk dipakai hanya dalam dua minggu itu? ‘Nggak sayang? Apa ‘nggak lebih baik kita pakai untuk keperluan lain yang lebih mendesak? Piano anakmu si Auli aja sampai sekarang belum juga kita belikan …” (Dengan berusaha tenang aku menjawab, “Aku sudah sangat kepengen ke Yerusalem ini dan sudah sejak lama. Biarlah uang insentif kali ini aku pakai, ‘kan masih akan ada lagi nanti uang insentif berikutnya? Terserahlah mau dipakai untuk apa uang insentif itu nanti, tapi yang kali ini untuk ongkos ke Yerusalem-lah dulu, ya …”).

(2) “Pergi ke Yerusalem bukan ukuran keimanan. Dan ‘nggak ada jaminan bahwa kalau sudah ke Yerusalem menjadi lebih baik imannya dan pasti masuk sorga.” (Ini aku jawab dengan: “Memang benar hasian, bukan jaminan, apalagi pasti masuk sorga. Tapi, dengan melihat langsung apa yang selama ini sudah aku baca di Alkitab dan buku-buku, tentulah akan semakin menguatkan imanku yang sudah sangat percaya kepada Yesus. Tentang ke surga, sekarang pun aku sudah yakin akan ke surga kelak. Karena untuk apa jadi orang Kristen dan mengikut Yesus kalau tetap ‘nggak yakin masuk surga?”)

Pada akhir tahun 2012 mendadak ada e-mail dari Manajemen tentang rencana kedatangan international auditor pada bulan Maret 2013 yang sekaligus memberi tahu bahwa semua orang lapangan harus siap sedia diperiksa dengan berada di wilayah kerjanya masing-masing. Itulah hebatnya perusahaan asing tempatku bekerja ini, walau sudah pasti tidak ada yang manipulasi dan korupsi, tetap saja yang namanya audit (apalagi internasional …) tetaplah harus diberikan perhatian khusus. Artinya, tidak diperbolehkan mengambil cuti selama international auditor masih berada di Indonesia selama lebih kurang satu bulan. Tentu saja ketentuan tersebut berlaku pada diriku (jika masih bertugas di Bandung …).

Dan puji Tuhan, tak berapa lama setelah itu, aku mendapat kabar kepastian pindah tugas dari Bandung, kembali ke Kantor Pusat di Jakarta. Ini peluang bahwa aku boleh saja meninggalkan tanah air karena sudah tidak lagi berfungsi sebagai petugas lapangan pada saat sudah pindah ke Jakarta. Harapan timbul manakala mengajukan cuti, yang beberapa hari kemudian disetujui oleh atasanku yang baru yang di Kantor Pusat. Masih ada “ujian” lagi, yakni kemantapan izin dari mak Auli, sang penyandang dana. Berkat ketekunan meminta dan kegigihan dalam memohon pengertian – oh ya, mak Auli ‘nggak ikut berangkat karena merasa ‘nggak kuat bila terbang lebih dari delapan jam karena terbang dari Jakarta ke Medan aja baginya sudah sangat membosankan … – menjelang batas akhir pembayaran izin tersebut akhirnya aku dapatkan. Dengan mencicil tiga kali, akhirnya aku penuhi pembayaran dua ribu enam ratus lima puluh dolar Amerika Serikat.

Begitulah, setelah briefing persiapan keberangkatan yang dilakukan Minggu, 10 Maret 2013 di Toba Tabo Cafe keberangkatan pun ditetapkan Sabtu, 16 Maret 2013. Semua peserta rombongan diminta sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta pukul lima subuh dengan titik-kumpul di depan Hotel Bandara. Dan puji Tuhan pula, di komplek perumahan kami sekarang ada terminal Damri yang rutenya ke Bandara pulang-pergi dan punya jadual keberangkatan hampir setiap jam yang dimulai jam 03.30 subuh! Maka, jadilah aku berangkat dari terminal tersebut dengan diantar mak Auli dan Alfi pembantu kami agar ada menemani mak Auli kembali ke rumah. Tidak sendirian di kegelapan buha-buha ijuk. Malam sebelumnya, Auli – dan Elvis yang tinggal di rumah berminggu-minggu karena mamanya sedang berada di Medan dan di Laguboti untuk pemugaran kuburan bapak mertua – memang minta untuk dibangunkan dan ikut mengantarkanku ke terminal bis, tapi aku ‘nggak tega membangunkan mereka yang sedang tertidur pulas …

IMG_1774[1]
Dengan perasaan yang berkecamuk di bis – membayangkan apa yang akan aku hadapi dalam perjalanan yang menurutku luar biasa karena masih tetap muncul perasaan ‘nggak percaya bisa berangkat ke Yerusalem … – walau sebelumnya aku merencanakan untuk tidur di bis karena malam sebelumnya masih ikut sermon parhalado dan dilanjut dengan marguru ende dengan punguan koor ama di gereja sehingga pulangnya sudah lewat tengah malam, jadilah aku orang pertama yang sampai di bandara …

IMG_1776[1]

Iklan