Dari Konsistori-10: Hati-hati, pak Pendeta!

Jum’at, 14 Juni 2013 ketika pak pendeta resort menagih surat parhuriaon seorang warga jemaat yang akan menerima pemberkatan nikah dari seorang sintua, kembali aku mengingatkan pak pendeta untuk berhati-hati tentang urusan parhuriaon seseorang. Apalagi warga jemaat ini kabarnya akan kawin dengan warga jemaat dari salah satu gereja Pentakosta (atau pantekosta, belum jelas bagi semuanya …). Minggu sebelumnya surat parhuriaon tersebut sudah diminta oleh pak pendeta kepada inang sintua dimaksud, namun hasilnya nihil, sama seperti hari itu juga.

Pada sermon parhalado minggu lalu aku sudah mengingatkan pak pendeta bahwa tidak semua gereja Pentakosta memiliki kesepahaman teologi dengan HKBP. Jangan bicara teologi siapa yang benar dan salah, bagiku ada peraturan yang dianut HKBP dan harus dijalankan oleh semua orang yang masih menjadi anggotanya. Apalagi oleh pelayan, ‘kan?

“Hati-hati, amang pandita. Gereja (beraliran) Pentakosta tidak semua sama dengan HKBP. Dan tidak semua terdaftar sebagai anggota PGI”, kataku minggu lalu.

“Betul, amang sintuanami. Saya tahu ada juga gereja-gereja Pentakosta ini yang dimiliki oleh pribadi-pribadi. Ada yang pendetanya merangkap jadi pemilik gereja itu, ada juga pendeta itu yang mencari anggotanya yang semuanya adalah keluarganya sendiri yang menjadi jemaat. Tapi, yang ini sudah saya tanya langsung: ‘Apakah kalian melakukan baptis ulang? Dan apakah kamu juga sudah dibaptis ulang?’, dan dijawabnya dengan ‘tidak’. Itulah sebabnya saya mau meneruskan proses pemberkatan kawin mereka di gereja kita.”

Itulah pembicaraan saat sermon parhalado Jum’at dua minggu yang lalu. Kawan-kawan sesama parhalado tidak ada yang menanggapinya. Karena tidak perduli, atau tidak mengerti, aku pun tidak tahu …

Karena concern dengan hal ini – dan mengingat betapa sengsaranya beberapa orang pendeta yang “terpeleset” dengan tohonan-nya – maka di rumah aku sempatkan mencari tahu informasi yang berhubungan dengan hal ini. Aku ingat ketika masih kuliah di STT dulu aku punya buku yang menjelaskan tentang hal ini, bersamaan dengan informasi tentang perguruan-perguruan tinggi yang berada di bawah naungan organisasi PERSETIA. Aku tidak menemukannya, namun aku dituntun untuk membuka-buka lembaran Almanak HKBP 2013 (hal yang sangat jarang aku lakukan sebelumnya …) yang ternyata di dalamnya berisi informasi tentang gereja-gereja yang punya hubungan dengan HKBP (yang aku pahami sebagai satu “aliran” alias satu dogma karena gereja-gereja yang aku rasakan “jauh dan berbeda dengan HKBP” memang tidak ada tercantum di sana. Dan sinode yang disebutkan pak pendeta sebagai tempat calon pengantin itu berjemaat, tidak ada tercantum dalam daftar. Wah …!

Itulah sebabnya ketika hal itu dibicarakan kembali, aku kembali mengingatkan pak pendeta agar berhati-hati. Namun jawaban beliau masih sama dengan sermon parhalado sebelumnya: ‘nggak ada masalah, alias it’s okey.    

Amang pandita, aku sudah lihat di Almanak, dan gereja yang amang sebutkan itu tidak ada di dalam daftar yang dicantumkan sebagai gereja-gereja yang punya hubungan dengan HKBP. Jadi, sebaiknya pertimbangkan lagi tentang rencana memberkati perkawinan mereka yang ternyata sampai hari ini belum bisa menunjukkan surat parhuriaon-nya dari sinode gereja mereka yang pantekosta”

“Iya, amang sintuanami, tapi menurut saya ‘nggak ada masalah karena saya sudah menanyakan calon penganten yang menjawab bahwa dia ‘nggak dibaptis ulang karena gereja mereka juga mengakui baptisan kita yang dari HKBP. Cuma kita perlu menunggu surat dari sinode mereka saja sekarang ini,”, jawab pak pendeta yang hampir sama dengan jawabannya minggu lalu. Bedanya, kali ini beliau mengimbuhi dengan menjelaskan tentang teologi baptisan dan keanggotaan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang dilengkapi dengan kritikan bahwa peraturan keanggotaan PGI sudah saatnya harus diubah …

“Menurutku, bisa saja calon penganten tersebut menjawab seperti itu karena dia tahu amang yang bertanya dari HKBP supaya proses pemberkatan perkawinannya jadi lancar. Tapi kalau yang bertanya adalah orang lain yang dari gerejanya sendiri, bisa saja jawaban yang diberikannya juga menjadi lain. Jangan-jangan, itu pulalah yang benar”, kataku masih berupaya untuk “mengingatkan”.

“Ada koq, amang gereja pantekosta di daftar Almanak kita itu. Kalau ‘nggak salah, saya pernah melihat”, tiba-tiba ada seorang inang sintua yang menyela sambil membuka lembaran Almanak berusaha mencari daftar gereja tersebut.

“Iya, inang memang ada. Lihat di urutan 21. Tapi itu bukan sinode gereja yang disebutkan amang pandita, karena gereja pantekosta yang dimaksud pak pendeta itu memang setahuku bukanlah anggota PGI. Aku sudah melihat daftar ini berulangkali, dan tetap tidak menemukan sinode gereja dimaksud. Jadi sebaiknya, pastikan amang pandita dululah kebenarannya. Jangan sampai repot nanti gara-gara ini. Argai hamu tohonanmuna i, amang panditanami. Unang pola dibela-bela hamu molo so toho do parhuriaonna, so pola adong untungna di hamu. Tumagonan manat di angka sisongon on.”, kataku lagi mencoba meyakinkan.

Puji Tuhan, yang semula beliau bersikeras, akhirnya “luluh” juga ketika aku ingatkan tentang tohonan, sambil berkata: “Betul juga kata amang sintua Tobing, memang ‘nggak ada untungnya bagi saya bersikeras tentang hal ini.”

Aku lega mendengarnya, karena berhasil menjauhkan beliau dari “pencobaan”. Mudah-mudahan ‘nggak ada masalah tentang hal ini di kemudian hari. Dan semoga beliau konsekuen dengan komitmen untuk tidak melayankan pemberkatan perkawinan bilamana memang terbukti bahwa calon penganten tersebut memang berasal dari sinode gereja yang bukan anggota PGI.

Iklan

Andaliman-236 Khotbah 30 Juni 2013 Minggu-V setelah Trinitatis

Ikut Yesus Tanpa Alasan Menunda, Itu Harus!

 

Evangelium Matius 8:18-22

Hal mengikut Yesus

8:18 Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.

8:19 Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”

8:20 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat  untuk meletakkan kepala-Nya.”

8:21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”

8:22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

Epistel 1 Raja-raja 19:19-21

Elisa terpanggil

19:19 Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya.

19:20 Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.”

19:21 Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti  Elia dan menjadi pelayannya.

Apa yang dibutuhkan seseorang untuk mengikut Tuhan? Komitmen dan tindakan segera! Itulah yang ditunjukkan oleh nas perikop yang menjadi Ev dan Ep Minggu ini, yang keduanya juga menunjukkan konsekuensi yang tidak ringan.

Pada Ev, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa mengikutnya harus siap meninggalkan semua kemewahan hidup (jawaban untuk ahli taurat) dengan mengatakan bahwa “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (ayat 20) dan tidak bisa menunda (jawaban untuk orang yang mohon pamit menguburkan orangtuanya (ayat 21-22) bahkan dengan jawaban yang terasa kasar bagi kalangan Yahudi (juga “bangsa” Batak) yang sangat menghormati orangtua …

Demikian juga halnya pada Ep yang mengisahkan regenerasi pelayan dari Elia kepada Elisa. Elisa sudah mantap bahwa Tuhan menunjukkan Elisa sebagai penggantinya dengan cara melemparkan jubahnya (yang diyakini mempunyai kesaktian itu …) kepada Elisa, yang lebih muda dan berlatar belakang petani dan peternak. Bedanya, jika Yesus tidak mengizinkan calon pengikutnya untuk menguburkan ayahnya, tapi Elia memberikan izin kepada Elisa untuk pamit kepada orangtuanya (bahkan melakukan pesta dengan menyembelih lembu yang tentunya tidak habis dimakan hanya dalam hitungan jam. Apa yang membedakannya?

Menurutku: karena Yesus adalah Tuhan, sedangkan Elia hanyalah “sekadar” nabi. Lho? Memangnya kenapa?

Sebagai Tuhan, Yesus tahu isi hati dari setiap orang, termasuk ahli taurat (yang tentunya hidupnya bukanlah orang melarat karena sebagai orang berpendidikan pastilah berasal dari kalangan orang kaya) dan orang yang memohon izin menguburkan orangtuanya terlebih dahulu sebelum benar-benar bersedia mengikut Yesus. Untuk ahli taurat, Yesus tahu bahwa dia bermotivasi untuk mendapatkan kehormatan tapi tidak bersedia menderita. Untuk orang yang “yatim”, Yesus tahu bahwa dia tidak bersungguh-sungguh karena belum tentu bahwa ayahnya memang benar-benar sudah meninggal (tradisi Yahudi menganut pengebumian orang mati sesegera mungkin, jadi kalaupun benar mati, tentunya upacara pengebumiannya sudah selesai …). Dan mungkin juga bahwa itu hanyalah sekadar alasan baginya untuk tidak mengikut Yesus karena dia sebenarnya masih ingin mengasuh ayahnya yang masih hidup dengan menjadikan alasan kematian untuk menguatkan argumentasinya kepada Yesus. Lagian, Yesus bukanlah makhluk asosial dan atau anti sosial, melainkan karena tahu apa dan bagaimana yang sebenarnya terjadi sehingga tidak mengizinkannya.

Ucapan Yesus sebagai jawaban atas permohonan izin menguburkan mayat terlebih dahulu dengan mengatakan “… biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” (ayat-22) harus dipahami sebagai “… biarlah orang-orang mati (secara rohani) menguburkan orang-orang mati (secara jasmani) mereka” sebagaimana orang-orang Yahudi dengan iman kepercayaannya saat itu yang masih jauh dari menerima Yesus sebagai mesias.

Pada sisi lainnya, Elia yang dengan pertolongan dan petunjuk Tuhan sangat meyakini keseriusan Elisa sebagai nabi pengganti dirinya (apa lagi yang harus membuat ragu kalau Tuhan sudah berkehendak, ‘kan?) dengan tidak ragu mengizinkan Elisa berpamitan. Bahkan berpesta dengan cara menyembelih lembunya dan menjadikan bajaknya sebagai bahan bakar pengganti kayu bakar, yang ini juga menunjukkan keseriusan Elisa meninggalkan masa lalunya dan apa yang dimilikinya untuk menerima tugas yang baru sebagai pelayan Tuhan. Luar biasa!

Dan hal ini mengingatkanku pada beberapa orang luar biasa yang meninggalkan kehidupannya yang sudah mapan secara duniawi, lalu mengikut Yesus sebagai hamba Tuhan sepenuhnya. Pernah dengar juga, ‘kan? Ada yang sudah menjabat eksekutif tertinggi di perusahaan, eh … “tiba-tiba” berhenti, lalu jadi pendeta dan berkhotbah serta menginjili ke mana-mana. Meninggalkan kenyamanan hidup yang sudah lama diidam-idamkan dan diusahakan, “mendadak” bersedia menjadi “orang susah” karena meyakini bahwa panggilan hidupnya bukanlah di dunia sekuler.

Juga saat aku masih kuliah di Medan, ada beberapa kawanku yang sangat berprestasi secara akademik, lalu kuliah di perguruan tinggi ternama, eh … beberapa tahun kemudian meninggalkan bangku kuliah karena “kepincut” pada pelayanan yang pada masa itu sedang semangat-semangatnya mencari “hidup baru”. Misterius bagiku saat itu, apalagi mengetahui bahwa orangtuanya menjadi sangat sedih karena memberangkatkan anaknya kuliah jauh dari dirinya karena berharap akan meraih gelar sarjana dan mendapatkan penghidupan yang layak, namun yang didapat adalah sangat jauh dari bayangannya ketika berlinang air mata melambaikan tangan mengiringi berangkatnya kapal laut dari pelabuhan Belawan. Lalu do’a-do’a yang didaraskan setiap hari untuk kebaikan dan keberhasilan anaknya menimba ilmu di tempat yang jauh …

Saat ini tidak lagi, setelah mengetahui firman Tuhan dan jalan Tuhan.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Secara garis besar, perikop ini memesankan tentang mengikut Tuhan. Yang satu, berlaku universal, yakni bagi semua warga jemaat yang mengingatkan bahwa mengikut Tuhan haruslah dengan penuh kesungguhan dan komitmen yang benar-benar harus dinyatakan dan dilaksanakan dengan segala konsekuensinya. Yang kedua, tentang panggilan pelayanan, baik yang belum jadi pelayan, maupun yang sudah “terlanjur” jadi pelayan.

Bagi yang belum jadi pelayan, pertimbangkanlah terlebih dahulu, masak-masak, bukan sekadar keinginan semata. Gumulkan dalam do’a, itu sudah pasti. Pada sisi yang berbeda, jika sudah ada panggilan, janganlah pula mudah menolak dengan berbagai alasan (ini seringkali terjadi manakala jemaat sedang mencari penatua, dan orang yang sebenarnya dianggap layak, malah menolak dengan alasan “tidak cocok”, “tidak mampu”, “masih muda”, “tidak punya waktu”, dan lain-lain sebagainya).

Dan bagi yang sudah jadi pelayan, janganlah pernah ragu untuk menjalani hidup sebagai pelayan Tuhan. Walau secara pribadi aku meyakini bahwa untuk menjadi pelayan yang efektif haruslah datang dengan bekal yang memadai – yang sering aku sampaikan dengan istilah “jangan jadi pelayan dengan tangan kosong”, atau “masak mau jadi pelayan Tuhan tapi ‘nggak bisa berdoa?” – yang paling utama adalah kerendahan hati dan kesediaan dipakai Tuhan sebagai bagian dari persembahan hidupnya karena Tuhan akan melengkapi orang-orang yang mau melayani-Nya dengan sungguh-sungguh. Itu pasti!

Ulang Tahun ke-45, Hari yang Sangat Mengesankan dan Menyukacitakan …

Rabu, 19 Juni 2013 yang lalu aku berulang tahun yang ke-45. Angka “keramat” bagi seluruh rakyat Indonesia mengingat tahun 1945 sebagai tahun kemerdekaan negara kita ini. Juga “keramat” bagiku karena sesuai peraturan perusahaan, usia 45 adalah batas minimum bagi setiap karyawan untuk memohon pensiun dini, sesuatu yang seringkali “menggoda” aku terhadap keputusan ini. Seringkali aku bertanya kepada Tuhan tentang hal ini, dan sampai sekarang aku masih menantikan jawaban dari-Nya …

Hari itu aku sengaja mengambil cuti, yang mengesankan tentang keistimewaannya. Rencanaku, aku akan bangun pagi lalu ke fitness center untuk berenang, sauna, hot steam, dan whirlpool dengan satu ambisi: menciptakan rekor pribadi, yakni pencapaian tertinggi dari yang selama ini aku lakukan. Lalu kami bertiga (aku, Auli yang sudah libur kenaikan kelas, dan mamaknya) akan ke Mal Taman Aggrek di Jakarta untuk membeli pakaian (persisnya celana panjang yang sama aku pakai untuk ke kantor dan ke gereja dengan merek yang aku merasa sangat cocok bertahun-tahun ini yang kondisinya sudah banyak yang lusuh dan bolong karena tuanya…) dengan voucher yang masih bersisa satu juta rupiah lebih lagi yang diberikan oleh salah satu Distributor ketika aku masih bertugas di Bandung tahun-tahun yang lalu (bukan gratifikasi, ya karena aku sudah melaporkan dan minta izin atasanku sesuai ketentuan dan peraturan Perusahaan tentang hal ini …). Makan siang di sana, lalu pulang ke rumah untuk mempersiapkan diri karena malamnya akan ada partangiangan wejk Betania di rumah kami.

Aku boleh saja berencana, namun tetaplah Tuhan yang paling menentukan … aktualnya berbeda dengan rencana semula.

Pemecahan Rekor Atas Nama Sendiri …

Pagi hari setelah bangun tidur dan berdoa tentunya, aku berangkat ke sport club tempat kami sekeluarga menjadi member untuk satu tahun ini. Sendirian, karena Auli ‘nggak ikut sebagai dampak dari mamaknya yang juga ‘nggak ikut karena memasak untuk persiapan partangiangan wejk malam harinya (semula kami berencana untuk mengadakan acara di restoran yang memang banyak terdapat di komplek perumahan, namun karena jam buka/tutupnya yang hanya sampai jam 10 malam sedangkan partangiangan wejk seringkali sampai jam sebelas karena ada diskusi, maka rencana tersebut kami batalkan).

Hari itu aku datang dengan ambisi yang sungguh-sungguh: memecahkan rekor atas nama diriku sendiri, dan benar-benar tercipta karena didasari oleh keinginan yang sangat kuat untuk mewujudkannya. Hari itu aku berhasil berenang dengan gaya dada (favoritku, karena nyaris sebagai satu-satunya gaya berenang yang aku kuasai …) 20 kali bolak-balik (biasanya “hanya” 10 kali …) untuk jarak pendek dan 5 kali untuk jarak terjauh (biasanya “hanya 2 kali yang tertinggi …). Selain itu, aku catatkan rekor terlama di cold whirlpool (biasanya 10 menit dan dengan catatan terlama 16 menit) dengan 30 menit dan catatan yang sama untuk hot whirlpool. Luar biasa!

IMG_2714[1]

Pemecahan Rekor Partangiangan Wejk …

Sesuai permintaanku, yang manjabui partangiangan wejk Rabu malam itu adalah keluarga kami. Dan tercipta juga beberapa “rekor”:

(1)   Jumlah yang hadir 8 kepala keluarga (yang terdaftar sebagai warga jemaat kami), 8 orang kaum bapak dan 9 orang kaum ibu serta 4 orang anak-anak; padahal biasanya ‘nggak pernah lebih dari 15 orang

(2)   Jadual pengkhotbah malam itu sebenarnya aku, tapi malam itu aku minta kesediaan lae-ku yang baru sore hari itu datang dari Surabaya setelah acara serah-terima tugas pelayanan pendeta dan akan bertugas di HKBP Cengkareng sebagai tempat pelayanan yang baru. Menyenangkan, karena hadir juga ito-ku dan bere-ku yang baru pertama kali itu bisa datang ke rumah kontrakan kami yang sekarang

(3)   Ada juga “kejutan”, tatkala seorang penatua yang sudah pensiun tiba di rumah dan aku songsong di garasi, menyampaikan tentang adanya keluarga mereka yang baru datang/pindah dari Surabaya yang tinggal di cluster dekat rumah kontrakan kami yang seharusnya dijemput namun ‘nggak bisa karena mobil amang sintua tersebut sedang dipakai anak dan isterinya (yang adalah boru Tobing) di rumah keluarga. Tidak berselang lama, rombongan keluarga lae-ku yang pendeta tiba, dan ternyata kenal dengan orang yang dimaksud sebagai warga jemaatnya ketika di Surabaya (bahkan saudara dekat dari isterinya yang boru Hutauruk, sedangkan dianya adalah ber-marga Tobing yang kemudian setelah martarombo aku marabang), lalu mendesak untuk segera dijemput. Dan kemudian juga ternyata sangat kenal dengan lae-ku yang dulu tinggal di Surabaya sebagai teman kompak anaknya laki-laki yang baru pindah ke komplek perumahan kami tersebut …). “Jonok hian do hape portibi on. Ndang nirimpu na boi muse hita pajumpang sadari on, hape pas minggu na salpu dope hita rap merayakan ulang taonhu di jabunami. Jala tinanda muse lae ni parjabu on na dongan kompak ni anakhu di Surabaya tingki doli-doli dope nasida …”, katanya sebelum diantarkan pulang ke rumahnya karena takjubnya.

(4)   Masih ada kejutan lain: anakku Auli boru hasian pertama kali dalam sejarah hidupnya mengiringi acara partangiangan dengan permainan pianonya (dengan piano Yamaha Clavinova yang baru kami beli dengan cara kredit setahun 02 Juni 2013 yang lalu). Aku dimintanya duduk di sampingnya (yang tentu saja aku penuhi dengan senang hati). Berulang kali dia menatapku sambil mensedekapkan kedua tangannya di dadanya yang mengisyaratkan perasaan tegang yang dialaminya, yang selalu aku tanggapi dengan senyum sambil berbisik: “Bagus banget, nak. Tenang saja …”.

IMG_2712[1]

(5)   Walau biasanya selalu ada diskusi setelah pengantar khotbah oleh pengkhotbah, malam itu tidak ada diskusi seperti itu. Hal ini aku “sengaja” karena pendeta yang berkhotbah adalah dari “luar” untuk membuatnya berbeda dengan yang biasa selama ini. Namun, setelah partangiangan ditutup dan aku sampaikan pengumuman (tentang penyempurnaan database warga jemaat yang minggu lalu dimintakan untuk mengisi-ulang formulir karena belum tercatat di data termutakhir, namun setelah aku periksa dengan teliti dengan Tata Usaha Gereja ternyata “terselip” di berkas Gereja sehingga ‘nggak diperlukan lagi pengisian formulir; lalu mengingatkan kembali bagi yang ingin menyumbang buku untuk Taman Bacaan Gereja …), terjadi diskusi yang hangat tentang berbagai hal. Persembahan, perpuluhan, Kantor Pusat, audit, verifikasi, dan pelayanan adalah hal-hal yang dibicarakan sehingga baru selesai menjelang jam setengah dua belas. “Inilah partangiangan wejk kita yang terlama selesainya. Selama ini sebelum jam setengah sebelas kita sudah pulang …”, kata salah seorang penatua yang maragenda malam itu tanpa pretensi negatif karena beliau juga ikut dalam pembicaraan yang hangat malam itu.

 

Begitulah kegiatan yang aku jalani bersama orang-orang yang aku kasihi pada hari dan tanggal yang bertepatan dengan ulang tahunku. “Makanan juga habis semua, pa. Dimakan, bukan dibungkusi untuk dibawa pulang. Memangnya masakanku enak juga, ya?”, kata mak Auli sambil duduk kelelahan karena capeknya mempersiapkan konsumsi dan lokasi (maksudnya: penataan ruang tamu kami dengan bunga sedap malam yang wangi, kursi-kursi yang jumlahnya sangat pas, dan lain-lain) partangiangan wejk malam itu yang untungnya dibantu oleh pariban-ku yang selalu setia membantu seperti biasanya setiap ada acara seperti ini di rumah. Oh ya, dan juga si mbak yang sangat rajin dan ‘nggak pernah mengeluh, melengkapi apa yang diperlukan di rumah.

Sangat capek, namun aku sangat bersukacita … Terima kasih, Tuhan!

Tertulis Sudah, Terbaca Juga Sudah, tapi Terlaksananya koq Masih Susah?

IMG_2644[1]

Masih tentang pengalamanku di fitness center alias sport club di komplek perumahan tempat kami tinggal sekarang di mana kami jadi anggotanya. Secara khusus tentang ketentuan yang sudah jelas-jelas tercantum pada ruangan di tempat sangat strategis di antara ruangan-ruangan sauna, hot steam, dan whirlpool. Begini yang tertulis di situ:

Duduk di ruangan sauna 10 menit

Duduk di ruangan hot steam 10 menit

Kemudian bilas

Berendam di cold whirlpool 10 menit

Berendam di hot whirlpool 10 menit

Mandi shower

Lalu ada tulisan berupa larangan, antara lain anak-anak usia di bawah 15 tahun, dan orangtua di atas usia 60 tahun.

Jelas, bukan? Bagiku itu sangat jelas. Selain letaknya di tempat sangat strategis (semua orang akan dengan mudah melihatnya), sangat mencolok (dengan warna hitam untuk anjuran dan merah untuk larangan dengan gambar yang menarik, yakni perempuan muda sedang berendam), dan bukan hanya satu buah.

Tapi, apa yang terjadi? Beginilah hasil pengamatanku:

(1)    Jarang sekali yang mematuhi urutan tersebut. Kebanyakan dari sauna, langsung ke hot whirlpool (karena cold whirlpool dihindari karena banyak yang ‘nggak kuat dengan suhunya yang sangat dingin …). Ada juga yang langsung ke hot whirlpool, karena lebih nyaman rasanya. Pokoknya suka-sukalah …

(2)    Waktu yang 10 menit sangat jarang yang mematuhinya, kebanyakan sesuai kekuatan dan kenyamanan masing-masing …

(3)    Setelah sauna dan hot steam (yang tentunya hasilnya adalah badan yang sangat dibasahi keringat bercucuran) disarankan membilas tubuh terlebih dahulu sebelum berendam ke kolam (agar keringatnya tidak tercampur dengan air kolam), eh … lumayan banyak juga yang langsung ‘nyemplung ke kolam …

(4)    Aku berulangkali mengingatkan kepada anak-anak (setelah memastikan umurnya kurang dari 15 tahun dengan menanyakannya kepada mereka , tentunya …) untuk keluar dari kolam (biasanya hot whirlpool ) sesuai larangan. Meskipun aku ‘nggak tahu apa yang jadi alasan sebenarnya yang mendasari pelarangan itu (pernah ada yang bilang, bisa jadi impoten kelak setelah dewasa …) tapi bagiku itu penting untuk dituruti. Dan menjadi tanggung jawabku sebagai orang dewasa untuk mengawasi pelaksanaannya (hehehe … hebat banget ya?). Sayangnya, petugas yang ada di situ ‘nggak pernah ambil pusing (mungkin merasa kurang pe-de kalau harus melarang anak-anak yang umumnya adalah dari kalangan orang kaya ?

Demikian jugalah kehidupan kita, ya. Segalanya sudah ada yang mengatur, namun apakah semuanya sudah bisa terlaksana dengan sendirinya? Nah, yang lebih spesifik lagi adalah manakala bicara tentang firman Tuhan. Betapa banyak firman Tuhan yang terbaca (di bangunan gereja-gereja, took-toko buku rohani Kristen, sekarang ada di facebook …), yang terlihat (di televisi, bahkan ada sekarang teve kabel yang 100% menyiarkan tayangan Kristen dan Alkitab …), dan terdengar (di radio, yang sekarang juga sudah ada yang “mempersembahkan” dirinya dengan program siaran lebih setengah hari dengan acara rohani Kristen …), namun berapa banyak yang kemudian “berbunyi” dalam sikap sehari-hari?

Bagaimana pula dengan Alkitab, apalagi kalau lebih banyak tertutupnya daripada terbukanya?

Pak Samuel, Teruslah Bergaul dengan Roh Kudus!

Ini kejadian di fitness center di komplek perumahan tempat kami sekeluarga saat ini menjadi anggotanya sejak beberapa bulan yang lalu. Selain berenang sebagai olahraga wajib bagiku beberapa tahun belakangan ini, di tempat dengan fasilitas yang sangat pas bagiku saat ini aku juga menikmati sauna, hot steam (mandi uap panas), whirlpool (kolam berendam) yang terdiri dari air panas dan air dingin.

Pada pagi hari itu, aku ketemu dengan seorang member. Usai sauna, aku langsung berendam di kolam dingin (karena uap panas sedang rusak sebagaimana belakangan hari ini sering terjadi demikian …). Setelah berhasil mengalahkan rasa takutku akan suhu dingin yang ekstrim (sebagaimana yang aku tulis pada Aku Bisa!),  malah berendam di kolam dingin bersuhu tujuh derajat Celcius itu menjadi salah satu favoritku saat ini. Lebih dari sekadar “ketagihan”, sekarang berendam di kolam dingin itu malah menjadi salah satu sarana bagiku untuk “showing off” alias “sok-sokan” alias “pamer” alias “sipanggaron” (kalau lagi kumat sifat sombongku, hehehe …). Bukan sekadar menunjukkan kemampuanku bertahan berendam selama 10 menit, tapi sekaligus juga memotivasi para laki-laki yang masih takut pada rasa dingin yang ekstrim tersebut …

Aku melihatnya ragu-ragu untuk menikmati betapa dinginnya air kolam tersebut. Aku sudah berendam beberapa menit dan sedang menikmati “hangatnya” air di kolam yang sangat dingin tersebut ketika mengamat-amati seorang bapak yang aku perkirakan umurnya lebih tua sedikit dariku. Setelah mencelupkan tangan (dan segera menariknya kemudian), lalu beliau mencelupkan kedua kakinya. Masih dengan ragu-ragu.

“Masuk aja dan berendam, pak. Enak, koq …”, kataku coba memengaruhi dan memulai permbicaraan.

“Dingin banget, pak …”, jawabnya dengan ekspresi gemetaran.

“Mula-mula aja itu. Aku juga dulunya begitu. Sekarang malah sudah enak. Ayo, masuk aja. Kita ‘ngobrol-‘ngobrol untuk melupakan rasa dinginnya. Tuhan memberikan kemampuan bagi tubuh kita untuk menyesuaikan diri dengan situasi ekstrim yang kita hadapi”

“Bapak, pendeta ya?”, tanyanya yang membuatku terkejut (Karena ini bukan pertama kali ada yang salah duga dengan diriku sebagai pendeta, di rumah aku membahasnya dengan isteriku seraya bercanda, yang aku bilang banyak orang “tertipu” dengan wajahku dengan mengatakan aku pendeta. Istriku menjawab, “Wajah sombong kayak gitu koq malah dikira pendeta, ya?”. Langsung saja aku menukas, “Jangan-jangan memang wajah kayak aku gini yang sekarang dianggap sebagai wajah pendeta, bukan lagi wajah yang teduh dan memancarkan penuh damai sejahtera. Hahaha …”).

“Oh, bukan. Aku penatua, pak. Pelayan jemaat …”, kataku jujur (sebagaimana biasanya, hehehe …

Lalu aku ‘ngobrol banyak hal. Saling berkenalan dengan menyampaikan identitas diri. Ternyata beliau adalah Katolik yang nyaris terjadi karena “kebetulan”. Maksudnya? Waktu anak-anak (bersama warga keturunan Tionghoa) pada masa itu suka bermain-main di komplek gereja Katolik yang memang biasanya luas dan punya fasilitas bermain dan berolahraga yang memadai. Mulanya bermain bulutangkis, lalu diajak ikut latihan drama untuk perayaan Natal.

“Teman-teman saya banyak yang langsung masuk Katolik, saya belum pak karena orangtua saya memarahi dan ‘nggak setuju. Tapi, pastor Katolik itu tetap baik pada saya, pada kami semua. Dan saya tetap diikutkan kegiatan gereja, bahkan saya pernah jadi pelayan pembantu pastor di ibadah, walau belum ikut katekhisasi dan belum jadi Katolik …”.

“Sekarang masih?”, tanyaku.

“Setelah dewasa saya memang akhirnya jadi Katolik. Sampai sekarang. Bisa saya menanyakan sesuatu kepada bapak?”

“Oh, tentu saja. Silakan, pak. Aku akan jawab apa yang aku mampu jawab”.

“Bapak percaya Roh Kudus?”

“Wah, itu harus!”

“Saya punya pengalaman beberapa kali yang menurut perkiraan saya adalah kedatangan Roh Kudus. Dalam beberapa kali ibadah, waktu meditasi, air mata saya bercucuran dengan derasnya, walau saya tidak merasa sedih. Dan mengalir sendiri. Sampai saya merasa malu, masa’ laki-laki menangis, di depan orang banyak lagi! Langsung saja perasaan itu hilang dan pergi dengan sendirinya karena saya tolak kehadirannya. Apa memang itu Roh Kudus ya, pak? Apa tanda-tandanya, pak?”

“Yang aku tahu, Roh Kudus itu ada pada setiap orang, namun menunjukkan eksistensinya yang lebih menonjol daripada biasanya pada saat-saat tertentu. Bapak sendiri yang paling tahu untuk meyakini apakah yang sedang menguasai diri Bapak saat itu Roh Kudus atau bukan. Kalau menghasilkan perasaan damai dan sukacita yang meluap-luap, bahkan kadang dibarengi dengan air mata bercucuran yang bukan karena sedih, itu kemungkinan besar adalah Roh Kudus yang sedang bekerja pada diri Bapak. Kita patut berhati-hati juga, karena iblis pun bisa menipu dengan melakukan hal yang sama yang seolah-olah seperti Roh Kudus”.

“Itulah yang sering jadi pertanyaan bagi saya, pak. Saya pernah juga mendoakan kakak saya yang sedang dirawat di rumah sakit karena tumor ganas yang menurut dokter sudah sangat tipis harapannya untuk hidup lebih lama. Saat itu datang orang yang mengaku punya kemampuan menyembuhkan orang sakit dengan mendoakannya. Dia mengusir semua orang yang ada di kamar tersebut sebelum berdoa, namun saya ‘nggak mau keluar. Waktu dia berdoa, saya juga berdoa dengan berkata di dalam hati: ‘Tuhan, saya ‘nggak yakin orang ini adalah pendoa yang benar yang bisa menyembuhkan kakak saya ini. Jika Tuhan mau, saya pun bisa berdoa memohon kesembuhan bagi kakak saya. Tolonglah Tuhan, sembuhkanlah kakak saya ini.’ Dan beberapa minggu kemudian kakak saya itu benar-benar sembuh, pak. Saya jadi makin yakin dengan bantuan Roh Kudus. Sayangnya di tempat saya ‘nggak begitu kuat diajarka tentang Roh Kudus ini. Saya sudah diskusi dengan pastor, tapi itulah, karena bukan ajaran yang menonjol sehingga pastor ‘nggak begitu bisa membantu saya. Saya juga sudah ke beberapa gereja atau persekutuan di hotel-hotel yang katanya kharismatis itu. Memang mereka sangat menonjolkan kuasa Roh Kudus, tapi saya tetap belum menemukan apa yang saya cari. ‘Gimana ini ya, pak?”, tanyanya penuh harap.

“Kita harus sepaham dulu bahwa agama bukanlah menyelamatkan. Tidak satupun agama yang bisa menyelamatkan, hanya imanlah yang menyelamatkan. Sekarang terpulang kepada bapak. Menurutku, tetap saja lanjutkan bergaul dengan Roh Kudus, tanpa harus terkendala dengan sekat-sekat yang ada. ‘Nggak usah malu kalau harus menangis kalau Dia datang lagi. Tangisan bukan berarti sikap kecengengan. Aku juga pernah mengalami. Yang penting ada damai sejahtera yang timbul dan kita rasakan. Yang paling merasakannya ‘kan kita sendiri. Tak usah ragu, maju terus pak!”

Setelah lewat sepuluh menit (sebagai standar waktu berendam) di kolam dingin, kami lanjutkan ‘ngobrol dengan sama-sama berendam di kolam air hangat. Nah, ini lebih lama dari sekadar sepuluh menit saking asyiknya ‘ngobrol … bahkan diselingi dengan beliau harus buang air kecil ke kamar mandi.

“Wah, sangat menyenangkan ‘ngobrol dengan bapak. Sayangnya, aku harus pergi karena sudah ditunggu meeting di kantor agency. Kapan-kapan kita bisa lanjutkan lagi ‘ngobrolnya, ya.”.

“Sama-sama, pak. Saya yang lebih merasa gembira bisa bertemu dan ‘ngobrol-‘ngobrol dengan bapak. Saya berharap bisa ketemu lagi dengan bapak. Boleh tahu dengan bapak apa?”

“Aku Tobing, pak”

“Saya Samuel, pak”

“Wah, nama orang yang luar biasa itu. Sesuai banget dengan bapak yang dikasihi Tuhan dengan diberi kesempatan bergaul dengan Roh Kudus …”.