Pilpres yang Rileks

jari pilpres
Sebagai warga negara yang baik, hari ini kami (aku dan mak Auli) telah menunaikan salah satu hak konstitusional kami pada negara Republik Indonesia ini. Yaitu dengan cara berpartisipasi pada pemilihan presiden dan wakil presiden. Jam sembilan kami (beserta Auli, karena habis mencontreng kami langsung ke Bintaro untuk mengikuti acara keluarga) sudah tiba di Tempat Pemungutan Suara (TPS) di komplek perumahan yang berdekatan dengan komplek perumahan tempat kami tinggal selama ini.

Menggunakan pos siskamling yang direkayasa supaya layak menjadi TPS, mengesankan ala kadarnya. Lagu nostalgia pop barat diperdengarkan oleh pengeras suara (loud speaker) yang dipasang menciptakan suasana rileks. Juga orang-orang (anggota Panitia Pemungutan Suara = PPS dan pemilih yang sudah mencontreng namun masih nongkrong di TPS …) yang asyik ‘ngobrol dengan posisi duduk santai. Ada yang di kursi, (yaitu anggota PPS) dan di tembok di pinggir dalam TPS (orang-orang lainnya yang bukan anggota PPS). Saat kami datang, semua sedang santai karena tidak sedang melayani calon pemilih. Hanya ada satu orang calon pemilih yang diminta untuk pergi ke TPS lain karena tidak terdaftar di TPS kami itu.

Setelah melapor dengan menyerahkan surat undangan, kami disuruh menunggu. Duduk di kursi plastik yang disediakan, tak berapa lama datang satu keluarga Batak tetangga kami satu cluster. Lalu namaku disebut, mendapat surat suara, lalu aku menuju tempat pencontrengan yang berupa boks dengan partisi untuk enam pemilih. Dengan melewati orang-orang yang bukan anggota PPS tadi, aku menuju boks yang sudah menyediakan spidol hitam. Karena jaraknya sangat dekat, dan terbuka, maka kegiatan pencontrengan akan kelihatan dengan jelas oleh orang-orang tadi.

Setelah mencontreng di nomornya, melipat, lalu aku masukkan kertas suara ke salah satu kotak suara dari dua buah yang disediakan. Mak Auli juga melakukan hal yang sama. Lalu kami meninggalkan TPS. “Koq mama mencontreng tiga-tiganya. Apa memang bisa gitu, pa?”, tanya anakku Auli dengan rasa ingin tahunya yang mengejutkanku, karena aku tahu mak Auli hanya menjawab asal-asalan saja. Apalagi dengan pertanyaan-pertanyaan Auli selanjutnya mengesankan dia mengikuti dan sedikit memahami ketentuan dalam pencontrengan.

Jalanan sepi. Dengan cepat kami sampai untuk menjemput kakak dan ito-ku untuk sama-sama pergi ke Bintaro. Aku merasakan tidak ada yang mengesankan dari pilpres kali ini. Semua datar. Tidak ada yang mengejutkan. Sama seperti hasilnya yang diumumkan oleh berbagai penghitung cepat (quick count) yang rame-rame mengumumkan bahwa SBY-Boed unggul dan memastikan bahwa “Lanjutkan!” ternyata terbukti untuk mendapatkan mandat sebagai presiden dan wapres untuk periode 2009-2014 yang akan datang.

Akankah bangsa ini menjadi lebih baik? Aku tidak tahu pasti. Namun ada satu yang pasti: satu topik doa syafaat yang selama ini dipanjatkan telah terjawab. Yaitu pilpres berjalan aman, tertib, dan lancar. Juga kepastian lainnya yang juga penting: Tuhan masih menyertai perjalanan hidup bangsa ini ke depan. Dan anak-anak-Nya tak perlu merasa kuatir, karena Dia adalah setia bagi orang-orang yang mengandalkan-Nya.

Iklan

Pilpres, Umpasa, dan Umpama

undangan pilpresMinggu malam (05/07/09) sepulang ke rumah aku mendapati dua lembar surat Model C4 PPWP, yaitu Surat Pemberitahuan Waktu dan Tempat Pemungutan Suara. Artinya, aku bias ikut mencontreng pada pemilihan presiden (pilpres) kali ini. Padahal beberapa jam sebelumnya – saat menghadiri ibadah pengucapan syukur memasuki rumah baru oleh salah satu keluarga – aku mengatakan bahwa aku (lagi-lagi) tak ikut memilih, karena dipaksa jadi golput (golonga putih) karena tidak terdaftar. Ini suatu kemajuan (bagi Panitia Pemungutan Suara alias PPS), dan sekaligus beban (bagiku).

Suatu kemajuan, karena pada saat pemilihan calon anggota legislatif (sebut saja pilleg untuk menyesuaikan dengan pil-pilan yang lain …) bulan April yang lalu aku tidak ikut mencontreng karena tidak terdaftar pada Daftar Pemilih Tetap (DPT). Padahal PPS Kecamatan saat itu sudah mengeluarkan selembar surat yang menyatakan bahwa aku terdaftar sebagai salah seorang (calon) pemilih. Waktu itu aku legowo saja, karena juga – terus terang – “bingung” mau pilih siapa. Itu pulalah yang memosisikan aku menjadi terbeban saat ini. Kalau pada pilleg yang lalu ada alasan “struktural” untuk tidak mendukung beberapa caleg (yang secara agresif mengampanyekan dirinya …), maka pada pilpres ini aku harus menjatuhkan pilihan. Pilih nomor satu, dua, atau tiga? Bingung, tidak satupun dari ketiganya menjadi pilihan ideal bagiku. Ideal, lho, bukan sempurna (sebab hanya Allah sajalah yang sempurna …). Atau, malah nol alias golput? Sayang juga suaraku, bukankah vox populi vox dei? (kalau prinsip ini masih berlaku …).

Minggu lalu masih ada yang bertanya padaku: ai ise do si pilliton? (terjemahan bebasnya: ‘siapa sih yang harus dipilih?’). Dengan rujukan yang aku yakin netralitasnya (apa iya masih ada yang netral?), aku sampaikan pandanganku. Ternyata tanpa sengaja hal itu menggiring kepada calon tertentu yang kemudian   membuatku tersadar adalah perkataan menanggapinya, “Mauliatema, amang manghatai hita sadari on. Gabe huboto do muse ise na naeng pillitonku mangganti naung adong hian …” (= Terima kasihlah, nak kita ‘ngobrol hari ini. Aku jadi tahu kembali siapa yang harus aku pilih mengganti yang sudah ada sebagai pilihanku sebelumnya …). Padahal, sampai detik ini aku belum menerima “titipan” dari salah satu pasangan pun …

Sejak kemarin hingga beberapa jam yang lalu, aku masih menerima kiriman pesan-pendek alias SMS dari berbagai kalangan. Dari perkumpulan gereja, dari perkumpulan marga, bahkan dari kalangan keluarga terdekat. Sepertinya berbentuk umpasa, yang demikian bunyinya: “Tubuma rimbang dohot saga, asa uli dalan lao tu huta. Tutuma podani dainang, tapillitma nomor sada, asa namborunta I na gabe siparorot di hita.” Karena prinsipku bahwa semua komunikasi harus diupayakan untuk ditanggapi, dan menjaga “netralitas”, maka aku pun menjawab pesan-pendek tersebut dengan umpama yang spontan tercipta yang berbunyi begini: “Singkoru ma singkoru, tubu di purba tua ni huta. Namboru manang amangboru, sai anggiatma na pinillit ni Debata …”. Jelas maksudnya, ‘kan? Mudah-mudahan masih sesuai dengan prinsip-prinsip yang aku anut sejauh ini …

Bika Ambon untuk Penubruk Mobilku

bika-ambon

Jumat dua minggu yang lalu tepatnya 06 Maret 2009, saat memasuki pintu tol Lenteng Agung sepulang dari kantor. Saat antri untuk mengambil dan membayar karcis tol di gardu, tiba-tiba terdengar suara benturan dari belakang dan terasa benturan pada mobil yang aku tumpangi. Menengok ke belakang, ternyata mobilku ditabrak dan bumper belakangnya masih menempel pada bumper depan mobil penabrak. Dadang, pengemudi yang selalu setia mengantarkan ke mana pun aku pergi, segera turun untuk memeriksa kondisi mobil. Tak lama kemudian melapor, “Nggak apa-apa koq mobilnya, pak”. Tidak terlalu percaya, lalu aku ikut turun memeriksa. “Ini bukan ‘nggak apa-apa namanya, Dang. Lihat bumpernya sampai turun begini. Dan ini penyok, kan?”. Aku lihat mobil penubruknya: pelat merah, dan tidak ada reaksi pengemudinya untuk turun. Karena sedikit jengkel – dan mobil-mobil yang ‘ngantri lainnya mulai membunyikan klaksonnya – aku langsung saja berteriak ke arah penubruk :”Hei, turun dong. Nabrak koq malah tenang-tenang aja …”. Namun alangkah menyesal dan merasa bersalahnya aku saat mengetahui bahwa pengemudinya yang kemudian turun dari moblinya adalah seorang tua setengah baya. Mungkin karena merasa salah, sehingga takut untuk turun dari mobilnya sebelum aku teriaki.

Setelah mereda alias cooling down, lalu aku berkata: ”Bapak sudah salah menabrak mobil saya. Apapun alasannya, bapak harus bertanggung jawab. Jangan malah di mobil saja. Harus turun, pak”. Setelah mencobajelaskan bahwa beliau lepas kendali sehingga salah menginjak rem, akhirnya menawarkan mau dibawa ke bengkel mana. Karena aku sudah ditunggu pada suatu pertemuan keluarga – ditambah suara klakson yang semakin ribut karena terjadi kemacetan – akhirnya beliau mengatakan, ”Ini kartu nama saya. Hubungi saya saja nanti untuk kelanjutannya.”. Karena merasa bagian dari tanggung jawabnya, dengan cepat Dadang menyambar  kartu nama tersebut lalu kami beranjak pergi.

Dalam perjalanan, perasaanku berkecamuk. Rasa bersalah untuk dua hal: berlaku tidak sopan pada orangtua dengan berteriak memanggil dan “kemudahan” penyelesaian dengan hanya selembar kartu nama. Begitu sampai di rumah salah seorang keluarga yang sudah menunggu kedatanganku dari tadi (sebelumnya aku sudah menelepon mengatakan akan terlambat karena kejadian ditubruk tadi), ada yang ‘nyelutuk, ”Sudahlah ito, kalau begitu. Tak usahlah disesali, apalagi yang menabrak adalah orangtua. Kasihan. Mobilmu diasuransikan, ‘kan? Anggaplah kau menyumbangnya dengan membayar klaim asuransi yang tetap harus kau bayar”.

Senin pagi, setiba di kantor aku langsung menelepon sesuai nomor yang sempat aku catat. Dengan memperkenalkan diri sebagai orang yang ditubruk minggu lalu, aku menanyakan kabarnya dan di mana posisinya saat itu. Karena dijawab sedang menyetir, aku bilang nanti saja aku telepon lagi. Sebagai orang yang ditunjuk sebagai kordinator keselamatan mengemudi, tentu saja aku harus terapkan pengetahuan yang aku dapatkan bahwa dilarang berkomunikasi dengan telepon selular saat mengemudi. Kalau memang penting dan harus menerima panggilan telepon, pemgemudi diharuskan menepikan kendaraannya dan berhenti untuk bisa berbicara dengan leluasa.

Selasanya kemudian, aku menghadiri rapat di kantor wilayah di Rawamangun. Mengira lokasinya berdekatan, aku minta Dadang untuk menjumpai sang penubruk sesuai alamat yang tertera di kartu namanya (yang sampai sekarang masih dipegang oleh Dadang). Tak lupa aku mewanti-wanti: ”Jangan memaksa meminta uangnya. Beritahu saja bahwa biaya asuransi minimal untuk klaim kecelakaan lalu lintas adalah tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Terserah berapa nanti yang akan dikasih, terima aja.”. Lalu aku beranjak menuju ruang rapat karena waktunya sudah hampir tiba untuk dimulai.

Malam hari usai rapat dan akan pulang ke rumah, aku pun tidak menanyakan kepada Dadang karena aku menangkap kesan diapun tidak terlalu bersemangat. Malah aku menduga, dia tidak jadi menjumpai penubruk tersebut karena pagi tadi dia sempat berujar, ”Saya tidak terlalu yakin dengan alamatnya ini, pak. Belum pernah saya ke daerah Kampung Lembur situ.”.

Sampai di rumah alangkah kagetnya aku ketika Dadang menyerahkan amplop dengan uang lima ratus ribu rupiah di dalamnya. Sambil menceritakan perjalanannya menemui penubruk tadi pagi dengan mengatakan, ”Bapak itu tadi ada bilang kenapa ketemuannya dengan bapak dalam kejadian tubrukan. Alangkah baiknya kalau bisa bertemu dengan bapak dalam suasana yang lebih baik. Dinasnya di Diklat Depnaker ”, Dadang juga mengatakan bahwa kalau diperbaiki di bengkel yang sederhana, ongkos perbaikannya juga ‘nggak semahal kalau dibawa ke bengkel resmi yang ditunjuk asuransi. Artinya tidak sampai tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Aku bilang, tetaplah dibawa ke asuransi sesuai ketentuan yang berlaku di perusahaan. Namun, kalimat yang disampaikan Dadang menjadi catatan tersendiri bagiku.

Begitulah, akhirnya mobil diperbaiki oleh bengkel resmi yang ditunjuk oleh asuransi. Selasa kemarin sepulang tugas dan cuti di Medan, saat di bandara Polonia aku sempatkan membeli dua kotak bika Ambon sebagai oleh-oleh. Begitu tiba di Jakarta, aku langsung meminta Dadang untuk mengantarkanku ke kantor tempat dia dulu menemui sang penubruk. Sengaja tidak memberitahu, aku baru menelepon ketika persis berada di depan ruangan kerja beliau. Kaget, beliau mengajakku masuk ke ruangannya dan ‘ngobrol-‘ngobrol sejenak. Dan kembali meminta ma’af atas kelalaiannya sehingga menubruk mobilku dari belakang.

Merasa sudah cukup berkenalan dan karena hari menjelang malam, lalu aku berpamitan. Dan beliau mengantarkanku sampai pintu kantor untuk kemudian aku berjalan menuju halaman parkir yang luas untuk segera pulang ke rumah yang sudah aku tinggalkan hampir seminggu lamanya.

Oh ya, beliau adalah Drs. Made Pastika, MM. Pagi tadi tak lupa aku menyampaikan selamat hari raya Nyepi kepada beliau. Kiranya sukacita dan damai sejahtera turut menyertai beliau (dan kita semua) selalu …

Hari Ini Aku Datang (bersama tiga perempuan perkasa) …

 

Ada kegembiraan padaku hari ini. Sukacita yang lebih dari biasanya. Kerinduan untuk memiliki media seperti ini sudah sangat lama menggumpal dalam dada.

Aku bukanlah siapa-siapa. Apalagi jika dibandingkan dengan orang lain yang dirasakan lebih memiliki sesuatu yang sangat menonjol. Aku hanya punya tekad yang kuat dan harapan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik.

Untuk itu, sangat dibutuhkan dukungan dari banyak orang. Itulah engkau, sahabatku …

Salamku,

St. Rodlany A. Lbn. Tobing, SE, MBA, MMin